Denny dan Genre Puisi Esai 2018

Denny dan Genre Puisi Esai 2018

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Budaya
dipublikasikan 02 Februari 2018
Denny dan Genre Puisi Esai 2018

 

Denny dan Genre Puisi Esai 2018

 

Catatan Syaefudin Simon

 

 Setelah membeku nyaris setengah abad, dunia sastra kembali menggeliat. Ada keributan. Ada drama. Ada teater jalanan. Ada petisi ke Senayan. What’s wrong?

 Setelah aku jelajah, ternyata masalahnya, itu lagi, itu lagi. Siapa lagi kalau bukan Denny Januar Ali (Denny JA), pria kelahiran Palembang, yang pernah menghebohkan jagad politik Indonesia (dengan ramalannya bahwa SBY menang satu putaran melawan Megawati dalam Pilpres 2009. Saat itu Denny dibully. Tapi ramalannya terbukti).

Kali ini, Denny pun dibully kalangan sastrawan yang gerah dengan klaimnya sebagai pencetus genre puisi esai.  Apa itu puisi esai? Bukankah puisi esai pernah ditulis sastrawan  Alexander Pope dan politisi tiran Mao Tse Tung? Jelas, Denny bukanlah orang pertama yang menulis puisi esei dengan catatan kaki.

 

Awalnya, melalui buku sastra Atas Nama Cinta,  Denny membuka cakrawala -- yang dianggap baru -- dalam dunia puisi. Penyair Sapardi Djoko Damono  menyatakan Denny telah menulis puisi yang khas – puisi dengan catatan kaki – yang disebutnya puisi esai. Tapi yang paling penting – tulis Sapardi – Denny melalui puisi esainya mengangkat  isu yang belum pernah terungkap dalam “puisi kita” seperti isu Ahmadiyah, TKW, perbedaan agama, dan peristiwa Mei 1998. Denny, ungkap Sapardi, menulisnya dalam sajak-sajak panjang lengkap dengan catatan kaki.

 

Kasus sastra Denny muncul lagi.  Ketika terbit buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”   di tahun 2014  -- jagad sastra nasional kembali bergolak.  Polemik muncul karena  nama  Denny JA yang terkenal sebagai konsultan publik masuk dalam buku itu. Denny dinilai berpengaruh besar dalam dunia sastra karena menciptakan genre baru puisi esai dalam bukunya Atas Nama Cinta.

 Kisahnya,  Pusat Dokumentasi Sasta HB Jassin dan Tim 8 mengumumkan “33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia” sejak tahun 1900 hingga kini yang dituangkan dalam buku berjudul  “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia”  di Jakarta. Dalam acara diskusi bedah buku tersebut, Ketua Tim 8 yang juga Ketua Tim Juri, Jamal D Rahman mengatakan, 33 tokoh sastra yang paling berpengaruh itu adalah hasil seleksi panjang yang dilakukan oleh Tim 8 pada tahun 2013.

 Tokoh yang terpilih mulai dari Kwee Tek Hoay (1886-1952), Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, HB Jassin sampai dengan Helvy Tiana Rosa yang lahir tahun 1970. Tim 8 juga memilih aktivis yang  menggerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Denny JA,  melalui karya sastranya kumpulan puisi esai berjudul 'Atas Nama Cinta',  yang terbit tahun 2012.

Tahun 2014 sampai 2016, jagad sastra Indonesia penuh konflik dan polemik antara yang “membiarkan” Denny mengklaim dirinya sebagai pelopor puisi esei dengan yang menolak mentah-mentah. Begitu dahsyatnya polemik itu, sampai salah seorang penentang Denny JA –  Saut Situmorang, penyair yang berdomisili di Yogya – dilaporkan ke pengadilan oleh Fatin Hamama, penyair wanita asal Sumbar. Fatin lapor kepada polisi karena dituduh Saut menjadi pelacur. Kedekatan ide antara Fatin dan Denny itulah yang menyebabkan Saut mulutnya gencar membuli dan memfitnah Fatin. Pada 8 September 2016, Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutuskan Saut Situmorang bersalah karena terbukti melakukan pencemaran nama baik penyair Fatin Hamama. PN Jaktim pun mengganjar  Saut Situmorang 5 bulan penjara.

