Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 Januari 2018   14:07 WIB
Cerpen Rana Kulan

 

NAMA           : SITI ROHANNAH

NIM                : 142 211 1099

KELAS          : C

SEMESTER : VII

 

CERITA RAKYAT DAERAH MANGGARAI

*RANA KULAN

            Rana Kulan sebuah desa terpencil yang terletak di daerah Manggarai Timur khususnya di Kecamatan Elar. Desa ini memiliki panorama alam yang sangat menakjubkan dan masih alami. dengan di kelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sehingga membuat cuaca di desa ini sangat dingin. Masyarakat di desa ini pun tidak terlalu banyak, dengan mata pencahriannya yang hanya bertani mereka selalu saling melengkapi antara satu dengan yang lain, sehingga membuat masyarakat di sini tidak merasa kekurangan mereka hidup dengan tentram dan damai. Merekapun bertani dengan berbagai macam tanaman. Padi, kopi, coklat, cengkeh, kemiri dan masi banyak tanaman lainnya yang mereka tanam di dalam kebun-kebun besar.

            Desa ini memiliki danau yang cukup besar. Di sekeliling danau terdapat hutan yang sangat lebat dan masih terjaga keasliannya. sehingga membuat udara di sekitar danau sangat sejuk dan segar. Danau ini terletak di pinggir jalan sehingga membuat danau ini menjadi tempat persinggahan yang sangat menarik untuk melepas lelah bagi orang-orang yang bepergian menuju ke Pota, kota Kecamatan Sambi Rampas. Air di permukaan danau tampak sangat jernih dan dalam beberapa saat terlihat itik air yang sedang berenang atau mencari makan di permukaan danau. Danau Rana Kulan kaya akan biota bawa air sepeti ikan air tawar, udang, dan belut. Karna itu danau Rana Kulan sering dijadikan tempat untuk memancing ikan air tawar oleh masyarakat di sekitar danau.

            Danau Rana Kulan memiliki cerita mistis tersendiri. Konon pada zaman dahulu kala di sebuah kampung tepatnya di desa Rana Kulan hiduplah dua orang pemuda yang satu bernama Beni dan yang satunya lagi bernama Marsel. Mereka tinggal di rumah yang berbeda dan jaraknya agak berjauhan dengan anggota masyarakat lainnya. Sama seperti masyarakat lainnya Beni dan Marsel bekerja sebagai petani. Hari-hari mereka selalu pergi ke kebun untuk menyiram atau sekedar melihat-lihat tanaman mereka. Jarak kebun dan tempat tinggal merekapun tidak terlalu jauh sehingga mudah untuk mereka pulang pergi dan tidak harus tidur di sana untuk menjaga tanaman mereka dari serangan babi hutan dan binatang lainnya. Banyak tanaman yang mereka tanam seperti,padi,cengkeh, coklat, kemiri dan masih banyak tanaman lainnya.

Beni memiliki seekor anjing peliharaan yang senantiasa selalu membantunya dalam melakukan pekerjaan.Sejak kecil anjing ini ia pelihara dengan penuh kasih sayang, memberinya makan dan minum tidak lupa pula ia melatih untuk membantunya dalam melakukan segala hal. Anjing ini selalu setia menemani kemanapun Beni pergi. Jika beni menyuruhnya untuk pergi berjaga-jaga maka senantiasa dia akan pergi menuruti perintah Beni.

Suatu hari Beni dan Marsel pergi ke kebun mereka dan tidak lupa pula Beni mengajak anjingnya itu. Sepanjang perjalanan mereka belum membicarakan sesuatu, tetapi mata Marsel selalu tertuju pada anjing itu dia pun merasa kagum sekali dengan anjing itu sambil berjalan ia berkata ke Beni.

     “Beni!! saya liat anjing kau ini setia sekali ka dan dia mengerti kalau kau menyuruhnya      untuk mengusir babi hutan”

     “Iaa, sejak kecil saya merawatnya dengan baik, juga melatihnya untuk membantu saya” jawab Beni.

Setengah jam mereka berjalan dan membahas kepintaran anjing itu tidak lama sampailah mereka ke kebunya masing-masing. Sesampai di sana Beni menyimpan bekalnya di pondok kecil kemudian ia pergi membersihkan kebun. Sedangkan anjingnya ia biarkan istirahat di bawah kolom pondoknya itu. Seharian bekera ia pun merasa lapar dan kembali ke pondok. Sesampainya di sana sebelum makan ia ingin membuat sayur terlebih dahulu dan mengupas bawang tetapi ia tidak memiliki pisau.

