Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Januari 2018   20:00 WIB
Naskah Drama Siti Hajar : Sisir Emas Raja

 SISIR EMAS RAJA

 (Pada zaman dahulu, di pulau Adonara hiduplah sebuah kerajaan yang bernama Kenotan. Kerajaan Kenotan memiliki gelar bewenat Notan Boi Taran, Sia Lawa Taka. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Laga Doni yang bergelar Doni Dua Dayon. Raja Laga Doni memiliki permaisuri bernama Nini Sari Koli. Seluruh kegiatan hariannya, Raja Laga Doni dan permaisuri selalu dikawal para hulubalang beserta dayang-dayang. Di kala berkuasa, Raja Laga Doni diwarisi sebuah sisir emas pusaka. Lantaran telah menikah, sang Raja memberikan sisir emas tersebut kepada permaisurinya)

Raja Laga Doni : Permaisuriku dengarkan aku baik-baik, sisir emas pusaka ini adalah salah satu harta pusaka peninggalan kerajaan ini, dan sisir emas ini sesungguhnya merupakan penentu harkat dan martabat kerajaan ini.

Nini Sari Koli      :  (mendengarkan dengan sungguh-sungguh). Jadi, maksud Baginda apa yang harus Dinda lakukan dengan sisir pusaka ini?

Raja Laga Doni     : Gunakan sisir ini sebagai pengganti tusuk konde dan jagalah dengan baik. Jika sisir emas ini hilang maka sama halnya dengan hilangnya harkat dan martabat kerajaan ini. Jadi, aku berharap agar kau bisa menjaga keberadaan sisir emas ini dengan baik. (Jelas Raja Laga Doni sembari memberikan sisir emas pusaka tersebut kepada permaisuri. Permaisuri pun mendengarkan perkataan raja dengan sungguh-sungguh, tangannya meraih sisir emas itu sembari tersenyum dan merasa bahagia)

Nini Sari Koli : Baiklah Baginda, aku akan menjaga sisir emas ini dengan baik. Akan kugunakan sisir emas ini sebagai pengganti tusuk konde di rambutku.

(Di ufuk timur tampaklah cahaya mentari pagi seakan tersenyum menyapa tanah Lewo Adonara. Dedaunan masih tampak berembun, ilalang basah, menunggu matahari menyapa. Air di kali tampak pasrah meski tetap mengalir menyampaikan pesan kepada katak dan semua yang menepi di kali Wai Tenepan. Suatu pagi, sang permaisuri hendak mandi di kali Wai Tenepan. Sebelum berangkat permaisuri meminta izin terlebih dahulu kepada raja Laga Doni yang sedang duduk di kursi singgasana)

Nini Sari Koli      : Baginda raja, permaisuri mohon izin untuk pergi ke Kali Wai Tenepan.

Raja Laga Doni : Untuk apa Dinda pergi ke sana, ada apa gerangan sehingga Dinda ingin mandi di Kali Wai Tenepan?

Nini Sari Koli      : Aku ingin berendam badan sebab hari ini aku merasa sangat panas.

Raja Laga Doni : (Sebelum mengatakan setuju, tiba-tiba raja terdiam dan sejenak berpikir). Ehmm.. baiklah.. aku ijinkan kau pergi ke Wai Tenepan dan berhati-hatilah, ingatlah pesanku.

(Raja Laga Doni menyembunyikan rasa khawatirnya dengan tetap mengijinkan permaisuri pergi mandi Permaisuri pun pergi ke kali ditemani beberapa dayang dan dikawali beberapa hulubalang. Permaisuri Nini Sari Koli tampak merasa bahagia saat itu, sehingga sang permaisuri lupa menanggalkan sisir emas warisan sang raja dari kondenya. Permaisuri pun menceburkan dirinya ke dalam air kali tanpa sedikit pun menyadari ia telah lalai melepaskan sisir emas di kondenya. Setelah beberapa saat berendam diri di kali itu, permaisuri akhirnya menyadari bahwa sisir emas tersebut belum ditanggalkan)

Nini Sari Koli :  Astaga di mana sisir emasku, di mana sisir emasku... di mana sisir emasku... (Ia pun menggapai-gapai konde di rambutnya. Naas. Sisir emas tersebut tidak berada lagi di kondenya. Berulang-ulang permaisuri mengucapkan kalimat tersebut, lalu salah seorang dayang yang mendengar hal tersebut lalu mendekat dan menanyakan pada permaisuri)

Dayang                   : Ada apa permaisuri, apa yang terjadi? dapatkah hamba membantu permaisuri?

