Catatan Guru Aneh #1

Nisa Sintha Putri
Karya Nisa Sintha Putri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Catatan Guru Aneh #1

Saya baru akan memulai catatan ini. Setelah sekian tahun bergelut dalam dunia mengajar. Ya, saya seorang guru, baik secara sukarela maupun profesional. Sukarela karena saya sering mengajar tanpa dibayar dan itu tidak masalah, profesional berarti saya mengajar karena itu profesi saya.

Saya guru bau kencur. Belum senior dan berharap kelak akan bisa jadi senior, sebab jika sudah senior tandanya saya telah lama mengabdi di dunia ini, dunia pendidikan yang saya cintai.

Ini adalah catatan perjalanan saya sebagai guru bau kencur yang mungkin aneh.

Hari ini, dalam nuansa ruangan kelas di sebuah Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung. Saya memikirkan "jika saya menjadi murid". Betapa membosankannya belajar itu, hanya duduk mendengar guru sejak jam 6.30 hingga 15.00 setiap hari! Mengikuti berbagai pelajaran demi pelajaran yang berjejal -jejal di otak. Sebagai guru, jujur saya prihatin.

Bagaimana bisa mencari ilmu jadi sedemikian tidak mengasyikannya. Bagaimana bisa  pendidikan ini begitu sempit maknanya. Kalau sudah begini, melihat murid menguap atau bermain HP adalah suatu pemandangan yang lazim di lihat.

Miris! pendidikan ini membosankan!

Belum lagi guru. Terpaksa mengajar 24 jam lebih seminggu. Mengurus murid yang jumlahnya beratus-ratus. Saya kira mustahil seorang guru bisa memperhatikan murid secara seksama dengan jumlah yang ratusan itu. Guru sudah terlalu lelah.

Miris!pendidikan ini melelahkan!

Sementara itu, sejak dulu kita tau bahwa guru adalah orangtua kedua murid. Sekarang, jika mau menengok fakta, banyak sekali murid yang ditelantarkan orangtuanya di rumah hanya karena kesibukan orangtuanya. Dirumah mereka tidak dapat kasih sayang, di sekolah pun mereka kehilangan sosok orangtua keduanya. Kemana mereka bersandar ? teman-teman sepergaulan tentu. Dan teman sepergaulannya adalah yang sama-sama menjadi "tuna kasih" orang tua pertama dan keduanya. Jika sudah begitu, jangan heran dengan tingkah mereka yang tidak seperti orangtua harapkan. Mereka hanya korban dari "kemana kalian orangtua?"

Dalam hati, saya sering menolak menjadi guru yang pekerjaannya ceramah di kelas selama tiga jam pelajaran. Memaksakan murid menghapalkan konsep ini dan itu yang saat jam istirahat sudah mereka lupakan dan akan mereka ingat (sejenak) lagi saat hendak ulangan.  Tetapi kadang sistem memaksa saya melakukan itu. 

Hati saya sering berontak jika hanya menjadi guru yang semacam itu. Guru hanya menjadi buku teori berjalan (itupun kalau memang gurunya pintar) dan bukan sebagai inspirator yang menggerakan mereka untuk semangat mempelajari apapun dalam hidup ini. Mereka berkembang atas upaya mereka sendiri dan sebagai guru kita hanya berupaya terus mendorong dan menjadi cheerleader bagi mereka. Alangkah bahagianya guru, alangkah bahagianya murid.  Dan untuk mencapai kesana, saya baru bisa berjalan merangkak terbatas sistem.

"Murid akan lupa bila hanya mendengar ceramah guru. Murid akan mengingat apa yang diperlihatkan gurunya. Murid akan memahami bila melakukan. Murid akan menguasai bila menemukannya sendiri." -Prinsip Sekolah Alam Yogyakarta

Jika boleh berimajinasi, saya ingin sekali konsep sekolah itu tidak hanya dibatasi oleh dinding-dinding kelas dengan bangku yang berjejer yang diduduki murid dengan "sikap sempurna" seolah dapat memahami setiap kalimat guru yang terus menerus mengoceh di depan selama 3 jam pelajaran! Sedangkan menurut teori saja daya tangkap seseorang saat mendengarkan oranglain hanya pada 20 menit awal dan 20 menit akhir. Sisanya? selamat berimajinasi.

Murid itu manusia bebas, disiplin itu tidak melulu harus sikap sempurna seperti robot. (menurut saya). Guru bukan robot, murid bukan robot. Tapi nyatanya guru lama-lama menjadi robot bagi dirinya sendiri dan murid-muridnya, kemudian mencetak robot-robot dalam jumlah ratusan ketika sudah lulus.

Pendidikan ohhh pendidikan. Kemana kebebasanmu berekspresi?

Ya sudah, pokonya saya ini guru aneh yang kerjaannya mencintai murid. Sampai bertemu di catatan selanjutnya.

 

  • view 228