Kembar Tapi Beda #Chapter 1

Shofi Nurul Fath
Karya Shofi Nurul Fath Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juni 2016
Kembar Tapi Beda #Chapter 1

Namaku Anisa. Teman-teman sering memanggilku nisa.  umurku 20 tahun. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang bersama dengan kembaranku. Aku lahir dari seorang ibu yang begitu menyayangiku juga memotivasi hidupku. Aku anak ke -3 dari 4 bersaudara. Aku sama seperti anak-anak lai. Hanya saja, aku terlahir memiliki wajah yang sama dengan saudara ku yang ke-4. Ya, aku punya kembaran, namanya Anita. Tidak membutuhkan waktu banyak, hanya setengah jam saja anita menjadi pelengkap bagi kehidupan orang tuaku.

Teman- teman selalu bertanya, apa sih bahagianya memiliki kembaran ? apa istimewanya? apa kemana-mana selalu bersama? apa kalian sering bertengkar? Kalau tidur sekamar kah? Type pacar sama? ( nisa tidak berpikir tentang pacar), Masih bnyak lagi pertanyaan yang tak bisa ku sebutkan satu persatu. Aku hanya menjawab , kadang bahagia kadang menyebalkan. Satu hal saja yang ku syukuri pada Tuhan, kembar menjadi anugerah bagi aku dan nita. Anugerah terindah Tuhan bagi kedua orang tuaku, kedua kakak ku dan keluarga ku.

Sejak kecil, hidup kami selalu bersamaan, mulai dari pakaian, mainan, makanan, sampai barang-barang sekolah pun sama, mulai dari sepatu , kaos kaki, tas, pensil ,pena, dan masih banyak lagi. Hingga guru-guru dan teman-teman disekolah sangat menyukai penampilan kami yang semuanya serba sama. Bahkan tak jarang teman yang senang mengobrol bersama aku da nita.Tetapi terkadag yang menjadi masalah ialah saat ingin berpergian dan kan memilih baju mana yang akan digunakan, itu menjadi perkelahian bagi aku dan anita. Banyak hal yang selalu sama dalam hidup aku dan nita karena memiliki wajah yang sama juga lahirnya pun dengan tanggal yang sama. Saat ulang tahun pun kami menrima hadiah dari teman2 yang juga sama.

Kebahagiaan yang ku alami tidak bertahan lama setelah aku dan nita menginjak remaja. Saat-saat dimana ego dan amarah bergejolak, segala rasa cemburu, sedih, tak suka, tak ingin, dan inilah masa dimana berproses menuju kedewasaan batin. Sehati sekata tak jarang sudah tak ada lagi dalam keseharianku bersama nita. Bukan karena kami saling membenci. Terkadang, tak selamanya kembar selalu sama. Ada hal yang membuatnya berbeda. Termasuk “prinsip hidup”. Semenjak usiaku menginjak 19 tahun takada lagi yang namanya baju sama, sepatu sama, jilbab sama. Semuanya berbeda. Seakan kehidupanku terganggu dengan rasa ego, amarah,  bahkan kecemburuanku pada nita. Prestasinya yang begitu melesat ketika nita terpilih menjadi Mahasiswa Teladan di Fakultas ku. Aku cemburu. Bukan karena aku tak bisa seperti dia. Tapi semua orang tua, keluarga, bahkan teman-temanku

Pagi yang tak begitu cerah, matahari setengah tertutup oleh lembutnya awan hitam pekat. Nita sedang berada di ruang dosen. Entah apa yang dilakukannya disana. Aku mencoba tak peduli sedikitpun . Aku duduk di teras kelas sambil menunggu dosen datang. Tiba-tiba sahabatku Rangga menepuk dari belakang ,

“Assalamu’alaikum nis, !”, hentak rangga dengan senyumannya yang selalu membuatku terpesona.

“eeh  wa’alaikumsalam rangga. Kamu mengagetkan aku saja”, jawabku sambil menghapus air mataku yang mengalir hampir se-ember.

