Cinta Di Kandang Singa

Shofi Nurul Fath
Karya Shofi Nurul Fath Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juni 2016
Cinta Di Kandang Singa

Pukul sebelas malam. Sejam lagi sudah sangat larut untuk gadis seusiaku masih terjaga. Aku tak bisa memejamkan mata. Seakan jarum jam itu ingin ku putar dua kali lebih cepat. Hanya senandung jangkrik dan kodok kecil yang mengisi kesunyian. Denting jam dinding itu seakan membawaku kembali ke bulan mei. Keripik pedas yang mama berikan kepadaku seakan masih terasa di lidahku. Padahal sudah puluhan jenis minuman yang ku minum masih saja berasap-asap.

“Jaga lisan,jaga mata, dan hati. Mama yakin kamu bisa dipercaya. Dede mama kan sudah dewasa”, aku mengangguk sambil memeluk mama di anjungan bandara waktu itu.

Aku tak pernah berpikir akan menjadi siswa pindahan di sekolah yang tak pernah ku impikan ini. SMA Negeri 3 Kota Kembang. Sekolah yang terkenal dengan kebersihannya dan yang mengutamakan akhlak dan budi pekerti siswa-siswinya. Itu alasan mama mengirimku disekolah yang dikenal kandang singa ini. Sekolah bagai penjara bagi siapa saja yang terperangkap disejolah ini. Itu yang ku dengar dari teman lama yang juga bersekolah smanti.

“Kenapa Dede mau masuk disini ? Teman-temanku malah ingin sekali cepat keluar dari penjara pohon ini!” kata Femi, teman lama ku yang menjemputku dibandara.

“Ini juga amanah mama ku Fem. Kamu tahu sendiri kan keadaan keluargaku gimana”, aku terseyum tipis. Perceraian mama dan papa memang membuatku ingin pergi dari rumah itu. Mungkin ini sudah takdirnya aku harus mencari kebahagiaan sendiri.

****

Keripik pedas mama memang tidak pernah lanut kubawa-bawa. Padahal seminggu telah beribu kali terhembus angin berhari-hari. Ah, kenapa harus diingat sih? Cukup aku melaksanakan itu sudah ibadah buatku. Aku berusaha tidak larut dengan nasihat mama.

Seminggu disekolah kandang singa, aku mulai merasakan hawa ganasnya singa itu. Peraturan yang begitu ketat dan disiplin. Tidak memboleh membawa alat komunikasi, tidak memakai sepatu disepanjang koridor dan didalam kelas masing-masing. Mengasyikkan sih. tapi ini tidak cukup membuat ku mengatakan bahwa ini kandang singa. Aku sudah membayangkan bahwa kandang singa itu banyak singa-singa yang galak dan memakan manusia.

Saat itu, jam pelajaran sejarah. Aku diperintahkan guruku untuk membuat satu kesimpulan tentang materi orde baru. Aku melakukannya dengan baik. Guruku memberi jempol untukku. Begitu pula dengan teman-teman kelasku. Tapi, seakan jempol itu terbalik kebawah, justru dua jempol yang diberikan oleh guruku kepada dia yang mendapat tepuk tangan sekelas. Aku merasa terpinggirkan oleh ini.

“Bagus Dit. Argumen kamu sangat meyakinkan”, Pak Purwa memuji Cowok tinggi langsing bertahi lalat dipipi kanannya itu.

“Dia siapa ? Kok aku baru lihat?” aku mencolek Lilin yang sedang asyik memperhatikan Pak Purwa.

“Dia Adit. Terkenal paling Calm, cerdas, tapi usil banget De!”

Sejenak aku menatapnya. Dua-tiga detik kembali megalihkan pandangan, lalu menatapnya kembali. “Ah, jangan-jangan dia sainganku. Aku harus ekstra hati-hati”, gumamku dalam hati.

***

Setelah kejadian itu, aku lebih banyak lagi belajar. Tak jarang, waktu luang yang ku gunakan untuk internetan, kini ku habiskan membaca banyak literature buku. Termasuk buku tentang menaklukan saingan dikelas. Setiap mata pelajaran diskusi, aku selalu yang paling pertama mengacungkan tangan untuk berbicara. Sekali-dua kali dia yang mendapat tepuk tangan paling keras dikelasku. Ah, aku harus menjadi yang nomor satu. Harus !!!

