Opini: Ada Pakaian yang Tepat Untuk Kepribadian yang Tepat

Skylight Room
Karya Skylight Room Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 November 2017
Opini: Ada Pakaian yang Tepat Untuk Kepribadian yang Tepat

Saya seorang muslimah yang terlahir di sebuah keluarga yang sangat islami, dan saya berhijab sedari kecil. Ibu saya suka sekali melihat putri-putrinya menggunakan gamis (jubah panjang) anggun dan kerudung lebar, apalagi dilengkapi dengan kaus kaki sebagai penutup aurat telapak kaki. Jelas, saya menggunakan gamis sejak saya kecil, tapi lebih seringnya sih pakai celana panjang.

 

Beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak saya memasuki perkuliahan (tahun 2014), ibu saya semakin terobsesi dengan penggunaan gamis dan kerudung panjang dalam kegiatan sehari-hari. Saya pun tidak ada rasa keberatan sama sekali, yaa selagi gamisnya cantik, anggun, dan belinya masih dibiayain ortu mah oke-oke aja gituu, meskipun pada akhirnya gamis-gamis tersebut saya pakai ngampus hanya ketika saya sudah kehabisan celana panjang dan baju kaos untuk dipakai. Haha..

 

Nah, suatu ketika, entah semester berapa, ada seorang teman dekat saya, yang pada dasarnya, dia cewawakan, ceplas-ceplos, messy, clumsy dan penampilannya rada tomboy gitu tiba-tiba merubah penampilannya menjadi benar-benar syar’i. Tentu saya mendukung kemauannya untuk ‘berhijrah’ meski saya sendiri tetap begini-begini saja dan gak ikutan berhijrah seperti dia.. :v

 

Waktu berlalu hingga kurang lebih 4 bulan, teman dekat saya ini tiba-tiba berkata “duh, kayaknya aku sudah gak kuat deh untuk terus pakai pakaian syar’i gini.. soalnya ga kongruen sama sifat dasarku. Emang sih ga ada jaminan kerudungan panjang berarti akhlaknya bagus,,, tapi aku malu sendiri kalo kerudungku panjang tapi mulutku masih suka cewawakan sendiri” :3

 

Dan akhirnya teman saya saat ini sudah tidak memakai kerudung panjang lagi, dan sekarang lebih memilih menggunakan baju atasan biasa dan rok panjang..

 

Oke, sampai di situ cerita tentang teman dekat saya..

 

Saya sendiri merasa ‘aneh’ setiap melihat muslimah berkerudung panjang namun tingkahnya di tempat umum pencilakan. Memang, tidak ada yang salah dengan hijabnya, tapi menurut saya, ada norma kepantasan yang terikat dalam balutan hijab tersebut. Emm.. gimana ya ngejelasinnya..

 

Emmm.. kalo menurut pepatah jawa itu “Ajining raga ana busana” yang artinya kurang lebih “pakaian mencerminkan kepribadian”. Jadi, akan terlihat suatu ketimpangan ketika pakaian seseorang dan kepribadiannya tidak seiring sejalan.

 

Ya that’s great ketika seorang muslimah ingin berhijrah, ingin memperbaiki dirinya dimulai dari cara berpakaiannya. Dan jika tingkah lakunya belum bisa mengiringi pakaiannya, ya that’s fine,, namanya juga masih berproses.

 

Nah, yang menjadi masalah dalam kehidpan saya adalah ketika ibu saya benar-benar-benar-benar terobsesi agar putri bungsunya ini memakai gamis dan kerudung panjang secara istiqomah. memang sih itu demi kebaikan saya sendiri, bukan demi kepentingan beliau.. Tapii,,,  Hnnggg -_-

 

Gimana yaaa.. saya cukup mengenal diri saya. Memang tampak luar saya terlihat kalem, adem, ayem, ga banyak tingkah, ga banyak polah –yang menurut pandangan para teman, saya sangat pantas bergamis dan berkerudung panjang—tetapi, jauh di dalam jiwa saya,, sebenarnya saya cukup ‘rebelious’.

 

Saya punya tingkah polah yang adventurous, imaginative, experimental dlll –yang hanya saya dan Tuhan yang mengetahui-- dan menurut saya ga pantes aja this kind of soul wearing a super large hijab.

 

Saya tidak mengatakan hijab itu menghalangi seorang muslimah untuk mengekspresikan diri. Tidak!

 

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, ada pakaian yang tepat untuk kepribadian yang tepat. Jadi, tidak bisa dipukul rata semua muslimah harus bergamis dan kerudung lebar. Setiap muslimah punya kepribadian  dan style masing-masing. Selagi ia masih mau menutup aurat dan tidak berdandan secara berlebihan, saya rasa itu sudah cukup.

 

Sekian, terimakasih.

 

Malang, 12 November 2017

  • view 19