Segaris Luruspun Kita Tak Sadar

Mentari Pagi
Karya Mentari Pagi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Segaris Luruspun Kita Tak Sadar

Jomblo, jadi status keren sekarang ini. Siapapun akan menyempatkan diri untuk sekedar meringis jika disindir. Meski dalam hati meringis menahan perih juga sih sebenernya. Tetep cool, calm, and confident. Meksi hati juga kebat kebit ,kanapa ya belum ketemu juga? Pertanyaan yang aneh, dan nggak ada yang tau jawabannya selain Dia. Iya, Dia yang ada di atas sana.

Perjalanan mencari cinta tak kan habis dimakan waktu. Entah cinta atau kerinduan pada seseorang yang sudah dijanjikan akan bertemu. Padahal kita tak membuat janji tapi selalu menunggunya. Kegalauan yang semua orang tahu rasanya. Hemm, sebenarnya pilihan banyak tinggal milih aja, yang cantik tidak sedikit, yang mau juga banyak, yang dijodohin ada juga beberapa. Namun sekali lagi hanya hati yang mau menerima. Tak semudah menutup daun pintu. Jika main logika bisa aja langsung dapat, namun ini untuk selamanya guys.  Bukan milih-milih namun kesesuaian kata iman dan hati belum seia sekata.

Sesore ini belumlah genap kumencari sosok itu, chemistry yang belum terasa menjadi tumbalnya. Mungkin ini salah dan sangat salah jika pertimbangannya itu. Tak berani juga berkomitmen dan menjanjikan apapun pada seseorang yang belum halal. Apa kata orang tuanya jika anak perempuannya jadi main-mainan seorang lelaki galau kayak aku. Heeem gak boleh ini gak boleh terjadi. Ah sudahlah, tetap mencari namun kan kucari di dalam hati, mungkin memang aku belum layak bertemu dengannya dan mungkin aku juga pemilih, ah sudahlah...

“kamu udah nikah belum Ri...mau ga ni sama ini ni?” tanya seniorku kemarin pagi.

“belum sih, ah sudah banyak yang mau ngenalin, nggak ada yang pas, mau nyari sendiri aja, eh tapi nyari sendiri juga susah eee, ah takut nggak sesuai denganku” , Bari mencoba melerai hati dan logikanya lagi. Ia teringat pesan ibunya, bahwa yang penting agamanya baik. Wes ga usah mikir dua kali.

“ini agamanya baik...InsyaAllah”, dengan nada datar Pali meneruskan kalimatnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Hemm, oke deh ak percaya sama kamu Bang, aah jangan2 itu adikmu, saudaramu, atau ponakanmu yang nggak laku-laku? Hehe” seringaiku tanpa basa-basi.

“ Hahaha kok kamu tahu sih, bukan ya ini anaknya tetangga, yah masih muda lah, ga tua-tua banget. Dah mungkin petunjuknya itu aja kalau mau serius bisa ditanyakan nanti. Pesenku satu, jangan remehkan kesempatan meski ini terlihat temeh namun hargailah umurmu untuk mengusahakan sesuatu dengan usaha terbaik, semoga engkau mendapat kebaikan”, tutup Pali dalam percakapan itu.

“Oke bro, oke siap siap”, dalam hati mulai ketar ketir.