Aku suka dengan gaya rangga yang selalu tersenyum ketika ada masalah, seberat apapun, dia tak pernah menunjukkan wajah sedihnya kepada teman-teman, apalagi pada ku dan nita. Dia sahabatku semenjak aku duduk di bangku SMP hingga sekarang kami sama-sama kuliah di kampus yang sama.

Pagi itu menjadi pagi yang mengharukan bagi ku dan rangga adalah satu-satunya sahabat tempatku mencurahkan segala apa yang ku rasakan.

“Kamu kenapa nis ? kok sedih gitu? Jangan sedih nis, nanti cantikmu hilang loh!”, kata rangga sambil duduk di sampingku dan menatapku hangat. Rangga paling tahu ketika aku ada masalah dan mencoba menghiburku dengan tingkah anehnya.

“Rangga, kenapa aku harus terlahir sama dengan nita!aku gak bisa bebas!aku ingin pergi ke tempat dimana aku tak bisa sama-sama nita lagi!”, suaraku hampir tak terdengar tertutupi tangisanku yang tak bisa dibendung lagi. “Astagfirullahaladzim nisa! Kenapa kamu bicara seperti itu? Istigfar nisa!”, kata rangga dengan nada suara keras. Tangisanku menjadi tempat semua rasa yang ku simpan selama ini. Aku tak bisa menahan ini lagi terlalu lama. Aku pun mulai bercerita pada rangga.

Rangga, aku cemburu pada nita yang selalu di puji teman-teman dengan prestasi-prestasinya, kelebihannya, apalagi mama dan papaku yang bahkan selalu memberi pujian pada nita setiap kali mama menelfon nita. Aku merasa sakit rangga. Padahal, aku juga memiliki bakat dan prestasinya yang tak dimiliki nita. Nilai-nilai mata kuliahku juga selalu lebih tinggi dari nita tetapi kenapa selalu nita yang menjadi andalan mereka ? yang selalu mendapat pujian ? yang selalu menjadi pusat perhatian ? yang selalu menjadi tempat teman-teman bertanya tentang ilmu. Apa yang kurang dariku rangga ? aku merasa rendah, tak ada yang peduli denganku. Aku merasa tak dianggap ada di mata mereka”, ujarku sambil menatap rangga yang serius mendengarkan curahanku. Saat itu aku melihat mata rangga penuh rasa saying dan peduli padaku sebagai sahabatnya.

“Nisa sayang…. Dengerin Rangga kali ini ya… Nisa sadar gak, nisa itu sangat istimewa dari apa yang kamu lihat dan yang kamu rasakan tentang dirimu nis. Apa yang kamu lihat dengan kasat matamu, tidak seperti kenyataannya”, ujar rangga dengan lembut padaku, hingga air mataku mulai berhenti menetes.

“Maksud rangga apa tidak seperti kenyataan?”, ujarku sambil bersandar di dinding kelas. Tidak terasa airmata yang jatuh membasahi jilbab yang ku pakai.

“Nisa, jangan pernah cemburu apada saudaramu sendiri, apalagi nita kembaranmu. Semua orang punya kelebihan masing-masing nisa,  termasuk kalian berdua. Mungkin saja nita punya kelebihan di kampus tetapi diluar kampus dia gak bisa apa-apa. Nis, kamu bahkan lebih dari istimewa nis, dengan ini saja, kamu menunjukkan bahwa kamu selalu mengalah dengan adikmu nita. Kamu sudah menunjukkan sikap kamu sebagai kakak yang hanya mendukung nita dari belakang, walaupun kamu tau kamu merasa sakit nis. Bukan hanya itu nis, aku sendiri sahabatmu melihat kamu bakan lebih cantik dari nita, lebih anggun dari nita, dan lebih feminism dari nita. Itu menuunjukkan sosok perempuan yang sebenarnya nis. Bahkan cara berpakaian pun kamu terlihat lebih rapi dan cerdas melihat hal yang menarik. Itu yang gak dimiliki orang lain terutama nita. Kenapa kamu harus bersedih nis ? mungkin mama dan papamu juga teman-teman gak menyadari itu nis”, panjang lebar rangga berusaha membuatku lega sampai aku dan Rangga tidak menyadari Nita mendengarkan percakapan kami dari awal aku bercerita pada Rangga.

