Mendung di Langit Batan

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Budaya
dipublikasikan 29 November 2017
Mendung di Langit Batan

Sebuah Cerbung (Novel)

Mendung di Langit Batan

         Cuaca Jumat siang itu panas sekali. Terik matahari seakan menggigit kulitku. Keringat menetes di wajahku karena sengatan panas itu. Aku sengaja bawa mobil ke masjid Al-Istiqomah, yang jaraknya hanya satu kilometer dari rumah untuk shalat Jumat. AC mobil aku putar di posisi dua agar dinginnya terasa untuk menghilangkan keringat  yang membasahi tubuhku. Alhamdulillah, meski panas bukan alang kepalang, aku merasa sejuk setelah imam shalat Jumat  membaca surat Al-Fatihah. Aku tahu dari suara dan bacaannya yang bagus, imam shalat Jumat itu Ustad Uka El-Akhmad, seorang hafiz yang bersuara emas. Suaranya yang bening, bacaan mahrojnya yang apik, dan tajwidnya yang bagus, membuat telingaku terasa mendengar suara malaikat dari sorga.  Hatiku jadi ayem bila mendengar bacaan Alquran Ustad Uka.

Usai Jumatan di Masjid Al-Istiqomah, Perumans Tiga, Bekasi,   aku segera ganti baju. Supaya kelihatan gagah, aku memakai jas casual warna hitam agar serasi dengan celanaku yang juga berwarna hitam. Sengaja aku memakai celana Levis hitam, supaya kelihatan tidak terlalu formal. Jas yang aku pakai pun disainnya   informal seperti model  jas yang sering dipakai Sys NS, pendiri Radio Prambors FM Jakarta yang suka nyantai itu.

Begitu masuk jalan tol Bekasi Timur, naudzubilah macetnya. Tapi kemacetan jalan tol itu, tak  sedikit pun mengurungkan niatku untuk menuju kantor Pusat Aplikasi Isotop dan radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nuklir Nasional (BATAN), Pasar Jumat, Jakarta Selatan.

Seperti biasa, istriku  Shally,  tetap tenang menyetir mobil. Dia suka memilih jadi sopir jika bepergian denganku. Alasannya, kalau aku yang nyopir, takut tabrakan. Kata istriku, aku suka kantuk.  Aku sendiri  senang kalau istriku yang nyopir. Jadinya aku bisa membaca WA sambil kirim status di FB. Aku juga sesekali bisa melirik istriku yang tak kalah cantik dibanding Syahrini. Dalam hati, ternyata istriku lebih cantik dari mantan-mantan pacarku dulu. Lebih muda, lebih cerah, dan lebih romantis.

  Istriku hanya minta ganti nyopir kalau merasa kelelahan. Kalau aku nyopir, baru satu jam, aku biasanya ngantuk. Mobil jadi oleng dan sering mendadak ngerem. Jika sudah seperti itu, langsung kendali mobil  diambil kembali oleh istriku. AKBP (ajun Komisaris Besar Polisi) Zainudin dan Ki Agus Ompong (yang gigi depannya rompel), teman SMA-ku di Palimanan, Cirebon suka keki kalau melihat aku duduk nyantai di samping istriku yang sedang nyopir. Gara-gara kemauan istriku yang senang nyopir sendiri kemana-mana, aku sering diledek teman-teman.

 “Andi ini mau enaknya aja. Malam istri ditunggangi, siang diminta jadi sopir!,” kata AKBP Zainuddin, temanku yang baru pensiun dari kepolisian, sambil tertawa ngledek. Aku suka dengan Zainudin karena suka blak-blakan. Ia pernah bilang, kalau menjelang lebaran Idul Fitri, Zainudin sering dikunjungi komisi A untuk menerima parsel. Parsel itu kadang bentuk barang, kadang uang. Ketika aku tanya apa itu komisi A, jawabnya Aseng. Maksudnya, pengusaha Cina di wilayah Tangerang, tempatnya bertugas. Di kepolisian Tangerang, komisi A sudah terkenal, katanya.

“Kang, ini bukan maunya aku. Ini maunya istriku. Sebagai lelaki setia, aku turuti aja maunya!,” selorohku bila diledek teman-teman.  Zainudin dan Agus Ompong langsung senyum kecut.

 “Andi beruntung ya, istrinya cantik hobinya nyetir mobil. Jadinya Andi bisa ngelamun sepanjang jalan untuk bikin cerpen,” ledek Agus Ompong, temanku yang mengaku pernah diperkosa oleh majikan Arabnya di Jedah.

 Agus Ompong memang pernah  menjadi sopir keluarga Al-Jabir di Jedah Arab Saudi. Cerita Agus serem sekali  kalau menggambarkan nafsu birahi gadis-gadis Arab yang pernah memperkosanya.

 “Ehmmm... baju abaya yang menutup seluruh tubuhnya itu, kalau sudah dalam mobil di tempat yang sepi, kemudian dicopot. Ia malah telanjang langsung memperkosaku di dalam mobil. Di rumah juga begitu. Aku pernah diperkosa oleh kakak beradik, putri majikanku,”  cerita Agus menyeramkan. “Gila lo, nafsu seksnya. Kayak beruang Rusia yang sedang kawin. Dengusannya menyeramkan,” kata Agus.  Karena sering diperkosa, Agus pun lari. Berhenti jadi sopir di keluarga Al-Jabir.  Agus pernah aku minta untuk menovelkan kisah-kisah pemerkosaannya oleh anak-anak majikannya di Jedah itu. Tapi dia tak mau, takut dimusuhi orang Arab.

 Shally  makin nekad menyetir mobil. Berzigzag ria tanpa peduli klakson mobil di belakangnya  yang menjerit-jerit. Aku juga makin kesal melihat kemacetan yang parah itu. Di belakang mobilku, tampak sedan Lamborghini hijau muda seperti warna bajunya Nyai Roro Kidul,  terjepit di antara truk pasir dan bus Patas Jurusan Senen-Bekasi. Lamborghini yang katanya mobil balap super itu, hanya bisa berjalan satu kilometer perjam di jalan tol. Kacian deh!

 “Bajigur tenan PT Jasa Marga ini. Bikin jalan tol tak memperhitungkan kenaikan jumlah kendaraan tiap tahun yang mencapai 7%. Jadinya tiap hari macet. Makin lama, makin macet,” gerutu Shally  kalau sudah melihat kemacetal tol yang menjengkelkan itu.

