Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesehatan 6 Desember 2017   08:40 WIB
Hentikan Iklan Rokok!

Hentikan Iklan Rokok!

  Oleh Syaefudin Simon

Independent Journalist/Freelance Columnist

  Merokok Membunuhmu!

 Itulah peringatan yang tertulis di  hampir semua  bungkus rokok. Tapi kalau membeli rokok eceran, tak akan melihat peringatan itu.  

 “Aku tak pernah  membaca peringatan itu. Sudah bosan” kata Wakidi, perokok berat. “Ada atau tidak ada peringatan itu, aku tetap  merokok,” tambahnya.

 Celakanya, industri rokok yang banyak uang, saat ini terus mencari perokok baru. Sasarannya anak-anak muda. Maka, dibuatlah iklan hebat yang mempertontonkan keperkasaan perokok.  Ada yang memanjat puncak gunung. Ada yang terjun bebas dari pesawat. Ada yang juara olahraga. Dan macam-macam iklan yang menipu.   Dampaknya luar biasa. Perokok baru usia remaja terus bertambah.

Inilah yang harus kita perangi.  Iklan rokok yang menyilaukan remaja harus kita hentikan. Tapi bagaimana menghentikannya? Tarik ulur antar instansi pemerintah, misal antara kementerian kesehatan dan dirjen pajak, masih terus terjadi. Maunya kementerian kesehatan industri rokok harus lenyap sama sekali. Biaya obat dan perawatan untuk pasen penyakit kanker paru-paru, penyakit jantung, dan lain-lain akibat rokok, jauh lebih besar ketimbang cukai yang diperoleh pemerintah dari industri rokok. 

 So what? Harus ada kebijakan politik dan ekonomi yang tegas dari pemerintah untuk melarang industri rokok. Maukah pemerintah mengambil kebijakan itu demi masa depan generasi muda bangsa?

  Rokok adalah penyebab utama penyakit tidak menular. Saat ini, lebih dari 57% kematian di Indonesia akibat penyakit tersebut.

 Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan mencatat, pengeluaran biaya untuk mengobati penyakit tidak menular sebanyak Rp. 13,6 triliun. Setara 23,4% biaya kesehatan untuk tahun 2015. Karenanya,  jika rokok tidak dikendalikan secara serius akan mengancam pembangunan nasional Indonesia.

World Health Organization (WHO) memperkirakan, ada 235.000 kematian akibat rokok tiap tahun di Indonesia. Jumlah tersebut, tulis WHO, akan   terus meningkat. Ini karena   konsumsi rokok masih sangat tinggi dan terus bertambah.

 Kementerian Kesehatan memperkirakan lebih dari sepertiga (36,3%) penduduk dewasa Indonesia perokok aktif. Pada kelompok remaja (15-19 tahun), tragisnya, konsumsi rokok terus meningkat secara signifikan. Prevalensi perokok remaja tercatat 12,7% pada tahun 2001. Dan meningkat dua kali lipat, 23,1%, pada  tahun 2016. Peningkatan ini terjadi baik pada remaja laki-laki maupun perempuan.

 Upaya untuk menekan laju konsumsi rokok telah dirumuskan WHO melalui strategi MPOWER. Yaitu Monitor Penggunaan Tembakau dan Pencegahannya, Perlindungan terhadap Asap Tembakau;  Optimalkan Dukungan untuk Berhenti Merokok; Waspadakan Masyarakat akan Bahaya Tembakau; Eliminasi iklan, Promosi dan Sponsor terkait Tembakau; Raih Kenaikan Cukai Tembakau.

Salah satu upaya serius yang harus dilakukan saat ini adalah “eliminasi!”  iklan rokok. Baik iklan dalam maupun luar ruang. Survey UHAMKA, Jakarta, tahun 2007 menunjukkan bahwa 99,7% anak melihat iklan rokok di televisi. Sementara data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2013 mengungkapkan, 3 dari 5 anak pernah melihat adegan gagah iklan  rokok di televisi, film, atau video.

 Bagaimana menghentikan iklan berbahaya itu? Jelas, butuh peran aktif dari berbagai elemen masyarakat untuk menghentikan iklan tersebut. Setidaknya mereformasi bentuk iklan rokok yang menipu tadi.

 Itulah sebabnya, Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) bekerjasama dengan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) hari ini, Rabu (16/12), menyelenggarakan Seminar bertema “Pelarangan Iklan Rokok untuk Menyelamatkan Generasi Penerus Bang” di Jakarta.  Seminar ini, kata Syafa Illiyin, ketua panitia dan penanggungjawab seminar, akan membedah persoalan rokok dan problem  kerusakannya terhadap generasi muda Indonesia.

 Syafa, panggilan akrab aktivis Kaukus Perempuan Politik Indonesia itu  berharap, seminar tersebut menyadarkan semua stake holders industri rokok, konsumen, dan dunia periklanan: Bahwa “Rokok Itu Membunuhmu”.  Juga menyebabkan kanker mulut dan paru-paru.  Dan  itu membunuhmu. Cepat atau lambat!

 

Karya : Simon Syaefudin