Cerpen Siti Hajar: Sisir Emas Raja

Sity hajar
Karya Sity hajar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Desember 2017
Cerpen Siti Hajar:  Sisir Emas Raja

Pada zaman dahulu, di pulau Adonara hiduplah sebuah kerajaan yang bernama Kenotan. Kerajaan Kenotan memiliki gelar bewenat Notan Boi Taran, Sia Lawa Taka. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Laga Doni yang bergelar Doni Dua Dayon. Raja Laga Doni memiliki permaisuri bernama Nini Sari Koli. Seluruh kegiatan hariannya, Raja Laga Doni dan permaisuri selalu dikawal para hulubalang beserta dayang-dayang. Di kala berkuasa, Raja Laga Doni diwarisi sebuah sisir emas pusaka. Lantaran telah menikah, sang Raja memberikan sisir emas tersebut kepada permaisurinya.

 “Permaisuriku dengarkan aku baik-baik, sisir emas pusaka ini adalah salah satu harta pusaka peninggalan kerajaan ini, dan sisir emas ini sesungguhnya merupakan penentu harkat dan martabat kerajaan ini. Jika sisir emas ini hilang maka sama halnya dengan hilangnya harkat dan martabat kerajaan ini. Jadi, aku berharap agar kau bisa menjaga keberadaan sisir emas ini dengan baik,” jelas Raja Laga Doni sembari memberikan sisir emas pusaka tersebut kepada permaisuri.

Permaisuri pun mendengarkan perkataan raja dengan sungguh-sungguh, tangannya meraih sisir emas itu sembari tersenyum dan merasa bahagia.

“Baiklah Baginda, aku akan menjaga sisir emas ini dengan baik. Akan kugunakan sisir emas ini sebagai pengganti tusuk konde di rambutku,” jawab permaisuri kepada Raja Laga Doni.

Di ufuk timur tampaklah cahaya mentari pagi seakan tersenyum menyapa tanah Lewo Adonara. Dedaunan masih tampak berembun, ilalang basah, menunggu matahari menyapa. Air di kali tampak pasrah meski tetap mengalir menyampaikan pesan kepada katak dan semua yang menepi di kali Wai Tenepan.

Suatu pagi, sang permaisuri hendak mandi di kali Wai Tenepan. Sebelum berangkat permaisuri meminta izin terlebih dahulu kepada raja Laga Doni yang sedang duduk di kursi singgasana.

“Baginda raja, permaisuri mohon izin untuk pergi ke Kali Wai Tenepan”.

“Untuk apa Dinda pergi ke sana, ada apa gerangan sehingga kau ingin mandi di Wai Tenepan?”, jawab sang Raja.

“Aku ingin berendam badan sebab hari ini aku merasa sangat panas”.

Sebelum mengatakan setuju, tiba-tiba raja terdiam dan sejenak berpikir.

“Ehmm.. baiklah.. aku ijinkan kau pergi ke Wai Tenepan dan berhati-hatilah, ingatlah pesanku.” Raja Laga Doni menyembunyikan rasa khawatirnya dengan tetap mengijinkan permaisuri pergi mandi.

Permaisuri pun pergi ke kali ditemani beberapa dayang dan dikawali beberapa hulubalang. Permaisuri Nini Sari Koli tampak merasa bahagia saat itu, sehingga sang permaisuri lupa menanggalkan sisir emas warisan sang raja dari kondenya. Permaisuri pun menceburkan dirinya ke dalam air kali tanpa sedikit pun menyadari ia telah lalai melepaskan sisir emas di kondenya.

          Setelah beberapa saat berendam diri di kali itu, permaisuri akhirnya menyadari bahwa sisir emas tersebut belum ditanggalkan.

“Astaga di mana sisir emasku, di mana sisir emasku... di mana sisir emasku...” ia pun menggapai-gapai konde di rambutnya. Naas. Sisir emas tersebut tidak berada lagi di kondenya. Berulang-ulang permaisuri mengucapkan kalimat tersebut, lalu salah seorang dayang yang mendengar hal tersebut lalu mendekat dan menanyakan pada permaisuri.

 “Ada apa permaisuri, apa yang terjadi? dapatkah hamba membantu permaisuri...”

