Surat Cinta Itsuki

Surat Cinta Itsuki

Mentari Pagi
Karya Mentari Pagi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Mei 2018
Surat Cinta Itsuki

Seruni suka mengajak siapapun untuk mentadaburi alam. Di sela-sela harinya bekerja, ia merencanakan akhir pekan ini untuk keluar ke suatu tempat. Meksi hanya ingin menambah image galeri di hpnya.  

Kali ini tujuannya adalah perbukitan. Hemm tampak di sana barisan bukit-bukit yang berjajar rapi. Mengalir dibawahnya sungai-sungai. “mungkin inikah syurga yang hilang?” batinnya sejenak.

Seluas mata memandang terlihat hamparan hijau yang berbatasan dengan birunya langit. Cakrawala begitu indah menepis kegalauannya. Siapa sangka gadis 25an tahun itu begitu ceria terlihat namun hatinya seperti hutan belantara yang sunyi. Dela dan Nuri menjadi teman petualangannya kali ini.

Mereka bertiga dikagetkan dengan sekilas melihat sosok laki-laki di ujung bukit sana. Seseorang yang berdiri tegak menghadap langit, dan sesekali ke arah sungai itu. Postur tubuhnya bukanlah orang yang sedang putus asa.

 Jiwa penasaran mereka mulai terusik, mereka sepakat untuk mencari tahu siapa dan apa yang dilakukan orang itu. Tak lebih dari 30 menit mereka bertiga sudah berada tepat di belakang orang itu, dan benar saja orang itu masih berdiri tegak di sana. Seruni memicingkan mata seolah tidak asing dengan sosok itu, namun entah dimana ia pernah bertemu. Dela memberanikan diri menyapa orang itu, dan sesaat itu pula laki-laki itu menoleh dengan seluruh badannya.

Mereka bertiga terperangah, tak yakin dengan apa yang mereka lihat, Seruni hampir terjatuh mempertahankan tubuhnya. Nuri berusaha menepis keringat dinginnya yang mulai muncul satu per satu. Dela masih belum puas dengan rasa penasarannya, Dela menyapanya dengan sopan dan nada standar. Angin ikut mengusap jilbabnya dengan lembut. Orang itu menyeringai dan melangkah mendekati Dela. Seruni dan Nuri mundur teratur beberapa langkah.

Benarlah kiranya lelaki 30an tahun itu adalah orang yang pernah Seruni dan Nuri berpapasan di sebuah warung makan ala Jepang. Lelaki yang tampak lembut tapi garang, yang sempat menabrak meja makan Seruni waktu itu. Mereka sempat beradu mulut hanya gara-gara hal sepele seperti itu. Kulitnya yang putih dan matanya yang sipit memberi aura kelembutannya. Namun tetap saja Seruni dan Nuri merasa terluka dengan kata-kata ketusnya.

Watanabe Istuki adalah namanya, seorang traveller sejati keliling dunia. Mereka berempat terlibat pembicaraan yang serius di atas bukit itu, meski dengan bahasa yang tak mudah dimengerti. Itsuki menggunakan bahasa campuran Indonesia, Inggris, dan Jepang. Tertawa mereka pecah setelah beberapa menit kemudian, bukan hanya karena pertemuan yang tak terduga namun karena bahasa yang campur aduk.

“Itsuki, kenapa kamu datang kesini sendirian?apa yang kau cari?”, Seruni mulai penasaran.

“ya seperti kalian, mencari sudut-sudut dunia yang indah”,

“bukankah negerimu lebih indah, ada bunga sakura, salju, pohon yang bersemi, pemandangan yang sangat indah, dan makanan yang lezat-lezat”, Nuri menjentikkan jarinya takut terlewat dari hitungannya.

Itsuki hanya tersenyum sembari melemparkan pandangannya ke cakrawala.

“ Saya jauh-jauh kesana kemari ke belahan dunia yang lain demi seseorang”, lelaki sipit itu bersuara rendah.

Seruni dan Dela mulai tertarik untuk menyimak kelanjutannya, Dela lebih asyik mengutak utik DLSRnya.

“ sudah berapa tempat yang kalian kunjungi di negara kalian?”, Itsuki mencoba menelisik.

“ banyak, hampir setiap akhir pekan kami selalu travelling, melihat keindahan alam dan wisata kuliner yang belum pernah kita makan, yah terutama makanan yang lagi hitz”, Seruni mencoba mengingat-ingat tempat yang pernah mereka datangi.