Setiap waktu kulewati hanya untuk melakukan seribu cara menaklukkan si Adit, sampai aku lupa bahwa dia yang sebaliknya menaklukkan hatiku. Seperti kata pepatah “kebencian pada seseorang justru menimbulkan kasih sayang didalamnya”. Setiap pagi aku menerima coklat kesukaanku dilaci mejaku. Entah siapa yang berhati emas memberikan coklat ini padaku. Saat itu aku tak memikirkan sama sekali tentang siap pemberinya.

“Mungkin kamu lupa De itu coklat yang kamu taruh sendiri dilaci meja kamu”, Lilin meyakinkan kesimpulanku tentang coklat itu.

“Tapi Lin, ini sudah yang kesepuluh kalinya aku temukan. Siapa coba yang lupa coklat sampai sebanyak ini. Itu lupa atau memang gak punya memori ya?”

“Hmm, tidak usah dipikirkan De”

****

Kedatangan coklat misterius ini membuatku lupa tentang misiku menaklukkan Adit. Pikiranku terfokus pada coklat tentang siapa yang memberinya atau siapa yang iseng membuatku merasa ada yang menyukai.

“Adit ?” Lilin berseru dengan wajah seriusnya.

“Iya Adit, Lin. Mungkin dia tau kalau aku tidak suka dengannya. Makanya dia kasih coklat ke aku supaya aku tak suka lagi menjadikan dia saingan”, aku menebak.

“Mana mungkin Dede sayang. Adit mana suka dekat-dekat wanita. Apalagi kayak kamu, sama pintarnya dengan dia. Yang ada malah sama kayak kamu De, INGIN JAUH=-JAUH!

“Ya sudahlah. Lagian ini hanya tebakanku saja! Aku menutup perbincangan singkat malam itu dengan Lilin.

****

Aku berencana untuk datang lebih awal ke sekolah. Aku ingat bahwa aku memenuhi jadwal piket ku membersihkan kelas. Sengaja datang lebih awal karena pasti teman-temanku tak satupun ada diruangan kelas. Itu bisa membuatku lebih leluasa bekerja.

Alih-alih hanya sendiri. Ternyata Adit justru datang lima menit lebih cepat dari aku.

“Apa yang dilakukan Adit?” gumamku dalam hati saat mengintip dari jendela kelas. Kulihat Adit duduk termangu dikursiku.

“Ya Tuhan! Jangan-jangan…Coklat itu…”

Plak!!! Kepalaku terhimpit jendela saat lari bersembunyi. Adit pun langsung ikut kaget dan melihat arah bunyi itu. Ya Tuhan, Adit melihatku. Adit hanya berdiri kaku di balik jendela biru itu. Seperti kucing tertangkap basah. Aku pun beranjak masuk kelas.

“Adit… kamu….coklat itu…”

Adit masih tertunduk diam. Diam seribu bahasa.

“Apa kamu yang menyelipkannya dilaci mejaku?” aku langsung memeriksa kembali laciku. Dan lagi, coklat kesukaanku ada dan nyata.

“Iya De, aku yang memberikannya untukmu. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku tahu kamu gak suka dengan sikapku yang terlalu pintar dihadapan teman-teman. Sejak pertama melihatmu berbicara, aku tahu, kamu wanita yang paling cerdas dikelas ini”, Adit tertunduk. Suaranya serak.

“Tapi…kenapa….”,

“Aku menyukaimu, De. Terimakasih telah hadir disini.”, Adit menatapku dalam.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku memang harus menagkui bahwa aku juga menyukai Adit. Saat itu Adit mengatakan cintanya padaku. Cinta pertama disekolah baruku. Sekarang aku tahu makna kandang singa dan penjara pohon itu. Kandang singa yang mencintai senyuman juga penjara yang penuh pohon-pohon kehidupan untuk membuatku betah sekolah.

  • view 112