“ Iya.. sisir emas pusaka hilang, cepat carikan!” perintah permaisuri.

Permaisuri lalu memerintahkan semua dayang dan hulubalang untuk segera mencari sisir emas itu. Mendengar titah permaisuri, para dayang dan hulubalang segera mencari sisir emas itu di sekitar tempat permaisuri merendam dirinya. Ada yang menyelam di kali. Ada yang mencari dibalik semak-semak. Ada pula yang mencari dengan menanyakan di antara para hulubalang dan dayang. Namun semua pencarian itu nihil, tak ada yang menemukan keberadaan sisir pusaka itu.

Perlahan-lahan matahari pun meninggi di atas kepala, sinarnya yang terang perlahan meredup seiring berjalannya waktu. Siang hari pun berganti menjadi sore. Para pencari sisir emas pun telah letih, permaisuri menghentikan pencarian sisir emas tersebut. Mereka kemudian kembali ke istana. Dalam perjalanan pulang, permaisuri tampak cemas dan takut.

“Bagaimana ini, apa yang harus saya lakukan..?” gumam permaisuri dalam hati.

 Ia khawatir, jangan-jangan sang raja akan memarahinya bila mendengar bahwa sisir emas pusaka kerajaan telah hilang. Namun, permaisuri kembali berpikir, bila ia tak memberitahu sang raja, tetapi kemudian sang raja mendengar berita kehilangan itu dari orang lain, tentu sang raja akan lebih murka padanya. Beberapa saat kemudian tibalah permaisuri beserta para dayang dan hulubalang di istana, dengan berat hati Permaisuri Nini Sari Koli langsung menyampaikan kepada sang raja soal kehilangan sisir emas itu.

“Sebelumnya Dinda mohon maaf, Baginda. Permaisuri sadar bahwa harta pusaka peninggalan kerajaan ini salah satunya adalah sisir emas pusaka yang Baginda berikan kepada Dinda sewaktu kita menikah dulu. Dinda juga menyadari bahwa sisir emas itu sesungguhnya merupakan penentu harkat dan martabat kerajaan ini. Seperti  yang Baginda jelaskan hal itu pada Dinda saat  memberikan sisir emas ini. Namun, Dinda tidak mampu menjaga keberadaan sisir pusaka itu sehingga sisir itu hilang pagi tadi sewaktu permaisuri mandi di kali Wai Tenepan,” ungkap Permaisuri Nini Sari Koli dengan butiran air mata yang mulai luruh satu persatu.

Senja mulai meredup dan malam pun tiba begitu cepat. Tak ada satu bintang pun menampakkan diri untuk memberi sedikit cahaya di tengah-tengah langit kerajaan. Hanya awan gelap kehitaman yang seolah memberi tanda bahwa kerajaan Kenotan sedang berduka. Alam selalu memahami keadaan, bintang pun seakan ikut berduka atas hilangnya sisir emas Raja.

Mendengar pengakuan istrinya, wajah Raja Laga Doni yang ceria saat itu langsung berubah. Beberapa menit suasana bisu menyelimuti isi istana. Raja Laga Doni diam membisu. Begitupun permaisuri, para dayang dan hulubalang.

“Baiklah! Karena peristiwa ini adalah duka kerajaan, sebagai raja, saya tidak mau sekiranya kita semua larut dalam kesedihan ini!” Raja Laga Doni bersuara beberapa saat kemudian. Mendengar perkataan raja, semuanya mengangkat wajah.

“Kita harus menyusuri kali Wai Tenepan untuk mencari dan menemukan sisir emas pusaka itu. Saya yakin, jika kita semua bekerja sama dengan teliti dan sabar untuk mencari sisir emas itu sampai ke ujung pulau ini. Kita pasti akan menemukannya. Besok pagi kita mulai mencari. Baginda pun akan turun tangan,” kata Raja Laga Doni dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, sebelum mentari menampakkan wujudnya, Raja Laga Doni bersama para hulubalang dan dayang telah berkumpul di depan istana. Sang raja berpakaian layaknya prajurit perang. Begitupun para hulubalang. Semuanya siap dengan parang dan perisai di tangan. Juga anak panah dan busur yang menggantung di lengan. Sementara, para dayang sudah siap dengan perbekalan. Rombongan Raja Laga Doni pun beranjak keluar dari istana untuk menjalankan misi pencarian sisir emas pusaka milik Kerajaan Kenotan yang hilang itu. Tempat pertama yang mereka tuju adalah tempat mandi sang permaisuri di kali Wai Tenepan  namun sayang, tak ada apa-apa di tempat mandi permaisuri. Dari tempat ini, rombongan Raja Laga Doni terus menyusuri kali. Mereka terus berjalan hingga siang tiba. Sekali-kali mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah. Dan kembali melakukan pencarian usai menyusuri kali Wai Tenepan pencarian diteruskan ke daerah-daerah di sekitar.

Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, malam berganti pagi, begitu seterusnya perjalanan ditempuh. Selama beberapa hari tersebut, rombongan Raja Laga Doni melewati kampung Lite, Horo Wura, Botun, Laka Kukun, Watan Pao, Terong dan Ebbo. Kampung-kampung itu dilewati dengan rasa penasaran bercampur lelah. Di setiap kampung itu mereka menanyakan kepada warga, mungkin ada yang menemukan sisir emas itu. Namun, semuanya mengatakan tidak mengetahuinya.

Pencarian pun dilanjutkan hingga masuk ke Kerajaan Lamahala dengan melewati beberapa perkampungan kecil dan suku-suku di dalamnya, yakni Lewo Jawa (Golo Lewo Jawa, Tuba Rian Kaha), Lembahi (Bahi Lewo Buto, Hinga Tana Lema), Lamuran (Pati Lau Uran, Beda Rae Buan), Goran (Goran Baka Pito, Maku Luwo Lema), Sina (Sina Ipan Bur’an, Jawa Maha Bango), Ata Soge (Soge Laka Rowe, Paga Raran Tukan), Ata Mua (Mua Ratu Loli, Belok Ata Wanda), Herin Guhir (Lewo Rae Bala, Tanah Herin Guhir), Lama Keluan (Luan Lama Danga, Danga Lolon Melu), Lamuda (Tobi Wuun Bela, Muda Kajak Aja), Teniwang Ala (Lewo Lau Tiwang, Tana Rae Dagang), Suban Ona (Raja Suban Pulo, Puru Duli Ama), Seran (Seran Rera Gere, Wanda Nuan Tawa), Selolong (Suku Sodi Lolon, Lawan Lima Lema), Bunga Lolon (Bunga Uak Tukan, Tanjo Wai Matan), Mala Kalu (Boli Mala Kalu, Sandu Urun Lima), Ata Pukan (Raja Rae Tobi, Tuan Rae Bao), hingga berakhir di Girek (Salan Suku Pulo, Girek None Lema).

Sesampai di Girek, tersiar kabar bahwa sisir pusaka yang hilang tersebut telah ditemukan di daerah Boleng. Tepatnya di sekitar Lepan Batan. Orang yang menemukan sisir emas tersebut adalah Ina Rotok yang bergelar Rotok Ata Lama Nele. Ina Rotok memiliki seorang bayi. Setelah mendengar kabar tersebut maka, Raja Laga Doni dan para hulubalang beserta Raja dan para hulubalang dari Kerajaan Lamahala langsung menuju Lepan Batan. Setiba di tempat Lepan Batan, rombongan tersebut menemui Ina Rotok. Ketika itu, Ina Rotok berada di kali sedang mencuci pakaiannya. Ia ke kali bersama bayinya yang ia biarkan tidur di atas salah satu batu tepi kali. Raja Laga Doni lalu memerintahkan seorang dayang untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

“Wahai Ibu,! Apakah engkau mengetahui di mana sisir emas milik Baginda Raja?” tanya dayang.

 “Duhai Ibu! Saya tidak mengetahui di mana sisir Raja dimaksud,” jawab Ina Rotok sembari sibuk mencuci.

 Pertanyaan tersebut kemudian diulang lagi oleh si dayang. Namun, jawaban Ina Rotok masih sama, ia tidak mengetahui di mana sisir pusaka milik Raja. Pertanyaan pun diulang yang ketiga kalinya. Ina Rotok pun menjawab. “Memang sedari tadi kulit jeruk terbawa ke mari. Ampas kelapa juga terbawa ke sini. Tapi, aku tidak melihat sisir emas milik Raja, duhai Ibu,” jawab Ina Rotok. Ia tetap bersikeras bahwa ia tak menemukan sisir emas itu.

