Keluarga Hebat untuk Indonesia Kuat

Siti Nur Aisyah
Karya Siti Nur Aisyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Mei 2016
Keluarga Hebat untuk Indonesia Kuat

Maraknya kasus kriminalitas tidak sedikit pelakunya adalah usia remaja atau usia sekolah. Kenakalan remaja yang pada awalnya hanya berupa tawuran atau perkelahian antarpelajar, dan juga balapan liar, saat ini semakin mengarah pada tindakan-tindakan yang tergolong sebagai tindak kriminalitas seperti pencurian, pemerkosaan, penggunaan narkoba, bahkan hingga pembunuhan. Kian maraknya pelanggaran nilai moral oleh remaja dapat di pandang sebagai perwujudan  rendahnya disiplin diri sehingga mereka memiliki karakter negatif.

Hasil analisis data yang bersumber dari berkas laporan penelitian kemasyarakatan, Balai Pemasyarakatan (BAPAS) mengungkapkan bahwa sebelum para remaja nakal ini melakukan perbuatan tindak pidana, mayoritas atau sebesar 60,0 persen adalah remaja putus sekolah dan mereka pada umumnya atau sebesar 67,5 persen masih berusia 16 dan 17 tahun. Mayoritas atau sebesar 77,5 persen remaja pelaku tindak pidana masih mempunyai ayah dan ibu kandungnya dan sekitar 89,0 persen dari mereka tinggal bersama kedua orang tua kandungnya.

Begitu besarnya peran pendidikan untuk menuntaskan masalah kriminalitas di Indonesia, karena kriminalitas dipicu permasalahan yang utama yaitu kemiskinan, kemiskinan erat kaitannya dengan kebodohan, sementara kebodohan berasal dari gagalnya produk pendidikan itu sendiri, dan karena inilah fungsi utama pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun, ternyata tidak semua tindak kriminalitas dipicu oleh kemiskinan melainkan keserakahan dan ketamakan manusia yang tidak pernah merasa cukup seperti halnya kasus korupsi .  

Pendidikan yang di gambarkan di sini bukanlah pendidikan yang hanya berorientasi pada tercukupinya mutu nilai standar berupa angka-angka, lebih dari itu pendidikan erat kaitannya dengan sesuatu yang mampu merubah manusia menjadi unggul yang memiliki integritas yang berkarakter luhur.

Ada banyak sekali kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki dalam pendidikan yang sangat utama yaitu pendidikan dalam sebuah keluarga, pemerintah memandang ringan pendidikan keluarga padahal keberhasilan suatu pendidikan itu berasal dari keberhasilan pendidikan dalam sebuah keluarga.

Penanggung jawab dari pendidikan pertama seorang anak adalah orang tua, banyak sekali peran orang tua dalam pendidikan karakter, mulai dari kandungan, hingga anak beranjak dewasa orang tualah yang merupakan pendidik terbaik untuk anaknya, sehingga disinilah pengaruh besar terbentuknya karakter anak.

Namun, sayangnya fenomena yang tampak saat ini adalah pengabaian pendidikan di rumah, orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tugas mereka untuk mengurus dan mendidik anak digantikan oleh pengasuhnya, tentu hal ini akan menjadi masalah bagi perkembangan anak. Negara-negara Barat saja mulai menyerukan untuk mengembalikan peran kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Mantan Menteri Amerika Serikat Terrel Bell mengungkapkan keresahannya tentang apa yang terjadi di tengah keluarga, Ia berkata “runtuhnya tingkat pendidikan di sekolah-sekolah Amerika pada sisi tertentu, berimbas pada perubahan-perubahan pada tingkat keluarga. Di tengah-tengah kami banyak sekali keluarga dimana masing-masing dari kedua orang tua sibuk bekerja, juga banyak keluarga yang hanya di atur oleh satu orang saja, entah ayah ataupun ibu saja”.

Sama halnya dengan seorang bernama Prof.George De Pos dari University of California menuturkan “ Ibu-ibu jepang merupakan unsur yang sangat penting dan berpengaruh dalam pendidikan anak-anaknya. Ia menjadikan dirinya sebagai satu–satunya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, menopang peran sekolah, dan mendidik sejak lahir”.

Berdasarkan kedua pernyataan di atas sangat menggambarkan bahwa pada hakikatnya posisi dan peran orang tua di rumah tidak dapat digantikan oleh siapapun, karena keberadaan seorang ibu di rumah sebagai pendidik adalah hal yang penting dalam pendidikan anak. Kasus yang tergambarkan saat ini adalah banyak keluarga yang broken home, hal ini tentu berakibat fatal pada perkembangan anak yang akan menyebabkan kepribadian anak tidak terbentuk secara sempurna. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi kejiwaan anak tentunya dari peristiwa perceraian kedua orang tua, keberadaan ayah dan ibu yang terpisah, adanya ayah atau ibu tiri, saudara tiri atau bahkan kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, tentu hal ini sangat menimbulkan banyak sekali permasalahan-permasalahan bagi anak, bagaimana anak akan terbentuk karakternya di sekolah bila dalam keluarganya tidak ada kerja sama yang baik untuk membentuk kepribadian secara utuh.

Selain permasalahan yang berkaitan dengan hilangnya peran orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak karena kesibukan dan perceraian atau perselisihan orang tua, ternyata ada permasalahan lain yang tidak kalah penting yaitu kurangnya pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak di rumah, tidak memahami secara baik tugasnya sebagai orang tua, atau bahkan salah mendidik di karenakan minimnya pengetahuan mereka tentang pengasuhan anak yang baik. Orang tua yang baik seharusnya memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik pula untuk anaknya dengan mempersiapkan secara matang pengetahuan dibidang pendidikan anak, serta dalam pengasuhannya.

Minimnya pendidikan yang diperoleh orang tua juga berdampak terhadap kualitas pendidikan yang diberikan kepada anak, Dian Sastrowardoyo mengungkapkan “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena dia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas”.

Menurut pribadi saya sendiri pemerintah tidak seharusnya mengabaikan permasalahan ini, karena sesungguhnya kesuksesan dalam pendidikan nasional akan bermula dari kesuksesan pendidikan di dalam keluarga, hal ini harus diupayakan pemerintah bagaimana caranya untuk menjadikan sebuah keluarga mampu menjalankan perannya dalam kemajuan pendidikan, menyiapkan lembaga yang mampu mencetak orang tua yang cerdas, orang tua yang berwawasan luas terhadap pendidikan anaknya, serta mengembalikan tugas ibu di rumah yang merupakan maderasah pertama bagi anak-anaknya.


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Jadi gw harus gimana?

    • Lihat 1 Respon