Hikam Dan Sepotong Hatinya

Shofi Nurul Fath
Karya Shofi Nurul Fath Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juni 2016
Hikam Dan Sepotong Hatinya

Hikam Dan Sepotong Hatinya

Oleh : Shofi Nurul Fath*

Di dunia ini ke mana saja pasti akan kau temukan wanita dan jubah warna-warninya di sekujur tubuhnya. Aku pun demikian adanya. Rumah, kampus, pasar dan dimana pun kaki hendak melangkah, aku tak pernah lupa bahwa sehelai rambut yang kau tampakkan di muka bumi akan menjadi seribu langkah seorang ayahmu ke dunia tanpa kebahagiaan. Aku yakin, wanita, perempuan dan gadis, ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air, ibarat mutiara,orang perlu menyelaminya lebih dalam, jauh ke dasar lautan untuk mendapatkan kecantikannya.

Aku tak pernah melupakan kalimat-kalimat indah yang semua orang pun tahu. Demikian adanya, aku berusaha selalu menjaga diri, menjaga pergaulan, menjaga izzah dan iffah (katanya). Itu yang aku pahami sejak duduk di semester satu kampus merah di Malang. Satu hal, tak cukup hanya sekedar pakaian yang nampak paham aturan, tetapi sikap, ucapan, serta perbuatan yang menjadi jaminan.

Namanya Hikam Silmi Kaffah. Senang bila selalu memanggilnya Hikam. Ia dikenal gadis yang berani seperti namanya, tangguh seperti kakaknya, sabar seperti ibunya. Di rumah, di kampus dan dimana pun. Bukan hanya tentang mentalnya, tetapi celana jeans favoritnya, kemeja pendek, juga jilbab-jilbab segiempat biasa, dan terkadang jeans nya berganti menjadi rok sekit longgar. Itupun di waktu-waktu tertentu saja.

Siapa yang tak kenal seorang Hikam, gadis yang cukup ambisius dan blak-blakkan (dulu) terkesan ia adalah gadis yang kasar ucapannya. Apalagi ketika diskusi mata kuliah di kelas, Hikam benar-benar menunjukkan cara berbicara yang keras dan sering membuat teman-teman tersinggung.

Suatu waktu Hikam pernah menceritakan keinginannya yang membuatku sangat bahagia. Ya, Hikam ingin sekali berhijab sepertiku. Entah alasan dan angin apa yang membuat ia berpikir baik. Tetapi aku tak peduli itu. Perkataan Hikam, meyakinkanku bahwa ia telah paham bagaimana seorang wanita dalam islam.

“Nan, aku terlihat cantik dengan pakaian ini, kan ?”, tanya Hikam saat sedang mencocokkan gamis birunya di depan kaca kamar Inan.

“Iya Hikam Silmi Kaffah, apapun yang kamu gunakan asal menutup auratmu, kamu sudah terlihat cantik, meski bukan itu sih esensinya”, aku tersenyum lebar pada sahabat kecilku. Hikam membalas senyumanku dengan wajah datar seolah merasa terganggu dengan ucapanku barusan.

Hari berganti bulan, Hikam yang tadinya cerewet berubah menjadi sedikit pendiam,yang tadinya kasar berbicara kini menjadi lembut. Aku semakin yakin bahwa kini Hikam berubah jauh lebih baik. Ia tak pernah lagi berada di zona terlarang Tuhanku. Lihat saja, Hikam yang biasanya baru beranjak dari dunia kampus saat magrib tiba, kini 2 jam sebelum magrib pun ia sudah pamit pulang ke rumah. Teman-teman nongkrongnya di gazebo bahkan sampai bertanya-tanya, ada apa Hikam pulang lebih awal dari biasanya.

Itu yang aku tahu dari Hikam. Hanya saja, takdir yang Tuhan tentukan untuknya, jalan hidupnya sungguh sangat jauh dari yang seharusnya. Sejak kecil, Hikam terbiasa tanpa sosok ayah. Entah hal apa, yang aku tahu Hikam tak pernah memiliki sahabat wanita. Ia selalu akrab dengan teman lelaki saja. Bahkan sampai di bangku kuliah pun ia tetap saja punya teman lelaki.

Lihat saja, di kampus, di rumah, dan kemana pun ia pergi, ia bersama teman lelakinya itu. Meskipun ragu, tapi aku pun kenal dekat dengan Andi dan Bayu. Kedua lelaki hebat ini sudah tidak asing lagi di fakultasku. Bersama Hikam, mereka bertiga sangat serasi. Hikam yang pandai dalam akademik, IPK yang tak diragukan lagi, Bayu yang mahir melukis, juga Andi yang professional dengan gitar dan alat musik lainnya, ditambah suara khasnya yang selalu jadi kebanggaan teman-teman kelasku.

Aku bukan apa-apa bila dibandingkan dengan mereka yang mantap dengan pemahaman agamanya. Aku masih sedang belajar, sungguh aku masih tahap belajar istiqomah. Bagaimana dengan Hikam ?

Seiring berjalannya waktu, Hikam tetap menjadi dirinya sendiri, meski dengan tampilan yang berbeda. Kalimat-kalimat yang pernah dilontarkan Hikam tak pernah aku lupakan. Ia pernah bilang bahwa hijabnya tidak pernah menghalangi dia untuk membatasi pertemanannya dengan siapa pun, ya karena aku tahu Hikam tak pernah bisa tanpa Andi dan Bayu.

“Hikam, Inan hanya mengingatkan kamu, paham agama tidak hanya sekedar tampilan saja Kam, tapi juga pergaulan, sikap, ucapan, semua itu menjadi penanda dan yang harus kita lakukan ketika benar-benar mau turut dengan perintah Tuhan. Kamu wanita, ibarat mutiara, yang perlu menyelam beribu-ribu mil di dasar laut agar mendapatkan mutiara terbaiknya”, ucapku.