Suasana berubah menjadi sangat haru bahkan air mataku yang terhenti perlahan mengalir deras. Nita yang sejak tadi menyimak apa yang ku curahkan pada rangga, juga perlahan meneteskan air matanya. Padahal, aku jarang melihat nita menangis apalagi di depan ku dan Rangga.

Nit .. Nit , Nita ? sejak kapan kamu ada disini ?”, kataku dengan terbata-bata karena terkejut.

“Iya Nit, bukannya kamu lagi di ruang dosen ?”, Rangga ikut kaget dan bersikap seperti biasa, seperti tak ada sesuatu yang terjadi.

Suasana berubah mengharukan hampir mencekam dan menakutkan. Semua terdiam. Tanpa basa-basi lagi Nita langsung menatapku dengan tatapan yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Tatapan yang membuatku menyadari kesalahanku yang selama ini ku pendam dalam hati. Munafiknya diriku seakan membuatku malu pada diriku sendiri.

“Nis, aku gak nyangka kamu memendam rasa cemburu padaku nis. Aku gak pernah sadari ternyata yang ku lakukan dan ku alami selama ini ada rasa benci dan itu dari kembaranku sendiri. Nis, nita minta maaf kalau nita sudah buat kamu cemburu. Nita minta maaf kalau nita salah dengan semua ini. Hanya membuat nita menangis dan sakit. Nis, apa yang dikatakan Rangga memang benar nis. Bukannya nita ingin diperhatikan teman-teman dan di puji mama papa, tapi apa yang nita jalani sekarang adalah apa yang menjadi hobi nita. Nis, kamu bahkan tidak menyadari kalu wajah cantikmu selalu menarik perhatian teman-teman, hanya saja mereka malu mengungkapkannya, termasuk Rangga”, cetus nita sambil menatap Rangga yang tersipu malu. “eh, kamu nit, gak usah di omongin kenapa sih !!” gerutu Rangga.

Nis, kamu tau 1 hal yang paling nita suka dari kamu? Nisa bisa masak, sedang nita gak bisa sama sekali. Siapa lagi yang bisa menggantikan mama selain nisa ? kalau nita kelaparan hanya ada nisa yang setia masak buat nita. Apa itu yang membuat nisa tidak dianggap ? bahkan mama pernah kan memuji nisa kerana kehebatan mu nis ? aku cemburu nis, tapi akau tau itulah kelemahan ku dan kelebihan nisa yang gak bisa ku miliki. Nisa, meski kita kembar, tak slalu harus sama dalam segala hal, kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sudah menjadi takdir Allah. Kita hanya perlu mensyukurinya. Dengan itu bahagia akan selalu mnyertai kita nis. Ingat nis, kita terlahir kembar tentu ada alasan yang menciptakan kita. Bisa jadi kalau nita hanya sendiri, mama gak akan pernah mengijinkan kita kuliah jauh. Dan mungkin nita gak akan seperti sekarang. Makanya Allah menghadirkan nisa dalam hidup nita, supaya kita saling melengkapi nis. Nita tanpa nisa, bagaikan butiran debu...”ucap nita sambil memelukku erat dengan lagunya yang membuatku tersenyum tulus padanya.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi merasa tak dipedulikan oleh teman-teman, mama papa, bahkan aku sadar ternyata hanya aku sendiri yang merasa seperti itu, aku yang sering menyendiri karena egoku. Aku mulai terbiasa sibuk dengan dunia kehebatanku tanpa rasa iri pada dunia orang lain.

**** end***

  • view 320