PPP, Puisi, dan Romi

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Politik
dipublikasikan 17 November 2017
PPP,  Puisi, dan Romi

PPP,  Puisi, dan Romi

 Oleh Syaefudin Simon

 

PPP,

Partai Berbasis Agama

Berparadigma Tengah

Sejak '73 jika tidak salah.

P3 sebagai partai berbasis agama.

Berparadigma dan bervisi tengah.

Tetap berkomitmen dengan akidah dan syari'ah.

Tetapi setia kepada Negara Republik Indonesia.

Lambang Ka'bah hasil istikhara Kiyai tua

Mbah Bisri waktu umrah di kota Makkah.

 

Partai islami

Dengan ketua Gus Romi.

Bisa gerakkan bidang ekonomi.

Punya terobosan dengan usaha sendiri.

Bisa kembangkan dengan model KOPERASI SYAR'I.

Menjadi lembaga penguatan masyarakat dengan murni.

 

Bisa saja.

Kedepan partai P3.

Siapkan menjadi kepala Negara.

Dengan konsep diterima siapa saja.

Semua komponen dengan bhinneka tunggal Eka.

Menyiapkan dengan berbagai cara dan metoda.

Berprilaku dengan etika dan taat beragama.

Membela semua kepentingan nusa dan bangsa.

 

Sejak dini.

Siapkan kader dengan prestasi.

Cegah konflik dan jangan disintegrasi.

Mereka yang tidak setuju jangan ngriwui.

Biarlah Gus Romy bisa menata partai.

Dengan mudah dan selalu bersandar pada ilahi.

 

Selamat.

Para peserta.

Semoga bergema.

Partai berparadigma.

 

Indah. Menarik. Itulah puisi karya 'Abd Al Haris Al Muhasibiy, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.  Jarang sekali seorang rektor dan akademisi  membuat puisi dengan pilihan kata yang sangat  indah  tanpa mengorbankan makna. Apalagi puisi ini menyangkut sebuah partai, yag niscaya bernuansa politik. Tapi di tangan Al Muhasibiy, nuansa politik puisi ini lebur dalam jalinan kata yang menyejukkan jiwa.

Mungkin akan banyak orang bertanya, kenapa puisi berpihak pada partai? Atau, kenapa puisi bersentuhan dengan politik? Bukankah puisi adalah suara hati untuk religi, spiritualiti, dan humaniti? John F Kennedy menjawabnya: Jika saja para politisi lebih banyak membaca puisi dan para penyair lebih peduli politik, kita akan hidup dalam dunia yang lebih baik. Berangkat dari harapan Kennedy itulah, kita perlu mengapresiasi puisi karya Al-Muhasibiy. Sebuah puisi peduli politik yang akan membuat hidup lebih baik.

 Puisi adalah kalimat-kalimat yang keluar dari  para  nabi. Puisi adalah bahasa kitab suci. Kata Emha Ainun Najib, Qur'an adalah kumpulan puisi suci dari Tuhan Semesta untuk pedoman umat manusia. Begitu puitisnya Qur'an, lanjut Emha, sehingga tiap kalimat, kata, bahkan huruf merupakan puisi itu sendiri.

Ibnul Arabi dan Jalaludin Rumi, misalnya, melalui puisi-puisinya, mampu menembus batas sekat-sekat primordialisme suku, etnis, bahkan agama.  Melalui puisi, Ibnul Arabi mengaku menemukan Tuhan di segala renik, titik, dan atom yang mengisi  cakrawala. Juga Rumi, dengan puisinya, mengaku menemukan Tuhan dalam kata Cinta. Bagi Rumi, Tuhan adalah Sang Maha Cinta. Karena itu, cinta bagi Rumi adalah energi maha dahsyat yang jauh melebihi energi fisi dan fusi nuklir. Kekuatan cinta Maha Cinta inilah yang kemudian termanifestasikan dalam alam semesta. Dan di alam semesta inilah fungsi kekhalifahan manusia terjelma. Itulah sebabnya kenapa Allah menyatakan ciptaan terbaikNya adalah manusia. Karena Allah hendak mewakilkan diriNya di alam semesta kepada manusia. Manusia adalah khalifatullah di muka bumi dan di alam semesta ini.

Kita tahu tugas seorang khalifah adalah memelihara bumi  (planet kecil di   alam semesta) agar baik, teratur, terpelihara, dan semua penghuninya hidup damai dan sejahtera. Untuk itulah, seorang khalifah harus mampu memimpin umat manusia. Dan untuk bisa memimpin umat, seorang khalifah harus punya kekuasaan untuk menjalankan amanat rakyat. Sedangkan untuk punya kekuasaan, dalam sistem politik modern, harus punya kendaraan politik. Itulah makna politik prospektif dan konstruktif  dalam paradigma kekhalifahan. 