“Dayang!” teriak Raja Laga Doni.

“Cepat kemari dan bawa bayi itu!” perintah raja disusul langkah dayang mengambil bayi itu dengan cepat. Ina Rotok kaget dan mulai ketakutan. Ia takut bayinya akan dibunuh oleh raja.

“Prajurit! Kencangkan busur lalu panahlah mata bayi ini.” Perintah Raja diikuti prajuritnya. Semuanya tampak tegang. Busur telah diangkat dan siap meleset ke mata bayi Ina Rotok hanya dengan sekali perintah raja.

“Ampuni hamba Baginda yang mulia. Hamba telah berkata dusta. Tolong jangan panah bayi hamba,” ujar Ina Rotok sambil berlari untuk bersimpun mendekati di bawah kaki Raja. Ina Rotok di liputi rasa cemas, kalau-kalau raja telah kehilangan kesabaran atas perbuatannya.

“Lalu di mana sisir itu?” tanya Raja. Pelan-pelan Ina Rotok mengambil sisir itu dari lipatan kain sarungnya. Lalu ia serahkan sisir emas itu kepada Raja dengan rasa takut.

“ Tapi tolong Baginda, jangan bunuh bayiku.” Ina Rotok terus memohon karena takut.

“Dayang! Kembalikan bayi itu kepada ibunya.”

“Baik yang Mulia,” jawab Dayang. Mendengar perintah raja ina rotok berterima kasih sambil berurai air mata. Ada perasaan lega ketika dayang mulai melangkah mendekatinya. Bayinya selamat. Ia hampir saja mencelakai bayinya sendiri hanya untuk mendapatkan sisir emas itu. Bayi itu dipeluknya erat-erat setelah berpindah dalam dekapannya.

“Aku tidak akan melukai bayi tak bersalah,” ujar Raja dengan suasana hati yang lebih bahagia karena sisirnya telah kembali, “Kau dan anakmu tetap bisa hidup dengan aman,” lanjutnya sambil bersiap-siap kembali ke kerajaan.

“Terima kasih, Ina Rotok. Kau telah menyelamatkan sisir emas kerajaan Kenotan. Maafkan saya telah berbuat kasar dengan mengancammu.”

Ina Rotok terharu dengan sikap raja Laga Doni yang baik hati itu. Dalam hatinya ia menyesal telah berbuat tidak jujur terhadap Raja Laga Doni. Raja Lamahala yakin, dengan cara seperti itu, Ina Rotok pasti akan luluh hatinya dan memberitahu di mana sisir emas tersebut. Apalagi hulubalang Kerajaan Lamahala sangat ditakuti oleh semua orang bahkan pasukan yang beranggotakan beribu-ribu prajurit. Ina Rotok pun kaget melihat ancaman hulubalang tersebut. Ia berhenti mencuci. Wajahnya tampak pucat pasi. Ia cemas dan takut andaikata anaknya akan benar-benar dipanah oleh hulubalang Kerajaan Lamahala itu.

Raja Lamahala pun memerintahkan hulubalangnya untuk menurunkan kembali busur dan anak panah yang diarahkan ke bayi itu. Demikian pula, Raja Laga Doni. Ia memerintahkan dayang yang mengambil bayi tadi agar segera mengembalikan bayi tersebut kepada ibunya. Bayi itu diterima Ina Rotok dengan senang hati. Usai itu, Raja Laga Doni mengucapkan terima kasih kepada Ina Rotok dan memohon pamit. Rombongan itu pun pulang menuju Kerajaan Lamahala. Keesokan paginya, rombongan Raja Laga Doni beserta para hulubalangnya diantar Raja Lamahala beserta rakyatnya kembali ke Kerajaan Kenotan.

Kisah ini kemudian dikenal luas dalam bentuk peragaan syair dan tarian Ina Hai Ata Kiri. Secara harafiah, Ina Hai Ata Kiri diartikan sebagai ibu yang menemukan sisir raja.

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 57