Singkat cerita aku berkenalan dengan seorang wanita usulan seniorku tadi hanya bermodal percaya, sebenarnya aku tidak berniat bercanda dan ya hanya bercanda saja ketika menanggapi tawaran itu. Aku mencoba menelisik mencari sisi yang hatiku bisa menerimanya dan mencari chemistry itu. Ah lagi lagi tak kudapatkan. Meski ibuku sempat bertemu dan berbincang dengannya sekali. Ah yang namanya hati nggak bisa dibohongi. Ternyata dia ada sedikit masalah dengan temannya sampai menggagalkan perkenalan ini. Benarkan itu alasannya karena teman, nggak penting. Sama-sama menggagalkan tanpa disengaja. Sesaat kami lost kontak beberapa minggu aku pun juga mencari alternatif pilihan yang lain namun enggak dapat. Kuputuskan untuk kembali ke Malaysia karena ada jadwal mengajar dan juga bulan depan ada event besar. Lomba KIR tingkat SMA se-ASEAN dan aku ditunjuk menjadi MC. Ternyata dia ada di daftar tamu acaraku ini. Seperti nggak asing kumembaca nama itu. Nah benar saja mewakili Indonesia. Dia mendampingi muridnya yang masuk babak final mewakili Indonesia. Excited. Akhir acara tak sengaja ketemu di kantin dan akhirnya kita makan bertiga, dan ya ngobrol apa adanya dan membahas si murid kesayangannya yang ternyata masuk 3 besar. Sampai pertemuan itu akupun belum sadar bahwa garis takdir itu masih terus digariskan mengarah padanya. Dia tampak biasa saja dan seolah seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Luar biasa.

Selang beberapa hari, ada telpon dari Indonesia jika ibu sakit. Tanpa berpikir panjang aku langsung pulang. Moment menunggu ibu sendirian begini udah nggak bisa mikir apa-apa. Selirih suara ibu menyadarkanku dalam sekaan air mata yang tak terasa menetes. Ibu hanya bisa tersenyum menggoda karena tahu anak lelakinya menangis, yang entah kapan terakhir air mata itu keluar. Semacam mata air yang telah lama mati dan hidup kembali. Ibu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang diujung sana,  yang benar saja, ibu menelpon dia. Entah dari mana ibu tahu nomor telponnya. Aku sudah tidak peduli lagi ibu mau nelpon siapa, aku hanya berpikir kesehatan ibu, dan ridhonya saja. Ternyata ibu malamarkan aku untuk seorang gadis yang beberapa waktu lalu bertemu di Malaysia dan yang beberapa waktu lalu sempat berkenalan. Air mata ibu menetes bahagia, senyumnya lebih indah dari yang pernah aku lihat selama ini. Ah ibu, kau selalu bisa meluluhkan hatiku, dan aku pasrah atas keputusanmu. Aku mulai membuka hati dan akan membuka hatiku untuknya. Jalan takdir memang dekat sebenarnya hanya kita tak menyadarinya dan kadang kurang sabar.

Aku menerimanya dan dia menerimaku, entah apa yang menggerakkanku untuk menerimanya. Secara logika fisiknya biasa aja, cantik sih ada yang lebih cantik dari dia, pinter sih enggak juga biasa rata-rata, ehm tapi baru sekarang aku sadari bahwa mataku nggak ingin melepaskan gerak-geriknya sekalipun ia tertidur pulas. Semacam diguna-guna kali ya. Ah tapi sekali lagi mungkin ini yang dinamakan keberkahan. Sehari dua hari, sebulan dua bulan setelah menikah pun belum percaya ada seseorang yang ekluar masuk kamar tanpa permisi, bawa makanan dan teh susu kesukaanku.

Ternyata memang benar, takdir sudah mulai digariskan sejak aku mulai melangkah. Istriku yang sekarang ini di luar ekspektasiku, bahkan ada beberapa hal yang memang dulu aku harapkan. Dulu sekali bahkan aku sudah lupa itu kapan. Berdamai dengan pribadi yang baru kukenal lebih menantang daripada telah lama kukenal, meski hal ini relatif. Namanya kesetiaan, keberkahan serta kebahagiaan tidak ditentukan oleh lamanya kenal. Sehidup sesurga menyelami waktu demi waktu mengenalmu sepanjang hidup tak kan pernah usai. Meski riak kecil pasti ada, diem-dieman pasti sering. Namun pertemuan kita terlalu indah untuk dilupakan. Skenario yang  terlalu berharga untuk tidak disyukuri. Ah yang namanya ego dan perasaan pasti kita punya keduanya. Istriku, hanya satu yang bisa kukatakan padamu, aku akan mengusahakan meski aku tidak menjanjikan kebahagiaan. Sikap menerimamu dan apa adanya membuatku makin lapang bertekad sehidup sesurga denganmu karenaNya.

 

  • view 195