Nini Sari Koli      : Iya... sisir emas pusaka hilang, cepat carikan!!!

Dayang                : Baik permaisuri.

(hari semakin sore akan tetapi para hulubalang dan dayang belum memberitahukan kepada permaisuri tentang sisir pusaka yang sedang dicarikan)

Nini Sari Koli     :Dayang... pengawal... Apa kalian sudah menemukan sisir pusaka? (berteriak memanggil pengawal dan dayang)

Pengawal                : (menundukan kepala dihadapan permaisuri) maafkan kami permaisuri, kami sudah menyelam beberapa kali di tempat permaisuri berendam, akan tetapi kami tidak menemukan sisir pusaka itu permaisuri.

Dayang                       : (menundukan kepala dihadapan permaisuri)  kami juga sudah mencari dibalik semak-semak dan diseluruh tempat ini, tapi kami tidak menemukan sisir emas itu . Maafkan kami permaisuri. (berlutut memohon ampun)

Nini Sari Koli             : ya gusti apa yang harus saya katakan pada Baginda Raja tentang hilangnya sisir pusaka itu (menatap langit dan berdoa)

(Siang hari pun berganti menjadi sore. Para pencari sisir emas pun telah letih, permaisuri menghentikan pencarian sisir emas tersebut. Mereka kemudian kembali ke istana. Dalam perjalanan pulang, permaisuri tampak cemas dan takut)

Nini Sari Koli      : Bagaimana ini, apa yang harus saya lakukan..?

(Permaisuri khawatir, jangan-jangan sang raja akan memarahinya bila mendengar bahwa sisir emas pusaka kerajaan telah hilang. Namun, permaisuri kembali berpikir, bila ia tak memberitahu sang raja, tetapi kemudian sang raja mendengar berita kehilangan itu dari orang lain, tentu sang raja akan lebih murka padanya. Beberapa saat kemudian tibalah permaisuri beserta para dayang dan hulubalang di istana, dengan berat hati Permaisuri Nini Sari Koli langsung menyampaikan kepada sang raja soal kehilangan sisir emas itu)

Nini Sari Koli : Sebelumnya Dinda mohon maaf, Baginda. (bersimpul dan berurai air mata di kaki Raja Laga Doni)

Raja Laga Doni : (bingung) ada apa ini Dinda. Mengapa meminta maaf dan menangis seperti ini?

Nini Sari Koli    :  Dinda sadar bahwa harta pusaka peninggalan kerajaan ini salah satunya adalah sisir emas pusaka yang Baginda berikan kepada Dinda sewaktu kita menikah dulu. Dinda juga menyadari bahwa sisir emas itu sesungguhnya merupakan penentu harkat dan martabat kerajaan ini.

Raja Laga Doni : Maksudnya Dinda? (kaget dan berfirasat tentang sisir pusaka)

Nini Sari Koli    : Seperti  yang Baginda jelaskan hal itu pada Dinda saat  memberikan sisir emas ini. Namun, Dinda tidak mampu menjaga keberadaan sisir pusaka itu sehingga sisir itu hilang pagi tadi sewaktu permaisuri mandi di kali Wai Tenepan.

(ungkap Permaisuri Nini Sari Koli dengan butiran air mata yang mulai luruh satu persatu. Mendengar pengakuan istrinya, wajah Raja Laga Doni yang ceria saat itu langsung berubah. Beberapa menit suasana bisu menyelimuti isi istana. Raja Laga Doni diam membisu. Begitupun permaisuri, para dayang dan hulubalang)

Raja Laga Doni   : Baiklah! Karena peristiwa ini adalah duka kerajaan, sebagai raja, saya tidak mau sekiranya kita semua larut dalam kesedihan ini!( Raja Laga Doni bersuara beberapa saat kemudian. Mendengar perkataan raja, semuanya mengangkat wajah). Kita harus menyusuri kali Wai Tenepan untuk mencari dan menemukan sisir emas pusaka itu. Saya yakin, jika kita semua bekerja sama dengan teliti dan sabar untuk mencari sisir emas itu sampai ke ujung pulau ini. Kita pasti akan menemukannya.