Yang menarik selama proses persidangan tersebut, berbagai macam drama, teater sastra, dan atraksi membakar buku “33 Tokoh” dilakukan teman-teman Saut. Saut mengasosiasikan pemenjaraannya dengan pembunuhan sastra oleh rejim penguasa. Padahal, materi persidangan murni masalah pencemaran nama  baik (Pasal 310 KUHP dan Pasal 45 UUITE). Tentu saja Saut menuduh hukuman terhadap dirinya karena hakim tidak memahami kritik di dunia sastra.

 

Tahun 2017,  persoalan Denny mencuat lagi. Gara-garanya, Denny dan sejumlah sastrawan, wartawan, dan peneliti  menggagas pembuatan puisi esei untuk mengekspresikan kekayaan batin dan problem kehidupan di setiap provinsi. Sebanyak 170 penyair, wartawan, peneliti, dan intelektual dari 34 provinsi mendukung gagasan di atas. Mereka pun menulis problem dan suara batin daerahnya dalam bentuk puisi esei. Semua karya puisi esei ini akan diterbitkan dalam 34 buku di 34 provinsi. Luar biasa.

 

 Dari mana dananya? Denny JA, seorang pengusaha sukses yang menyintai dunia sastra – sebagai bagian dari masyarakat sipil yang ingin mengangkat isu-isu sosial-budaya bangsa yang majemuk melalui sastra – mensponsorinya. Tak ada sedikit pun uang negara atau organisasi profesi yang mendukungnya.

 Tentu saja, puisi ini – seperti lazimnya esei – tak hanya bersolek dalam liris, tapi juga  meneropong problem sosial dan kultural masyarakatnya. Jelas ini sebuah kerja kolosal yang akan berdampak besar, baik dalam dunia sastra maupun dunia ilmiah.

Kenapa? Semua puisi esei ini merupakan refleksi sang penyair terhadap problem kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Dengan catatan kaki yang mengacu pada lokus dan timus peristiwanya, maka secara ilmiah, puisi-puisi esei ini bisa menjadi rujukan para ilmuan atau basis penelitian ilmiah.

 

   Entah bagaimana,  mungkin karena faktor Denny,  “Kaum Bermental Saut (KBS) ” pun muncul kembali.  Kaum KBS ini – mengatasnamakan para penyair dan sastrawan Indonesia -- membuat petisi penolakan terhadap penerbitan buku puisi esei nasional tadi. Konon, versi KBS, mereka mendapat dukungan 549 orang – meski di medsos beberapa orang yang namanya tercantum dalam petisi tidak merasa ikut menekennya. Mereka pun membentuk Group WA dengan nama Penyair Muda Indonesia – agar mendapat simpati publik – untuk menyebarkan petisi tersebut. Hebatnya lagi, petisi ini disampaikan pula ke Senayan (Komisi X DPR RI), Kemendiknas, dan lain-lain.

Tanpa mengecilkan maksud petisi tersebut, apa urgensinya sebuah gagasan yang muncul dari masyarakat sipil yang independen dan menguntungkan negara diboikot? Alasan bahwa gagasan tersebut absurd, lagi-lagi, aku pikir karena pengaruh KBS  tadi. Denny bukan sastrawan, memalsukan sejarah sastra, dan lain-lain – seperti dituduhkan kaum KBS – adalah debatable. Tergantung dari faksi mana beropini!

 

Dr. Satrio Arismunandar – pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan dosen jurnalistik di Universitas Mustopo, Jakarta – menyatakan, aksi kontra ini lebih bersifat reaktif dan negatif: menolak dan menolak. Namun, mereka tidak mengajukan gagasan alternatif terhadap karya-karya puisi esai, yang sebagian besar memang sudah dipublikasikan dan disosialisasikan, jauh sebelum program 34 buku puisi esai ini diluncurkan. Bahkan sebagian karya puisi esai itu sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing.

Menarik pendapat Prof. Dr. Rem Dambul, penyair dan ahli sastra Melayu dari Malaysia. Menurut Rem, lahirnya genre baru puisi esai asal Indonesia sangat positif.