 “Penguasa negeri ini memang otaknya bumi datar. Mosok bikin jalan tol tanpa perencanaan jauh ke depan dengan lebar hanya beberapa depa?,” Shally terus ngedumel.

 “Ayo sayang, katanya sopir handal, cepatlah dikit. Tiap ada celah kosong, langsung saja serobot  agar cepat sampai tujuan. Ini sudah jam 15.00. Batan tutup jam 16.00. Tinggal satu jam lagi. Takut macet di perempatan Pondok Indah,” ujarku menyemangati istriku yang jago nyopir mobil itu. Biasanya istriku makin semangat bila aku suruh zigzag. Ia memang senang kalau bisa menyalip mobil di depannya. Apalagi bila yang disalip mobil-mobil mahal. Makin senang. Kalau bisa nyalip mobil Nissan Juke yang moncongnya mirip Buto Cakil itu, istriku kelihatan makin semangat. Bukan apa-apa, ia senang aja karena Shally sering mendengar cerita teman-temannya kalau Nissan Juke itu jago kebut.

 Mobil istriku berjalan kepot sana kepot sini agar cepat sampai di Batan. Setelah masuk pinto tol Cikunir, kemacetan mulai reda. Istriku langsung tancap gas. Tak terasa kecepatan mencapai 140 km perjam karena Toyota Fortuner berbahan bakar solar itu makin cepat makin stabil. 

  Setengah jam kemudian aku nyampe di Batan, Pasar Jumat. Setelah menyerahkan KTP, istriku memarkir mobil. Seperti biasa, ia selalu ceria. Apalagi ini pengalaman baru, nyopir mobil bongsor Toyota Fortuner. Biasanya sedan Toyota Vios. Fortuner, kata istriku,lebih mantap dari Vios.

 Begitu turun dari mobil yang diparkir di bawah pohon cemara, aku berjalan gontai menuju sebuah gedung kusam. Tiba-tiba tenagaku sirna. Aku berkeringat dingin. Istriku dan Bu Ruli Retina, yang menemaniku,  kaget.

“Mas Andi kenapa lemas dan berkeringat dingin?,”  kata Bu Ruli yang berprofesi bidan itu.

“Ah... gak apa-apa. Cuma agak pusing dikit. Mungkin agak mabuk karena terlalu lama macet tadi.  Bu Ruli dan Shally langsung menemui Bu Meli saja, di lantai dua. Ini nomor telpon Bu Meli. Sekalian Bu Ruli menjelaskan tentang bisnis raja pulsa kepadanya. Dia pasti tertarik,” kataku dengan mulut gemetar.

“Sementara biarkan aku di sini dulu. Aku mau meredakan peningku dulu!”  Aku berpura-pura pening, padahal aku gemetar mengingat masa-masa indah dan tragis perjalanan hidup dan cintaku di Batan. 

Aku diam saja. Nafasku terasa berat. Mataku tak berkedip menatap jalan-jalan kecil sekeliling kantor BATAN yang tambah kusam. Gedung tempat kerjaku dulu di Bagian Kimia Lingkungan yang angker sudah tak ada lagi. Mungkin sudah dirobohkan karena gedung itu banyak jinnya. Waktu aku masih jadi peneliti kimia lingkungan aku beberapa kali mendengar lolongan seorang wanita  di sebuah ruangan kosong di lantai dua. Setelah aku lari untuk mengetahui siapa yang melolong itu, ternyata ruang itu kosong. Tak ada siapa siapa di ruangan itu. Kalau aku ingat lolongan itu,  langsung merinding. Ternyata menurut salah seorang karyawan Batan yang indigo, Suripto, suara lolongan wanita itu berasal dari jin perempuan yang merasa rumahnya bising setelah alat spektometer di pindah ke ruang itu. Si jin minta spektrometer jangan ditaruh di ruang tersebut. Setelah spektrometer dipindah, lolongan wanita itu memang tak terdengar lagi.

 Mbak Minah, seorang laboran pernah cerita kepadaku, kalau gedung Kimia Lingkungan itu memang angker. Makanya kalau sudah jam empat sore, habis salat Ashar, cewek-cewek yang bekerja di Gedung Kimia Lingkngan langsung ngibrit pulang. Takut ada jin yang muncul di ruangan. Meski demikian, kata Mbak Minah, gangguan jin tidak merugikan Batan. Hanya menimbulkan rasa takut dikit. Yang menimbulkan rasa takut lebih besar ada. Yaitu korupsi bos-bos di Batan. Mbak Minah pernah berbisik kepadaku kalau alat-alat laboratorium yang mahal seperti Spektromete, AAS, dan Detektor Sinar Gamma, dibeli dengan harga murah karena loakan. Bekas pakai laboratorium  di Jepang dan Singapura. Aku gak tahu dari mana info Mbak Minah tu.

 “Andi, tak usahlah terlalu takut pada jin. Takutlah  pada korupsi. Korupsi itu terkutuk. Kasihan rakyat. Uang pajaknya dipakai untuk beli alat-alat laboratorium bekas pakai,” kata Mbak Minah. Mbak Minah memang laboran yang kepo. Ia suka nguping ke sana kemari, mencari kesalahan bos-bosnya. Mbak Minah pernah membisiki aku.

“Lihat Andi, tanah di sebelah Gedung Biologi itu. Itu kan tanahnya Batan, tapi sebagian dipakai oleh Perumahan Bona Indah. Batan mengizinkan tanahnya sebagian dipakai developer Bona Indah dengan kompensasi pejabat tinggi yang berkuasa dikasih beberapa unit rumah besar di kompleks perumahan mewah itu,” kata Mbak Minah.

 Bona Indah memang saat itu, tahun 1980-an terkenal sebagai perumahan mewah. Beberapa artis film seperti Ria Irawan dan Nia Zulkarnaen, konon, tinggal di Bona Indah.

  “Tahu nggak apa akibat kebijakan ruslag tanah Batan yang diganti dengan rumah bos di Bona Indah itu?,” tanya Mbak Minah kepadaku waktu itu. Aku menggeleng.

