Untuk Apa?

sofyan rafiu
Karya sofyan rafiu Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Desember 2017
Untuk Apa?

Serangan udara untuk kesekian kalinya menghantam bumi Palestina. Ratusan warga berlari pontang penting tak tahu haluan. Roket roket dari pesawat tempur menghujam dimana-mana. Tak ada tempat berlindung. Tidak ada tempat yang aman untuk sejenak melepas lelah setelah sepanjang hari berlari.

Seorang ibu paruh baya kepayahan berlari sambil menggendong anaknya. Dalam pelukan yang sangat kencang sampai anaknya pun merasa kesakitan. "Ma sakit ma"kata si anak sambil mendorong lengan ibunya. Apalah mau dikata. Sang ibu tidak peduli. Tetap berlari dengan mata awas sana sini mencari-cari rute yang aman untuk berlari. Sang ibu yang takut kehilangan tetap memeluk kencang buah hatinya.

Namun jika kau bisa merasakannya. Lengan itu sebenarnya sudah tidak kuat lagi mengangkat. Sakit sudah otot-ototnya serasa ada yang menindihnya dengan batu besar. Ah..sakit, sangat sakit. Ibu yang sudah hidup setengah abad lebih itu.

Mereka masih mencari tempat untuk bersembunyi. Si anak sekali lagi merintih kesakitan. "Ma sakit ma".
"Ma kenapa kita harus berlari?". Sang ibu yang tadinya tetap fokus mencari tempat berlindung. Berlari kesana-kemari. Tak acuh saja dengan keluh kesah anaknya. tiba-tiba berhenti. Sedikit terheran dengan pertanyaan putrinya. Mengernyitkan dahi. Sedikit merenggangkan pelukannya.

"Ma kenapa kita mesti lari?". Si anak mengulang tanya. Sang ibu hanya diam. Menyelidik maksud pertanyaan putrinya. "Kenapa kita tidak melawan saja. Kalau terkena peluru lalu mati bukannya itu lebih baik". Dengan senyum simpul Sang ibu mulai meneteskan air mata. Bergetar dadanya. Walau sedikit dia tau apa maksud putrinya.

Ganjil Langit Palestina tiba-tiba mendatangkan awan mendung. Berpadu dengan kepulan asap dari misil-misil pembantai tanpa manusiawi. Menambah atmosfir mencekam bumi ini.

Bertanya polos "Bukannya kalau kita mati saat melawan om-om itu Allah akan memasukkan kita.......BOOOOMMM. belum habis menyelesaikan kalimatnya sebuah misil mendarat tepat mengenai gedung didekat mereka.

Memekakkan telinga bagi yang sempat mendengarnya. Ibu dan anak tadi?. Telah tertimbun bersama reruntuhan bangunan. Jika ada yang mengangkat mayitnya maka akan tampak wajah ibu dan anak itu terlihat menyenangkan dalam kekakuannya karena telah lama mati. Namun senyum simpul terlihat pada kedua wajahnya seolah sudah memperoleh janji-janji kebahagiaan sejati.

Hujan mulai turun sebulir menerpa tanah, Diikuti jutaan bulir lainnya. Seakan langit tahu apa yang telah terjadi. Takdir yang telah mengatur jutaan nyawa telah memberi perintah kepada hujan untuk menurunkan rahmatnya. Melengkapi kalimat si anak yang tak terselesaikan.

......

  • view 98