Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 25 Januari 2018   18:12 WIB
Drama

TUGAS
NASKAH DRAMA

OLEH
NAMA SESDI LENES
NIM 1422111094
KELAS B
SEMESTER VII (tujuh)


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPAN
2017

 

 


DRAMA TEKU*

Pada waktu Aku berumur dua belas Tahun, ada cerita yang beredar dari orang-orang kampungku tentang Teku. Aku pun menjadi sangat penasaran tentang Teku dan ceritanya. Maka aku bertanya kepada mama.
Aku: “Ma,di kampung kotong ada Teku?”
Mama :“Ia, ada Nak ! memang kenapa?”
Aku :“Ma,beta dengar cerita dari Bai, bahwan kampung kotong tu sangat terkenal dengan Teku sehinga beta sangat penasaran dengar cerita itu, jadi ma coba cerita kas beta dow.”
Mama :“Oh... Begitu! Begini Nak ceritanya.Dulu, mama belum mengandung kamu tu, ada Teku yang sangat kejam, datang menyerang kotong dan kotong pun lari meningalkan rumah sehinga semua barang yang ada di rumah di bawah oleh kelompok Teku itu.”
Aku :“Ma, kenapa bosong harus lari? kenapa bosong tidak melawan dan mesti lari meninggalkan barang-barang?”
Mama :“Nak, kalau mama dan keluarga mama sonde lari maka mama sonde hidup seperti ini.”
Aku : “Lho, kow Kenapa begitu Ma.”
Mama: “Nak? kalau pada saat kelompokteku itu masuk, dan kotong masih berdiri kow melawan untuk melindungi barang-barang kotong, maka kotong akan mati di horro, karena mereka ingin barang-barangnya dibawa na.”
Aku: “Ma,Apakah sonde ada cara lain untuk meloloskan barang-barang berharga itu?.”
Mama: “Sonde ada cara lagi anak.”
Aku: “Memang kenapa, Ma?”
Mama: “Karena pada saat kelompok Teku itu masuk kotong sonde berpikir lagi dengan barang-barang. Kotong hanya berpikir untuk meloloskan hidup kotong sa,” jawab mama.
Aku: “Ooo... Begitu ko ma? Awi kalau beta yang hidup di saman seperti mama dong pasti beta mati woo, karna be takut na.”
Mama: “Hahahahahaha...”
Aku: “Kenapa mama ketawa?”
Mama: “Mama katawa, karna anak bilang takut.”
Aku: “Terus beta harus kermana mama.”
Mama: “Na, kalau namanya laki-laki tu? sonde usa takut, kalau lu takut orang dong nanti bilang lu perempuan.”
Aku: “Ooo...?. Berarti mulai sakarang beta sonde mau takut teku lai.”
Mama: “Na...! Begitu baru anak mama.” Mamapun mulai memujiku.
Maka mulai itu percakapan aku dan mama selesai.


             Pada saat itu di kampung kami ada tetangga yang hidup makmur dan berkecukupan, tetangga ini bernama Barnabas Neolaka. Barnabas Neolaka ini memiliki binatang peliharaan sapi, kambing, babi, bahkan punya mobil , Rumah tembok dan juga memiliki uang Perak. Keluarga Neolaka ini sangat sombong dengan harta yang mereka miliki. Pada saat itu pun juga Barnabas ini bermusuhan dengan Samuel Benu yang terkenal sebagai Teku Nakaf ataun kepala Teku. Maka Samuel Benu menggundang teman-temannya dan menyusun strategi untuk merampok harta Barnabas Neolaka. Sesudah mereka berkumpul Samuel menanyakan kepada mereka.
Samuel Benu: “Teman-teman beta sudah mendapatkan tempat untuk kotong rampok.”
Teman–teman samuel: “Di mana Bos!”
Samuel : “Di dekat perbatasan Amanuban dengan Amanatun.”
Teman-teman: “Ooo? itu di rumah siapa tu Bos.”
Samuel: “Di rumahnya Barnabas.”
Teman-teman: “Ok Bos, kami siap.”
Samuel : “Kalau begitu, satu orang siap mengantarkan surat kepada Barnabas sebelum kita masuk.”
Teman-teman Samuel: “Ok bos.”
Samuel : “Kawan-kawan tentukan jam berapa kita masuk menyerang Barnabas .”
Teman Samuel: “Ah biasalah bos.”
Samuel : “Biasa apa?”
Teman Samuel: “ Biasalah, Jam 06:00 atau 07:00 to bos?”
Samuel Benu : “Ok.”


