Pemahaman Saya Tentang Sholat

Khulailah Baried
Karya Khulailah Baried Kategori Agama
dipublikasikan 28 Agustus 2017
Pemahaman Saya Tentang Sholat

Dulu waktu masih kecil, saya susah sekali jika disuruh untuk sholat. Berat banget gitu rasanya. Rasanya kayak sholat itu menguras tenaga banget, karena saya tipe anak yang sulit untuk konsentrasi (sedangkan sholat itu butuh kosentrasi tingkat dewa).

 

Kalo udah kebangetan susahnya untuk disuruh sholat, ortu biasanya bilang “Ngga takut dibakar di neraka tha?” atau ”Mama ga mau kamu nanti dibakar di neraka.” Kalo orang tua dah bilang gitu, saya langsung mlipir ke tempat wudhu aja dahh. Tapi setelah itu saya berpikir “Masa iya sih aku sholat cuma karena takut neraka dan pingin surga?”

--hal seperti ini dan pertanyaan seperti ini terjadi berulang kali hingga saya remaja, dan saya pun tetap saja sholat hanya karena iming-iming surga

 

Ketika saya remaja dan disekolahkan di pondok pesantren pun ceritanya tidak jauh berbeda. Sholat 5 waktu di masjid diabsen sama kakak-kakak pengurus kerohanian. Yang sering ngeblong (bolos) ke masjid dapat hukuman, yang paling rajin ke masjid dapat penghargaan. Disitu saya merasa “kenapa sebuah ibadah menjadi ajang perlombaan yang tidak dewasa seperti ini ya?” Memang, saya pernah beberapa kali mendapat penghargaan santriwati yang paling rajin ke masjid, bentuk penghargaannya macem-macem. Saya pernah dapat hadiah berupa kerudung/handuk/isi ulang sabun mandi Biore aroma apel (duh maaf sebut merek)/notebook spiral (bukan notebook yang kayak laptop lho yaa)/dll. Itu baru hadiah dari pengurus kerohanian, dari ustadzah wali kamar pun saya juga dapat hadiah berupa buku mini kumpulan do’a do’a dan dzikir. Saya tetap mensyukuri semua hadiah itu, meski saya tidak begitu membanggakannya. Saya rasa semua penghargaan itu hanyalah omong kosong, karena saya lah yang paling tahu seperti apa sholat saya.

 

Sebenarnya saya tidak begitu meresapi sholat saya. Saya rajin ke masjid dan sering menjadi yang pertama berangkat ke masjid bukan karena panggilan hati untuk ibadah, melainkan karena tidak ada hal menyenangkan yang bisa saya lakukan di kamar. Saya anak yang terpojok, tidak begitu mudah bergaul, tidak memiliki begitu banyak teman. Jadi, pergi ke masjid duluan itu hanya semacam pelarian bagi saya, hahaha…

 

Pada beberapa titik, saya merasa sangat butuh untuk sholat dan menemui Tuhan saya. Pada titik tersebut saya begitu khusyuk menikmati sholat saya. Namun juga ada masanya dimana saya merasa sholat saya begitu hampa, kering, pikiran saya mengembara kemana-mana ketika saya sedang sholat. Entahlah saya begitu labil, iman ini sering naik turun.

Hal seperti ini berlangsung selama saya di pondok pesantren.

 

Ketika kuliah saya menemukan bahan bacaan yang kurang lebih berbunyi “Tuhan tidak membutuhkanmu. Kaulah yang membutuhkan-Nya. Tidak berkurang sesuatu apapun dari Tuhan bila seluruh penduduk Bumi tidak tunduk pada-Nya. Tuhan tidak membutuhkan sholatmu, tapi kaulah yang membutuhkan sholat.” Ehemm.. sebenarnya sejak mondok saya sudah menemukan teks semacam ini, tapi dahulu saya tidak begitu menghiraukannya, tidak begitu meresapi makna kalimatnya. Dan di masa kuliah ini saya berfikir “jika memang Tuhan tidak membutuhkan kita untuk sholat, lalu mengapa sholat harus dipaksakan? Mengapa sholat 5 waktu itu diwajbkan? Jika memang hanya pihak manusia yang membutuhkan sholat, berarti cukuplah manusia itu sholat ketika ia merasa butuh, tidak perlu dipaksakan sholat 5 waktu! Bukankah begitu?!”

