Kebangkitan PKI. Mungkinkah

syaefudin simon
Karya syaefudin simon Kategori Politik
dipublikasikan 25 Mei 2016
Kebangkitan PKI. Mungkinkah

PKI Bangkit Kembali. Mungkinkah?

 

Ketika Kol. Sarwo Edhie Wibowo, panglima RPKAD menyatakan telah membunuh 3 juta pengikut PKI, Jendral Nasution menyatakan: Jika PKI menang jumlah korbannya akan lebih banyak lagi. Dalam buku The Black Book of Communism – Crimes, Terror, Repression (Mark Kramer, editor) tersaji data pembantaian manusia oleh partai komunis yang sangat mengerikan dalam jumlah yang sangat fantastis di sejumlah negara. Selama enam tahun (1917-1923), Lenin membantai setengah juta manusia di Rusia. Penggantinya, Stalin dari tahun 1925-1953, membantai 40 juta rakyat Rusia. Kemudian Mao Zedong di Tiongkok, 1947-1976, membunuh 40 juta rakyatnya demi tegaknya komunisme. Jangan lupa pula, Rejim Komunis Polpot di Kamboja (Khmer), selama 4 tahun (1975-1979) membantai 2,5 juta rakyat. Sekarang bayangkan seandainya Indonesia dikuasai PKI? Berapa orang yang akan dibantai? Sebab di manapun, ketika komunisme berhasil menguasai sebuah negara, selalu terjadi pemusnahan manusia.

Stephen Courtois – salah seorang kontributor tulisan dalam buku The Black Book of Communism – Crimes, Terror, Repression, misalnya, menyatakan bahwa orang-orang komunis di 72 negara telah membunuh 120 juta orang untuk menggapai kekuasaannya.Sejarah juga menunjukkan, hanya dua bulan setelah deklarasi kemerdekaan, Oktober 1945, PKI telah melakukan teror dan pembunuhan di Serang, Berebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. Pengkhianatan PKI tersebut dilakukan terus menerus dengan berbagai cara dan puncaknya terjadi ketika Muso datang dari Uni Soviet, Mei 1948. Muso belajar Marxisme dan Leninisme selama 12 tahun di Uni Soviet. Atas dukungan Soviet,18 Oktober 1948, Muso pun mendeklarasikan Negara Republik Sosialis Indonesia Soviet. Sehari kemudian, PKI merebut Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu serta kota-kota lainnya. Ribuan orang tewas selama PKI menguasai daerah-daerah tersebut. Di Magetan, misalnya, ditemukan puluhan ladang pembantaian dan “sumur neraka” yang berisi ratusan mayat. Pemberontakan ini baru berakhir 30 Oktober 1948 ketika Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan pimpinan PKI yang lain ditangkap dan kemudian dihukum mati.

PKI kapok? No! Tahun 1960-an bergerak lagi. Sampai Agustus 1965 PKI melakukan teror dan pembantaian terhadap umat Islam di Kediri, Klaten, Solo, Pati, Bojonegoro, Madiun, dan lain-lain. Mereka baru berhenti meneror dan membantai para kyai dan santri setelah Jenderal Soeharto mengumumkan pembekuan dan pelarangan PKI Maret 1966 setelah mendapat Supersemar. Hancurkah PKI setelah pemberontakan G30S yang gagal itu? No. Ketika orang lupa kekejaman PKI dan keluarga PKI sudah diterima masyarakat, benih-benih kebangkitan PKI tampaknya mulai muncul kembali. Simbol PKI, Palu Arit, tiba-tiba muncul di mana-mana. Kekhawatiran tokoh-tokoh Islam dan militer terhadap kemungkinan bangkitnya kembali “kista” PKI bukan sesuatu yang mengada-ada. Sejarah dan karakter PKI yang berkhianat berkali-kali merupakan pelajaran yang harus diwaspadai.

Dr. Mutiara, peneliti perbandingan ideologi, menyatakan satu-satunya ideologi yg mewariskan ajarannya dan juga "dendam"nya dalam struktur keluarga hanya komunisme. Itulah sebabnya, setiap negara yang dikuasai komunisme, pembantaian massal merupakan sebuah “ritual” - sementara dendamnya terus dipelihara. Itulah PKI. Marxisme dan komunisme memang sudah tergilas zaman, tapi PKI bukan sekadar marrxisme dan sosialisme. PKI adalah sahwat politik dan kekuasaan.

  • view 213