     “Marsel tolong pinjam kate piso de miu ting wone asu tu,”perintah Beni pada Marsel untuk meminjam pisaunya dan dititipkan pada seekor anjing .

“Eeen,” jawab Marsel menyetujui perintah Beni.

Marsel pun mengikatkan pisau itu ke ekor anjingnya dengan berhati-hati. Lalu anjing itu pergi untuk membawakan pisau yang di minta majikannya. Demikianlah hal itu terjadi hari demi hari.

            Pada suatu malam di saat musim hujan Beni ingin membuat api tetapi ia tidak memiliki korek api. Lalu ia meminta kepada Marsel.

     “Ooooo Marsel minta api, kamu disebelah tolong kasi api saya dulu, pinta Beni.

     “Eeee saya tidak bisa bawa masalahnya hujan,” jawab Marsel.

     “kasi saja di anjing, itu dia ada pergi ambil.”

     “Iya.”

Tidak lama kemudian sampailah anjing itu di pondok Marsel. Marsel yang melihat anjing itu datang tiba-tiba ia turun sambil berkata.

   ”Ha anjing ini pintar dan penurut sekali, sini sini sinisambil mengelus sejenak kepala anjing. Anjing itu tidak merespon sama sekali dengan sentuhan dari Marsel ia hanya berdiri diam sambil menjulurkan lidahnya.

     “Tunggu sedikit ya anjing pintar, saya ambilkan dulu kayu apinya dan bawakan pada tuan mu itu” kata marsel yang kemudian naik ke pondoknya untuk mengambilkan kayu api.

Setelah Marsel turun kembali dari pondoknya ia pun mengikuti perintah beni dengan mengikatkan sebatang kayu api di ekor anjing tersebut. Lalu anjing itu pergi sambil berlari dengan hati-hati ia membawa kayu api tersebut agar ekornya tidak terbakar atau kayu api itu jatuh. Selang beberapa menit sebelum sampai di pondok Beni ia merasa kepanasan di bagian ekornya, karna batang kayu api itu terlalu pendek sehingga mengakibatkan ekornya terbakar dan anjing pun berlari mengelilingi kampung itu sambil menggonggong seakan meminta tolong untuk melepaskan batang kayu api tersebut karena ia merasa kepanasan. Ia berlari dari kolom rumah yang satu ke rumah yang lain.

Warga yang berada di atas rumahpun merasa bingung, takut bercampur penasara sambil bertanya-tanya antara satu sama lain kenapa anjing itu berlari sambil menggonggong dari satu kolom rumah ke kolom rumah yang lain mengelilingi kampung mereka. Karena hujan merekapun tidak bisa keluar rumah akirnya mereka memutuskan untuk membuka jendela atau pintu rumah sambil berdiri sekedar melihat apa yang terjadi pada anjing itu. Setelah membuka pintu mereka pun melihat ekor anjing itu terbakar. Anjing itu terus saja menggonggong dan berlari terbirit-birit tanpa arah seakan meminta tolong pada warga.

Tetapi apa yang dilakukan oleh warga disitu bukannya mereka membantu anjing itu untuk melepaskan mereka malah menertawai anjing itu dengan tertawa yang terbahak-baha.

     ”Hahaahaha…… coba liat anjing itu dia lucu sekali, ulah siapa ini yang ikat batang kayu itu pada ekornya, akhir ekornya terbakar dan dia merasa kepanasan..hahaaha” kata salah satu warga di situ, dan yang lainpun ikut tertawa.

Selang beberapa menit kemudian, akibat dari perbuatan mereka tiba-tiba datanglah hujan yang sangat besar, Guntur, kilat dimana-mana, angin kencang yang membuat pohon-pohon besar di sekitar itu rubuh. Wargapun mulai ketakutan mereka menutup semua pintu, jendela rumah mereka dan tidak memberanikan diri untuk keluar dari rumah selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti.

Ketika fajar menyingsing desa yang indah, subur, dan tenang itu kini telah tiada. Akibat dari perbuatan mereka itu yang mengakibatkan desa itu banjir dan tenggelam bersama warganya lalu terbentuklah sebuah danau yang sangat besar. Sampai sekarang di dasar danau itu masih terdapat tiang-tiang rumah dan sisa-sisa peninggalan mereka.Bahkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur tempat itu dijadikan tempat wisata.

*Rana : Danau                                    *Kulan : Nama kampung

           

Karya : Siti Rohannah