PENYAKIT KEBAHAGIAAN

Nisa Sintha Putri
Karya Nisa Sintha Putri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 12 Juli 2017
PENYAKIT KEBAHAGIAAN

Semua manusia normal pasti tidak akan ada yang senang ketika ditimpa sesuatu yang tidak mengenakan. Itu terjadi pada saya dua tahun yang lalu, secara tiba-tiba Tuhan menunjukkan kasih sayangNya dalam bentuk yang tidak saya sukai. Autoimun, medis mengatakannya demikian. Ibaratnya begini, setiap manusia punya tentara dalam tubuhnya yang dinamakan ‘imun’. Tentara itu seharusnya menjaga majikan dari berbagai ‘serangan luar’, tapi yang terjadi adalah tentara malah melawan majikannya, membuat majikannya kewalahan dengan tubuhnya sendiri. Gejala yang saya alami bermacam-macam, dari yang mulai terasa sakit sampai yang sangat sakit hingga tidak bisa jalan sama sekali. Dari mulai suhu tubuh dingin hingga sangat panas.  Bagaimana saya melaluinya ?

Saya akan mengawali cerita ini dari apa yang terjadi dua tahun lalu di hidup saya. Kehilangan Ayah dan kekecewaan yang saya peroleh dari orang-orang terdekat saya saat itu telah menampar saya pada kondisi yang sangat tidak saya sukai. Saat itu saya merasa semua sudah tamat dan dunia jadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untuk dihuni. Semua rasa cinta yang saya miliki ; cinta pada Ayah, cinta pada manusia, dan cinta pada pekerjaan seketika diambil oleh Tuhan. Saya ditinggalkan oleh semua yang saya cintai. Saat itu saya lebih sering menyendiri dan terlalu meratapi apa yang terjadi, hingga suatu ketika kondisi tubuh saya sering lemah, dan muncul gejala-gejala yang tidak biasa.

Saya mulai mendatangi dokter, semua dokter yang berkaitan dengan gejala yang saya rasakan saya datangi. Kalian tau apa yang semua dokter itu katakan ? mereka serentak mengatakan, “apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan terlalu memikirkan segala sesuatu dengan berlebihan. Tenangkan pikiranmu, jangan terlalu stress.” Sudah, hanya itu saja. Bahkan beberapa dari mereka tidak memberikan resep obat apapun dan hanya meminta saya untuk mengolah pikiran dan lebih ikhlas dalam menjalani hidup. Mereka meminta saya untuk bahagia, Tuhan meminta saya untuk bahagia.

Penyakit kebahagiaan, begitu saya menyebutnya. Saya selalu ingat salah satu cerita yang pernah saya baca di buku. Kesimpulan dari cerita itu adalah bahwa apa yang nampak baik di mata orang lain belum tentu memang kebaikan untuk kita, dan apa yang nampak buruk di mata orang lain belum tentu memang keburukan untuk kita. Dan saya ingin melihat keadaan saya ini jauh melampaui apa yang terlihat secara kasat mata.

Saya memulai semuanya dari pikiran saya, tidak mudah memang ketika kita harus cepat-cepat membuat keadaan jadi lebih tenang ketika apa yang kita rasakan nyatanya sangat menyedihkan. Ketika hal tidak mengenakan datang kepada saya dan saya mulai hanyut dalam kesedihan itu, imun saya mulai menyerang saya tanpa ampun, semua gejala bermunculan hingga saya terbaring tidak berdaya di atas kasur, tidak bisa jalan sama sekali. Tubuh rasanya seperti dihujam ratusan jarum, dan badan saya bisa demam tidak karuan. Ketika saya menenangkan pikiran, berdo’a tiada henti pada Allah, perlahan tubuh saya kembali normal. Ajaibnya, saya sering begini ; pagi hari sehat bugar dan ceria, siang hari lemah, demam dan murung, malam hari kembali ceria. How can I switch my condition so fast like that. Hahahhaa.

