Berbicara Dengan Bapak

Nisa Sintha Putri
Karya Nisa Sintha Putri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2017
Berbicara Dengan Bapak

Jum’at pagi aku memutuskan menengok Bapak di makam. Tubuh yang sedang demam kupaksa berdiri dan kukuatkan untuk kesana. Ini inisiatifku sendiri, aku begitu rindu pada Bapak. Ak segera cuci muka dan membersihkan badan, kupakai pakaian terbaik dan aku berdandan secantik mungkin. Aku ingin Bapak bertemu dengan gadisnya yang cantik.

Saat  aku berjalan melewati beberapa tetangga yang sedang berada di luar rumah, mereka semua bertanya aku mau kemana, saat kubilang ingin menengok Bapak mereka semua serempak mengatakan, “sendiriannnn ?????”. Aku paham maksud mereka, pemakaman Bapak memang tidak ‘asyik’ karena terlalu banyak ilalang yang tumbuh sehingga terkesan angker. Tapi aku membulatkan tekad, aku merasa terlindungi karena yang akan kukunjungi adalah Bapakku, pria yang selalu menyayangi dan melindungiku.

Tiba di makam aku mengucapkan salam. Aku pegang sebotol air dan buku yassin. Aku mulai duduk di samping Bapak. Kusiramkan air ke makam Bapak lalu aku mulai membaca do’a. aku terisak membaca setiap lantunan ayat qur’an di surat Yassin itu. Di antara heningnya makam dan suara rumpun bamboo yang bergesekan, tangisku pecah di makam Bapak. Di kepalaku seperti banyak kisah balik hidupku selama ini, terpampang jelas di pelupuk mataku semua kisah hidup yang kujalani baik selama Bapak masih ada di dunia maupun ketika ia sudah pulang kepada Rabb kami.  Aku bertanya-tanya apakah aku sudah cukup solehah untuk bisa dikabulkan do’anya oleh Allah agar Allah selalu menyayangi Bapakku di alam sana ? Apakah aku sudah menjadi gadis Bapak yang baik yang tidak mengecewakannya ? Aku semakin terisak dan terus berdo’a memohon ampun kepadaNYa.

Selesai berdo’a, aku mulai mengajak Bapak ‘berbicara’ seperti biasa.

“Bapak, Nisa tau Bapak disana memperhatikan Nisa, semua kisah hidup Nisa. Terimakasih selalu melindungi Nisa selama ini dengan caramu yang mungkin terbatas. Terimakasih selalu menguatkanku melalui caramu yang tidak biasa. Bapak, mungkin sekarang Bapak sedang melihat lagi kisah hidupku, Nisa disakiti lagi, lagi dan lagi. Tapi Bapak jangan khawatir, setelah ini Nisa sangat yakin akan datang pria baik yang bisa Bapak andalkan untuk menjagaku, menyayangiku, melindungiku. Dia pria baik yang akan meraih tanganku yang hampir tenggelam. Nisa sudah berusaha Pak, memaafkan semua yang menyakiti Nisa. Sebisa Nisa selalu Nisa amalkan apa yang selalu Bapak petuahkan kepada Nisa. Mungkin sudah kehendak Allah, Nisa dipertemukan dulu dengan yang tidak cocok sampai akhirnya bertemu dengan dia yang sudah jadi takdir Nisa. Mungkin sebenarnya pria baik itu sudah ada di sekitar Nisa tapi Nisa tidak sadar, atau mungkin dia memang baru akan datang. Siapapun itu Pak, Nisa yakin dia pilihan Allah yang akan menyempurnakan Nisa, dia adalah pria yang pantas untuk Nisa cintai setulus hati. Jadi Bapak jangan khawatir, meski sekarang hati Nisa sakit, Nisa kuat seperti kata Bapak. Insyaa Allah Nisa bisa lewati ini semua. Nisa kangen Bapak.”

Tetes air mata selama ceritaku kepada Bapak tidak bisa kutahan terus mengalir. Kukecup nisan Bapak, kuucapkan salam lalu aku pamit.

Kelak aku akan menyusul Bapak disana. Kuharap aku bisa menjadi sebaik-baik anak yang bisa menyelamatkan kedua orangtuaku dari api neraka.

Dan…

Teruntuk kamu calon imamku, salam hangat dari Bapakku, cinta pertamaku…

  • view 98