 “Tuh...Pak Coko, bikin kebijakan rumah dinas di Pasar Jumat boleh dibeli dengan harga murah oleh bos-bos   yang menempatinya.  Para pejabat Batan itu gila. Mereka tidak memikirkan masa depan Batan. Mestinya rumah dinas tidak bisa dimiliki pribadi seperti rumah-rumah dinas tentara. Rumah itu hanya untuk pegawai yang masih aktif. Rumah Dinas Batan di Pasar Jumat yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari kantor itu kan lebih praktis dan efisien untuk meningkatkan kinerja para peniliti Batan.  Para peneliti muda punya waktu dan tenaga yang efisien jika rumahnya dekat kantor. Harusnya tidak bisa dimiliki secara individual. Tapi, itulah perkembangannya gara-kara Bona Indan tadi. Lihat nanti. Para peneliti muda yang  rumahnya di Serpong, Bogor, dan Tangerang yang tidak dapat rumah dinas dekat Pasar Jumat  waktunya habis di perjalanan. Mereka akan kecapaian. Penelitian yang dilakukannya pun hasilnya tidak akan maksimal karena sudah capai dalam perjalanan,” katanya.

  Mbak Minah terus nyerocos tanpa henti seperti suara kereta uap. Aneh juga, pegawai rendahan seperti Mbak Minah lebih punya kepedulian terhadap kinerja institusi ketimbang bos-bos golongan empat ke atas. Bagaimana Batan bisa maju seperti lembaga tenaga nuklir  Jepang Nihon genshiryoku kenkyū kaihatsu kikō    kalau pejabatnya model seperti ini?

Logika Mbak Minah memang benar. Tapi para bos tak mau tahu. Yang penting dapat memiliki rumah dinas dan menyicilnya dengan harga murah. Rumah dinas Batan di pasar Jumat yang letaknya sangat strategis itu (karena dekat dengan stasiun terpadu kereta api dan bus) niscaya kini  nilai jualnya sangat mahal.

 Aku lihat  rumah-rumah dinas yang tempatnya persis di pinggir jalan raya  Pasar Jumat-Cinere, kini sudah berubah menjadi toko karpet, toko onderdil mobil, resto, cafe, dan lain-lian. Para pensiunan pejabat Batan yang tinggal di sana mungkin sudah menjualnya. Jelas mereka untung. Tapi generasi muda Batan buntung.

 

 Rita, Karyawan Baru Itu

Flashback ke masa lalu.

Hari Senin, pertengahan Januari 1985, aku masuk pertama kali di Batan. Tepatnya di bagian Pusat Aplikasi radio Isotop dan Radiasi.  Saat itu, usai lulus dari Jurusan Kimia FMIPA UGM, aku melamar ke beberapa perguran tinggi negeri dan lembaga-lembaga  penelitian di Indonesia seperti LIPI, Batan, dan BPPT. Semuanya diterima. Undip Semarang dan Unud Bali memaggilku untuk segera masuk kerja, jadi dosen. Batan, BPPT, LIPI juga menerimaku. Tapi aku pilih Batan dengan pertimbangan, kantor Batan relatif dekat  dengan Cirebon, kampungku.

 Di  samping itu, aku ingin seperti Prof. Dr. Ahmad Baiquni, menjadi Kepala Batan plus ilmuwan dan da’i. Pak Baiquni adalah idolaku sejak aku kuliah di Yogyakarta dulu. Aku sangat terkesan dengan buku-buku karya Pak Baiquni yang menceritakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan Islam. Aku juga sangat mengagumi Prof. Baiquni karena bersahabat dekat penerima Nobel Fisika, Prof. Abdus Salam kelahiran Pakistan dari Inggris. Dengan pertimbangan itulah aku memilih Batan. Tapi apa yang terjadi kemudian?

 Di hari pertama saja aku sudah merasa tidak betah. Melihat laboratorium yang kusam dan berbau sangit, aku hampir muntah. Belum lagi melihat suasana kantor yang membosankan. Bayangan terhadap radiasi gamma yang menyebabkan penyakit kanker dan kemanudulan juga selalu menghantui pikiranku.

 Aku bekerja dengan radiasi gamma, niscaya akan terkena juga, sehati-hati apa pun. Dan bayangan itu terus membetot pikiranku. Tambah lagi dengan suasana yang menurutku sangat membosankan. 

Jam delapan pagi masuk kantor. Sejam kemudian, teman-teman sekantorku,  ada yang  masak singkong atau jagung di gelas Pyrex dengan kompor listrik. Usai makan singkong, jam sudah menunjukkan angka 10.00. Istirahat sebentar, jam 11.30 waktu makan tiba. Karyawan ramai-ramai makan di kantin Batan yang gratis itu. Usai makan, salat lohor. Lalu tidur-tiduran di mushala sampai jam dua siang. Balik ke lab. Duduk sebentar, sudah pukul 15 sore. Siap-siap salat Ashar. Usai salat, masuk ruangan beres-beres tas. Pulang. Itulah suasana rutin di kantor. Kerja penelitian memang ada. Tapi porsi waktunya amat sedikit dibanding leha leha menghabiskan waktu di kantor tadi.

“Gila! Kalau begini terus aku bisa mati,” pikirku setelah beberapa hari kerja di Batan.  Mana mungkin aku betah dengan suasana di kantor macam itu? Aku orang yang mobilitasnya tinggi. Tak pernah diam. Di Yogya, kalau tak ada kegiatan ceramah, mengajar, dan rapat HMI, aku membaca. Membaca bagiku adalah investasi. Karena dari membaca, tulisan-tulisanku yang kukirim ke harian Kedaulatan Rakyat Yogya makin bergizi. Sedangkan di Batan? Aku harus membaca artikel-artikel tentang radiasi kimia yang tidak menarik itu. Aku sudah merasa bosan sejak pertama masuk di Batan. Aneh, baru masuk sudah bosan. Penelitian radiasi tampaknya bukan passion-ku.

 Meski demikian, aku tidak mau segera mengundurkan diri dari Batan. Namun demikian,  aku yakin, nantinya aku pasti mundur. Tapi, jika mundur pun jangan terlalu cepat. Mosok baru beberapa hari mundur. “Paling tidak setahun,” pikirku.

Sebelum mundur,  aku harus punya sesuatu agar aku betah di kantor. Minimal setahun. Apa sesuatu itu?

  “Pacar yang cantik,” batinku. Kata temanku, Kadarisman kakak kelasku di UGM, mempunyai  pacar cantik akan membuat seseorang betah di sampingnya. Kalau aku betah di samping wanita cantik yang juga bekerja di Batan, mungkin kebosananku hilang. Siapa tahu bisa betah, atau bertahan beberapa tahun di Batan? Tapi kalau untuk selama hidup, maksudku sampai pensiun, tidak mungkin. Aku bisa stres. Mati berdiri!

