Cerpen Siti Syahra Syamsudin : Ile Boleng

Siti Syahra
Karya Siti Syahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Desember 2017
Cerpen Siti  Syahra Syamsudin : Ile Boleng

Di ujung Timur pulau  Flores terdapat pulau kecil yang cukup subur tetapi gersang, yakni pulau Adonara. Di pulau ini terdapat sebuah gunung yang bernama Ile Boleng. Ile berarti gunung dan Boleng berarti tempat tinggal .Dahulu kala di kampung Boleng, pulau Adonara tepatnya di lereng Ile Boleng, hiduplah seorang wanita yang tubuhnya ditumbuhi bulu lebat yang bernama Sedo Lepan. Wanita ini yang pertama kali menghuni pulau Adonara bersamaan timbulnya Ile Boleng.

Pada suatu hari terjadilah keajaiban yang luar biasa, tubuh Sedo Lepan pecah dan keluarlah wanita lagi yang kemudian dikenal dengan nama Kewae Sedo Boleng. Selama bertahun-tahun ia hidup sendirian di lereng Ile Boleng, meski hanya hidup sebatang di gubuk yang sempit beratapkan daun alang-alang dan dikelilingi hutan yang lebat, ia tetap sabar.

Kewae Sedo Boleng memiliki semangat kerja yang tak pernah henti. Sehari-hari, ia mencari nafkah di kebun. Bekerja keras, membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, tanpa memperdulikan teriknya matahari, dan dinginnya udara gunung demi mendapatkan hasil untuk dimakannya. Tanaman yang ia tanam adalah jagung, kacang, ubi, dan pisang. Hasil kebun itulah yang Ia gunakan untuk makan sehari-hari.

Kokok ayam jantan bersahutan membuat Kewae Sedo Boleng bergegas bangun, untuk menyiapkan bekal dan perkakas yang di bawa ke kebun yaitu cangkul dan tofa untuk menanam atau memanen hasil kebunnya tersebut. Di kala senja pun datang Kewae Sedo Boleng tetap bersemangat demi mencari sesuap nasi untuk memenuhi kehidupan sebatang karanya.

Pada suatu hari tidak berkebun, Kewae Sedo Boleng duduk termenung di gubuk tuanya yang beratapkan ilalang dan berdinding pelepah bambu yang terlihat sangat puruk. Tubuhnya yang lelah dan letih, ia tetap semangat dan kuat untuk pergi mengambil air yang ingin di butuhkan untuk memasak.  Ia pun berdiri dan mengambil teko atau kendi untuk pergi ke tempat di mana ia membutuhkan air, untuk kehidupan sehari-harinya yaitu memasak dan mencuci.

Pada suatu hari di pantai selatan pulau Lembata, seorang pemuda yang bernama Kelake Ado  Pehang terdampar di pantai Boleng. Pemuda ini jalan menyusuri pantai dan memasuki hutan menuju lereng Ile boleng. Sesampainya di lereng gunung ia melihat sebuah gubuk yang kumuh dan lusuh, ia pun berjalan dan menghampiri gubuk tersebut. Dengan wajah pucat pasi ia mengetuk pintu gubuk yang dari pelepah bambu tersebut.

“Permisi….per..mii.siii….permii..siii,” ucapnya dengan suara paruh.

 “Per..mii…siii….permiiiisiii.” Lama menunggu ia pun mengetuk lagi.

 Tiba-tiba ada suara sahutan dari dalam gubuk tersebut. “iaa…iaaa..iaa,,siapa?” Kwae Sedo Boleng pun menghampiri orang yang memanggilnya tersebut.

 Sesampainya di depan pintu ia melihat seorang pemuda yang memakai pakaian yang compang-camping dan wajah yang sangat pucat. Ia pun menggandeng pemuda itu dan masuk dalam gubuknya.

 “Apa gerangan maksud kedatangan Tuan?” Tanya Kwae Sedo Boleng dengan nada yang lembut dan berwibawa.

“Saya sampai di sini karena ada alasan,” jawab Kelake Ado Pehang.

 “Dari mana asalmu dan apa maksudmu sehingga tuan datang kesini?” Tanya Kwae Sedo Boleng dengan ramah dan wibawa.

 Dengan wajah yang lusuh dan kusam Kelake Ado Pehang pun Menceritakan Perjalanannya dari pantai selatan pulau Lembata sampai di pantai selatan pulau Adonara.

“Saya terdampar disini karena diusir dari Lembata sebab di tuduh sebagai seorang suanggi yang menyebabkan meletusnya gunung Adowajo. Dengan rasa takut akhirnya saya lari dari Lembata dengan menggunakan perahu yang terbuat dari sebatang kelapa di selatan pulau Adonara,”  jelas Kelake Ado Pehang dengan suara datar.

 Mendengar ceritanya, Kwae Sedo Boleng pun terharu dan menyuruhnya untuk tinggal berdua di gubuk yang kumuh dan lusuh itu. Selama bertahun-tahun mereka hidup bersama, Klake Ado Pehang pun jatuh hati kepadanya. Pada suatu senja Kwae Sedo Boleng pulang dari berkebun, ia melihat Klake Ado Pehang duduk termenung seorang diri sambil memandang di seberang pulau Lembata. Dengan penasaran Kwae Sedo Boleng pun menghampirinya,

 “Apa gerangan sehingga tuan duduk termenung begini?” tanya Kwae Sedo Boleng dengan tenang dan datar.

“Begini, mari duduk di sampingku,” jawabnya dengan santai.

 “Mau kah kamu…,” dengan suara yang berat Klake Ado Pehang pun mulai membicarakan apa yang ada di isi  hatinya.

 “Memangnya apa yang ingin Tuan bicarakan?” tanya Kewae Sedo Boleng.

 Tak lama kemudian dengan suasana yang sunyi menyelimuti tempat di mana keduanya saling bertatapan. Dengan nada yang datar dan berani ia pun mulai angkat bicara,

 “Mau kah kamu jadi pendamping hidupku untuk selamanya?” Bagai tersambar petir di siang hari, setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Kelake Ado Pehang, wanita ini pun menangis terharu, karena selama bertahun-tahun hidup sebatang kara di lereng gunung, baru kali ini ada seorang pemuda yang melamar dan ingin menikahinya.

“Baiklah kalau tuan maunya begitu aku bersedia,” jawab Kwae Sedo Boleng dengan lembut penuh wibawa.

Akhirnya, tercapailah kesepakatan bersama, tak lama kemudian mereka pun menikah. Dengan hidup yang serba berkecukupan akhirnya mereka mengkaruniai tujuh putera yang gagah dan perkasa, yakni Lado Ipa Jarang, Mado Paling Tale, Beda Geri Niha, Duri Ledan Labi, Kia Kara Bau, Kia Lali Tokan, dan Sue Buku Toran.

Dari ke tujuh putera tersebut, masing-masing mempunyai keturunan yang sampai sekarang ini sebagai tempat menetapnya orang Adonara. Lado Ipa Jarang yang keturunannya ada di Boleng, Mado Paling Tale yang keturunannya ada di Doken, Beda Geri Niha yang keturunannya ada di Niha Ona, Duri Ledan Labi yang keturunannya ada di Lewoduli, Kia Kara Bau yang keturunannya ada di Wokablolon-Kiwang ona, Kia Lali Tokan yang keturunannya ada di Lewobelek. dan Sue Buku Toran yang keturunannya ada di Lewojawa-Lamahala.

 

**ILE BOLENG, merupakan nama gunung yang berada di ujung Timur pulau Flores, Adonara yang sampai sekarang ini sebagai tempat tinggalnya orang Adonara.

  • view 183