Ki Hajar dan Pendidikan Berperadaban

syaefudin simon
Karya syaefudin simon Kategori Budaya
dipublikasikan 04 Mei 2016
Ki Hajar dan Pendidikan Berperadaban

Ki  Hajar  dan Pendidikan yang Berperadaban

 

Tanggal 2 Mei,  selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran tokoh pendidikan nasional  Ki Hajar Dewantara.  Beliau dikenal sebagai  tokoh yang sangat peduli dengan dunia pendidikan dan kebudayaan. Bagi Ki Hajar, pendidikan harus menghasilkan manusia yang berilmu, beriman, dan berbudaya.  Bukan hanya manusia yang pandai  dan menguasai ilmu. Sebab, kata Ki Hajar – orang pandai dan berilmu jika tidak beriman dan berbudaya  maka sangat berbahaya.  Dengan demikian, pendidikan,  menurut Ki Hajar,  adalah  sebuah proses pembudayaan. Yaitu suatu usaha untuk mentransformasi   nilai-nilai luhur kepada  generasi  baru agar hidup berkemajuan dan berperadaban.  Karena itu, pendidikan merupakan suatu proses yang kontinyu, terus menerus sejak manusia lahir sampai  masuk ke liang lahat.

Cobalah simak penuturan Ki Hajar Dewantara dalam pepatah Jawa:

Ora kabeh wong pinter kuwi bener

Ora kabeh wong bener kuwi pinter

Akeh wong pinter ning ora bener

Lan akeh wong bener senajan ora pinter       

Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener        

Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter

Ana sing luwih prayoga yoiku dadi wong pinter sing tansah    tumindak bener

Minterno wong bener kuwi ....

 luwih gampang tinimbang  mbenerake  wong pinter

 Mbenerake wong pinter ..kuwi mbutuhke beninge ati

          

Terjemahan bebas (Tidak semua orang pintar itu benar. Tidak semua orang benar itu pintar. Banyak orang pintar tapi tidak benar. Dan banyak orang benar meski tidak pintar. Lebih baik jadi orang benar meski tidak pintar. Ada yang lebih aneh yaitu orang pintar tapi tidak pernah berbuat benar. Memintarkan  orang benar itu lebih gampang dari pada membenarkan orang pintar. Membenarkan  orang pintar itu butuh hati yang jernih) 


Apa yang dikatakan Ki Hajar dalam pantun Jawa di atas, saat ini menjadi problem pendidikan di Indonesia. Koruptor, misalnya, jika pelakunya orang pintar, maka sulit dilacak, padahal kerugian negara sangat besar. Kenapa? Orang-orang pintar, misalnya, bisa membuat undang-undang atau aturan-aturan yang memberikan celah kepada dirinya untuk melakukan korupsi. Akibatnya, mereka pun lolos dari jeratan hukum. Kondisi seperti itu kini terjadi di tengah-tengah kita bangsa Indonesia.  Ada anak kecil diperkosa ramai-ramai, ada kepala daerah korupsi, ada anggota legislatif mencuri uang negara; tapi ada juga orang baik yang disingkirkan. Kacau!

Dari pitutur Ki Hajar di atas, bangsa Indonesia bisa bercermin diri. Sejauh manakah dunia pendidikan mampu menghasilkan manusia yang pintar dan benar? Bila indikasinya ruang-ruang penjara di Indonesia kini tidak mampu lagi menampung para penjahat, itu artinya: pendidikan di Indonesia gagal membentuk manusia yang berbudaya, pintar, dan benar! Ki Hajar, jika  Aki sekarang ini masih hidup, niscaya Aki  akan pusing tujuh keliling. Negeri ini ternyata sudah memasuki zaman edan. Ramalan Ki Ronggowarsito sudah di depan mata!

  • view 193