 Kadarisman tahu betul siapa aku. Kata dia, aku adalah tipe Anton, cowok rekaan sastrawan Ashadi Siregar dalam novel terkenal Cintaku di Kampus Biru. Anton itu mahasiswa yang pandai, aktivis organisasi, dan pinter merayu cewek cantik, kata Kadarisman. “Nah,  kamu itu cowok model Anton. Pasti tidak akan betah bekerja di Batan,” kata Pak Man, panggilan akrab Kadarisman.

 Di hari kelima belas aku bekerja di kantor, tiba-tiba ada seorang gadis manis masuk di ruanganku. Ia diantar teman cowoknya. Siapa ini? Apa karyawan baru? Dalam hati, boleh juga nih gadis. Siapa tahu nanti bisa jadi pacarku? Tapi, dia sudah bawa cowok.

 “Namaku Rita. Aku dari AKA, Bogor. Aku diterima bekerja di sini. Mulai hari ini aku masuk kantor,” kata gadis itu memperkenalkan diri kepadaku. Aku dikiranya sudah lama bekerja di Batan. Padahal aku juga baru masuk kantor 15 hari lalu.

“Oh ya, kenalkan ini pacarku. Namanya Toni. Dia kerja di perusahaan minyak di Balikpapan,” kata Rita sambil memperkenalkan nama cowoknya.

 Setelah berkenalan aku ngobrol dengan Rita dan Toni. Aku lihat, Rita tidak cocok dengan Toni. Rita terlalu cantik untuk Toni yang berkulit hitam dan kerempeng. Perasaanku, aku lebih gagah dari Toni. Dalam hati, cepat atau lambat Rita akan jadi pacarku. Setelah Toni  pamit pulang, aku ngobrol lagi dengan Rita. Ia aku ledek mirip Rita Sugiarto, penyanyi lagu dangdut populer yang pernah berduet dengan Rhoma Irama itu.  

“Rita, kamu itu mirip Rita Sugiarto. Tingginya, suaranya, wajahnya, blas mirip Rita Sugiarto” ledekku.

“Aku sangat suka Rita. Apalagi ia pernah duet dengan Raja Dangdut, Bang Rhoma, idolaku.” Lagu berjudul Hitam Manis  yang dinyanyikan Rita Sugirto adalah favoritku.

 “Rita, kau manis seperti Rita Sugiarto,” ledekku. Aku mbanyol. Rita hanya cengar cengir. 

“Karena aku suka Rita Sugirto, aku juga suka Rita Sunarto,” aku nggombal di hadapannya.

 Nama lengkap gadis hitam manis karyawan baru itu memang Rita Sunarto. Sunarto  nama ayahnya. Rita bilang ayahnya  bekerja di perusahaan perkapalan.

“Mas Andi asalnya dari mana?,” tanya Rita.

“Dari Cirebon!”

‘Kosnya di mana?”

“Aku kos di rumah orang Betawi, depan kantor.”

Aku ngobrol berbagai macam hal dengan Rita. Mulai dari pekerjaan di lab, organisasi di kantor, bos-bos yang menjengkelkan, hobi menulis, dan lain-lain. Aku jadi tahu kalau Rita  suka menari. Ia cerita pernah belajar tari jaipongan waktu masih SMP di Perguruan Cikini (Percik), Jakarta Pusat. Ibunya Rita guru seni suara di Percik.

“Rita, cepat atau lambat kamu akan jadi pacarku!” Tiba-tiba aku mengatakan hal seperti itu di hadapan Rita tanpa aku rencanakan.Rita langsung melotot.

 “Nggak mungkin. Aku kan sudah punya pacar. Mas Andi juga sudah kenal pacarku,” kata Rita.

“Upps...jangan bilang nggak mungkin. Tak ada yang tidak mungkin selama kita mengakui kekuasaan Tuhan!” kataku berseloroh.

 Rita diam saja. Wajahnya kelihatan masam. Mungkin ia benci dengan ucapanku yang sekonyong-konyong tadi. Ia kaget.

Sejak saat itu, aku akrab dengan Rita. Aku sering mendekatinya dan mengajak ngobrol kalau sedang istirahat makan siang. Teman-teman kantorku sering menasehati, aku tidak pantas dengan Rita.

“Andi kamu itu orang santri. Kamu sering jadi khotib salat Jumat di Jakarta. Kenapa pilih wanita tidak berjilbab untuk calon istrimu?,” kata Siti Rubaiah, teman kantorku yang lain. Siti rupanya mengamati kedekatan hubunganku dengan Rita.

“Ah mana mungkin aku pacaran dengan Rita. Ia kan uda punya pacar,” jawabku pada Siti. Rita pun menyatakan hal sama kalau ditanya Siti apakah dia mau dengan aku.

Andi hanya teman biasa, ujar Rita. Malah teman yang menyebalkan, tambahnya sambil meringis. Aku hanya senyum kalau Rita meledekku. Tapi ia pernah bilang, Andi itu ganteng, tapi bajunya kampungan!

“Dasar orang Cirebon,” ledek Rita.

Kalau sudah ngledek aku, Rita tersenyum. Manis!

Rasanya ingin kucubit pipinya yang lesung pipit itu.

 

Deklarasi Cinta

 

Kamis  pagi cuaca Jakarta cerah. Aku senang. Terbayang, sorenya aku pulang tidak kehujanan. Malamnya, aku berencana mau makan soto Betawi di Lebak Bulus. Kata temanku, Kadarisman, soto Pak Kumis di Lebak Bulus, enak sekali. Daging dan babatnya tebal. Tapi lunak. Kalau dikunyah langsung lebur di lidah. Saking amoh dan halusnya. Santennya juga harum. Bau rempahnya  pas di hidung. Kuahnya rasa daging sapi segar.

“Pokoknya Andi harus nyoba soto Pak Kumis di Lebak Bulus kalau ingin menikmati makanan terenak di Betawi,” seloroh Pak Man, panggilan akrab temanku tadi.

Tapi tiba-tiba, jam 13  siang, langit mulai  mendung. Saat itu, aku baru saja makan siang di kantin Batan. Di luar kantor suasana sudah mulai gelap. Makin lama, mendung makin pekat, dan hari pun makin hitam. Tak lama kemudian, kilat dan petir mulai bersahut-sahutan. Doar..doar…..doar… petir menyalak sangat keras di langit Batan.

