Tanpa “Pak”, Guru Tersinggung. Lalu Plak!

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Budaya
dipublikasikan 07 November 2017
Tanpa “Pak”,  Guru Tersinggung.  Lalu Plak!



Tanpa “Pak”,  Guru Tersinggung.  Lalu  Plak!

 Syaefudin Simon

Independent Journalist/Tenaga Ahli Fraksi PPP DPR RI

 

Kepolisian Babel mengirimkan bantahan kasus kekerasan guru terhadap murid yang terjadi di sebuah SMP Pangkalpinang ke link FB-ku . Bantahan itu termuat dalam link warganet yang sharing tulisankuFB-ku  tadi kemarin (6/11). Luar biasa komunikasi di medsos. Cepat sekali, langsung viral ke mana-mana.

 Humas kepolisian Babel menyatakan,  video pemukulan yang viral itu palsu. Tapi Pak Polisi mengakui memang pernah terjadi kekerasan di SMP itu. Tapi masalahnya sudah clear. Sudah ada  perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa. Meski demikian, kasus pemukulan itu – walau tidak sedahsyat di video – memang pernah ada. Akibat kasus SMP Pangkalpinang itu, hari-hari ini  masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan pentingnya komunikasi yang baik di antara sesama. 

Kasus  Pangkalpinang sebenarnya sepele penyebabnya. Murid memanggil gurunya tanpa "Pak".  Lalu plak, memukul sang murid.  Jika guru itu legowo, niscaya tak akan ada apa-apa. Paling diam, kaget. Sang murid yang melihat gurunya kaget, kemudian  merasa bersalah.  Ia pun minta maaf kepada gurunya. Dalam hati, sang murid berjanji tak akan mengulang lagi perbuatannya. Selesai bukan?

Selesai!  Itu kalau kondisi normal. Tapi saat ini kondisi masyarakat Indonesia – maaf – abnormal.  Banyaknya ujaran kebencian atau caci maki (hate speech) di medsos seperti WA, FB, Instagram, dan lain-lain -- menjadikan ‘atmosfir sosial’  mudah terguncang.   

Saat ini hate speech tidak saja menyasar pada dunia politik, tapi juga ribadi, institusi, pimpinan negara, bahkan agama. Di WA dan FB, misalnya, beredar rekaman hate speech tokoh-tokoh agama untuk menghina tokoh-tokoh agama yang lain. Hate speech sudah menjadi penyakit yang menakutkan yang bisa mempengaruhi generasi muda.
 Presiden Jokowi pernah mengingatkan pengguna medsos untuk tidak mengumbar hate speech. Presiden minta agar pengguna medsos memakai bahasa yang sopan. Dengan bahasa yang sopan, hubungan persahabatan dan kekeluargaan akan tumbuh.

Menulis dan berkata sopan memang perlu dipelajari dan dibiasakan. Khusus bagi anak-anak, sopan santun adalah pelajaran yang harus diberikan kepada anak-anak di rumah. Di sekolah, pelajaran sopan santun kurang diperhatikan karena guru dan murid hubungannya kaku dan  formal. Bila pun sopan santun diterapkan, biasanya berjalan searah, dari murid kepada guru. Padahal, mestinya dari guru kepada murid agar menjadi teladan.  Lalu, murid-murid pun akan meniru keteladanan guru. Bila sudah terbiasa, sikap sopan santun akan menjadi perilaku sehari-hari.

 Ada kisah menarik di Magelang. Tahun 1980-an, ada sebuah sekolah menengah yang murid-muridnya sering berbuat onar. Sekolah punya ide bagus untuk menghentikan keonaran tersebut. Caranya, mengharuskan murid  dan guru  berbahasa kromo inggil kalau berada dalam lingkungan sekolah. Hasilnya ternyata efektif. Keonaran tadi berhenti dengan sendirinya. La, mana mungkin ngajak berantem dengan bahasa krama inggil?  

Bahasa adalah cermin jiwa. Orang yang jiwanya bersih dan halus,  maka bicaranya juga memakai kata yang  bersih dan halus pula. Penuh etika dan sopan santun. Berbicara tanpa etika dan sopan santun hanya akan membuat suasana hati lawan bicara menjadi buruk dan tidak akan merespon pembicaraan.

