Pak AR (15)

syaefudin simon
Karya syaefudin simon Kategori Tokoh
dipublikasikan 13 Juli 2016
Pak AR (15)

Pak AR (15)

 

Tahun 2005-an, saya pernah berkunjung ke rumah Bu Rus, di Jalan Parangtritis Yogyakarta. Saya kaget. Kaget karena Bu Rus memakai jilbab. Padahal, sampai tahun 1985 ketika saya meninggalkan Yogya, Bu Rus dan kedua anak perempuannya tidak berjilbab.

“Bu Rus sekarang berjilbab?,” tanya saya terkejut. “Ya, Mas Simon. Semua keluarga saya berjilbab, termasuk Rini,” katanya dengan senyum manis. “Yang menyuruh berjilbab ‘kan Mas Simon,” tambah Bu Rus.

“Deg. Saya kaget lagi. Kok sampai sejauh itu provokasi saya dulu mengkampanyekan jilbab,” renung saya. Dulu, tahun 1980-an, saya memang termasuk salah seorang provokator jilbab di Yogya. Tapi setelah ke Jakarta, saya lupa dengan “proyek jilbabisasi” saya. Apalagi saya di Jakarta   bergabung dengan Kelompok Studi Proklamasi (KSP) yang rutin mengadakan diskusi di rumah Pak Djohan Effendi (mantan Mensesneg era Gus Dur) tiap minggu dengan tema yang sangat beragam: politik, agama, filsafat, dan lain-lain.  Saat itu, Pak Djohan  memberikan Holy Qur’an karya Yusuf Ali (mufasir Ahmadiyah) dan buku-buku filsafat kepada saya yang membuat pengetahuan keislaman saya makin luas. Beberapa peserta diskusi di KSP yang rajin datang adalah Denny JA, Elza Peldi Tahir, Jonminofri, dan Budhy Munawar-Rachman. Saat itu mereka  masih imut. Saya waktu itu terkesan dengan Denny karena di samping suaranya bariton dan enak di kuping seperti  suara Pak AR  –  juga wajahnya mirip Cina dan tubuhnya tinggi kurus seperti Ahmad Albar tahun 1970-an.  Denny inilah yang paling banyak bicara saat diskusi di KSP. Pandangan keislamannya tidak seperti teman-teman HMI di Yogya yang militan dan Qur’ani,  Denny cenderung rasional. Saking rasionalnya, Denny mempertanyakan kebenaran ayat-ayat Qur’an yang menyangkut Isra’ Mi’raj dan terbelahnya Laut Merah saat Musa dikejar Fir’aun. Sebuah pertanyaan yang “tabu” bila dilakukan teman-teman aktivis Islam di Yogya.

Saya suka sekali dengan keluarga Bu Rus karena keluarganya tipikal Jawa Yogya. Suaranya halus, unggah-ungguhnya njawani, lembut, dan sangat ramah. Di samping itu, saya juga terprovokasi penyair muda Isti Nugroho  terhadap kecantikan tipikal jawa  Setyorini, putri Bu Rus, adik kelas saya di Kimia MIPA UGM. Menurut Isti, kecantikan Rini itu seperti puisi.

“Lihat jari tangan dan kaki Rini, Simon. Jari dan kakinya menggambarkan sosok putri kraton,” kata Isti. Isti mengaku pernah mencetak bekas “telapak kaki” Rini, kemudian membingkainya, lalu menulis puisi yang menggambarkan kecantikan putri priyayi Jawa. Gegara provokasi Isti itulah, saya ingin berkenalan lebih jauh dengan Rini, dan kemudian sering berkunjung ke rumahnya di Jalan Parang Tritis. Sejak itu,  Isti dan saya sering sekali membicarakan puisi-puisi cinta dan wanita dengan background Rini di laboratorium Kimia Fisika UGM.  Aneh ya, bicara puisi  kok di laboratorium kimia!  

Setelah memakai jilbab, imajinasi saya terhadap kelembutan keluarga Jawa ini nyaris sirna. Bu Rus masih tetap ramah dan njawani, tapi setelah pakai jilbab tipikalitas budaya Jawanya hilang. Rini juga sama. Setelah pakai jilbab, jabat tangan pun tak mau dengan saya. Padahal, puluhan tahun setelah saya meninggalkan Yogya baru sekali itu bertemu. Imajinasi indah saya tentang putri kraton seperti gambaran Isti terhadap Rini punah. Saya benar-benar kehilangan Yogya setelah itu.