Tanpa didahului rintik-rintik, hujan langsung deras mengugguyur bumi Pasar Jumat, Jakarta. Di atas instalasi radiasi, tepatnya di atas Gedung Proses Radiasi, anehnya petir menyalak keras sekali. Sahut-sahutan seperti gonggongan anjing herder. Karena gedung Proses Radiasi bersebelahan dengan Gudung Kimia Lingkungan, tempatku bekerja, aku pun bisa melihat cahaya kilat yang membelah awan di atas gedung Proses Radiasi.

Suara petir yang menggelegar di atas Gedung Proses Radiasi sangat aku rasakan hentakannya. Aku merinding. Takut petir mengoyak gedung instalasi proses radiasi itu.

Aku sempat membatin, apakah ada hubungan banyaknya petir dengan kuatnya radiasi gamma yang dipancarkan Cobalt-60 di Instalasi Proses Radiasi? Loginya sih ada. Petir muncul karena ada loncatan ion negatif dan positif di atmosfir bumi yang kemudian bertumbukan. Ketika ion positif dan negatif itu meloncat untuk saling berpelukan, molekul-molekul udara pun terbelah. Saat belahan-belahan udara itu menyatu kembali, terjadilah tumbukan keras. Tumbukan keras itulah yang menimbulkan gemuruh suara petir.

 Lalu, apa hubungannya dengan banyaknya petir di Instalasi Proses Radiasi? Listrik. Meski radiasi gamma sendiri tidak bermuatan listrik, tapi bisa saja keberadaanya yang massif di Gedung Proses Radiasi, memicu munculnya awan-awan elektron untuk berkumpul di atasnya. Dan awan elektron itulah yang memicu munculnya petir.

 Pikiranku tentang ledakan petir bertubi-tubi di atas instalasi proses radiasi memang spekulatif, seperti bayanganku tentang sorga dan neraka. Mesk sedikit tabu, tapi spekulasi  tidak dilarang dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Jadi dalam beberapa hal, sains memang seperti agama. Orang bisa berspekulasi macam-macam tentang malaikat, bidadari, surga, nerakan, bahkan Tuhan. Seperti halnya orang berspekulasi tentang masa depan jagad raya ketika energi fosil habis dan bumi penuh dengan manusia. Fisikawan Jepang, Michio Kaku, misalnya, berspekulasi bahwa kelak manusia bisa hidup di planet-planet lain selain planet bumi. Saat itu, kata Kaku, manusia sudah memakai teknologi hologram sehingga tubuhnya bisa berubah menjadi cahaya. Dengan cara itu, manusia tidak butuh transportasi konvensional lagi. Kapan pun manusia mau pergi ke suatu tempat, dalam secepat kilat seperti cahaya, langsung sampai ke tujuan. Seperti naik burok, kendaraan yang dipakai Nabi Muhammad ketika mi’raj untuk pergi ke langit.

  Memang belum ada penelitian tentang itu di Batan atau LIPI. Entah di NASA (Badan Antariksa Amerika) atau IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) di Wina, Austria. Tapi siapa tahu kan?

Spekulasiku tadi, sekedar mencari terobosan pemikiran. Meski demikian, pertanyaan spekulatif itu jelas tidak bisa kujawab secara ilmiah. Aku pun tak berani menanyakannya kepada Dr. Martin van Nijmegen, ahli radiasi asal Belanda di Batan. Takut dikira mengada-ada. Sebagai karyawan baru, pertanyaan seperti itu bisa dianggap lancang. Salah-salah bisa berabe untuk karirku ke depan.

Instalasi Proses Radiasi adalah salah satu bidang unggulan Batan. Di gedung Instalasi Proses Radiasi inilah berbagai percobaan radiasi terhadap material kayu diujicoba. Kayu sengon – orang Tasikmalaya bilang alba, mungkin berasal dari kata albasia – yang rapuh itu, bila diradiasi akan menjadi kayu yang kuat dan tahan air. Sinar gamma yang menusuk kayu sengon merubah komposisi struktur molekul kayu rapuh itu menjadi lebih teratur, kompak, dan padat. Akibatnya, kayu sengon yang rapuh menjadi kuat sekali. Di instalasi Proses Radiasi, berbagai macam kayu yang kualitaasnya rendah bisa diubah dengan radiasi gamma menjadi kayu dengan kualitas tinggi. Batan pernah mendispaly potongan-potongan kayu yang semula berkualitas rendah dan murah, setelah diradiasi gamma, menjadi kayu yang kuatnya tidak kalah dengan keramik. Jelas kayu murah itu berubah menjadi kayu yang sangat mahal. Secara bisnis jelas menguntungkan. Biaya meradiasi kayu kualitas rendah itu tidak terlalu mahal.


Tak hanya itu. Instalasi Proses Radiasi juga bisa dipakai untuk membunuh kuman-kuman pada makanan. Makanan yang sudah dikemas plastik, kaleng, atau box aluminium, kemudian diradiasi. Bakteri, virus, dan organisme renik lain di dalam kemasan itu, yang terpapar radiasi akan mati. Inilah proses sterilisasi dingin yang tidak merubah warna dan bau. Beberapa persahaan ikan sering memanfaatkan jasa Batan untuk mensterilkan produk-produknya yang akan diekspor ke Amerika atau Eropa. Maklumlah standard kualitas yang diterapkan Negara-negara Barat untuk produk impor dari negara-negara berkembang sangat tinggi. Makanya, proses radiasi inilah yang dipilih para pengusaha untuk meningkatkan kualitas ikan ekspornya agar bisa diterima negara-negara Barat.

Aku duduk sendiri di ruang lab Kimia Lingkungan itu. Meliana Juniwati, teman satu ruangan, tidak masuk kantor karena sakit. Sedangkan Yumi Maulidina, juga teman seruangan, sejak pagi minta izin, mau ke rumah sakit. Katanya, menemani anaknya yang sedang dirawat. Dan Bu Santi Santoso, bosku, Kepala Bagian Kimia Lingkungan, dari pagi mengahadap Kepala Pusat PAIR, Pak Woworuntu, untuk mendiskusikan berbagai program peneitian di Kimia Lingkungan.