It’s greats, umur kalian gak kan pernah cukup untuk menghabisakan semua tempat indah di dunia ini, termasuk semua jenis makanan”, Itsuki melempar kerikil ke jurang yang ada di depannya.

Tiga gadis berjilbab itu tak menyangka, lelaki setengah garang itu berkata sok bijak.

“Kalian itu egois...”

Tanda tanya besar seolah tergambar di atas kepal tiga gadis itu,

Why...” Dela mulai tertarik dengan pembicaraan itu.

Itsuki segera beranjak dari duduknya, dan perlahan mengayun langkahnya menuju ujung bukit menghadap jurang itu.

Mereka bertiga spontan mengikuti Istuki dengan rasa khawatir dan was-was, sesaat Seruni membayangkan harakiri yang sering terjadi di sana.

“pernahkah kalian pergi dan mengambil foto alam ini bersama orang yang sangat kau cintai?”

“pernahkah kalian memakan makanan yang kalian maksud tadi bersama orang yang kau cintai lebih dari apapun?

Mereka bertiga bernafas lega, karena adegan yang mengerikan itu tidaklah terjadi.

“pernahkan kalian keliling dunia demi menyenangkan orang yang kau cintai lebih dari apapun?” sekejap Itsuki berpaling menghadap tiga gadis itu. Mereka sontak menghentikan langkahnya dan spontan menggelangkan kepala.

“ kami tidak punya boyfriend seperti yang kamu maksud, kami selalu pergi bertiga”, Dela dengan sedikit lebih tenang.

“ Rencana kedepan kami bertiga ingin ke negaramu, kami mulai menabung. Dan kami bertiga adalah sahabat yang saling mencintai lebih dari apapun”, Nuri berdiplomasi.

“owh bagus sekali rencana kalian, semakin tidak menjawab pertanyaanku, kalian tidak berbeda dengan kebanyakan orang, Egois”, Istuki sambil ngeloyor pergi dengan menggendong ransel dan mengalung DLSRnya menuruni bukit.

Dela, Seruni, dan Nuri tak habis pikir, sudah berkali-kali Itsuki menghakimi mereka dengan egois.

“Peduli amat mau dikatain egois”, mereka bertiga manggut-manggut mengiyakan kata Nuri.

***

Dela dan Nuri telah menunggu Seruni dengan mengecap Takoyaki kesukaan mereka. Seruni datang membawa dua lembar kertas yang penuh dengan tulisan. Wajahnya terihat datar tanpa ekspresi semacam pasien yang baru sadar dari pingsannya.

Mereka membaca tulisan di lembar pertama yang mereka sangat kenal itu huruf kanji. Beberapa kata mereka bisa membaca tapi tetap kurang paham artinya. Hanya nama Itsuki yang jelas mereka baca menandai akhir surat itu. Mereka berdua mulai membaca lembar kedua yang mudah dipahami karena berbahasa Indonesia.

Dalam satu kali sapuan mata, dua teman Seruni itu lebih tampak pucat pasi setelah membaca tulisan itu. Mungkin sedetik kemudian air mata mereka pun akan jatuh. Tak seperti Seruni yang tampaknya air mata sudah kering semalaman tadi.

“Aku datang ke sudut negeri ini bukan tanpa alasan, aku telah menjadi mata penerus bagi ibuku. Beberapa bulan lalu ia masih bisa ikut keliling dunia denganku. Melihat keindahan sudut-sudut indah dunia ini. Tidak ada satu tempatpun yang aku lewatkan kecuali bersamanya, tak ada makanan enak yang tak kusantap bersamanya. Bahagianya adalah bahagiaku. Coba ajaklah ia sebelum keindahan yang abadi itu menyambutnya. Perlihatkan apa yang kalian lihat, rasakan bersama kelezatan makanan yang kalian makan. Ingatlah saat kalian belum bisa apa-apa, kemana saja kalian pergi selama 9 bulan dan bahkan lebih dari itu? Ingatkah selama itu juga jenis makanan apa yang kalian makan?”

***

Mereka dipanggil petugas retribusi wisata saat menuruni bukit kemarin.

“Ada titipan surat cinta dari turis Jepang untuk mbak-mbak bertiga lho, wah so sweet yaa dapat kenalan orang Jepang”, tukas petugas retribusi itu. Sepucuk amplop diberikan pada Seruni. Seruni hanya membolak-balikkan amplop dengan kebingungan, semua bertuliskan huruf kanji.

***

 

 

 

  • view 25