Pengawal            : Kami bersiap dan bersedia untuk mencari sisir pusaka itu Baginda. Kapan kami akan pergi untuk mencari sisir pusaka itu Baginda Raja? (tiba-tiba suara pengawal ikut menyemangati suasana kerajaan)

Raja Laga Doni       :Besok pagi kita mulai mencari. Baginda pun akan turun tangan.

(Keesokan harinya, sebelum mentari menampakkan wujudnya, Raja Laga Doni bersama para hulubalang dan dayang telah berkumpul di depan istana. Sang raja berpakaian layaknya prajurit perang. Begitupun para hulubalang. Semuanya siap dengan parang dan perisai di tangan. Juga anak panah dan busur yang menggantung di lengan. Sementara, para dayang sudah siap dengan perbekalan)

Raja Laga Doni       : Dindaku, doakan kami agar kembali di kerajaan ini dengan selamat dan menemukan sisir pusaka itu.

Nini Sari Koli       : Dinda akan selalu berdoa atas keselamatan Baginda dan kerajaan ini. (menahan tangis dan rasa bersalah)

Raja Laga Doni         : Baiklah kami akan pergi, jagalah dirimu Dinda. Jangan merasa bersalah atas musibah ini. Sebab ini adalah ujian bagi kerajaan kita.

(sebelum meninggalkan kerajaan Raja Laga Doni menyampaikan suatu pesan kepada seluruh rakyatnya tentang musibah dan duka kejaraan)

Raja Laga Doni       : Mungkin ini adalah teguran dari Gusti Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena sudah lama ini kita tidak berkunjung dan bersilaturahmi ke kerajaan Lamahala dan kerajaan lain di pulau Adonara ini. Pencariaan sisir emas pusaka ini akan menjadi sejarah bagi Lewo Tanah Adonara. Bahwasannya seluruh kerajaan di pulau Adonara ini harus menjaga tali persaudaraan karena kita berasal dari satu darah.

(Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, malam berganti pagi, begitu seterusnya perjalanan ditempuh. Selama beberapa hari tersebut, rombongan Raja Laga Doni melewati kampung Lite, Horo Wura, Botun, Laka Kukun, Watan Pao, Terong dan Ebbo. Kampung-kampung itu dilewati dengan rasa penasaran bercampur lelah. Di setiap kampung itu mereka menanyakan kepada warga, mungkin ada yang menemukan sisir emas itu. Namun, semuanya mengatakan tidak mengetahuinya. Pencarian pun dilanjutkan hingga masuk ke Kerajaan Lamahala dengan melewati beberapa perkampungan kecil dan suku-suku di dalamnya namun hasilnya sama. Raja Laga Doni pun meminta bantuan Raja Lamahala untuk mencari sisir pusaka)

Raja Laga Doni     : Duhai Raja Lamahala, sekiranya kami mohon bantuan untuk mencari sisir emas pusaka kerajaan Kenotan yang telah hilang.

Raja Lamahala  : Duhai Raja Laga Doni, kedatangan kalian di kerajaan Lamahala adalah suatu penghormatan bagi kami.

Raja Laga Doni  : Terima kasih telah menerima kami dan membantu kerajaan kami. (raut wajah sedih bercampur bahagia)

 

Raja Lamahala     : sama-sama Baginda, sekiranya besok pagi kita semua turun dan pergi untuk mencari di semua tempat pulau Adonara. (tersenyum dan memberi dukungan) Aku yakin jika kita bekerja sama kita pasti akan menemukan sisir emas pusakan kerajaan Kenotan milik Baginda.

(Sesampai di Girek, tersiar kabar bahwa sisir pusaka yang hilang tersebut telah ditemukan di daerah Boleng. Tepatnya di sekitar Lepan Batan. Orang yang menemukan sisir emas tersebut adalah Ina Rotok yang bergelar Rotok Ata Lama Nele. Ina Rotok memiliki seorang bayi. Setelah mendengar kabar tersebut maka, Raja Laga Doni dan para hulubalang beserta Raja dan para hulubalang dari Kerajaan Lamahala langsung menuju Lepan Batan. Setiba di tempat Lepan Batan, rombongan tersebut menemui Ina Rotok. Ketika itu, Ina Rotok berada di kali sedang mencuci pakaiannya. Ia ke kali bersama bayinya yang ia biarkan tidur di atas salah satu batu tepi kali. Raja Laga Doni lalu memerintahkan seorang dayang untuk menyampaikan maksud kedatangannya)

Dayang       : Wahai Ibu! Apakah engkau mengetahui di mana sisir emas milik Baginda Raja?

