Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 Januari 2018   15:48 WIB
ILE BOLENG

ILE BOLENG

(Di ujung Timur pulau Flores hiduplah seorang wanita yang menghuni pulau Adonara bertepatan di lereng Ile Boleng yang bernama Kwae Sedo Boleng.Pada suatu hari di pantai Boleng pulau Adonara terdamparlah seorang pemuda yang berasal dari pantai Selatan pulau Adonara yang bernama Kelake Ado Pehang. Dari pantai tersebut ia berjalan menyusuri hutan dan bertemu suatu tempat atau gubuk kemudian ia menghampirinya)

Kelake Ado Pehang : Permisi..permisi….per..miissii!!

                                    (Sambil mengetuk pintu gubuk yang dihampirinya)

Kwae Sedo Boleng : Iaa…iaaa…ii..aaa!!

                                    (Jalan ke arah pintu)

Kwae Sedo Boleng : Maaf, silakan masuk Tuan!!

Sambil mengajak Kelake Ado Pehang masuk ke dalam gubuk tuanya.

Kwae Sedo Boleng : Apa gerangan maksud kedatangan Tuan??

Kelake Ado Pehang : Maksud kedatangan saya kesini karena ada satu dua hal.

Kwae Sedo Boleng :Darimana asalmu dan apa maksudmu sehingga Tuan datang kesini??

Kelake Ado Pehang : Saya dari pantai Selatan pulau Lembata.

Kwae Sedo Boleng : Apa alasannya sehingga Tuan bisa sampai kesini??

Kelake Ado Pehang : Mari duduk di sampingku dan akan aku ceritakan.

(Mengajak Kwae Sedo Boleng duduk dan Ia pun mulai menceritakan perjalanannya sampai ke pulau Adonara).

Kwae Sedo Boleng : (Mengikuti)

Kelake Ado Pehang :Saya terdampar disini karena diusir dari Lembata sebab dituduh sebagai seorang suanggi yang menyebabkan meletusnya gunung Adowajo. Dengan rasa takut akhirnya saya lari dari Lembata dengan menggunakan perahu yang terbuat dari sebatang kelapa, sampai terdampar di pulau Adonara.

Kwae Sedo Boleng : (Terharu)

Kelake Ado Pehang : Tidak ada tempat tinggal dan keluarga yang saya datangi.

Kwae Sedo Boleng : Selama bertahun-tahun saya hidup sebatang kara di lereng gunung ini, dan baru kali ini saya kedatangan tamu dari Pulau seberang.

Kelake Ado Pehang : (Terharu bercampur malu)

Kwae Sedo Boleng : Jangan bersedih dan malu, aku akan membantumu.

Kelake Ado Pehang : Bolehkah aku menginap di gubukmu ini??

Kwae Sedo Boleng : Boleh saja.

Kelake Ado Pehang :Sebelumnya saya minta maaf dan sangat berterimakasih kepadamu, karena sudah membantu dan menerimaku tinggal di gubuk bersamamu.

 Kwae Sedo Boleng: (Tersenyum)

            (Pada suatu senja Kwae sedo Boleng pulang dari berkebun. Ia melihat Kelake Ado Pehang duduk merenung seorang diri sambil memandang di seberang pulau Lembata yang sudah lama di tinggalkannya.)

Kelake Ado Pehang : Salah saya apa, sehingga saya bisa di usir, sedangkan saya tidak berbuat apa-apa terhadap gunung Adowajo tersebut.

(Tiba-tiba Kwae Sedo Boleng datang dan menghampirinya yang sedang menghayal).

Kwae Sedo Boleng : Tuan.

Kelake Ado Pehang : Iaa..iaaa.

Kwae Sedo Boleng : Apa gerangan sehingga Tuan duduk termenung begini??

Kelake Ado Pehang : Mari duduk disampingku.

Kwae Sedo Boleng : (Mengikuti)

Kelake Ado Pehang : Begini, saya teringat akan kampung halamanku.

Kwae Sedo Boleng :Mengingat begitu, mendingan Tuan pulang dulu ke kampung halaman Tuan.

Kelake Ado Pehang : Tapi kan saya sudah di usir.

Kwae Sedo Boleng : Kalau begitu jangan berkecil hati, tinggalah sementara bersamaku disini.

Kelake Ado Pehang : Sekali lagi terimakasih.

            (Selama hidup bersama di gubuk tua berdinding pelepah bambu yang beratapkan daun ilalang yang sudah puruk, Kelake Ado Pehang akhirnya jatuh hati kepada Kwae Sedo Boleng. Pada suatu hari Kwae Sedo Boleng sedang memasak di dapur, tiba-tiba datanglah Kelake Ado Pehang mengajak Kwae Sedo Boleng duduk bersamanya di luar gubuk sambil memandang pulau di seberang).

Kelake Ado Pehang : Ina..ina..inaaa.

Kwae Sedo Boleng : Ada apa Tuan??

Kelake Ado pehang : Begini ina… bolehkah ina mengikuti saya kedepan sebentar??

Kwae Sedo Boleng : Boleh saja, tapi tunggu sebentar, karena saya masih menanak nasi untuk makan siang kita Tuan.

Kelake Ado Pehang : Iaa...iiaa.

(Setelah selesai memasak Kwae Sedo Boleng pun menghampirinya di depan).

            Kwae Sedo Boleng : Apa gerangan sehingga tuan mengajakku ke sini??

Kelake Ado Pehang : Begini, mari duduk disampingku.

            Kwae Sedo Boleng : (Mengikuti)

            Kelake Ado pehang : Sebelumnya saya minta maaf.

            Kwae Srdo Boleng : Apa maksud Tuan??

            Kelake Ado Pehang : Maukah kamu…..

            Kwae Sedo Boleng : Memangnya apa yang ingin Tuan bicarakan??

            Kelake Ado Pehang : Maukah kamu jadi pendamping hidupku untuk selamanya??

            Kwae Sedo Boleng : (Menangis terharu)

            Kelake Ado Pehang : (Diam)

            Kwae Sedo Boleng : Baiklah kalau Tuan maunya begitu aku bersedia.

            Kelake Ado Pehang : (Dengan senang hati)

            (Akhirnya, tercapailah kesepakatan bersama tak lama kemudian mereka pun menikah. Dengan hidup yang serba berkecukupan akhirnya mereka mengkaruniai tujuh putera yang gagah dan perkasa, yakni Lado Ipa Jarang(Boleng), Made Paling Tale(Doken), Beda Geri Niha(Niha Ona), Duri Ledan Labi(Lewoduli), Kia Kara Bau(Wokablolon-Kiwangona), Kia Lali Tokan(Lewobelek), dan Sue Buku Toran(Lewojawa-Lamahala)).

Karya : Siti Syahra