Aku hanya karyawan baru. Belum ada tugas penelitian untukku. Aku hanya diperkenalkan instrument-instrumen laboratorium yang berkaitan dengan radiasi Cobalt-60. Instrumen-instrumen lab yang lain aku sudah tahu karena di lab MIPA UGM sudah ada. Lagi pula, aku tidak begitu tertarik dengan instrumen-instrumen lab tersebut. Rasanya kerja di lab akan membosankan. Makanya kalau ada waktu luang yang panjang di kantor, aku hanya duduk di ruanganku membaca buku buku kesukaanku. Kalau bukan novel, ya buku-buku filsafat.

Saat hujan deras mengguyur dan langit menghitam yang ditingkahi petir yang terus menggelegar, aku membunuh rasa cemasku, karena takut tak bisa pulang pukul 16, dengan membaca novel-novel yang pernah kubeli di Yogya. Aku pernah membeli novel liris berjudul Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG edisi cetak ulang yang belum sempat kubaca seluruhnya. Aku suka novel dengan bahasa prosa liris itu karena kalimat-kalimatnya menggemaskan, campuran bahasa Indonesia dan Jawa halus. Jadinya, membaca Pengakuan Pariyem seperti belajar bahasa Jawa halus juga. Idep-idep belajar bahasa Jawa, siapa tahu aku dapat istri orang Jawa. Maklumlah, sejak kuliah di Yogya saya ingin sekali punya istri orang Jawa, khususnya Yogya atau Solo. Tapi sampai kuliah selesai dan bekerja, impianku untuk dapat jodoh orang Jawa tidak tercapai.

 

Ketika asyik membaca novel liris Pangakuan Pariyem, di luar, angin tiba-tiba bertiup keras. Jendela ruangan seakan bergetar karena deraan angina yang besar. Air hujan sempat masuk ruangan lab melalui celah-celah kecil yang ada di jendela. Hujan dan angin membuat suasana lab yang temaram makin menyeramkan. Kisah jin yang menghuni lab spectrometer masih mengganjal di kepalaku.


Dalam keadaan yang merinding itu tiba-tiba hidungku mencium bau sesuatu yang bukan berasal dari bau bahan-bahan kimia lab. Sret…hidungku serasa menghirup udara harum.

 

Bau jin?, batinku berucap sambil memejamkan mata. Aku langsung ingat cerita Mbak Minah. Mbak Minah, laboran senior, pernah bercerita, kalau sedang sendirian tiba-tiba hidung mencium bau harum, hati-hati. Cepat baca ayat kursi untuk mengusir jin, katanya. Cerita mbak Min itu membuat aku rada takut. Waktu tercium bau harum di ruangan, jam sudah menunjukkan pukul 15.45. Seperempat jam lagi waktunya pulang. Jika hari sudah sore, lewat jam 16, kata Mbak Minah, jin suka muncul di ruangan gedung Kimia Lingkungan yang angker itu. Aku pun jadi merinding.

 

“Mas Andi….,” tiba-tiba ada suara wanita yang memanggilku.
Ouuh…aku terkejut. Siapa? “Jin perempuan memanggilku?,” batinku menduga-duga. Takut. Bulu kudukku berdiri. Aku pun langsung berdiri. Hendak keluar ruangan lab karena takut ada jin. Dan saat mau keluar ruangan, tiba-tiba aku melihat sebuah sosok perempuan berdiri di depan pintu.

Ouuh…ternyata bukan jin. Astaghfirullah. Gara-gara cerita jin dari mbak Minah, pikiranku jadi kacau. Tidak logis lagi. Ternyata yang ada di depan pintu adalah Rita. Ia masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu. Rita berdiri dekat pintu, samping mejaku. Tadinya aku kaget bukan main. Karena sebelumnya, kupikir bau harum itu berasal dari jin. Ternyata bau harum itu berasal dari Rita, gadis yang baru masuk sebulan lalu di Kimia Lingkungan.

 Rita tampaknya sudah siap-siap mau pulang, meski hujan belum reda. Dan seperti umumnya perempuan, sebelum pulang pasti akan dandan. Pakai bedak dan lipstick. Bedak itulah yang tercium harum, yang kukira berasal dari jin itu.

“Mas…Andi, mau pulang jam berapa?,” tanya Rita. Ia tak peduli kalau aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu.


“Aku tunggu hujan berhenti, Rita. Toh kosanku dekat sini,” jawabku sambil memandangi wajah Rita yang berpoles bedak tipis dengan lipstik glossi.


“Aku kan rumahnya jauh Mas Andi. Di Pamulang. Naik motor sekitar satu jam dari kantor. Kalau hujan seperti ini jalannya becek dan licin! Hari sudah makin gelap. Aku takut sendirian!”
“Ya sudah duduk di sini saja. Ngobrol denganku sambil menunggu hujan reda.”


Aku pun mengambil kursi dari meja sebelah. Rita duduk di depan mejaku. Dalam suasana hujan lebat, di ruang itu hanya ada aku dan Rita, berdua saja. Bu Santi belum juga kelihatan hidungnya. Meli dan Yumi yang sering debat kusir tidak ada. Suripto, satu-satunya laboran pria di ruang itu, sudah keluar gedung, menuggu di mobil jemputan.


“Bagaimana kabar Toni, pacarmu itu Rita?!”
“Ia diam. Matanya menatapku dalam-dalam.”


“Sudah putus, Mas Andi!”


“Hah? Putus, kenapa?,” aku kaget sekali.

 Mendengar jawaban Rita, tiba-tiba aku gembira, tapi campur cemas. Gembira karena aku punya kesempatan untuk lebih intens mendekati Rita tanpa halangan. Cemas karena mulut-mulut comel di kantor pasti ribut. Mereka selama ini sering menasehati aku untuk tidak pacaran dengan Rita. Bagi mereka, Rita terlalu “maksiyat” untuk orang sepertiku yang pinter ngaji dan sering khotbah di masjid. Meli dan Yumi, misalnya, kompak menasehati aku untuk memilih Silvi, teman Rita, yang pakai jilbab yang bekerja di Instalasi Proses Radiasi. Kata mereka, Silvi lebih cocok untukku dibanding Rita yang kalau ke kantor sering memakai baju ketat dan seksi itu.

“Kasihan nanti kau Andi, Rita itu gadis Cikini, Jakarta. Kelihatannya galak,” kata Yumi.

