Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Januari 2018   10:29 WIB
Ab Wado mi ui Ari (Ikan besar dan Anak Yatim Piatu)

Ab Wado mi Ui Ari

(Ikan Besar dan Anak Yatim-Piatu)

 

 

            Pada zaman dahulu di sebuah sungai dekat kampung Jirtag, hiduplah seekor ikan besar. Ikan ini bisa disebut juga sebagai ikan ajaib karena ikan ini bisa berbicara dengan manusia.

Suatu ketika orang- orang dari kampung Jirtag pergi ke pasar dan melewati sungai tersebut, ikan itu selalu memaki mereka tetapi orang-orang dari kampung Jirtag seolah-olah tidak mendengar makian dari ikan tersebut.

 

Hingga pada suatu hari orang-orang yang berada di kampung Jirtag tersebut mengadakan pertemuan pada malam hari untuk membicarakan kapan ikan itu akan di bunuh oleh mereka, setelah mengadakan pertemuan, orang-orang dari kampong Jirtag bersekongkol untuk membunuh ikan tersebut pada pagi hari. alat yang mereka gunakan untuk membunuh ikan itu adalah busur, anak panah dan juga tombak untuk membunuh ikan tersebut.

 

Pada saat menjelang pagi, pemuda yang berada di kampung Jirtag mulai bergegas pergi ke sungai untuk membunuh ikan besar tersebut. Ketika mereka sampai di dekat sungai tersebut, mereka langsung membagi posisi mereka masing-masing. Beberapa orang bersembunyi di balik semak-semak, dan ada juga yang memanjat pohon. Seorang dari mereka berteriak memanggil ikan tersebut “ Opo Char-chari si apang me nitaring” yang artinya Jikalau berani tunjukkanlah wajahmu kepada kami. Namun Ikan itu membalas dengan makian “ Otou Supach” (maki laki-laki). Orang itu terus memanggil ikan tersebut “ Opo Char-chari si apang mi nitaring” namun ikan itu terus membalas dengan makian.

 

Berkali-kali mereka memanggil ikan tersebut tetapi ikan besar itu hanya membalas dengan makian dan tidak mau menunjukan dirinya pada orang-orang dari kampung Jirtag tersebut. Hari sudah mulai soreh tetapi ikan tersebut tidak mau keluar dari sungai tersebut. Pemudah-pemudah dari kampung Jirtag yang ingin membunuh ikan itupun sudah kelaparan, merekapun tidak membawa bekal untuk dimakan. Mereka lalu bergegas pulang ke kampung, sesampainya di kampung, orang-orang yang berada di kampung itu menyambut mereka dengan sangat senang karena mengira bahwa mereka sudah berhasil membunuh ikan besar itu. Namun sayang apa yang mereka kira itu tidak terpenuhi.

 

Sesudah sampai dikampung, merekapun pulang ke rumah mereka masing-masing dan menyantap makanan yang sudah disediakan. Sehabis makan merekapun langsung mengadakan pertemuan lagi untuk membahas ikan iu dan tidak pernah merasa lelah. Setelah mengadakan pertemuan mereka langsung pulang kerumah mereka masing-masing untuk beristrahat.

 

Hari sudah mulai pagi, merekapun langsung bergegas pergi ke sungai tersebut untuk membunuh ikan itu lagi, sesampainya di sungai itu mereka langsung membagi posisi mereka sebagaimana biasanya. Seorang dari mereka langsung berteriak memanggil ikan tersebut “ Opo Char-chari si apang me nitaring” yang artinya jikalau berani tunjukkanlah wajahmu kepada kami. Namun Ikan itu membalas dengan makian lagi“ Otou Supach” (maki laki-laki). Orang itu terus memanggil ikan itu “ Opo Char-chari si apang mi nitaring” namun ikan itu terus membalas dengan makian.

 

Seorang pemuda dari kampung Jirtag yang memanggil ikan besar itupun sudah tidak tahan dan tidak sabar lagi untuk membunuh ikan tersebut. Ia kemudian mengambil busur dan anak panah lalu memanah ke dalam sungai tersebut dan terus memanggil ikan tersebut dengan ucapan yang sama. Kali ini ia berhasil untuk memanggil ikan tersebut. Ketika ikan itu muncul, mereka langsung memanah ikan itu satu persatu dan menombak ikan tersebut. Semuanya tepat sasaran dan akhirnya ikan itu pun mati.