“Mereka yang menentang dan membuat petisi anti puisi esai adalah  kaum yang jumud dan pasif. Lahirnya puisi esai  harusnya  ditanggapi dengan baik, mengingat ada orang yang berinisiatif dan berhasil menciptakan genre baru.”

Kata Rem, korpus kesusasteraan saat ini bervariasi. Artinya, tiada satupun yang seratus persen baru. Tapi jika beberapa elemen lama dikombinasi secara kolektif dalam sosok baru, maka ia memberi suatu genre baru.
Rem memberi contoh ice cream durian. Ice cream durian diperkenalkan sekitar  tahun 80-an. Ia  dianggap resep baru. Padahal durian dan ice cream, masing-masing  sudah ada sejak dulu. Jadi, ice cream durian sebagai satu entiti kolektif yang bergandeng jadi satu, adalah suatu pembaharuan pada era tersebut," tuturnya.

Lalu kenapa Denny aktif mempublikasikan puisi esai? Rem memaklumi: Denny selaku penggagas puisi esai wajar kalau aktif mewartakannya. Sastrawan Malaysia itu membandingkan Denny JA dengan Kolonel Sanders yang membuat Kentucky Fried Chicken. Sebelum Colonel Sanders mencipta resep  KFC, sudah ratusan ribu manusia lain membuat ayam goreng berempah di seluruh dunia. Tapi hanya Sanders yang berhak membuat klaim sebagai pelopor karena dia membuatnya secara sistematis, berstruktur, dan masif.

Aku jadi teringat bagaimana popularitas Charles Darwin sebagai penemu teori evolusi. Semua ilmuwan angkat topi dan teori evolusi adalah sebuah revolusi dalam ilmu biologi. Tapi betulkah Darwin adalah orang pertama yang menemukan teori evolusi sehingga dunia mencatat kebesaran namanya?

Jawabnya: tidak! Alfred Russel Wallace (1823-1913) adalah orang pertama yang menemukan teori evolusi. Wallace – pembuat garis imajiner di Maluku – terkenal dengan Garis Wallace --  menyatakan bahwa bentuk flora dan fauna di sebagian wilayah Maluku mempunyai hubungan erat dan punya ciri yang mirip dengan flora dan fauna dari Australia. Sedangkan di bagian lainnya, sangat mirip dengan flora dan fauna dari Asia. Wallace kemudian membuat surat untuk Charles Darwin,  menceritakan temuannya di Ternate. Letter from Ternate-nya Wallace yang berbentuk makalah ini berjudul: On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitelty from the Original Type. Wallace  mengungkapkan pemikirannya mengenai proses seleksi alam. Wallace menceritakan hal itu karena Darwin– yang nota bene adalah temannya, keduanya ilmuwan Inggris -- sedang melakukan riset yang sama di Kepulauan Galapagos, Samudra Pasifik, sekitar 1.000 kilometer sebelah barat pesisir Amerika Selatan

Dalam Letter from Ternate itu, Wallace mengungkapkan bahwa spesies yang mampu bertahan atau memiliki kemampuan untuk bertahan di habitatnya akan tetap hidup dan tidak akan punah. Apa yang ditulis Wallace inilah yang merupakan landasan teori “Survival of the Fittest”nya  Charles Darwin (1809-1882). Buku Darwin  berjudul “The Origin of Species”  yang sangat monumental itu, ditulisnya tahun 1989, satu tahun setelah ia menerima surat dari Wallace.  Ilmuwan dunia tahu hal itu. Tapi tokh  tidak menggugurkan opini dunia bahwa Darwin adalah penemu teori evolusi. Kenapa? Pinjam pendapat Prof. Rem Dambul di atas: karena Darwin membuatnya secara sistematis, berstruktur, dan masif.

Sama seperti Denny JA. Jika ia mengklaim sebagai penemu puisi esai – mungkin ceritanya nyaris sama dengan kasus Wallace dan Darwin di atas. Darwin pun, ketika dinobatkan sebagai penemu besar – Teori Evolusi – banyak yang menentangnya. Para penolak Darwin -- tak hanya menunjukkan para penemu sebelumnya seperti Wallace, juga menyatakan bahwa teori Darwin adalah sampah. Mirip kasus Denny sekarang dalam hal puisi esai. So, biarkan sejarah yang akan mencatatnya.

 

 

  • view 357