Sistem kekhalifahan atau sistem pemerintahan zaman Khulafaur Rasyidin – menurut Dr Abdul Aziz dalam disertasinya yang berjudul “Islam dan Pembentukan Negara: Studi tentang Proses Pembentukan Negara di Madinah Masa Rasulullah dan al-Khulafa al-Rasyidun” adalah embrio sistem kenegaraan modern. Bentuknya masih sederhana karena belum ada diferensiasi dan pembagian tugas kenegaraan yang independen. Semuanya masih bertumpu pada khalifah. Abdul Aziz mengistilahkan sistem kenegaraan zaman Rasul dan Khalifah Empat tersebut sebagai “Chiefdom”.

Chiefdom adalah sistem pemerintahan yang berpusat pada kepemimpinan pribadi. Namun demikian, saat itu, sistem kenegaraan chiefdom masih lebih baik ketimbang sistem kerajaan di Timur Tengah dan Eropa. Ini  karena, untuk Islam, sudah ada panduan kitab suci Alqur’an yang memihak kaum lemah dan miskin. Abdul Azis menyatakan sistem kekhalifahaan yang chiefdomship itu, kini sudah berkembang sedemikian rupa, dan mengalami transformasi sehingga terbentuk kerajaan konstitusional dan demokrasi. Ini artinya, negara demokrasi seperti Indonesia, adalah pengembangan dari sistem kekhalifahan yang chiefdomship tersebut. Kalau ada sekelompok orang atau organisasi hendak mengembalikan sistem demokrsai kepada sistem kekhalifahaan zaman Rasul, itu artinya, ia berpikir setback. Mundur ke belakang. Islam sebagai agama yang dinamis dan progresif tentu tidak kompatibel dengan pemikiran yang setback tersebut.

 Dalam konteks inilah, Romahurmuziy (Romi) dalam bukunya “Islam Rahmatan Lil’alamain” menyatakan, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin mempunyai seperangkat prinsip dan nilai-nilai tentang kehidupan  bermasyarakat, termasuk sistem pemerintahan. Sebagai agama rahmat, tulis Romahurmuziy, Islam tidak bicara bentuk-bentuk pemerintahan secara detail. Tapi Islam berperan sebagai panduan nilai,  moral, dan etika dalam bentuk yang global.  Dengan demikian sistem kenegaraan dalam Islam sangat fleksibel, asalkan tujuannya baik sesuai pesan-pesan Tuhan.  Negara dalam Islam tujuannya: menciptakan tatanan kehidupan  bermasyarakat yang damai, adil, dan berperadaban.

 Dari perspektif inilah puisi berjudul PPP karya  Al-Muhasibiy menjadi menarik. Puisi ini berpijak di bumi politik Indonesia, sehingga siapa pun bisa memahami maksud sang penyair. Bukan puisi yang sekadar mempermainkan fonem,  kata, atau bunyi huruf seperti  puisi-puisi karya Sutardji Calzoem Bachri.

Dalam puisi berjudul PPP ini, Al-Muhasibiy tampaknya sedang menantang “puisi-puisi” modern yang makin terasing dengan publiknya. Betul, menurut John Barr dalam tulisannya “American Poetry in New Century” – puisi-puisi modern saat ini memang terasing dengan ruang publiknya. Penyair hanya berasyik ma’syuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya “bergumul dengan dunianya” tanpa peduli persoalan-persoalan yang hangat di tengah publik. Kata John Barr: “Poetry is nearly absent from public life, and poets too often write with only other poets in mind, failing to write for a greater public”.

 Dari aspek inilah, saya apresiatif terhadap puisi PPP Al-Muhasibiy. Dalam puisi ini, sang rektor mengingatkan umat  bahwa  ada partai berbasis agama; berparadigma tengah (moderat), dan  dibentuk para ulama untuk menegakkan NKRI yang masyarakatnya bhinneka tungggal ika (plural) di tengah rakyat Indonesia. Partai itu bernama Partai Persatuan Pembangunan. Disingkat PPP.

 Jarang penyair sekarang menulis   puisi ril seperti Al-Muhasibiy. Tapi cobalah lihat bagaimana penyair legendaris  masa lalu seperti Chairil Anwar, WS Rendra, dan Wiji Thukul. Chairil dengan puisi “Aku Binatang Jalang” nya berhasil memompa perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dari  penjajahan Jepang. Sementara Rendra dengan puisi-puisi pamfletnya berhasil menggelorakan semangat perlawanan terhadap rejim otoriter saat itu. Dan, Thukul dengan puisi “Hanya satu kata: Lawan” berhasil membuat icon perlawanan terhadap kekejaman penguasa era Orde Baru.  Semua itu menunjukkan kedahsyatan pengaruh puisi genre politik di ranah publik. Itulah signifikansi puisi PPP karya Al-Muhasibiy di atas.

 Dalam berbagai kesempatan, Romahurmuziy atau Gus Romi, ketum partai berlambang ka’bah itu, menyatakan PPP adalah rumah besar umat Islam. Ini artinya, PPP  adalah partai berjiwa besar dan berpandangan jauh ke depan yang memberi tempat kepada umat Islam yang berpikir moderat, pluralis, nasionalis, dan modernis. Tak ada tempat untuk kaum anarkis, ekstrimis, dan radikalis di PPP. Dengan paradigma seperti itu, Insya Allah, PPP akan mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. Semoga!

 

 

 

  • view 440