Model Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran

Ryan Angin
Karya Ryan Angin Kategori Lainnya
dipublikasikan 30 Juli 2017
Model Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran

Model Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran

Pembelajaran berbasis peta pikiran, salah satu model dalam membelajarkan pebelajar dengan memanfaatkan citra visual, gambar, prasarana grafis, kata  untuk membentuk kesan (Buzan, 2003). Lebih lanjut Buzan (2003) mengatakan bahwa memanfaatkan gambar dan teks ketika seseorang mencatat atau mengeluarkan suatu ide yang ada di dalam pikiran merupakan pertanda bahwa seseorang telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis; peta pikiran mengaktifkan secara seimbang belahan otak kanan (pola berpikir divergen) dan belahan otak kiri (pola berpikir konvergen).

Pembelajaran berbasis peta pikiran, merupakan representasi spasial konsep dan hubungan timbalbalik yang menggambarkan struktur pengetahuan (Adodo, 2013). Hasil penelitian Olufunke (2014) menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif pebelajar lebih tinggi dengan model pembelajaran peta pikiran daripada peta konsep (concept mapping). Selanjutnya, dikatakan bahwa membelajarkan si-belajar dengan menggunakan peta pikiran dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas berpikir si-belajar, memberikan semangat dan lebih menarik pada si-belajar, membantu si-belajar melihat makna materi pembelajaran secara komprehensif, belajar lebih efisien dan efektif, tidak menunjukkan fakta saja, tetapi menunjukkan konsep,  prinsip, dan prosedur.

Wehry, dkk. (2014) menemukan,  bahwa pembelajaran berbasis peta pikiran dapat meningkatkan kapabilitas dan keterampilan intelektual (kognitif) pebelajar dan sangat berpengaruh terhadap kemampuan pebelajar dalam menulis karya ilmiah geografi manusia. Tooth dan Heather (2014) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran suatu materi sesuai dengan obyek materialnya, dapat dilakukan dalam kelas dengan berbagai pembelajaran, laboratorium artifisial, dan laboratorium alam melalui  pembelajaran studi lapangan. Dengan lingkungan pembelajaran terpadu diharapkan pebelajar memiliki kompetensi kognitif, afektif, yang selanjutnya pebelajar mampu menulis karya ilmiah secara kreatif; kondisi tersebut dapat terpola apabila pebelajar memiliki motivasi berprestasi yang tinggi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khoo (2007) terhadap pengalaman beberapa lembaga pendidikan di Singapura dalam melaksanakan pembelajaran berbasis peta pikiran dapat disimpulkan berikut: (1) peta pikiran dapat menjadi suatu alternatif  pembelajaran, di samping pembelajaran konvensional yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran karena membantu mengorganisir informasi dengan baik, menyajikan informasi dan konsep yang penting atau inti saja; (2) peta pikiran dapat meningkatkan tingkat partisipasi pebelajar  dalam belajar karena suasana belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan, materi pembelajaran dapat disistimatisir ke dalam bentuk yang menarik,  mudah untuk dipahami dan diingat; (3) peta pikiran dapat membantu fasilitator  dalam menyampaikan materi pembelajarn secara lebih efektif dan efisien yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar si-belajar; (4) peta pikiran dapat meringankan tugas si-belajar dan fasilitator dalam menyelesaikan seluruh materi pembelajaran  dalam waktu yang lebih singkat namun tidak mempengaruhi kualitasnya.

Pembelajaran peta pikiran (mind mapping), suatu pembelajaran konstruktivisme dimana si-belajar mengorganisasikan dan menyajikan fakta, konsep, prinsip,  prosedur, ide atau gagasan lainnya dalam bentuk diagram radial-hierarkis non-linier (Buzan, 2004).  Selanjutnya,  proses pembuatan sebuah peta pikiran secara step by step dapat dibagi menjadi empat langkah yang harus dilakukan secara berurutan yaitu: (1) menentukan topik sentral; untuk buku pelajaran topik sentral biasanya adalah judul buku atau judul bab yang akan dipelajari dan harus diletakkan ditengah kertas serta usahakan berbentuk image/gambar; (2) membuat basic ordering ideas (BOIs)untuk topik sentral yang telah dipilih, BOIs biasanya adalah judul bab atau sub-bab dari buku yang akan dipelajari atau bisa juga dengan menggunakan 5WH(What, Why, Where, When, Who dan How); (3) melengkapi setiap BOIs dengan cabang-cabangyang berisi data-data pendukung yang terkait. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting karena pada saat inilah seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap cabang BOIs secara asosiatif dan menggunakan struktur radian yang menjadi ciri yang paling khas dari suatu peta pikiran. Melengkapi setiap cabang dengan imagebaik berupa gambar, simbol, kode, daftar, grafik dan garis penghubung bila ada BOIs yang saling terkait satu dengan lainnya. Tujuan dari langkah ini adalah untuk membuat sebuah peta pikiran menjadi lebih menarik sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan diingat (Buzan, 2004).  .