 Aku hanya tersenyum mendengarkan ocehannya yang aneh itu. Soal galak dan tidak, pikirku, tak tergantung busana. Mau pakai jilbab atau abaya yang menutup rapat seluruh tubuh wanita, kalau galak ya galak saja. Tak ada hubungan korelatif antara jilbab, rok, dan galak.

“Kenapa putus dengan Toni?” Rita tampak enggan menjawab pertanyaanku. Sekali lagi, Rita menatapku dalam-dalam. Aku pun kikuk. Melihat aku tampak kikuk, Rita hanya tersenyum.

“Kan situ pernah bilang, cepat atau lambat aku akan jadi pacar Mas Andi!”


Ha? Duk…duk…duk …dadaku seperti meledak bekali-kali. Ucapanku yang dulu kuanggap iseng dan tak sengaja itu, ternyata dianggap serius oleh Rita.

 Inikah konsekwensi atas celotehanku yang tak sengaja itu? Atau ketaksengajaan itu muncul begitu saja sebagai ungkapan batin? Entahlah. Rita yang kini ada di hadapanku sepertinya menuntut konsekwensi atas ucapanku dulu yang tak aku sengaja.

 Aku pun ingat filsafat Jawa tentang sabda pandita ratu! Begitu sebuah ucapan atau sabda sudah keluar dari mulut, maka ia tidak bisa ditarik lagi. Sabda atau kata itu sangat mulia. Seperti ratu. Kata temanku, sutradara teater Bambang Isti Nugroho, jika kata-kata sudah keluar, ia seperti pedang yang sudah memancung realita.

Aku jelas tidak bisa menarik kata-kataku. Lagi pula, untuk apa kutarik kata-kataku, wong aku juga suka dengan Rita. Aku tahu meski pun lahir di Cikini, Jakarta, Rita masih berdarah Jawa. Rita pernah bercerita kalau ibunya orang Magelang, ayahnya orang Solo. Jadi, seandainya aku jodoh dengan Rita, maka perjodohan itu masih berada di koridor cita-citaku yang ingin punya istri orang Jawa. Sedangkan Silvi, meski berjilbab, dia asli Betawi. Sama sekali tidak punya darah Jawa.


“Mas Andi, tolong antar aku ke rumah. Naik motorku. Aku takut sendirian. Banyak kilat dan petir,” kata Rita tanpa ragu kalau aku akan menolaknya. Ia tampaknya tahu rasa batinku karena melihat gestur tubuhku selama ini ketika mendekatinya. Pastinya, Rita tahu kalau aku juga suka.

“Tapi ini kan masih hujan Rita. Tunggu dulu hujan berhenti. Kalau jam 16.30 hujan belum mandeg juga, aku antar kamu ke rumah.”


“Terimakasih Mas Andi.”


Ternyata hujan belum berhenti juga ketika jarum jam menunjukkan waktu 16.30. Sabda pandita ratu. Berarti aku harus mengantar Rita pulang. Tak peduli hujan masih mengguyur bumi.


“Mas ini aku bawa dua jas hujan. Mas Andi pakai jas hujan warna ungu. Lebih besar ukurannya. Aku yang warna hitam.”

Rita memakaikan jas hujan biru ke tubuhku karena aku tak bisa pakai sendiri, banyak talinya.


Motor Suzuki bebek warna hitam pun menyeruak hujan yang belum berhenti. Tanpa canggung Rita memegang bahuku agar tidak mudah jatuh karena guncangan jalan. Aku biarkan saja tangan Rita memegang bahuku.


“Mas boleh memgang pinggang? Aku takut jatuh. Jalan setelah lapangan terbang Pondok Cabe ini rusak berat,” kata Rita.


“Gak apa-apa. Yang penting kamu aman. Tapi tolong tunjukkan arah jalan. Aku baru sekali lewat jalan ini,” pintaku pada Rita.


Tanpa terasa, motor sudah sampai di rumah orang tua Rita. Rumahnya cukup besar. Kontur tanahnya turun naik. Rumah itu dibuat berundak. Di bagian atas, ada dua kamar. Kamar orang tua Rita dan kamar Rita sendiri. Di kontur bawah, ada tiga kamar. Kamar adik-adiknya Rita. Ruang makan dan dapur ada di bagian bawah.


“Bu..Bu.. aku minta antar Mas Andi untuk pulang. Soalnya hujan tak henti-henti. Kalau tunggu hujan berhenti bisa sampai malam di kantor,” kata Rita pada ibunya yang sudah menunggu putri sulungnya sejak jam lima sore. Rita biasanya sampai rumah jam lima. Tapi kali itu, jam lima petang belum datang. Makanya, ibunya nunggu kepulangan Rita di teras.
“Terimakasih Mas Andi, mau antarkan Rita pulang,.” Kata ibunya Rita, Bu Rusmiati, yang bersuara agak serak sambil tersenyum. Ia pun mempersilahkan aku masuk ke rumahnya.

Malam itu, ibunya Rita menghidangkan menu istimewa. Ayam dan ikan bakar bumbu kecap. Kebetulan sekali,aku sangat menyukai menu tersebut. Entah tahu dari mana Bu Rus kalau aku suka ayam dan ikan bakar bumbu kecap tersebut. Malam itu, aku makan bersama dengan keluarga Rita. Pak Sunarto, bapaknya Rita ikut menemani makan bersama. Padahal biasanya, kata Bu Rus – panggilan akrab Bu Rusmiati – Pak Sunarto lebih suka mendengar musik dandang gula ketimbang makan bersama anak-anaknya.


“Bapak, Mas Andi ini ngefans sama Agung Sedayu lo,” kata Rita tersenyum manja pada bapaknya. Rita memang anak kesayangan bapaknya.


Pak Sunarto langsung penasaran. Mungkin Pak Sunarto heran ada anak muda ngefans sama Agung Sedayu. Padahal, Agung Sedayu hanya tokoh khayalan dalam cerita bersambung “Api di Bukit Manoreh” karya SH Mintardja. Aku pernah cerita tentang kesaktian Agung Sedayu dalam cerbung itu di kantor. Rita saat itu ikut mendengarkan ceritaku.


“Bener Mas Andi suka Agung Sedayu? Mas Andi, sudah berapa banyak membaca buku-buku karya SH Mintardja?” Tampaknya Pak Sunarto langsung menganggap aku mengenal betul karya-karya fiksi baratayudha ala Jawa dari SH Minteradja itu.


