Saga No Gabai Baachan

Siti Nadroh
Karya Siti Nadroh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Saga No Gabai Baachan

?Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria.? (hal 63)

?

Cerita berawal saat Akihiro berpisah dengan ibunya pada tahun 33 era Showa (1958). Ia bahkan sudah ditinggalkan oleh ayahnya jauh sebelum ia dilahirkan karena pengeboman yang terjadi di kota Hiroshima. Sejak kejadian itu, roda perekonomian di kota tersebut menjadi teramat sulit. Akihiro tinggal bersama ibunya yang membuka usaha bar di rumahnya. Karena merasa kehidupan di Hiroshima tidak akan baik untuk pendidikan putranya, akhirnya sang ibu memutuskan untuk menyekolahkan Akihiro di kampung neneknya di Saga yang jaraknya sekitar 7 km dari kota Hiroshima (bagi Akihiro yang baru duduk dibangku sekolah dasar, jarak tersebut tentu sangat jauh.) tanpa sepengetahuan Akihiro, ia dibohongi oleh ibunya dengan alih-alih mengantarkan bibi Kisako pulang ke Saga. Ternyata sesampainya di stasiun kereta Hiroshima, ia didorong oleh sang ibu kedalam gerbong tak lama setelah bibi kisako masuk. Ternyata dirinyalah yang diantar pergi.

Keadaan di Saga ternyata satu tingkat lebih miskin dibandingkan dengan Hiroshima. Ia seolah kembali ke jaman berpuluh-puluh tahun lalu. Sang nenek tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan atap jerami persis seperti dalam kisah rakyat jepang. Setibanya di rumah Nenek Osano (58 tahun) ia langsung diajari memasak nasi dengan tungku tua dan kayu bakar. ?selanjutnya setap hari kamu yang akan memasak nasi.? Ucap sang Nenek. Pada saat itu, ia menurut saja melakukan kegiatan tersebut meski dengan pertanyaan-pertanyaan mengherankan yang muncul didalam benaknya.

Sejak hari itu, kehidupan baru Akihiro pun dimulai. Walaupun usia sang nenek sudah menginjak 58 tahun, tetapi ia masih giat bekerja. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Universitas Saga dan juga di Sekolah Dasar yang letaknya saling berdekatan. Sebelum berangkat bekerja, sang nenek biasanya pergi ke ?supermarket pribadi? miliknya. Yang dimaksud supermarket pribadi adalah sungai yang berada tepat di depan rumahnya. Ada pasar didaerah dekat hulu sungai. sayuran yang tidak laku atau separuh cacat seperti lobak yang berujung dua dan mentimun yang bengkok biasanya dibuang ke sungai. Ia memasang galah sebagai penghalang benda yang terbawa arus sungai agar tersangkut galah tersebut .Dan sang neneklah yang dengan rutin memunguti sayuran yang terbawa arus tersebut dan mengambil bagian yang masih bagus yntuk dimasak. Ia menyebutnya ?supermarket dengan pelayanan ekstra yang diantar langsung ke rumahnya dan tanpa biaya.?

Belum hilang kekaguman Akihiro tentang supermarket pribadi itu, ia kembali dibuat kagum oleh sang nenek saat ia pulang dari bekerja dengan mengikatkan tali pada pinggangnya yang diujungnya terdapat magnet. Sepanjang perjalanan pulang, benda-benda logam dan paku akan tersangkut di magnet tersebut yang kemudian akan dikumpulkan sang nenek untuk dijual jika sudah banyak. Berbagai cara unik dilakukan sang nenek demi menghemat uang. Walaupun miskin, namun sang nenek selalu tampak ceria dan punya ratusan akal untuk meneruskan hidupnya dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan yang mereka jalani selalu penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikan. Keadaan tersebut secara tidak langsung telah memberi pelajaran yang sangat berharga untuk Akihiro. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pantang menyerah. Tidak jarang ia bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah atau di hari libur demi mendapatkan uang jajan. Prinsisp-prinsip hidupnya seperti mengakar pada ajaran sang nenek selama ia tinggal di Saga.

Berlatarbelakang kisah nyata sang penulis Yoshichi Shimada yang menghabiskan masa kecilnya bersama sang nenek di Saga, Saga no Gabai Bachan merupakan novel yang seru, lucu dan mengharukan yang mampu mengaduk-aduk emosi sang pembaca dan juga membangkitkan kebahagiaan. Novel ini juga mampu membuat para pembaca tersentuh dan kagum pada kekuatan dan kepandaian seorang nenek dalam menghadapi kehidupannya. Hal lain yang juga penting adalah novel ini mampu membuat para pembaca berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup. Selalu ada sisi baik pada setiap keadaan di kehidupan kita. Tergantung bagaimana kita menghadapi keadaan tersebut.

?

?

?

?

?

?

Tangerang,

Sabtu, 06 Februari 2016.

  • view 138