Artikel Siti Hajar : Kecerdasan Emosional dalam Perkembangan Belajar Siswa

Sity hajar
Karya Sity hajar Kategori Buku
dipublikasikan 18 Januari 2018
Artikel Siti Hajar : Kecerdasan Emosional dalam Perkembangan Belajar Siswa

KECERDASAN EMOSIONAL DALAM PERKEMBANGAN BELAJAR SISWA

Oleh

 

 Siti Hajar

Sity@gmail.com

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Kupang

 

Abstrak

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelolah, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

            Kata kunci : kecerdasan, emosional, perkembangan belajar, siswa

                       

            Pendahuluan

Selama bertahun-tahun kecerdasan intelegensi (IQ) telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademis, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang. Daniel Goleman (1999), adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian dikenal dengan sebutan Emotional Quotient (EQ).

Salah satu komponen penting untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat adalah kemampuan untuk mengarahkan emosi secara baik. Penelitian yang dilakukan oleh Goleman (Ubaydillah, 2004: 1) menunjukkan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sisanya 80% ditentukan oleh serumpun faktor yang disebut kecerdasan emosional. Dalam kenyataan sekarang ini dapat dilihat bahwa orang yang ber-IQ tinggi belum tentu sukses dan belum tentu hidup bahagia. Orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah, seringkali keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat berkonsentrasi. Emosi yang tidak berkembang, tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan bersikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik.

Dari pernyataan di atas maka diambil sebuah contoh tentang seorang yang bernama Hamid. Ia adalah seorang yang sukses dalam bidang bisnis, menjadi pengusaha terkenal namun dalam kehidupan keluarga dan pribadinya tidaklah sesukses seperti pekerjaannya. Hamid seorang yang mapan namun ia enggan untuk menikah dikarenakan berprinsip bahwa bekerja adalah hal yang utama dalam hidup untuk menuju sukses. Di lihat dari karakter Hamid ini orang yang ber-IQ tinggi namun dalam batinnya ia tidak bahagia. Dari pernyataan di atas maka dapat diambil kesimpulannya bahwa orang yang ber-IQ tinggi namun taraf emosionalnya rendah maka hidupnya tidak akan stabil dan bahagia.

            Bagian Inti

  1. Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosi merupakan kapasitas manusiawi yang dimiliki oleh seseorang dan sangat berguna untuk menghadapi, memperkuat diri, atau mengubah kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.

Menurut Goleman, biasanya pada orang-orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. Karena sifat-sifat di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa apabila mengalami stres. Kondisi sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-rata namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

 

 

Dari pendapat di atas maka diambil salah satu contoh yaitu, Nadia adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kota Kupang. Ia terkenal di sekolah karena memiliki IQ yang tinggi sebab ia selalu rengking 1 sejak duduk di bangku kelas X. Nadia berencana akan melanjutkan pendidikan tinggi di kota Yogyakarta. Namun seiring berjalannya waktu ternyata dia tidak diterima dikarenakan suatu alasaan tertentu. Dari masalah yang dihadapi Nadia apabila ia memiliki taraf kecerdasaan emosional yang rendah maka akibat yang terjadi pada diri Nadia adalah ia akan mudah frustasi dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional

Menurut Goleman terdapat dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu; faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yakni, faktor yang timbul dari dalam diri individu yang dipengaruhi oleh keadaan otak emosional seseorang. Otak emosional dipengaruhi oleh amygdala, neokorteks, sistem limbik, lobus prrefrontal dan hal-hal yang berada pada otak emosional. Yang kedua, faktor eksternal yakni, faktor yang datang dari luar individu dan mempengaruhi atau mengubah sikap pengaruh luar yang bersifat individu dapat secara perorangan, secara kelompok, antara individu dipengaruhi kelompok atau sebaliknya, juga dapat bersifat tidak langsung yaitu melalui perantara misalnya media massa baik cetak maupun elektronik serta informasi yang canggih lewat jasa satelit.

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa faktor internal merupakan faktor penentu bagi siswa dalam menerima pelajaran atau merespon tanggapan dalam proses belajar mengajar. Apabila siswa yang mengalami kelainan di otaknya maka siswa tersebut akan lamban dalam menerima dan merespon dalam proses belajar mengajar. Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar diri siswa, artinya seorang siswa yang pada dasarnya adalah anak yang baik, pintar, agamanya bagus bisa menjadi anak yang nakal, bandel tidak pernah melaksanakan ibadah seperti pada umumnya, hal ini dikarenakan pengaruh dari lingkungan, teman sebaya, bahkan dari berbagai media elektronik misalnya  Handphone dan lain sebagainya.

 

 

 

 

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor internal adalah faktor yang ada pada diri individu itu sendiri sehingga kita sebagai pengajar atau orang tua hanya bisa mengkondisikan hal itu sesuai dengan keberadaannya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri individu itu sendiri jadi sebagai pengajar atau orang tua sebaiknya mengawasi dan mendidik anak agar mengarah ke hal-hal yang baik.

Penutup

Simpulan/ Saran

Kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa, yang memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi belajar yang baik di sekolah. Siswa dengan ketemapilan emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam pelajaran, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Sebaliknya siswa yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada pelajaran ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih, sehingga bagaimana siswa diharapkan berprestasi kalau mereka masih kesulitan mengatur emosi mereka.

                  Saran

     Semoga artikel ini dapat membantu siswa dan teman-teman lainnya dalam meraih cita-cita dan impian untuk masa depan yang lebih baik. Saran saya, jika kita ingin memiliki sesuatu maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berkomitmen dalam perbuatan atau tingkah laku serta prinsip yang sudah tertanam dalam diri kita. Jangan mengambil suatu keputusan saat dalam kondisi emosi atau situasi suatu keadaan yang tidak mendukung pikiraan dan perasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Rujukan

belajarpsikologi.com

https://books.google.co.id.15januari2018

https:// image.slidesharecdn.com/kecerdasanintelektual.15januari2018.

https://id.m.wikipedia.org.15januari2018

 

 

 

  • view 140