“Baru buku ke-30 Pak Narto, ” jawabku pendek.
Pak Narto pun langsung semangat bercerita tentang novel super panjang Api Di Bukit Manoreh karya SH Mintardja itu. Pak Narto mengaku punya koleksi ratusan buku SH Mintardja yang bercerita tentang babad tanah Jawa tersebut lengkap dengan kisah perang dan kesaktian para ksatria dan raja-raja Jawa. Aku sendiri, akrab dengan nama Agung Sedayu setelah rajin membaca cerbung Api Di Bukit Manoreh yang dimuat tiap hari di Harian Kedaulatan Rakyat, Yogya.

“Aku mendapatkan jodoh Ibu Rus di Bukit Manoreh,” seloroh Pak Sunarto sambil melirik ibunya Rita. Pak Narto berkisah, ia sengaja mencari gadis asal Bukit Manoreh, Magelang, untuk menjadi istrinya. Tujuannya agar kecintaannya terhadap kisah babad Jawa itu tidak luntur. Yang dilirik, Bu Rus, hanya senyum-senyum saja. Saking kagumnya pada cerita-cerita babad Jawa, Pak Sunarto memberi nama anak-anaknya dengan nama Jawa asli yang natural.

 Anak pertama, Rita Sunarto, sebetulnya nama kecilnya, Wulan Sunarto. Nama Wulan diganti ketika Rita masuk SD karena di Percik (Perguruan Cikini), Menteng, sudah ada lima anak perempuan yang namanya Wulan. Meski demikian, Pak Narto kalau di rumah selalu memanggil Rita dengan nama Wulan. Pak Narto ingin Wulan menjadi wanita yang selalu menerangi malam. Wulan itu menerangi alam, tapi tidak panas. Wulan sangat bermanfaat untuk manusia.

 Anak kedua, pria, namanya Gunung. Gunung itu tegak, kuat, dan mampu menyuburkan tanah sekitarnya. Anak ketiga, pria, namanya Bayu. Bayu itu artinya angin. Angin itu bertenaga besar dan cerdik, tak bisa ditangkap manusia. Dan anak keempat, perempuan, Getih. Atau Darah. Nama panjangnya Getih Indra. Bayangkan, Darah Indra. Indra adalah nama dewa yang sangat dihormati di jagat pewayangan .Semua nama itu unik, catching, dan enak di kuping. Kupikir Pak Narto ini orang yang romantis. Aku suka dengan nama anak-anaknya yang natural Jawa.

 Malam itu, Pak Narto bangga menjelaskan makna nama-nama empat anaknya yang eksotik tersebut kepadaku.
“Mas Andi tidur di sini aja ya,” kata Bu Rus.

“Kebetulan ada kamar kosong. Itu kamarnya Bayu. Malam ini, Bayu akan pergi ke kampus. Mempersiapkan malam kesenian untuk besok,” ujar Bu Rus membujuk aku untuk tidur di rumahnya. Rita sendiri tidur sekamar dengan adik perempuannya, Getih, di ruang atas.

 
Aku pun mengangguk. Tawaran tidur di rumah Rita aku terima. Bukan apa-apa, daripada capek pulang dan kehujanan lagi. Di samping itu, aku juga sudah kedinginan, karena sejam lebih perjalanan mengantar Rita dari kantor.

Jam 10 malam rumah sudah sepi. Tapi aku belum bisa memejamkan mata. Rasanya aneh, kok aku tiba-tiba bermalam di rumah Rita. Baru sekali itu aku bermalam di rumah seorang perempuan sendirian di tengah keluarganya.

Dari pada tidak bisa merem, aku pun duduk di meja makan yang tak jauh dari kamar tidur. Tanpa kuduga, ketika sedang asyik melamun, Rita datang ke meja makan sambil membawa secangkir wedang jahe hangat.


“Mas Andi kedinginan ‘kan? Ini aku buatkan wedang jahe, agar hangat,” kata Rita menyorongkan gelas ke hadapanku. Ketika menyorongkan gelas, tangannya menjulur dan rambutnya menjurai, menyentuh leherku. Harum baunya. Aku langsung terkesiap. Tanpa sengaja, aku menangkap tangan Rita.


“Rita, makasih ya wedang jahenya.” Kataku sambil memegang tangan gadis hitam manis itu. Ia diam, meski tangannya kupegang. Aku dan Rita saling menatap. Jantungku bergetar. Rita membisu seribu bahasa. Hanya nafasnya yang terasa menyentuh kulitku. Tubuhku yang dingin tiba-tiba menghangat. Dan, cicak-cicak di dinding pun kemudian menyanyi mengiringi suara jangkrik yang sejak tadi berderik-derik. Malam itu berubah menjadi malam yang sangat indah, penuh nyanyian alam yang menawan.

 Rintik-rintik hujan turut menyaksikan indahnya malam itu.
Rita tersenyum. Aku juga tersenyum. Aku mengelus-elus hidung Rita yang mungil, yang baru saja bersinggungan dengan hidungku.

“Kok bisa ya kita seperti ini,” kataku pada Rita.

“Ya, itu bisa terjadi karena ada tarik menarik. Seperti tarikan proton pada elektron,” ungkap Rita.


“Aku tahu kok, Mas Andi naksir aku. Makanya Mas Andi menarik aku tadi.”


“Bukan aku yang menarik tadi. Tapi elektron yang meluncur mendekati proton!”


“Ah gak usah pura-pura Mas. Aku uda tahu kok sejak aku masuk kantor, Mas Andi uda lirak lirik aku!”


“Alah, siapa bilang, itu prasangka kamu aja Rita,” candaku sambil senyum.


“Ah jangan bohong, buktinya sekarang?,” kata Rita sambil memicingkan mata.


Aku pun tersenyum. Rita sekali lagi mendekatkan wajahnya ke pundakku. Rambutnya yang harum terasa merambat di daguku.


Aku  diam. Inikah cinta kilat itu? Sudahlah, mau cinta kilat atau cinta keong, yang jelas peristiwa ini sudah terjadi. Aku sekantor dengan Rita . Dan berpacaran sekantor memang akan rawan gossip. Aku harus mempersiapkan mental jika besok paginya, ketika ke kantor bersama Rita, akan banyak teman kantor yang usil.

“Mas Andi, besok pagi harus berangkat cepat. Jumat harus olahraga!,” kata Rita

“Oke!” (Bersambung nanti)

############################################

  • view 199