Tahun 1982-an, aktivis Islam, khususnya HMI di Yogya kedatangan tamu istimewa: tiga provokator “Islam militan”  dari Jakarta. Triumverat itu adalah Toni Ardi, Eggi Sujana, dan Hafiz.     Mereka datang, konon atas nama HMI Pusat Jakarta, untuk memberikan training NDI (Nilai Dasar Islam). Masing-masing “trainer NDI” ini punya keistimewaan. Toni Ardi, misalnya, bersuara lantang, keras menggelegar, dan mampu menyihir orang yang mendengarnya. Hanya dalam beberapa hari  setelah Toni Ardi datang dan memberikan training NDI di Yogya, ia langsung populer. Saya pernah mendengarkan ceramah Toni Ardi usai terawih di Gelanggang Mahasiswa UGM. Tiga jam dia berceramah, tak ada satu orang pun yang bergeser dari tempat duduknya. Hadirin terkagum-kagum pada Toni Ardi waktu menyebutkan 100 tokoh  paling berpengaruh di dunia dengan hapal di luar kepala (di mana Nabi Muhammad menjadi tokoh nomor satu). Luar biasa. Tak ada penceramah Yogya yang mampu menyihir hadirin seperti Toni Ardi. Sementara Eggi Sujana, terkenal karena gaya ceramahnya yang mendikte. Dia hapal luar kepala ayat-ayat apa saja dalam Qur’an (catat: hanya ayatnya, bukan bacaan ayatnya) untuk menunjukkan kehebatan Islam, kewajiban berjilbab bagi wanita tanpa kompromi, dan negara Islam. Sedangkan Hafiz, terkenal dengan gaya cermahnya yang suka meledek ulama. MUI seing jadi ledekan Hafiz karena kebijakannya hanya mengikuti rejim Soeharto. Kata “ulama” diledek  Hafiz dengan kata “oooeee”..  lama ..seperti menirukan suara kerbau (oe..oe..oe..)

Triumverat Jakarta inilah yang mengaduk-ngaduk “wawasan Islam” Yogya yang damai dan toleran, menjadi Islam yang militan dan keras. Wanita muslim harus berjilbab. Jika tidak, dia kafir karena melanggar perintah Qur’an. Indonesia adalah negara kafir karena azasnya bukan Islam. Asmini Budiana, kembang mahasiswa FMIPA Kimia UGM, setelah di-training – tepatnya di-brainwashing Eggi – kemudian berjilbab dan dinikahi Eggi. Padahal Asmini adalah mahasiswi terpandai di angkatannya (Kimia 1980 UGM), juga siswa teladan SMA se-Kabupaten Purwokerto. Eggi waktu “naksir” Asmini, kata Arnos Iwan  (kakak “angkatan”  Asmini di Kimia UGM  yang dekat dengan Eggi)  sebetulnya minder karena Eggi merasa “kecerdasannya” jauh di bawah Asmini.  Tapi karena training NDI yang provokatif itu, Asmini pun siap dinikahi Eggi demi “kemaslahatan Islam”.

Fatmawati, mahasiswi Fakultas farmasi UGM, teman akrab saya di HMI, juga langsung berjilbab dan dinikahi Hafiz. Mungkin alasannya sama dengan Asmini. Demi kemaslahatan Islam. Saya merasa kehilangan juga setelah Fatma yang lucu itu dinikahi Hafiz. Keluwesan budaya Jawanya niscaya akan hilang setelah menikah dengan Hafiz. Fatma gadis asal Salatiga yang setia dan penurut  itu, niscaya akan patuh pada Hafiz yang bergaya keras ala Jawara Banten. Hafiz memang berasal dari Banten.

Waktu saya telpon beberapa tahun lalu, Fatma hanya bilang: “Simon gak usah bertemu saya ya, saya malu, sudah tidak cantik seperti dulu lagi. Badan saya sudah gembrot,” katanya sambil tertawa. Wah mungkin ini alasan Fatma  saja yang sudah “sangat Islam” sehingga tak mau bertemu dengan orang lain yang bukan muhrimnya. Padahal di Yogya saya sering wara-wiri jalan bareng  dengan dia.

