Lebih besar Pasak daripada Pesak

Siti Rahayu
Karya Siti Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Lebih besar Pasak daripada Pesak

Hai semua, apa kabar? semoga dalam keadaan yang sehat ya. Hari ini aku mau menulis mengenai pengalamanku dan teman teman jadi anak kosan yang sedikit dudul tapi insyaaAllaah cerdas kok dan cocok di ceklist jadi calon mantu (Khusus untuk para Bapak dan Ibu yang lagi nyari mantu, yaaaa :) ) . Langsung aja yaa, selamat menikmati dan mungkin membuka ingatan menjadi anak kosan. 


Anak kosan, jauh dari keluarga, jauh dari saudara, hidup bersama anak rantau lainnya, dan aku termasuk salah satu dari anak rantau yang merantau dari jawa tengah dan tinggal di depok. Menjadi anak kosan bukanlah sesuatu yang mudah, harus cerdas untuk semuanya, cerdas atur waktu, cerdas atur uang dan cerdas cari kosan, ga papa kalau jauh asal murah, itu si yang aku terapkan, hehehe.
Jadi anak kosan pun gak selalu mampirnya ke warteg atau ketika akhir bulan mesti merebus mie instan yang jadi 'peluru' ampuh meredam perang di dalam perut, sesekali main dan jajan itu adalah hal yang menyenangkan disamping kesibukan kuliah. Untuk para boarder (biar keliatan keren dikit) pasti taulah how so difficult to management your money when the end of the month come early its mean kamu kehabisan uang disebelum akhir bulan, eaaaa ada yang pernah? aku si yes, sering? ga juga si tapi almost lah ya. Boros? no, ndak boros kok, tapi ada aja namanya juga anak kosan yang kadang kadang lupa kalau stock mie instan ternyata udah menipis di kamar tergoda sama yang dietalasi resto dan akhirnya, taraaaa akhir bulan belum sampe udah lipatan kertas di dompet bukan merah lagi udah berubah abu abu dan biru lecek, hehehe. Yang namanya godaan itu emang deres ya, kalau ndak kuat iman ya istighfar akhir bulan ketika harus bertemu dengan mie instan pagi siang sore dan malampun itu udah alhamdulillah, mau calling ibu bapak di rumah its impossible mana bisa begitu (ngomongnya sambil angkat dagu dikit, eaaa menjaga jadi calon mantu yang baik ndak boleh boros atau keliatan boros jadi milih terimalah mie instan).

liat diskonan di tempat makan itu rasanya kaya nemukan jarum dalam ikatan jerami, siapa yang pernah gini? ngantri juga ga papa deh yang penting 'diskon' ga malu malu an toh kita bayar, pernah juga. ahahahaha... nah baru baru ini aku dan teman ada acara dari pagi sampe malam, pikir kami adalah sesekali itu tak apa menyenangkan perut, bukan begitu benar? siang sudah makan di resto walau under 50K tetap aja itu resto, asik kan ya nongkrong sama teman sambil icip icip. Oke, kirain perut udah kenyang ya, sampe di kosan ternyata ada perang lagi di kerajaan bawah (perut) memutuskan untuk makan malam dong, dengar kabar ada diskon 50% untuk sebuah tempat makan tapi syaratnya ndak boleh delivery , take away boleh, dan tau antrian mobil ataupun motor dan orang udah pasti membludak betul aja, margonda sedikit terhampat di bawah hujan. Kami memutuskan untuk ke warteg atau tempat makan soto pinggir jalan yang harganya bersahabat dengan kantong kami, tapi tiba tiba ada informasi ada resto ala palembang diskon 45% untuk beberapa variasi makan. Berembug dan hitung menghitungpun terjadi, setelah diitung paling makan dibawah harga 20 K (20. 000 rupiah) sudah kenyang. Kesepakatan terjadi dan berangkatlah kami. Sampai disana semua memesan makannya masing masing, ada yang memesan mie celor, ada yang memesan nasi ayam dan ada yang memesan spaghetty ada juga yang memesan nasi dengan beef. Lupa kalau diskon tersebut hanya untuk makanan untuk minuman no discount, but untuk minuman masih bisa di toleransi harganya masih bersahabat, hehehe. Tibalah masa terjadi kekoplakan antara kami. Setelah shalat maghrib aku  turun dan melihat semua pesanan sudah tersaji di meja. Tapi ada dua kudapan yang kami tak merasa pesan dan itu ada di meja, melihat teman dengan nikmatnya mengunyah kudapan tersebut, agak gatel lah aku tanya 'Heiii kak, memang kamu pesan ini?" dijawab 'Ndak, aku ndak pesan tapi ada disini, yaudah makan deh', hem ndak mungkin itu free jadi aku makesure lagi dong 'Ada yang merasa mesan ndak?'dijawab lagi 'mungkin ada yang mesan, yaudah ga papa makan aja dulu'. Dalam hati udah menerka itu lumayan harga 5 kudapan tersebut yang segede jempol bisa diatas 5.000 ribu rupiah. 

Dan yang memakan ternyata merasa tenang tenang saja karena masih berpositive thinking kalau ada yang memesan jadi bisa share cost atau gimana gitu ya. Oke selesai makan seorang adik mulai menghitung dan melihat harga kudapan yang segede jempol tangan orang dewasa untuk 1 pcs itu harganya 7.000 rupiah. Seketika saya ngitung berarti itu ada 5 pcs nilainya 35.000 rupiah. Kami yang melihat harga tersebut hanya bisa diam karena sudah dieksekusi habis kudapan tersebut. Selesai makan waiters datang dan memberikan bill kemudian ditanyai mengenai tambahan selain pesanan. Para pemakan kudapan tanpa harga itu masih dibawah pengaruh bahwa kudapan tersebut adalah pesanan salah satu dari kami sepertinya dan menjawab tidak ada tambahan, dan waiters menanyakan tentang bungkus kudapan tersebut. 

Jeng jeng jeng

Baru deh sadar para eksekutor bawah kudapan itu no free dan tidak ada yang memesan diantara kami, eaaaaa mulai deh itung itung kok ya jadi mahal yaa. bayangkan saja ada yang makan 2 pcs kan lumayan ya 14.000 rupiah senilai dengan makan nasi soto super kenyang di food courtnya aanak kosan yang tinggal di jalan kapuk dan sekitarnya yang lokasinya di jalan pinang dan hanya buka malam hari itupun sudah include sama minum, lah ini 14.000 only for kudapan, apa kabar besok besok minggu dan akhir bulan masih sangat jauh. Seketika gak bisa nahan ketawa dan cekikikan ketika melihat ekspresi dari para eksekutor. Wkekekeek, salah satu eksekutor bilang 'Harusnya dicari tahu dulu ya berapa harganya, ahhhh sudah menjadi bubur gimana dong?' dengan masih ketawa 'ya gimana, ya bayarlaaah' hahahaha cuma bisa bilang sabar dan bilang ' Besok hari ayyamul bidh kak, jadi puasa itu lebih baik untuk para remaja supaya terjaga'. Seketika pada bilang 'Koplak si siray'. 

 

*Ayyamul bidh adalah puasa 3 hari setiap pertengahan bulan. *Siray adalah nama si pencerita dalam laman ini. 

  • view 195