CERITA SAAT MENDUNG

Nisa Sintha Putri
Karya Nisa Sintha Putri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 April 2017
CERITA SAAT MENDUNG

Secangkir capuccino hangat menemaniku menulis pagi ini. Sudah sejak subuh tadi Bandung hujan, bukan hanya gerimis tapi ini benar-benar hujan yang cukup deras. 

Saat ini, saat kutulis ini, hujan sudah lama berhenti, menyisakan mendung dan sedikit matahari yang malu-malu muncul seolah sangat terlambat sekali untuk muncul. Betapa matahari selalu setia, setiap hari ada meski sedikit saja terangnya.

Bandung otomatis menjadi sedikit lebih dingin dari biasanya, jika kau melihat ke arah puncak gunung, maka bisa dilihat Gunung Manglayang yang diliputi oleh awan. Entah mengapa aku senang melihatnya, melihat orang-orang serempak mengenakan jas hujan, atau ada beberapa pejalan kaki yang berjalan diantara becek jalanan sambil tangannya memegang payung, aku suka mendengar suara ban mobil atau motor yang bergesekan dengan jalanan yang becek, seperti alunan musik yang merdu.

Kuseruput Capuccino yang sudah mulai dingin, cepat sekali ia menjadi dingin, pasti karena cuaca Bandung yang memang dingin. suara alunan musik klasik mengalun di laptopku, kupilih musik klasik karena kurasa suasananya pas dengan mendung ini, dengan capuccino ini, dan dengan semua perasaan ini.

 

Aku masih berkutat dengan pemikiranku tentang sebentar atau selamanya, berubah atau tetap.

Tapi nyatanya semua manusia pastilah berubah. Kadang sekelebat pemikiran muncul seolah menghantui akan hal-hal yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dan hal itu adalah hal yang tidak aku inginkan. Mengapa harus sesuai dengan inginku ? Memangnya inginku selalu baik ?

 

Ah, sudahlah aku perlu pencerahan. Sepertinya akan kubuka lagi Tumblr Robin Wijaya, penulis favoritku yang baru. Mari menulis quotes.

Dilihat 72