Menuggu Godot di Ritual Kamisan Sebrang Istana

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Budaya
dipublikasikan 05 April 2018
Menuggu Godot di Ritual Kamisan Sebrang Istana

Menunggu  Godot di  Ritual  Kamisan  Sebrang Istana

 

Pemilu berganti. Wakil rakyat berganti. Pilpres berganti. Presiden berganti. Tapi ritual demo Kamisan tak pernah berganti. Tuntutan para demonstran tua berbusana hitam itu, juga tak pernah berganti.

Mereka, para demonstran tua berbaju dan berpayung hitam itu, tak minta  kompensasi uang; tak minta ganti rugi gusuran tanah; tak minta presiden dan menterinya turun. Bukan itu yang mereka minta. Dalam ritual demo Kamisan yang sudah berlangsung 540 kali itu, orang-orang tua berbaju hitam, berkulit keriput, dan berambut putih itu, hanya menuntut satu hal: Keadilan. Ya, keadilan.

Di mana keadilan itu, bila kematian suaminya, anaknya, kekasihnya, dan saudaranya  yang tertembak peluru panas sampai kini tak jelas?

 Peristiwa kelam Tri Sakti dan Semanggi, Mei 1998, yang menewaskan mahasiswa dan para demonstran sampai kini masih tertutup rapat. Siapa pelakunya?

 Di Kampus Universitas Tri Sakti, di titik nol tertembaknya Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1976-1998) – tanah itu masih basah  berdarah.  Di bawah cungkup kecil dengan kerlap-kerlip lampu yang menandai titik nol tragedi kematian itu, seakan para pahlawan muda tersebut  mengiba: wahai kawan-kawan seperjuangan, tuntutlah keadilan atas kematian kami.

 Suasana “mengheningkan cipta” itu masih terasa jika kita melewati halaman kampus Tri Sakti. Sampai hari ini. Duka dan luka itu tak pernah sembuh. Tapi sekarang, di sekitar Monas – di sebrang istana --  siapa peduli terhadap  orang-orang tua berbaju dan berpayung hitam yang menuntut keadilan itu. 

 Mengapa kematian Elang, Heri, Hafidin, Hendri, dan teman-temannya di bulan Mei 1998 itu tak pernah terungkap penyebabnya? Siapa yang menembak mereka? Siapa yang menghajar mereka?

 Denny JA, dalam buku puisi esainya yang berjudul “Ketunggu di Setiap Kamisan  -- Kisah  Cinta yang Terselip di 400 Kamis  Seberang Istana” mencoba menyeruak kebekuan rejim terhadap pertanggungjawaban korban tragedi Tri Sakti dan Semanggi itu. Denny menulis dalam puisi esai yang memukau:

 

“Tuhan, Berapa Kamis yang Kau punya?

400 Kamis sudah kulalui

Berapa Kamis lagi harus kutempuh

Tak kunjung ia kujumpai”

 

 Dengan ilustrasi dua telapak tangan yang menengadah ke atas -- menuju langit biru penuh bintang -- Denny seperti tengah memohon kepada Tuhan: kenapa keadilan belum juga muncul setelah berlangsung 400 ritual demo Kamisan?

Lelah. Capai. Orang-orang tua yang kulitnya berkeriput itu seperti tengah menunggu Godot di depan istana. Kini, mereka telah menunggu Godot selama 540 Kamis. Hasilnya:  Sepi. Tak ada jawab. Tak ada respon. Kemana HAM? Kemana keadilan untuk hilangnya nyawa pahlawan reformasi?  Kemana larinya para sniper itu? Kemana para pengecut sembunyi?

Lalu, Denny pun kembali menulis puisi esai dengan nada patah hati.

 

“Sudah kucari ke semua mata angin

Namun berujung di dinding buta

Aku merangkak mengurai misteri ke misteri

Tak kunjung ia kujumpa”

 

 Tragedi Tri Sakti dan Semanggi adalah black hole yang menghitamkan “cahaya keadilan, HAM, dan kemanusiaan” di Indonesia. Dan black hole itu pula yang menghitamkan kasus-kasus serupa seperti  pemerkosaan perempuan Tionghoa, pembakaran mal, dan penculikan para aktivis. Siapa pelakunya? Misteri!

 Untuk kasus terakhir, penculikan para aktivis mahasiswa, Letjen Prabowo Subianto, sudah divonis bersalah. Di pengadilan, hakim berhasil membuktikan bahwa sang jendral adalah otak penculikan tadi.