Ina Rotok       : Duhai Ibu! Saya tidak mengetahui di mana sisir Raja dimaksud.

(Pertanyaan tersebut kemudian diulang lagi oleh si dayang. Namun, jawaban Ina Rotok masih sama, ia tidak mengetahui di mana sisir pusaka milik Raja. Pertanyaan pun diulang yang ketiga kalinya. Ina Rotok pun menjawab)

Ina Rotok          : Memang sedari tadi kulit jeruk terbawa ke mari. Ampas kelapa juga terbawa ke sini. Tapi, aku tidak melihat sisir emas milik Raja, duhai Ibu!! (bersikeras bahwa ia tak menemukan sisir emas itu)

Raja Laga Doni    : Dayang!!! (teriak Raja Laga Doni) Cepat kemari dan bawa bayi itu! (perintah raja disusul langkah dayang mengambil bayi itu dengan cepat).

Ina Rotok                   : (kaget dan mulai ketakutan, ia takut bayinya akan dibunuh oleh raja)

Raja Laga Doni          : Prajurit! Kencangkan busur lalu panahlah mata bayi ini!

(Perintah Raja diikuti prajuritnyaSemuanya tampak tegang. Busur telah diangkat dan siap meleset ke mata bayi Ina Rotok hanya dengan sekali perintah raja)

Ina Rotok             : Ampuni hamba Baginda yang mulia. Hamba telah berkata dusta. Tolong jangan panah bayi hamba. (sambil berlari untuk bersimpun mendekati di bawah kaki Raja,diliputi rasa cemas, kalau-kalau raja telah kehilangan kesabaran atas perbuatannya)

Raja Laga Doni     : Lalu di mana sisir itu?

Ina Rotok               : (Pelan-pelan Ina mengambil sisir itu dari lipatan kain sarungnya. Lalu ia serahkan sisir emas itu kepada Raja dengan rasa takut). Tapi tolong Baginda, jangan bunuh bayiku. (terus memohon karena takut)

Raja Laga Doni       : Dayang! Kembalikan bayi itu kepada ibunya.

Dayang                    : Baik yang Mulia.

(Mendengar perintah raja ina rotok berterima kasih sambil berurai air mata. Ada perasaan lega ketika dayang mulai melangkah mendekatinya. Bayinya selamat. Ia hampir saja mencelakai bayinya sendiri hanya untuk mendapatkan sisir emas itu. Bayi itu dipeluknya erat-erat setelah berpindah dalam dekapannya)

Raja Laga Doni     : Aku tidak akan melukai bayi tak bersalah. (ujar Raja dengan suasana hati yang lebih bahagia karena sisirnya telah kembali). Kau dan anakmu tetap bisa hidup dengan aman. (lanjutnya sambil bersiap-siap kembali ke kerajaan). Terima kasih, Ina Rotok. Kau telah menyelamatkan sisir emas kerajaan Kenotan. Maafkan saya telah berbuat kasar dengan mengancammu.”

(Ina Rotok terharu dengan sikap raja Laga Doni yang baik hati itu. Dalam hatinnya ia menyesal telah berbuat tidak jujur terhadap Raja Laga Doni. Raja Lamahala yakin, dengan cara seperti itu, Ina Rotok pasti akan luluh hatinya dan memberitahu di mana sisir emas tersebut. Apalagi hulubalang Kerajaan Lamahala sangat ditakuti oleh semua orang bahkan pasukan yang beranggotakan beribu-ribu prajurit. Raja Laga Doni mengucapkan terima kasih kepada Ina Rotok dan memohon pamit. Rombongan itu pun pulang menuju Kerajaan Lamahala. Keesokan paginya, rombongan Raja Laga Doni beserta para hulubalangnya diantar Raja Lamahala beserta rakyatnya kembali ke Kerajaan Kenotan. Kisah ini kemudian dikenal luas dalam bentuk peragaan syair dan tarian Ina Hai Ata Kiri. Secara harafiah, Ina Hai Ata Kiri diartikan sebagai ibu yang menemukan sisir raja)

Karya : Sity hajar