Dalam membuat peta pikiran  Buzan (2004) telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti agar peta pikiran  dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal, sebagai berikut: (a) kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (landscape); topik sentral diletakkan ditengah-tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna. (b) garis: lebih tebal untuk BOIs dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau image yang ada di atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat. (c) Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat. (d) Image: gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan image yang tiga dimensi agar lebih menarik lagi. (e) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5-6 warna; warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang harus mengikuti warna BOIs. (e) Struktur: menggunakan struktur radian dengan topik sentral terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabang-cabangnya menyebar ke segala arah. BOIs umumnya terdiri dari 2–7 buah yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 13.00. Perhatikan Gambar.

 

 

 Gambar 2.2  Peta Pikiran

Sumber: http://www.imindmap.com.

 Ada empat langkah yang perlu dilakukan dalam model ini, yaitu:  (1)  overview, tinjauan menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses pembelajaran baru dimulai, bertujuan untuk memberi gambaran umum kepada pebelajar tentang isi materi yang akan dipelajari. Khusus untuk  pertemuan pertama setiap awal semester, overview dapat diisi dengan kegiatanuntuk membuat master mind mapyang merupakan rangkuman dari seluruh topik yang akan difasilitasi selama satu semester yang biasanya sudah ada dalam Silabus. Dengan demikian, sejak awal pebelajar sudah mengetahui topik apa saja yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi siswa yang aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan. (2) preview, tinjauan awal merupakan lanjutan dari overview sehingga gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada overview dan dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari silabus. Dengan demikian, pelajar diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah preview dapat dilewati sehingga langsung masuk ke langkah inview. (3) inview,tinjauan mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, di mana suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama inview ini, pelajar diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu pelajar dalam memahami dan menguasai bahan yang difasiltasi. (4) review, tinjauan ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pertemuan dan berupa ringkasan dari bahan yang telah difasilitasi serta ditekankan pada informasi, konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh pelajar. Hal ini akan dapat membantu pebelajar untuk fokus dalam mempelajari ulang seluruh bahan yang difasilitasi.Review dapat juga dilakukan saat kuliah akan dimulai pada pertemuan berikutnya untuk membantu pebelajar mengingatkan kembali bahan yang telah difasilitasi pada pertemuan sebelumnya (Buzan, 2004).

Peta pikiran merupakan suatu cara memvisualisasi, merekam dan mengorganisasi informasi, dalam rangka  pengembangan ide atau gagasan baru. Penggunaan peta pikiran tidak hanya meningkatkan minat belajar tetapi juga memecahkan masalah, membentuk mental, memperoleh kesenangan, mengarahkan tujuan, menemukan jawaban, meningkatkan proses memori, meningkatkan kreativitas dan keterampilan menganalisis, dengan mengoptimalkan fungsi belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Peta pikiran dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan, wawasan dan tindakan. Informasi yang disajikan fokus pada bagian-bagian penting, dan dapat mendorong  orang untuk mengeksplorasi dan mengelaborasinya lebih jauh (Beel, dkk., 2013).

Penggunaan peta pikiran tidak hanya meningkatkan minat belajar tetapi juga memecahkan masalah, membentuk mental, memperoleh kesenangan, mengarahkan tujuan, menemukan jawaban, meningkatkan proses memori, meningkatkan kreativitas dan keterampilan menganalisis, dengan mengoptimalkan fungsi belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Peta pikiran dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan, wawasan dan tindakan. Informasi yang disajikan fokus pada bagian-bagian penting, dan dapat mendorong  orang untuk mengeksplorasi dan mengelaborasinya lebih jauh (Buzan, 2004).