                  Maka mulai saat itu percakapan mereka selesai, teman-teman Samuel tidak bertahan lagi untuk mereka pulang maka salah satu dari antara mereka itu meminta agar mereka berpisa karena sedikit lagi akan turun hujan, lalu Samuel mengijinkan mereka pulang. Namun pesanan dari Samuel agar mereka siap merampok dalam bulan depan.
Samuel :”teman teman, beta ijinkan kamu pulan tapi kamu ingat bulan depan kita serang Barnabas.
Teman-teman samuel: “ Ok Bos, kami semua siap!”
Samuel : “Ok, kalau begitu kalian pulang dan ingat balik dalam bulan depan.”
Teman-teman Samuel: “Ia Bos.”
Lalu pulangah teman-teman Samuel ke rumah mereka masing-masing.
Beberapa bulan Barnabas Neolaka ini menerima surat dari teman Samuel. Karena pada saat gerombolan teku mendatangi rumah maka haruslah mereka mengirim surat sebelum mereka datang.
Barnabas Neolaka pun juga tahu bahwa surat ini menandakan bahwa sekelompok Teku akan menyerang rumahnya. Maka Barnabas Neolaka ini berlari-lari menuju rumah adiknya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Setibanya Barnabas di rumah adiknya, maka Barnabas memberikan surat itu kepada adiknya Lukas.
Barnabas: “Lukas, ini suratnya dari kelompok teku.”
Lalu Lukas menerima suratnya itu dan ia tidak mengatakan apa-apa. Lukas pun juga tahu bahwa surat ini bertanda bahwa sedikit lagi akan terjadi penyerangan gerombolan teku di rumah kakaknya. Cepat Lukas mengajak adiknya Min pergi bersama-sama dengan kakaknya itu untuk menjaga binatang-binatang serta harta kakaknya.
Sebelum mereka pergi ke rumah Barnabas. Lukas memerintahkan adiknya Min untuk mengambil parang dan panahnya yang tersimpan di dalam rumah bulat. Kata Lukas kepada adiknya Min.
Lukas: “Min,!
Min: “Ia kak.”
Luk: cepat ambilkan beta parang, panah dan tombak untuk kita pi di rumah kakak.
Min: “Ia Kak.”
               Setelah itu Min menutup pintu rumah dan mereka pergi ke rumah kakaknya.
Ketika mereka tiba di rumah Barnabas, Lukas menyuruh Barnabas untuk memberitahukan keluarga yang ada di kampung itu untuk membantu jaga.
Kata Lukas kepada Barnabas.
Luk: “Bas!”
Bas : “Ia, adik.”
Luk: “ Pi kasitau keluarga yang ada di sini, supaya sebentar datang bantu jaga.”
Bas: “Ia adik.”
             Lalu Barnabas pun pergi memberitahukan keluarga, khususnya laki-laki yang berada di kampung itu agar membantu menjaga-jaga. Tetapi semalam itu gerombolan teku merencanakan hal lain sehingga mereka tidak datang ke rumah Barnabas. Mereka hanya datang menuju kandang sapi milik Barnabas yang cukup jauh dari rumahnya.Gerombolan teku itu menuju kandang sapi, lalu mereka beraksi melumpuhkan sapi-sapi yang ada di kandang itu dan membawa pulang enam ekor sapi milik Barnabas. Pagi itu seperti biasa Barnabas pergi melihat sapi- sapinya di kandang. Sesampai dikandang sapi, ia melihat sapi-sapinya ada yang mati ada pula kaki yang putus bahkan ada juga yang hilang.
Setelah Barnabas melihat sapi-sapinya yang cacat itu, ia pun menangis dan kembali pulang ke rumahnya.
Barnabas: “Hiii, hiiiiii.”
Sesampai dirumahnya ia memberitahukan adik-adiknya beserta keluarga yang ada di sekeliling itu bahwa semua sapi kita di teku. Ada yang mati, ada yang cacat bahkan juga yang hilang
Barnabas: “Sapi-sapiku di teku, ada yang mati, ada hilang, bahkan semuanya cacat.”
Lalu Barnabas menyuruh adiknya Lukas untuk pergi menggambil sapi-sapi yang mati itu untuk membagikan kesemua keluarga yang ada di kampung.
Barnabas: “Lukas!”
Lukas: “Ia kak.”
Barnabas: “Pi suruh Min dan keluarga yang ada di sini utuk pi ambil sapi-sapi yang mati untuk membagikan kepada tetangga yang ada di sini.”
Lukas: “Ia kak.”
Lalu Lukas pun pergi dan memberitahukan adiknya Min sesuai dengan perintah kakaknya.
Kata Lukas kepada adiknya.
Lukas: “Min!”
Min: “Ia kak.”
Lukas: “Kakak Bas bilang pi ambil sapi-sapi yang mati supaya bagi di tetangga yang ada di sini.
Min: “Ia kak.”
              Maka Min pun pergi melakukan perintah kakaknya.
Saat itu pun juga keluargaku mendapat daging sapi dari keluarga korban tersebu.
Setelah menjalang beberapa bulan kemudiaan gerombolan teku itu kembali dan menyerang Barnabas. Malam itu semua orang-orang kampung sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sehingga tidak ada yang pergi membantu jaga di rumah Barnabas sehingga gerombolan teku itu berhasil masuk kerumah Barnabas dan mereka menghancurkan mobil, rumah, serta semua barang-barang yang ada didalam rumah maupun di luar rumah.
Saat itu pun Barnabas berserta Istri dan Anak-anaknya pergi lari meninggalkan rumah. Setelah tetangga-tetangga yang ada disitu mendendegar bunyi-bunyi lemparan seng, maka teriaklah tetangga itu.
Teku: “Treng, treng, treng!”
Tetangga: “Teku...Teku...Teku!!!”
             Semua keluarga yang ada di sana mendengar teriakan itu lalu mereka mengambil parang, tombak, batu ,senter bahkan panah, berlari menuju rumah Barnabas.
Tanya warga: “Di mana?Teku itu di mana?”
Tetangga: “Mereka menyerang rumah Barnabas,”
             Lalu warga pun berlari menuju rumah Barnabas namun tak ada lagi teku di sana.
Pada esok harinya Barnabas beserta kelurganya pulang dari pelarian, ia melihat semua barang-barang yang ada di rumah dalam keadaan rusak parah dan hancur. Mobilnya pun hancur. Ia hanya tunduk dan menagis begitu pun Istri dan anak-anaknya.

 

Karya : sesdi lenes