 Tapi? Kini, di hari Kamis ke 540 – Prabowo tak lagi terstigma dengan kasus penculikan itu. Ia kini sudah berubah citranya menjadi “Pahlawan HAM dan Demokrasi” berkat trik-trik para hulu balangnya.

 Putus asa? Denny kembali menulis puisi esai dengan indah, menggambarkan perasaan para pencari keadilan itu.

 

“Luka jiwaku hingga kering

Kering air mataku hingga habis

Habis mata airku hingga luka

Tak kunjung ia kujumpa”

 

Membaca buku puisi esai tentang peristiwa Mei 1998, kita dibawa ke dalam pelbagai peristiwa multirupa. Salah satu di antaranya, Lina, seorang ibu muda yang “menunggu suami tercinta” yang pergi selamanya setelah tragedi itu. Lina, yang tengah menunggu Godot keadilan itu, acap teringat ucapan sumianya ketika memberikan sebuah syal warna kuning ketika baru saja menikah. Lina senyum sendiri di tengah demo sepi yang dipanggang matahari itu.

 

Syal warna kuning, Lina kalungkan menutupi bahunya. 

Ujar Kang Mas: “Hadiah ulang tahunmu”

Lina tersenyum manja

Menikmati kedalamn cinta

 

Mesra. Itulah kisah cinta Lina yang hilang tertelan blackhole tragedi 1998. Dalam buku puisi esai “Atas Nama Cinta” (Denny, 2012), sang penulis juga menceritakan kisah cinta romantis “Sapu Tangan Fang Yin”.

Fang Yin adalah seowang gadis Tionghoa yang terpaksa lari ke Amerika di tahun 1998. Ia ngeri dan takut melihat meruyaknya perkosaan terhadap wanita Tionghoa di Jakarta oleh sekelompok orang yang terorganisir. Siapakah para pemerkosa brutal itu?

Sampai hari ini, di Kamis ke-540, juga belum terkuak. Denny menceritakan kisah hidup Fang Yin dalam narasi puisi esai yang amat menyentuh. Fang Yin sering menangis sendiri memikirkan nasib hidupnya yang terusir dari tanah air yang amat dicintainya.

 Fang Yin sedih. Ia nelangsa di Amerika. Tapi Fang Yin tetap menyintai Indonesia. Ia biarkan kekasihnya,  Kho,  yang pernah memberikan hadiah “sapu tangan” untuk hidup dengan dunianya yang baru.  Fang Yin tak tahu di mana Kho berada.  Kho tak pernah memberikan kabar tentang dirinya. Apakah Kho masih hidup atau mati, Fang Yin tak tahu lagi. Yang ada hanya sapu tangan Kho di genggamannya.  

 Haruskah perasaan pedih itu terus menusuk hatinya.  Tidak!  Fang Yin masih punya kekasih. Yaitu, Indonesia. Negeri tempat ia lahir. Negeri yang telah memberikan penghidupan untuk keluarganya. Dan demi Indonesia tercinta, Fang Yin pun pulang ke tanah air. Betapa pun tragedi Mei 1998 telah memorakporandakan impiannya.

 Teman-teman Fang Yin, mungkin masih ikut ritual demo Kamisan di seberang istana sampai hari ini. Mungkin Fang Yin juga masih merasakan luka hati akibat tragedi Mei. Lina, Fang Yin, dan temannya mungkin masih terus berharap: kapan keadilan atas peristiwa itu hadir di Indonesia?

Presiden BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono telah pergi dari Istana. Tapi tragedi Mei dan korban-korbannya masih tetap misteri dan antah berantah. Kini, Presiden Jokowi ada di sana. Di Istana Merdeka. Dan kita menunggu, negara bisa menuntaskan keadilan yang mereka damba.

Semoga harapan ini tak sia-sia. Ini Kamis yang ke-540, lebih. Pak Jokowi, rakyat menunggu kehadiranmu di sana. Tak ada orang lain yang mampu menegakkan keadilan atas tragedi Mei 1998. Kecuali kau. Karena kaulah pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini. Biarkan presiden-presiden sebelum ini pergi tanpa membawa solusi Tragedi Mei. Rakyat percaya, Presiden Jokowi mampu menyelesaikannya. Aamin.

 

Syaefudin Simon, alumnus UGM, esais dan wartawan.  Tinggal di Kota Bekasi.

 

  • view 60