Menikahnya Asmini dan Fatma dengan Eggi dan Hafiz itu sempat jadi pembicaraan di kalangan aktivis Islam di Yogya.  Teman-teman HMI di Yogya sempat nyeletuk “Kembang-kembang HMI kok semuanya diambil  HMI Jakarta”  Mereka datang ke Yogya untuk mengembangkan HMI atau mempromosikan militansi Islam, atau mencari jodoh – kata Natsir Arsyad, teman akrab saya, Sekertaris HMI Korkom UGM.

Saat itu, triumverat Jakarta  berhasil menghipnotis mahasiswa-mahasiswa Islam Yogya, khususnya HMI. Saya termasuk orang yang terprovokasi oleh Eggi karena ikut training NDI. Setelah itu saya pun rajin mendakwakan wajibnya wanita Islam memakai jilbab. Bahkan saya pun rajin menghadiri “usroh” kelompok-kelompok mahasiswa militan hasil didikan triumverat itu. Saya juga mempromosikan jilbab kepada teman dekat saya di Cirebon, Uu Khuzaimah Ismail, yang saat itu masih siswi SMA. Saya suka Uu karena dia termasuk gadis istimewa: penulis  dan pembaca puisi yang bagus . Uu juga pandai bermain teater dan bisa menghipnotis teman-teman SMA-nya kalau berpidato sebagai ketua OSIS.

   Berbarengan dengan mengentalnya atmosfir Islam militan, Ustad Kyai Abu Bakar Ba’asyir (ABB) dari Pesantren Ngruki, Solo, sering diundang ceramah di Yogya. Bahkan sebagian teman-teman HMI menyelenggarakan  kajian Islam khusus dengan pengajar  solo: Abu Bakar Ba’asyir di masjid Sudirman, dekat IKIP (kini UNY). Banyak teman-teman HMI Yogya yang kemudian tertarik dengan ceramah dan pengajian Abu Bakar Ba’asyir yang “militan  dan jihadis” tersebut. Di antara mereka adalah Fajar Shodiq, mahasiswa Tehnik Nuklir UGM; Shobirin Syakur, mahasiswa Fisika FMIPA UGM; dan Khairul Anwar, mahsiswa tehnik perminyakan UPN. Saya tak pernah mendengar lagi kabar Fajar Shodiq sampai sekarang. Sedangkan Shobirin Syakur pernah jadi pengurus Majlis Mujahidin Indonesia; dan Khoirul Anwar – kini Guru Besar di UII – pernah menjadi caleg Partai Bulan Bintang (PBB)-nya Yusril Ihza Mahendra.

Konsentrasi  Islam militan dan jilbabisasi di atmosfir Yogya  tahun 1980-an benar-benar makin pekat setelah kedatangan triumverat dan aktifnya ABB berceramah di Yogya. Setelah Asmini dan Fatma memakai  jilbab, teman-temannya di HMI UGM banyak yang mengikutinya. Di antara mereka adalah Eva Bardiyah (Kimia 81 UGM), Yayah Khisbiyah (Psikologi UGM), dan  Nurhayati (Pertanian UGM). Baik Eva, Yayah, maupun Yati semuanya aktivis HMI. Di antara mereka,  hanya Yayah Khisbiyah yang sekarang sering terlihat tidak pakai jilbab lagi. Saya benar-benar kaget ketika bertemu (kembali) dengan Yayah tahun 2005-an di Perpustakaan Freedom Institute, Jakarta dengan busana non-muslim. Padahal Yayah termasuk “perintis jilbab” di Yogya. Saya tidak tahu sebabnya, kenapa Yayah tidak lagi berjilbab. Konon, Yayah meninggalkan jilbabnya setelah mengambil S-3 di Australia dan aktif dalam gerakan feminis internasional. Wallahu a’lam.

Jika Yayah sering melepas Jilbab, sebaliknya teman-teman non-HMI Yogya, sekarang banyak yang berjilbab. Emy Fatmi Budhya (Kimia 78 UGM) dan Emy Emboyo (Kimia 80 UGM), sekarang malah memakai jilbab. Padahal, dua wanita ini waktu masih kuliah termasuk mahasiswi cantik dengan busana yang modis, khas wanita metropolitan. Saya dulu ‘minder’ kalau melihat gaya busana kedua Emy  tersebut. Saya yakin, kedua Emy ini memakai  jilbab karena kesadaran yang muncul dalam hatinya, bukan karena sudah jadi nenek-nenek.