Di bawah ini, Tujuh  Kiat Bicara  Baik dan Sopan.

1.    Jangan gunakan nada bicara yang tinggi
 Nada bicara yang tinggi biasanya mencermikan emosi atau kemarahan. Lawan bicara merasa seperti dimarahi atau dianggap mengalami kekurangan pendengaran. Cara ini akan mengurangi respon positif lawan bicara. Nada suara yang normal akan lebih enak didengarkan dan lebih berkenan di hati lawan bicara, terutama saat berbicara dengan atasan di tempat kerja dan orang yang lebih tua. Komunikasi akan lebih lancar dan apa yang disampaikan  akan lebih dipahami.

2.    Berpikir sebelum bicara lebih baik dari bicara sebelum berpikir.   Dengan berpikir, kita bisa menemukan kata yang lebih halus dan pas untuk mengungkapkan apa yang ingin  kita sampaikan. Kata yang lebih halus akan lebih enak didengar dan lebih mudah mendapat respon positif dari pendengar.

3.    Jangan Memotong Pembicaraan
Komunikasi yang baik adalah dua arah. Orang yang banyak bicara tanpa mau mendengarkan orang lain akan dianggap egois. Maka dari itu, berikan kesempatan orang lain untuk menyampaikan pertanyaan, komentar dan pendapat sehingga dia merasa dihargai.

4.    Tatap Mata Lawam Bicara
Menatap mata orang lain  bukan berarti memelototi. Tapi menatap dengan wajar sekali-kali. Lawan bicara akan merasa tidak dihargai jika anda melengos dan memperhatikan hal-hal  lain yang bukan fokus pembicaraan anda dengan orang itu. Menatap mata ini dianggap sebagai salah satu bentuk sopan santun dalam pergaulan.

5.     Awali Dan Tutup dengan Baik
Awali pembicaraan dengan kata Assalamualaikum atau Selamat Pagi, Selamat  Siang, Selamat Malam  atau  selamat-selamat  lain yang berasal dari kebudayaan dan agama tertentu sesuai mitra bicaranya. Kelihatannya ungkapan itu  sederhana. Tapi pegaruhnya dahsyat. Lawan bicara akan terkesan dan berhati lapang. Senang.  Suasana pun akan makin hidup dan dinamis. Jangan lupa,   ketika pembicaraan  selesai,  tutup juga dengan salam. Hasilnya, komunikasi tersebut akan berkesan mendalam. Segalanya akan menjadi enak dan mudah.  

6.    Sebut nama awalan lawan bicara
Menyebut awalan atau gelar kepada lawan bicara akan menyebabkan lawan bicara kita merasa tersanjung. Akibatnya suasana atau atmosfir pembicaraan menjadi enak, nyaman, dan saling menghormati. Di Indonesia, sebaiknyan jangan mengunakan kata ganti kamu  – tapi memakai kata “ganti” Bapak, ibu, mbak, mas atau  nama diri mereka. Dalam bahasa Inggris memang tidak lazim nama diri jadi kata ganti. Tapi itulah tata krama Indonesia.

7.    Fokus pada pembicaraan
Jangan main gadget atau main pulpen ketika sedang berbicara dengan orang lain. Lawan bicara anda akan merasa disepelekan. Anda harus fokus pada pembicaraan itu. Sesekali mengeluarkan   humor itu baik untuk menghilangkan ketegangan dan kejenuhan. Tapi kemudian, fokuslah lagi pada inti pembicaraan.

Itulah tujuh contoh strategi  berbicara kepada orang lain dalam rangka menjaga sopan santun. Semua itu, tentu saja, harus dibarengi dengan kata-kata yang sopan dan pitutur yang lemah lembut. Jika anda marah, misalnya, jangan pernah menghina orang yang anda  marahi. Cukup anda tunjukkan kemarahanmu dengan simbol-simbol tertentu yang tak melukai hati. Kalau bisa, telan saja kemarahan itu, sehingga rona kemarahannya akan hilang.  Hindari hate speech sebisa mungkin. Karena hate speech akan melukai hati lawan bicara.

  • view 273