Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 30 November 2017   15:23 WIB
Reni, Letusan Gunung Agung, dan Disrupsi Turisme

Reni, Letusan Gunung Agung, dan Disrupsi Turisme

 Oleh Syaefudin Simon

Wartawan/Tenaga Ahli Fraksi PPP DPR RI

 

Gunung Agung meletus. Turisme di Pulau Dewata terganggu. Padahal, pariwisata adalah andalan ekonomi Bali. Bahkan Indonesia.

Tapi bagi Dr. Reni Marlinawati, Ketua Fraksi PPP DPR RI, letusan Gunung Agung – di samping bencana – juga membawa hikmah. Hikmahnya, dunia turisme internasional akan terbuka matanya: bahwa situs wisata yang menarik di Indonesia ternyata tak hanya Pulau Bali. Tapi juga Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Morotai, dan masih banyak lagi.

       Just info, kita mungkin sering bertemu orang bule dari Amerika dan Eropa yang menganggap bahwa Indonesia adalah Bali. Mereka juga menganggap  bahwa lokasi turisme yang menarik di Indonesa hanya Bali. Hampir dapat dipastikan, liburan panjang Desember 2017 sampai awal Januari 2018 ini, jika wisman (wisatawan mancanegara) tersebut berkunjung ke Indonesia, niscaya Bali tujuannya. Tapi dengan adanya erupsi Gunung Agung, mereka mau tak mau akan mencari tahu, lokasi turisme mana di Indonesia yang menarik selain Bali. Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong wisman mengunjungi lokasi-lokasi wisata lain selain Pulau Dewata tersebut.

 Betul, kata Reni, meletusnya Gunung Agung mengganggu pariwisata tanah air dan mempengaruhi pendapatan negara. Tapi, menurut anggota Komisi X DPR RI itu,  kalau pemerintah mau memanfaatkan momen ini  untuk mempromosikan situs-situs turisme yang lain, yang keindahannya tak kalah dibanding Bali, maka hasilnya akan luar biasa.

 Apalagi meletusnya Gunung Agung ini menjelang musim liburan internasional -- natal dan tahun baru.Wisatawan mancanegara yang semula akan ke Bali, niscaya akan mencari tempat wisata menarik selain Pulau Dewata. Dan ternyata jumlahnya banyak sekali.

Reni menyarankan pemerintah untuk membuat terobosan dalam dunia turisme Indonesia tersebab erupsi Gunung Agung tadi. Kenapa? Gunung Agung adalah gunung berapi yang sangat aktif. Setiap saat ia bisa erupsi tanpa diduga. Hal ini bisa dipakai pemerintah untuk alasan mengalihkan wisman ke lokasi lain, yang keindahannya tak kalah dengan  Pulau Dewata.

 “Pemerintah dapat mengalihkan kunjungan wisman ke destinasi selain Bali," ujar Reni,  Selasa (28/11) di Jakarta.

Selain obyek wisata yang disebutkan Reni di atas, Indonesia ternyata mempunyai banyak geopark. Kita tahu saat ini UNESCO (Organisasi Keilmuan, Pendidikan, dan Kebudayaan PBB) tengah mempromosikan geopark-geopark dunia untuk lokasi pariwisata. Tujuannya, agar geopark itu lestari dan terawat. Dengan mempromosikan geopark untuk pariwisata, tulis UNESCO, akan ada imbas positif  peningkatan ekonomi  masyarakat setempat di mana geopark berada; kemudian   terpeliharanya situs-situs geopark untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan; dan  peningkatan devisa bagi pemerintah.

 Sat ini, UNESCO baru menetapkan  empat geopark di Indonesia. Pertama kaldera (Danau) Toba di Sumatera Utara. Kedua, kaldera Gunung Batur di Kabupaten Bangli, Bali. Ketiga, Gunung Sewu yang memanjang di Jawa Tengah-Jawa Timur. Keempat, Taman batuan tua di Bukit Ciletuh Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kelima, Gunung Masurai yang berada di lokasi geopark Merangin, Jambi. Dan keenam, kawah Gunung Rinjani, NTB.

 Sebetulnya, Indonesia punya 40 geopark lebih, tapi yang diakui UNESCO baru enam itu tadi. Dari enam geopark itu pun, baru dua – yaitu Danau Toba dan  kawah Gunung Rinjani yang namanya sudah mendunia. Lainnya belum dikenal. Bahkan kawah Gunung Batur yang di Pulau Bali pun namanya belum popular di kalangan wislok (wisatawan lokal) dan wisman (wisatawan mancanegara). Semua ini adalah tantangan pemerintah untuk mempromosikannya di dunia internasional.

 Saat ini, berkat perkembangan dunia digital, konsep turisme pun tengah mengalami disrupsi. Yaitu perubahan pola wisata konvensional menuju wisata digital. Dalam konsep wisata berbasis digital ini, biaya turisme menjadi murah dan semua tempat bisa terjangkau, seterpencil apa pun.  

Dengan danya aplikasi Air-BNB untuk mencari hotel model homestay yang murah meriah; lalu transportasi aplikasi model  Uber yang murah dan bisa dipesan kapan saja; kemudian kesadaran penduduk lokal untuk  mejadikan keindahan alam desanya sebagai destinasi wisata – maka disrupsi turisme sebentar lagi akan booming. Jika itu terjadi, persebaran lokasi-lokasi wisata akan makin merata di Indonesia. Harapan Reni Marlinawati bahwa Indonesia akan menjadi pusat turisme dunia, Insya Allah, akan terwujud. Semoga!

Karya : Simon Syaefudin