“Aku sudah nenek-nenek Simon, tak ada lagi yang perlu aku  usahakan serius kecuali mendekatkan diri kepada Allah,” kata Emy Fatmi Budhya ketika bertemu dengan saya  di rumahnya yang besar di samping Metropolitant Mall, Bekasi beberapa tahun lalu. Saya senang dengan berjilbabnya kedua Emy ini karena mereka melihat Islam dengan pandangan yang moderat dan ramah. Jilbab mereka “tampilkan” sebagai pendalaman iman-islam secara personal dengan penuh kesadaran, bukan terpaksa karena provokasi FPI (Front Pembela Islam)  dan MMI (Majlis Mujahidin Indonesia)

Ketika saya sedang sibuk-sibuknya menjadi provokator jilbab, saya bertanya kepada Pak AR waktu kultum Subuh. “Pak bagaimana sih hukumnya berjilbab itu? Apa benar orang yang tidak berjilbab itu kafir karena melanggar ayat Qur’an?.”

“Bejilbab itu baik asal timbul dari kesadaran,” kata Pak AR.  “Orang tidak bisa dikatakan kafir setelah berikrar dengan membaca syahadat, meski tidak berjilbab,” tambahnya.   

Saya mantuk-mantuk. Jawaban Pak AR ini, waktu itu, jelas kurang menarik karena tidak  radikal. Saya pikir, apakah jawaban Pak AR ini karena anak dan istri beliau saat itu tidak berjilbab? Jawaban Pak AR  baru saya sadari kebenarannya setelah puluhan tahun kemudian saya bertemu dengan Bu AR dan Mbak Was di Jakarta. Keduanya sudah “berjilbab”. Tapi jilbabnya tetap masih berbudaya Jawa. Rambutnya ditutup dengan ciput atau daleman krudung   yang pas menutup  kepala, lalu memakai kerudung ala perempuan Jawa. Saya kira, ini jilbab yang cocok untuk wanita Indonesia. Tidak terlalu ribet, tapi secara esensial tetap menutup aurat. Jilbab model Bu AR dan Mbak Was lebih bagus ketimbang jilbab model anyar yang sensual – yaitu jilbab panjang yang dipadu dengan celana jeans  dan kaos lengan panjang ketat. Saya sering geleng-geleng kepala terhadap “hijaber” model baru ini. Berjilbab tapi lekuk kaki dan tubuhnya kentara sekali. Ini sih namanya hijab model sensualis!

Selain jilbab, saya juga terobesi dengan “indahnya” negara Islam setelah mengikuti pengajian ABB  di  Yogya. “Indonesia harus jadi negara Islam kalau ingin rakyatnya makmur dan hukumnya adil,” batin saya waktu itu karena terprovokasi ABB.

Tapi saya bukan tipe combatan – orang yang suka tempur sehingga takut juga kalau ikut perang. Makanya, saya perlu menanyakan hal negara Islam ini kepada Pak AR.    Dalam kesempatan kultum,  saya  tanya: “Pak AR, apakah  Indonesia ini negara kafir karena tidak mengikuti syariah Islam?”

“Indonesia adalah negara yang secara esensial sudah Islam,” kata Pak AR. “Para founding fathers yang merumuskan negara dan UUD 45 adalah ulama-ulama besar yang memahami betul tentang konsep negara Islam,” tambahnya. “Di sana ada KH Agus Salim dan KH Wahid Hasyim dua tokoh Islam yang luas ilmunya,” ungkapnya.

“Negara Islam itu, tidak harus semua penduduknya beragama Islam dan mengikuti hukum Islam. Pemerintahan Islam   di Madinah zaman Rasulullah penduduknya ada yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Mereka dibiarkan memakai hukum agamanya selama  tidak merongrong Negara Islam Madinah. Karena itu, saya menganggap Indonesia ini sudah negara Islam,” jelas  Pak AR. Pendapat Pak AR tentang negara Islam ini sama dengan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Masdar Mas’udi, tokoh pemikir NU.