Aku tidak pernah tahu, siapa yang harus aku percaya di dunia ini. Tapi, satu yang aku tahu. Ia selalu ada untukku, memberiku dukungan, mengajarkanku berbagai hal dalam hidup, dan memberiku sebuah kasih sayang yang begitu penuh. Cintanya yang tulus takkan pernah bisa aku balas dengan sebuah kata-kata dan sebuah kado. Ia adalah sosok pahlawan bagiku. Berjuang tanpa mengenal sebuah kata lelah.

Ia adalah Ayahku. Ayah terhebat yang pernah aku kenal. Ayah yang selalu memberiku dukungan dan sebuah keyakinan bahwa aku bisa melewati hal-hal tersulit di dalam hidup ini.

Disaat semua orang menjauhiku, tidak percaya padaku, bahkan menganggapku tidak ada. Ayah akan selalu ada untukku, menemaniku, memberiku dukungan, dan percaya padaku bahwa aku bisa melalui setiap rintangan yang besar di depan sana. Aku menyayanginya. Sungguh. Ia tidak akan dapat digantikan oleh siapa pun di dunia ini. Tidak akan pernah. Seseorang yang membuatku percaya, bahwa masih ada sebuah harapan di luar sana. Ia membuatku berjuang, dan percaya akan kemampuanku. Ia tidak pernah meninggalkanku, bahkan disaat aku sendiri.

Ia berjuang untukku. Menemani hari-hariku. Membuatku merasa paling bahagia di dunia ini. Memberikan apa yang aku inginkan, dan membuat segala hal yang aku lakukan terasa mudah karna bantuannya. Ia memberi dukungan padaku, membuatku banyak bercerita, begitu indahnya dunia ini.

Kulihat ayahku sudah tidak muda lagi, tangan yang dulu menggenggamku kita terlihat sedikit berkeriput, wajahnya yang berwibawa kini terlihat sudah memasuki usia kepala enam. Rambut yang dulu hitam legam, kita terlihat berwarna putih pucat, hanya satu yang tak pernah berubah yaitu senyumnya yang selalu membuatku tersenyum lebar saat bersama beliau.

 

Semua seakan berputar pada sebuah roll kehidupan. Kenangan yang telah lalu, seakan meminta untuk diputar dengan begitu lambatnya agar setiap detailnya tak dapat terlewati. Aku tersenyum mengingatnya. Mengingat saat aku kecil dulu, aku memiliki sebuah impian menjadi seorang dokter. Namun, saat aku beranjak dewasa; impian itu aku lupakan begitu saja. Aku memilih pada sebuah jalan yang telah aku pilih. Aku mengingkari janji yang dulu pernah aku bangun bersama Ayah. Sungguh, rasanya aku menyesal. Aku tidak bisa mengobati saat Ayah sakit. Aku hanya ada untuk menemani di sela hari-harinya, dan itu membuatku sangat takut untuk kehilangannya.

Namun, Tuhan memiliki sebuah rencana yang indah. Rencana yang tidak akan pernah kita tahu, bagaimana alur dari cerita yang Tuhan beri. Tuhan memberiku sebuah ujian. Tuhan lebih menyayangi Ayah, daripada aku. Ayah kembali pada pangkuan sang Ilahi. Aku menangis dalam diam, mengingat semua kenangan saat bersama Ayah. Semua seakan terasa mimpi untukku. Tapi, kenyataannya ini adalah nyata.

Ayah, Kau menggenggam tanganku saat aku kecil dulu. Kau mengulurkan tanganmu agar aku bisa bangkit dari setiap masalah yang aku hadapi. Kau membuatku menjadi sosok yang kuat, dan kau mengajarkanku agar aku tidak menjadi sosok yang lemah dan menyerah. Ayah… Terima Kasih.

Kehadirannya kini hilang. Tidak akan ada seseorang yang percaya padaku lagi, menemaniku lagi, dan berada disampingku lagi; yang tulus mencintaiku, menerimaku apa adanya, membuatku percaya masih ada sebuah harapan. Semua seakan hilang, saat Ayah pergi dari hidupku. Pergi tuk selamanya. Dan sulit aku memintanya kembali, karna Ayah takkan pernah kembali.

Namun, aku percaya; bahwa setiap rencana Tuhan adalah sesuatu yang terbaik untuk hambanya. Tuhan percaya, bahwa aku bisa melewati hari-hari yang lebih baik lagi. Satu yang aku sesali, aku tidak bisa menepati janjiku Ayah, maafkan aku…

Aku akan berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi, sekali pun itu bukan menjadi seorang dokter. Aku akan memberikan yang terbaik dengan kemampuan yang aku miliki. Aku akan membuatmu bangga padaku. Terima kasih Ayah, terima kasih atas segala yang telah kau berikan padaku, kasih sayangmu begitu besar untukku. Tetes keringatmu seolah menandakan sebuah saksi atas perjuangan yang telah kau berikan untuk menghidupiku.

Terima kasih atas segala kebaikanmu. Setiap kata-katamu, akan selalu aku ingat dalam pikiranku, dan setiap pelajaran yang kau berikan untukku menjadi sebuah bekal agar aku bisa lebih peduli pada seseorang yang membutuhkanku di luar sana. Setiap kasih sayangmu, akan selalu aku ingat di dalam hatiku.

Terima kasih Ayah.