Magic Electronic Box

Siti Mawadah
Karya Siti Mawadah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Magic Electronic Box

Hari ini ayah libur bekerja, biasanya Ayah mengajakku bermain sepeda keliling kampung, tapi hari ini tidak. Ayah mengajakku duduk dibawah pohon rambutan yang berada persisi di depan rumahku. Ayah memang sengaja menyiapkan tempat duduk di bawah pohon, untuk ngadem katanya.

Aku Soraya biasa dipanggil Ayah dengan sebutan Aya, aku bocah berumur 11 tahun anak perempuan Ayah satu-satunya. Aku punya dua kakak dan keduanya laki-laki. Ayah sosok laki-laki yang selalu membuatku kagum karena dia sangat menyayangi anak-anaknya. Terlebih Ayah itu sangat pintar, banyak hal yang selalu Ayah ceritakan kepadaku walaupun aku belum banyak mengerti apa yang Ayah bicarakan. Kata ayah, aku adalah anak yang pintar. Suatu saat nanti jika aku sudah dewasa aku pasti akan mengerti semua hal yang ayah ceritakan.

?Ayah mau bercerita tentang apa hari ini??, Tanyaku antusias

?Ayah hari ini tidak mau bercerita nak, hari ini Ayah mau bermain tebak-tebakan.? Jawab Ayah dengan senyuman manisnya.

?Ah, oke baiklah nanti Soraya yang akan menjawab tebak-tebakan dari ayah.? Jawabku ceria sambil memegangi tangan Ayah.

?Okee, kita mulai yaa. Kamu dengarkan dulu semua kata kunci dari Ayah, lalu kamu boleh menebaknya sampai benar.? Perintah Ayah. Aku mengangguk tanda setuju.

?Aya, kamu harus tau kalau di dunia ini ada sebuah kotak elektronik ajaib.? Mata Ayah mulai berbinar.

?Hampir setiap keluarga memilikinya. Setiap hari kotak elektronik ajaib ini bisa mengeluarkan suara dan gambar secara bersamaan. Menampilkan semua tayangan berupa hiburan dan informasi yang membuat semua anggota keluarga betah berjam-jam duduk untuk melihatnya.? ?Ayah terus berbicara, sambil sesekali menengok ke arahku.

?Tapi ternyata tanpa sepengetahuan mereka bahwa kotak elektronik ajaib ini diciptakan hanya untuk merusak. Kotak elektronik ajaib ini digunakan untuk merusak anak-anak seperti kamu. Tayangan yang dibilang mendidik justru membuat anak-anak malas belajar. Hiburan yang dibilang menyenangkan justru membuat kita semakin lalai untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat. Informasi yang dibilang mencerdaskan justru menjadi sarana untuk mengkambing hitamkan, memfitnah dan menguntungkan pihak tertentu.? Ayah berhenti sebentar, memeberikan kesempatan untuk aku menanggapi.

Aku hanya memperhatikan Ayah yang begitu serius memberikan kata kunci yang membuat aku justru semakin bingung.

?Apa kita punya kotak elektronik ajaib itu, yah?? Selidikku.

?Iya tentu saja kita punya nak, tapi ayah menyimpannya digudang.?

?Oh, apa begitu sangat membahayakannya yah? Apa ada hantunya?? Tanyaku polos.

?Hahaha bisa jadi nak.? Ayah tertawa sambil mengusap kepalaku.

?Semua hal yang ditayangkan saat ini hanya untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan dampak negatif yang dihasilkan. Mereka mengambil keuntungan dengan cara mengadakan ajang perlombaan yang sasarannya adalah para remaja. Mengeksploitasi para perempuan dan anak-anak sebagai model-model produk mereka.?

?Kejahatan di masyarakat dan kejahatan politik semua ditayangkan, tanpa sadar itu justru malah menunjukkan kebobrokan Negara kita. Betapa malunya ketika media memberitakan bahwa kita menduduki peringkat teratas untuk hal yang buruk. Negara kita sudah sangat hancur? tapi yang menghancurkan justru orang-orang yang pintar, yang mempunyai kekuasaan terhadap Negara ini.?

?Ternyata kotak elektronik ajaib itu sangat merusak ya, yah. Apa yang bisa Aya lakukan untuk menyelamatkan Negara kita? Ah aku tau! kita hancuran saja kotak elektronik ajaib itu, yah!? Seruku penuh semangat.

?Hahaha tidak semudah itu nak karena dibalik kotak elektronik ajaib itu ada orang-orang yang saat ini mencengkeram kuat Negara kita. Bukan televisinya yang dihancurkan tapi sistem yang mereka bangun sangat kuat itu yang seharusnya disingkirkan. Suatu saat jika kamu sudah dewasa kamu harus mengambil peran penting untuk mengatasi semua ini ya Soraya.? Ayah tersenyum sambil mencium keningku.

?Iya ayah Soraya janji! Tapi Soraya tidak bisa menebak kotak elektronik ajaib itu yah.? Jawabku sedih.

?Tidak apa-apa nak, suatu saat nanti pasti kamu akan tau jawabannya.? Ayah menggenggam tanganku lalu mengajakku kembali masuk ke rumah.

***

?Sekarang Aya tau nama kotak elektronik ajaib itu Ayah. Aya tau saat usia Aya menginjak 21 tahun. Aya tau siapa dibalik pembuat kotak elektronik ajaib itu. Aya tau siapa mereka yang Ayah maksud.? Aku memandang Ayah lekat.

?Televisi kan, yah?? Lanjutku.

Ayah hanya menangguk tersenyum ke arahku. Kemudian mengelus punggungku.

Sekarang aku mengerti kenapa ayah mendidik anak-anaknya tanpa televisi. Dan aku bersyukur mempunyai Ayah.

  • view 163