Siapa yang Tahu Maksud Matahari

Mentari Pagi
Karya Mentari Pagi Kategori Renungan
dipublikasikan 07 November 2016
Siapa yang Tahu Maksud Matahari

 

Dan Dia menundukkan malam dan siang, Matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya).” (QS.An-Nahl : 12). 
Sebaran ilmu di muka bumi ini tidak terhingga luasnya, ibarat semua pohon di muka bumi ini adalah penanya, dan air laut sebagai tintanya, niscaya ilmu Allah itu tidak dapat tertuliskan. Nukilan ayat tersebut adalah salah satu dari beberapa bukti keMahakuasaan Allah, salah satunya adalah Matahari. Setiap hari kita merasakan keberadaannya, namun karena setiap hari dia muncul, maka rasa itu pun tidak peka lagi, kesyukuran atas keberadaannya pun pupus sudah.
Bintang terbesar di alam semesta ini cukuplah menjadi inspirasi bagi kita. Lihat saja, tanpa Matahari dunia ini gelap gulita, jika malam dan siang itu tidak bergantian? Mungkin dunia ini akan hancur. Matahari memberikan kehidupan makhluk di muka bumi ini. Hendaknya kita sebagai manusia mencontoh manfaat Matahari, yang tidak jemu menyinari bumi, hampir setiap hari dia menyinari. Kadang sinarnya panas, kadang hangat, dan kadang redup. Namun tak mengurangi girangnya penduduk bumi. Tiada hentinya dia menyinari bumi ini, saat terbenam di satu negeri itu tanda terbit di negeri lain. 
Jadilah seperti Matahari. Ia selalu mengajak manusia untuk memulai hari, di awal kokok ayam menyadari terbitnya Matahari. Siang yang terik, Matahari menyinari bumi secara maksimal dan berangsur meredup mendekati maghrib, mengajari kita untuk melejitkan potensi semaksimal mungkin di masa muda. Jika saat malam tidak dapat menyinari bumi, ia menitipkan cahayanya pada bulan, bulan dengan amanahnya menyampaikan cahaya itu dengan redup dan indah menyejukkan. Saat kita kepayahan hendaknya tugas pokok kita tetap tertunaikan.
Sinar Matahari tak jarang tertutup awan, baik awan hitam maupun putih, namun coba kita lihat, pendar cahayanya indah menembua sela-sela awan, cahaya itu mencoba menerobos gumpalan awan. Ia teringat akan tugasnya untuk menyinari bumi, apapun halangannya harus ia tembus dan lawan, dan ternyata pendar-pendar itu terlihat lebih indah. Itulah kesungguhan dan tanggungjawab.
Jika awan itu berarak menebal, dan menghitam, dan tak ada celah untuk menembusnya, maka Mataharipun sedih hingga meneteslah air mata hujan yang ia lelehkan dari awan-awan itu, keinginannya sangat kuat untuk mencucurkan semuanya, hingga mempercepat bertemunya dengan penduduk bumi. Siapa yang tahu maksud Matahari? jika hujan berasal dari air laut yang diajak naik oleh Matahari, hadiah spesial yang diam-diam ia berikan pada bumi. 
Hujan yang rintik-rintik dan sesaat sinarnya menyeruak, ia lukiskan kolabirasinya dalam pelangi. Tapi siapa yang tahu, jika Matahari ikut di dalamnya?. Lihatlah juga saat ia terbit dan tenggelam, kesannya begitu mempesona, rona merah yang menyejukkan yang banyak memukau mata yang melihatnya. Seperti itulah hendaknya kita meninggalkan kesan saat lahir dan mati kelak. 

  • view 220