Secara medis (dari hasil lab, rontgen, dll) memang sudah ditemukan penyebab dari sakit saya ini, dan saya diberi obat untuk menangani hal itu. Salah satu obatnya adalah saya diharuskan berjemur dibawah matahari setiap hari selama 30 menit untuk bisa memenuhi asupan Vitamin D di tubuh saya. Tapi yang jauuhhh lebih penting dari penyembuhan ini adalah bagaimana saya mengontrol pikiran dan memanage stress saya. Tidak ada di dunia ini orang yang selalu bahagia, yang ada hanyalah orang yang mampu melawan semua yang tidak bahagia dengan lebih menenangkan diri dan mengubahnya menjadi anugrah hingga berubah menjadi kebahagiaan. Metamorfosis rasa, itulah yang harus saya jalani terus menerus. Hidup yang saya lewati tidak selalu asyik-asyik saja seperti yang mungkin terlihat, saya sering tertawa karena memang saya suka melakukannya, saya lebih sering tersenyum karena itu yang Ayah saya ajarkan sejak dulu, saya sering bertindak konyol karena itulah seni hidup! Dan semua itu jadi semakin sering saya lakukan setelah penyakit kebahagiaan ini datang. Bohong kalau saya mengatakan bahwa saya tidak pernah bersedih, ketika bersedih saya akan menangis sepuasnya, membiarkan emosi saya mendapatkan hak nya terlebih dahulu, atau saya coba ceritakan uneg-uneg saya kepada orang-orang tertentu, kemudian saya akan menghentikannya ketika sudah mulai menguasai tubuh saya. Perang melawan tentara sendiri ini, adalah perang yang harus saya nikmati setiap hari.

Beberapa dari teman-teman mungkin bertanya bagaimana percisnya autoimun yang saya alami. Jadi begini, jenis autoimun itu banyak sekali, yang saya alami namanya Erythema Nodusun. Intinya jenis autoimun ini akan membuat beberapa bagian tubuh saya seketika lebam hingga benjol. Rasanya sakit terutama jika sudah tumbuh di otot tangan atau kaki (bagian produktif). Seringkali disertai demam karena adanya infeksi di dalam tubuh. Sumber benjolannya bisa berpindah-pindah karena terdapat di dalam aliran darah yang mengalir, bisa muncul dimana saja tanpa bisa kompromi. Pernah suatu ketika lebam itu muncul di tulang lutut saya yang mengakibatkan saya susah untuk bersujud, saya sujud dengan kaki sebelah diangkat (silahkan bayangkan), memang sebetulnya boleh saja solat sambil tidur atau duduk, tapi saat itu saya ingin sekali solat dengan posisi yang sempurna. Semua itu hampir membuat saya frustasi, tapi saya sadar semua yang saya lalui itu menguatkan saya sekarang. Saat ini, jika saya mulai ingin menyerah, saya selalu lihat ke belakang dan merasa bahwa sudah sejauh ini saya berjalan, tidak lucu kalau menyerah. Kemudian saya menguatkan diri dan ternyata saya sering dibuat takjub dengan kekuatan yang saya paksakan itu, saya ternyata mampu. Saya memahami bahwa keterbatasan adalah luar dari batas itu sendiri. Keterbatasanlah yang akhirnya mampu membuat saya bekerja di luar batas normal. Melampaui semua dugaan dan kelemahan yang sering mampir kepada saya sebagai manusia biasa yang suka mengeluh.

Sampai saat ini saya masih belajar, belajar menerima apa yang sudah menjadi ketetapan bagi saya, belajar untuk tidak mudah mengeluh meski itu rasanya sulit, dan belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil di hidup saya. Hal yang paling membuat saya takut bukanlah mati karena penyakit ini, tapi saya lebih takut jika saya hidup tapi jiwa saya mati. Saya tidak takut langkah saya terbatas karena jadi mudah lelah, yang saya takutkan adalah langkah-langkah saya tidak ada manfaatnya meski itu suatu langkah yang banyak dan besar.

Saya tidak sekuat itu, tentu beberapa kali saya menangis. Itu hal manusiawi yang saya anggap wajar. Saya ingin ‘proyek kebahagiaan’ yang Allah kasih kepada saya akan sukses dan tuntas saya tunaikan.

Tulisan ini semata-mata hanya ingin berbagi, semoga bisa memberikan suatu semangat dan hikmah baru baik di hidup saya maupun hidup orang-orang yang membaca.

 Karena tujuan saya menulis adalah untuk mengeluarkan segala macam emosi yang tidak ingin saya peram sendiri, dan untuk membuat dunia yang lebih baik diluar imajinasi saya.

  • view 184