 

Setelah menemukan pemikiran semacam itu, saya tidak rutin melakukan ritual sholat. Saya sholat hanya ketika saya merasa butuh atau sedang dalam mood yang mendukung. Dan itu berlangsung kurang lebih 2 atau 3 semester.

 

Dan pada suatu ketika saya menemukan kondisi percintaan/kerumahtanggaan penduduk Indonesia dimana angka perceraian kini semakin meningkat. Ada 3 penyebab utama dari kehancuran rumah tangga penduduk Indonesia, yaitu krisis ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga dan hadirnya pihak ketiga. Alasan yang terakhir saya sebutkan adalah yang paling menarik untuk saya selidiki dan hasilnya rata-rata laki-laki lah yang mengkhianati komitmen bermahtangga. Mereka banyak berdalih atas pengkhianatan yang telah mereka lakukan, salah satunya yaitu ‘poligami kan boleh’.

 

Well tekewelewel… memang sih poligami itu boleh.. boleh.. booleeehhh… tetapi, yang namanya perasaan tetaplah perasaan.. tidak ada perempuan yang mau diduakan, pun sama tidak ada laki-laki yang bersedia jika diduakan bukan?

 

Oh, bahkan Tuhan pun tidak ingin diduakan!

 

Hey! That’s the idea! Tuhan pun tidak ingin diduakan!

 

“So, perbuatan apa yang merupakan tindakan menduakan Tuhan?” Tanya saya pada diri saya sendiri. Saya pun mencari cari jawabannya sendiri. Pertama, pergi ke dukun. Kedua, mencintai dunia secara berlebihan. Stop! Wait! Saya baru sampai pada 2 jawaban dan saya ingin berhenti sejenak..

Seperti apa itu mencintai dunia secara berlebihan?

Saya pun menganalisa jawabannya dari gaya hidup saya sendiri..

 

Mungkin, yang termasuk perbuatan mencintai dunia secara berlebihan itu seperti saya berlama-lama buka instagram dan mengabaikan panggilan adzan. Mungkin, yang termasuk perbuatan mencintai dunia secara berlebihan itu seperti saya lebih mencintai selimut dan kasur saya hingga meninggalkan sholat subuh saya.

Jadi, jika saya telah menduakan Tuhan, lalu bagaimanakah cara yang benar dalam mencintai-Nya?

 

Saya pun menganalisa seperti apakah dua insan yang sedang dirundung cinta? Bagaimanakah cara mereka dalam mencinta?

 

I found out that dua insan yang saling cinta itu selalu rindu satu sama lain, selalu ingin bersama, bersedia menemani dalam suka maupun duka… oohhh.. manisnyaaa…

 

Saya pun merefleksikan itu semua pada interaksi saya pada Tuhan.

Apakah saya selalu rindu Tuhan? Apakah saya selalu ingin bersama-Nya? Apakah saya selalu mengingat-Nya dalam susah maupun senang?

 

Nyatanya, jawabannya “tidak..”

 

Dan saya sampai pada suatu kesimpulan : “Sholatlah bukan karena kamu ingin surga atau takut neraka, tapi lakukanlah sholat sebagai bukti bahwa kau mencintai-Nya”

 

Pemikiran yang serupa sudah dikemukakan dan diamalkan oleh seorang sufiyah bernama Rabi’ah Al-Adawiyah.. ya, saya sudah sering membaca itu ketika di pondok dulu.. tapi sekali lagi, baru sekarang saya bisa benar-benar meresapi makna kalimatnya.

Malang, 28 Agustus 2017

Bianca

  • view 373