 

Setelah membunuh ikan tersebut mereka lansung masuk kedalam sungai mengambil ikan itu lalu membawa ke darat. Tanpa ada rasa takut, Merekapun lalu memotong ikan itu dan membawanya ke kampung Jirtag, sesampainya di kampung, mereka di sambut dengan meriah oleh orang-orang dari kampung Jirtag tersebut. Mereka langsung mengadakan pesta besar-besaran. Seluruh penduduk kampung tersebut di undang, kecuali tiga anak yatim piatu yang tinggal di kampung itu.

 

Pada malam harinya ketika orang-orang sedang berpesta, ketiga anak itu hanya tidur di rumah saja. Malam itu anak sulung bermimpi bahwa ada seorang kakek datang di rumah mereka dan memberitahu bahwa sebentar lagi kampung mereka akan tenggelam karena mereka telah membunuh ikan besar yang ada di sungai, dan memakannya.

 

Akan tetapi karena mereka bertiga tidak memakan ikan tersebut, maka mereka akan selamat. Namun mereka harus mengambil batu tungku dari dapur untuk di bawa. saat air sudah memenuhi kampung itu mereka harus membuang batu tersebut kedalam genangan air jika batunya berbunyi pelan itu pertanda bahwa airnya dalam sehingga mereka tidak boleh mengikuti arah tersebut namun ketika bunyi genangan air itu besar itu tandanya dangkal sehingga mereka harus mengikuti arah tersebut hingga ke bukit.

 

Namun ketika mereka sudah selamat jangan sekali-kali mereka melihat kembali ke kampung mereka. Si sulung pun terkejut dan terbangun dari tempat tidur. Ketika ia ingin menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya, datanglah seorang kakek dan menyuruh mereka melakukan hal sama seperti yang di mimpikan oleh si sulung, lalu kakek tersebut menghilang.

 

Ketika orang-orang sedang berpesta datanglah seorang kakek dengan membawa arak yang sangat banyak. Ia lalu menawarkan kepada orang-orang dari kampung Jirtag untuk meminum arak tersebut. Orang-orang yang berada di kampung Jirtag itupun langsung mau menerima tawaran dari kakek tersebut dan meminum arak yang dibawakan oleh kakek itu hingga mereka semua mabuk bahkan ada yang sampai tidak menyadarkan diri.

 

Kakek itu lalu menancapkan sebatang lidi di tanah dan sesudah itu ia menyuruh orang-orang dari kampung Jirtag untuk mencabut lidi itu namun tidak ada seorang pun dari kampung itu yang sanggup mencabut lidi tersebut. Si kakek lalu mencabut lidi tersebut sehingga keluarlah air dari lubang lidi tersebut, semakin lama air itu semakin membesar hingga terjadilah banjir besar yang menenggelamkan kampung itu.

 

 

 

 

Ketiga anak yatim piatu itu lalu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil batu tungku dari dapur mereka dan membuangnya ke dalam genangan air. Bunyi yang pertama sangat kecil yang bertanda bahwa genangan itu masih dalam. mereka membuang batu yang kedua namun bunyinya masih kecil. Pada lemparan yang ketiga bunyi genangan air tersebut besar yang menandakan bahwa genangan air tersebut dangkal. Merekapun lalu mengikuti arah lemparan yang ketiga menuju ke atas bukit.

 

Pada saat menaiki bukit, adik mereka yang bungsu sangat kecapaian sehingga kakaknya yang sulung menggendong si bungsu tersebut lalu sambil menaiki bukit tersebut hingga ke atas bukit. Sesampainya di bukit, mereka bertiga sangat penasaran dengan kampung mereka, karena rasa penasaran yang begitu membara sehingga merekapun berbalik dan melihat kembali kampung itu. Pada saat melihat kampung tersebut, si sulung dan si bungsu langsung berubah menjadi batu yang sedang bergendongan, sedangkan saudara mereka yang satunya berubah menjadi pohon kayu putih. hingga sampai sekarang ini pohon kayu putih dan batu bergendongan tersebut masih ada dan Jika kayu itu di potong atau batu itu di pecahkan maka akan mengeluarkan darah.

 

Karya : Siti sumanti