Peta pikiran dapat dibuat secara manual atau dengan menggunakan bantuan software. Walaupun tidak ada ketentuan yang baku, tetapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman dalam menyusun peta pikiran, (khususnya untuk petapikiran yang dibuat secara manual)  sebagai berikut: (1) mulai dari tengah untuk menentukan topik sentral (menentukan “pohon”), dibuat dalam kertas kosong bentuk landscape, disertai gambar berwarna; (2) tentukan topik utama (menentukan “cabang”) sebagai bagian penting dari topik sentral; (3) tentukan subtopik sebagai  “ranting” yang diambil dari topik utama; (4) secara kreatif gunakan gambar, simbol, kode, dan dimensi seluruh peta pikiran; (5) sedapat mungkin gunakan kata kunci tunggal  (maksimal 2 kata),  dengan huruf kapital atau huruf kecil; (6) gunakan garis lengkung untuk menghubungkan antara topik sentral dengan topik utama dan subtopik. Untuk stimulasi visual, gunakan warna dan ketebalan yang berbeda untuk masing-masing alur hubungan; (7) kembangkan mind map sesuai gaya si-belajar sendiri; untuk memahami suatu teks, si-belajar terlebih dahulu harus membaca teks tersebut untuk memperoleh gambaran mental (mental image) yang menyeluruh dan bermakna.

Bagi fasilitator, peta pikiran dapat digunakan untuk kepentingan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran, peta pikiran bisa dimanfaatkan untuk kepentingan menyusun desain pembelajaran, baik yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar maupun pengembangan metode dan penilaian pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran di kelas, fasilitator  dapat memanfaatkan peta pikiran sebagai media pembelajaran atau mengintegrasikannya dengan metode pembelajaran yang digunakan.     Dalam penilaian, fasilitator  dapat memanfaatkan setiap karya mind map si-belajar  sebagai bahan penilaian produk dan bagian dari portofolio si-belajar, untuk melihat sejauhmana si-belajar dapat memahami materi pembelajaran sekaligus mengenal kontruksi berfikir si-belajar.

Peta pikiran adalah sebuah diagram yang digunakan untuk mewakili kata-kata, ide, tugas, atau item lain yang terhubung ke dan diatur sekitar kata kunci sentral atau ide (Dwiyogo, 2013). Peta pikiran  digunakan untuk menghasilkan,  memvisualisasikan, struktur, dan mengklasifikasikan ide-ide, dan sebagai bantuan untuk mempelajari dan mengatur informasi, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menulis. Elemen dari peta pikiran yang diberikan disusun secara intuitif sesuai dengan pentingnya konsep, dan diklasifikasikan ke dalam kelompok, cabang, atau daerah dengan tujuan mewakili koneksi semantik atau lainnya antara bagian informasi.

 Berdasarkan berbagai macam sintaks pembelajaran berbasis peta pikiran   yang telah dijelaskan, maka yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi dari  Buzan (2004), yaitu langkah-langkahnya sebagaimana terlihat pada tabel 2.1.

 Tabel  2.1 Sintaks Model  Pembelajaran Peta Pikiran dalam Penelitian ini

Tahap

Tingkah Laku Fasilitator

Tingkah Laku Si-belajar

1

2

3

1.

Menyiapkan ide pokok

Fasilitator menjelaskan tujuan pembelajaran

Menyimak tujuan pembelajar-an yang dikomunikasikan fasilitator dan menyiapkan kertasuntuk mendesain topik utama peta pikiran.

2.

Mengorganisasi si-belajar untuk belajar

Fasilitator membantu si-belajar

dan mengorganisasikan dalam kelompok

Mendesain cabang-cabang utama pada peta pikiran.

3.

Menyiapkan cabang-cabang utama kemudian mencari kata kunci

Fasilitator membuat cabang-cabang utama

Menemukan kata kunci yang relevan

4.

Mengkomunikasikan hasil desain peta pikiran

Fasilitator menjadi moderator

Mengkomunikasikan hasil desain peta pikiran di depan kelas

5.

Mengumpulkan hasil desain peta pikiran

Fasilitator mengumpulkan hasil desain peta pikiran

Mengumpulkan hasil desain peta pikiran

6.

Mengevaluasi hasil desain peta pikiran

Fasilitator melakukaan refleksi dan evaluasi terhadap produk desain peta pikiran

Si-belajar melakukan refleksi dan evaluasi terhadap produk desain peta pikiran

Sumber: Diadaptasi dari Buzan, 2004.

           Peta pikiran  digunakan untuk menghasilkan,  memvisualisasikan, struktur, dan mengklasifikasikan ide-ide, dan sebagai bantuan untuk mempelajari dan mengatur informasi, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menulis karya ilmiah.

  • view 45