BALI Tanpa BAPAK

Nisa Sintha Putri
Karya Nisa Sintha Putri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 April 2017
BALI Tanpa BAPAK

"Mau kemana kita lebaran tahun ini ?" Suara Ibu memecah lamunanku saat sedang Joging bersamanya.

"Mmmm. Ga tau, Bu." Aku menjawab bingung.

"Bali yu, eh..." Suara Ibu tiba-tiba berhenti.

Aku seperti tau apa yang Ibu pikirkan.

"Ga seru Bu sekarang kalau kemana-mana ga ada Bapak. Rasanya beda."

"Iya. Ternyata tidak ada Bapak, hidup Ibu mati kutu." Ibu menundukkan pandangannya.

"Padahal waktu itu sering berantem sama Bapak. Ternyata kalau ditinggal, Ibu sedih juga."kataku.

"Iya. Kerasa, ternyata Ibu butuh Bapak."

Selama 22 tahun aku hidup bersama Bapak, aku sering 'meremehkan' perannya di keluarga kami. Marahnya, perhatian diam-diamnya, ucapannya, segala hal tentangnya selalu kuanggap kebiasaan-kebiasaan yang tidak aku rasakan arti pentingnya sampai dia meninggalkan dunia  ini. Ibuku, yang selalu bilang Bapak itu tidak romantis dan segala cap buruk tentang Bapak, ternyata juga tidak sadar bahwa selama ini ada cinta yang tidak terlalu dirasa dalam hatinya, cinta yang tertutup pada rutinitas dunia tentang 'bagaimana-semua-masih-bisa-makan' dan kami semua hampir lupa esensi penting sebuah keluarga ; cinta.

Kehadiran Bapak bukan saja sebagai yang namanya tercantum dalam Kartu Keluarga sebagai kepala keluarga, tapi hadirnya jauh lebih mendalam dari itu. Bapak adalah penyeimbang kami. Tiadanya Bapak, pincanglah keluarga ini.

Hal sederhana seperti traveling keluarga bahkan jadi terasa melankolis untuk dibahas ketika Bapak tidak ada.

Aku sangat suka jalan-jalan, semua hasrat itu telah ada sejak aku kecil dimana Bapakku selalu membawaku ke tempat-tempat yang indah dan menyenangkan. Aku selalu duduk di depan, disampingnya sambil mendengarkan musik dengan volume keras. Bapak tidak pernah protes, dia selalu membuat setiap perjalanan keluarga kami menyenangkan. Kami bisa tertidur dalam perjalanan menuju Jogja, sedangkan dia terjaga semalam suntuk menyetir tanpa ada yang mengganti. Selama di Jogja, kami tidak pernah kesulitan mencari penginapan, tempat makan, hingga tempat wisata karena disana Bapak punya banyak teman. Teman Bapak ada dimana-mana! Bahkan di sepanjang jalan menuju ke tujuan pun tidak jarang Bapak menyapa beberapa orang di pinggir jalan.

Bali, Jogja, dan Pangandaran bagiku adalah Bapak. Bagi keluarga kami juga mungkin.

Aku memaknai tempat-tempat itu sebagai Bapak. Hingga bila tidak ada Bapak, rasanya tempat itu hampa, kosong.

Apalah artinya keindahan tempat jika kita memaknainya sebagai kehampaan. Bukankah sebuah ruang adalah bergantung pemaknaan yang menggunakannya ?

Setiap lapangan kosong di Indonesia selalu dimaknai sebagai lapangan tempat anak-anak bermain bola. Padahal di luar negeri setiap lapangan punya ciri khas nya sendiri untuk olahraga tertentu. Itulah makna ruang!

Bagiku, Bali tanpa Bapak adalah sekedar nama sebuah pulau, bukan sebuah tujuan.

Mungkin akan terus begini, hingga aku bisa memaknai tempat itu dengan selain Bapak.

 

 

  • view 76