“Iya, aku paham yang kau maksudkan. Andi dan Bayu teman terbaikku sejak kecil, aku tahu tabiat mereka berdua, melindungiku adalah satu dari sekian harapan mereka. Meski jauh dari pemahaman agama seperti kau dan aku, Nan. Tapi, ini tidak mungkin membuatku jauh dari mereka berdua. Sholat, tadarus, ikut kajian, seminar-seminar, dan liqo’, Alhamdulillah aku tak pernah tinggalkan. Satu hal yang aku yakini, Inan, beragama tidak mesti fanatik, pakaianku memang syar’i, tapi aku masih berhak untuk berteman dengan siapa pun. Ya seperti yang kamu lihat dulu aku seperti apa, ramah, penyayang dan dekat dengan siapa pun”, Hikam membuatku tersentak atas ucapannya.ia melanjutkan ucapannya yang semakin membangkitkan kegundahanku.

“Justru dengan ini, aku belajar bagaimana menjaga diri di tengah-tengah yang aku tak tahu pun suatu saat mungkin akan membahayakanku. Aku sudah besar Nan, tidak lagi ingusan dan bisa dibujuk dengan sebuah permen dan mainan. Aku tahu apa yang harus ku pilih. Panggilan ukhti Hikam kepadaku semakin membuatku bangga bisa berhijab sepertimu. Kau salah satu panutanku Nan, doakan saja semoga aku semakin baik dari ini”

Tidak ada yang salah, Hikam, kau tidak salah… pikiranmu, jalan hidupmu kau yang jalani, bukan aku, atau siapapun. Hanya saja, hidup ini ada yang mengatur, hari ini boleh saja kita mengaku solehah, mengaku beriman, tapi Tuhan menguji kita tidak mengenal waktu. Kau pun lupa satu hal, Kam, wanita emmang bagian dari lelaki, tetapi lelaki berbeda dengan wanita, kam. Tuhan mengingatkan kita untuk bergaul dengan mereka secara baik. Kau pun lupa Kam, syetan tidak melihat siapa diri manusia, asal dia lemah, maka ia pun mengikut. Dirimu pun juga aurat, seluruh apa yang ada dalam dirimu adalah auratmu.

Dua tahun setelah kelulusan S1 ku, aku tak pernah bertemu Hikam Silmi lagi, setelah pertemuan itu. Entahlah, Hikam yang berusaha tak mau menemuiku lagi. Aku yang berkali-kali berupaya tidak memutuskan tali silaturahim dengannya, namun ia pun juga berbagai upaya menolaknya. Aku hanya mendengar kabar dari Andi, bahwa Hikam juga telah S1 setahun setelah aku.

“Hikam, bgaimana keadaannya sekarang, Andi ? Apa dia semakin baik dari sebelumnya ?”

“Aku tidak tahu mau memulai darimana,Nan, tetapi, seharusnya kau tidak pergi secepat ini. Hikam berubah Nan. Penampilan ternyata tidak menuntut seseorang itu sudah baik, sudah solehah, sudah paham segalanya. Tabiat Hikam yang selalu mempertahankan pendapatnya yang menurut dia itu adalah benar. Membuat dia lupa diri,”

“Kenapa, Ndi ? Apa yang terjadi dengan Hikam ?

“Aku tak perlu menjelaskan banyak lagi Inan. Aku tahu dulu niat Hikam bukan karena benar paham, bukan karena ini dan itu wajib, tapi karena ingin dilihat oleh semua orang, itu awalnya. Tetapi sebgai sahabatnya aku hanya mendukung yang terbaik untuknya. Hikam dan Bayu punya sesuatu yang lebih dari yang kau tau, Inan. Meskipun Bayu berusaha menjaga Hikam, tetapi pemahaman cinta mereka yang salah, hijabnya tidak menjaga dirinya sendiri. Entahlah bagaimana bisa terjadi. Tiap hari aku melihat mereka berdua, tiap hari pula aku mengingatkan Hikam untuk selalu jaga jarak dengan Bayu. Tapi Hikam mengabaikan itu. Sampai suatu hari ia di cemoh banyak orang, di fitanah sana-sini. Aku tak berusaha membela, Inan, tapi itulah yang terjadi. Hikam dan Bayu menjalin hubungan terlarang”.

Aku paham yang dikatakan Andi padaku. Penjelasan Andi membuatku meneteskan air mata. Hikam masih seperti dulu, tidak berubah. Yaa Allah, terus kuatkan aku, yakinkan aku bahwa jalanMu tak pernah salah, bahwa sema yang engkau katakana dalam kitab sucimu adalah niscaya…. Semua ku serahkan padaMU Yaa Rabb, hidup dan mati, rezeki, jodohku, adalah dariMu…. Dan kembalikan aku ketika aku mulai tersesat…..

Pertemuanku dengan Andi di Australia, menjawab seluruh kegundahanku yang terpendam untuk Hikam. Tetapi,satu hal yang aku syukuri, bahwa keyakinanku tak pernsah salah. Rasa itu perlu pengorbanan , apalagi kepada zat yang tak berwujud. Penampilan, wajah, dan apa yang kita pakai tak pernah menjadi jaminan dan ukuran bahwa diri ini adalah makhluk yang baik ataupun sebaliknya, tetapi niat, usaha serta jalan hidup yang menentukan.

Teruntuk Hikam Silmi Kaffah, semoga Allah memberimu kembali jalan yang baik. Semoga kesalahan, kekhilafan dan ilmu menyadarkan hati bahwa kita hanya makhluk tidak tahu yang butuh tahu….

END

Wassalam,

  • view 191