Musik, Lagu, dan Alunan Nada Qur'an

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 02 November 2017
Musik, Lagu, dan Alunan Nada Qur'an


Musik, Lagu, dan Alunan Nada Qur'an

 Oleh Syaefudin Simon

Tenaga Ahli Fraksi PPP DPR RI/Freelance Columnist

 

        Islam itu indah. Islam itu damai. Seorang yang beriman dan berilmu niscaya hidupnya akan indah dan damai. Bagi seorang muslim, jalan ke surga itu indah dan damai. Bukan sebaliknya.

        Nabi Muhammad, misalnya, adalah sosok yang selalu menunjukkan wajah yang tenang, senyum, dan damai. Sikap Rasul yang indah itulah yang membuat banyak sahabatnya merasa nyaman berada di samping beliau.

         KH Ahmad Dahlan adalah seorang yang wajahnya teduh dan damai. Pendiri Muhammadiyah itu dalam dakwahnya selalu mengedepankan kemaslahatan, kesejahteraan, dan kedamaian umat. Suatu ketika, Kyai Dahlan pernah ditanya santrinya tentang agama Islam.

"Kyai, yang disebut agama itu sebenarnya apa?" Tanya seorang santri kepada KH Ahmad Dahlan.

        KH Ahmad Dahlan tidak segera menjawab pertanyaan santri tadi. Malah beliau mengambil biola, kemudian menggesek alat musik favoritnya itu dengan memainkan nada-nada tembang “Asmaradhana” hingga membuat para santrinya terbuai. Permainan biola Kyai Dahlan memang terkenal lembut dan indah.

      Lalu beliau bertanya, " Apa yang kalian rasakan setelah mendengar musik tadi ?"

      "Aku rasakan keindahan, Kyai," jawab Daniel, salah seorang santrinya.

        "Seperti mimpi rasanya," sambung Sangidu, santri yang lain.

"Semua persoalan seperti mendadak hilang. Tentram," tambah Jazuli, salah seorang santrinya yang cerdas

"Damai sekali," tukas Hisman, santrinya yang rajin ibadah.

" Nah, itulah agama" Jawab KH Ahmad Dahlan.

        "Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tenteram, damai karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Indah dan damai. Mengayomi dan menyelimuti."

Setelah itu salah seorang santrinya, Hisman mencoba biola tersebut, dan menghasilkan suara “menderit”. Bikin pusing pendengarnya.

       "Wah, kenapa suaranya berantakan?" tanya Hisman sambil tersipu malu kepada Kyai Dahlan.

        "Nah, begitu juga agama. Jika kita tak mempelajarinya dengan baik, maka agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu," jawab beliau.

        "Oooo begitu. Jadi untuk bisa beragama dengan baik itu, kita tidak boleh ikut-ikutan. Kita harus mengerti ilmunya juga. Seperti tadi, hanya karena melihat Kyai bermain biola, jangan langsung berpikir bahwa kita juga pasti bisa main biola." tambah Jazuli.

"Kesimpulan yg bagus," jawab Kyai Dahlan..

"Ada kesimpulan lain?"

"Dalam beragama, kita tidak bisa hanya mengandalkan keinginan, hanya merasa bahwa keinginan itu baik. Misalnya, tadi saya merasa punya keinginan baik untuk bermain biola, tapi ternyata keinginan saya malah mengganggu saya dan orang lain," ujar Hisman.

Kesimpulan yang jeli! – kata Kyai Dahlan.

“Terima kasih Kyai. Kini kami bisa merasakan apa itu agama,” ungkap santri-santrinya berbarengan.

Semoga dengan menjalani agama yang kita imani, kita mampu menghormati orang lain dan membawa kedamaian dalam hidup bersama. Aamiin.

***

 Perumpamaan agama dan musik Kyai Dahlan tersebut sangat mengena. Seorang komponis, misalnya, mampu memadukan bunyi setiap alat musik hingga menjadi sebuah orkestra. Dengan komposisi nada dan irama tertentu, para musisi mampu memainkan alat-alat musik secara bersamaan mengikuti arahan conductor sehingga membentuk orkestra yang indah di telinga. Orkestra ini demikian menggugah sehingga penonton merasa “trans” menikmati kesahduan musiknya.

Lagu Tombo Ati-nya Sunan Bonang yang dilantunkan kembali oleh Opick dengan musiknya yang syahdu (sebelumnya dilantunkan Emha Ainun Najib dengan orkestra Jawa campur sari Kyai Kanjeng), misalnya, menggugah jutaan pendengarnya. Tengah malam, saya sering mojok, mendengarkan lagu Tombo Ati untuk menyadarkan keresahan jiwa yang terkotori gemerlap materialisme kota metropolitan. Juga lagu Tuhan-nya Bimbo juga sering saya dengar dari Youtube jika sedang sendirian di kantor atau rumah. Dua lagu tersebut seperti air sejuk di tengah dahaga yang mendera musafir di tengah padang pasir.

Ketika Nabi Muhammad tiba di Yatsrib (Madinah) setelah berhari-hari berjalan dari Mekah, sahabat-sahabat Anshar yang telah menunggunya menyambut kedatangan Rasul dengan menyanyikan lagu ‘Thala’al Badru Alaina’ dengan alunan musik padang pasir yang indah. Lagu sambutan penduduk Yatsrib atas kedatangan Rasul setelah perjalanan hijrah yang melelahkan itu sampai sekarang masih sering dinyanyikan kaum muslimin di acara-acara tertentu seperti maulidan dan perayaan awal Muharam. Jika kita mendengarkan lagu tersebut sambil membayangkan betapa susahnya Rasul dan para sahabatnya melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, hati rasanya teriris-iris, lalu menangis melihat sambutan bahagia sahabat Anshar terhadap kedatangan junjungan Kanjeng Nabi tersebut.

Rasul sangat menyukai musik. Banyak sekali riwayat dalam hadist yang menjelaskan, betapa Rasul suka mendengarkan musik dan lagu. Tentu musik dan lagu yang mengademkan jiwa di kala gersang dan mengajak pendengarnya mendekatkan diri kepada Allah.

Musik dan lagu ibaratnya seperti sepasang kekasih. Musik menjiwai lagu. Dan lagu menjiwai musik. Bagi komposer besar seperti Johann Sebastian Bach, kehidupan adalah musik itu sendiri. Karena itu, hidup tanpa musik adalah hampa. Sepi dan mati.

Konon, nada-nada yang menyertai pergerakan alam – kalau kita mampu mendengarnya – adalah musik terindah di jagad raya. Lagunya adalah ayat-ayat suci yang diwahyukan Tuhan kepada manusia dalam bentuk mushaf maupun ayat-ayat suci dalam bentuk fenomena alam. Hanya orang-orang suci yang mampu mendengar musik dan lagu alam tersebut.

Itulah sebabnya, para wali dan empu ketika hendak membuat nada-nada gamelan, melakukan tirakat – menyepi dan uzlah – agar keselaran nada yang tercipta kompatibel dengan nada-nada alam. Nada-nada dalam gamelan Jawa, misalnya, adalah karya para wali setelah melakukan ‘tapa brata’ agar musik yang terbentuk mampu menggetarkan jiwa. Lagu Tombo Ati-nya Wali Songo, misalnya, tak mungkin tercipta tanpa ‘peleburan jiwa’ Sunan Bonang terhadap makna lagu dan nada yang mengiringinya.

Lantunan ayat-ayat Qur’an hakikatnya adalah nada-nada musik Langit. Jika orang yang menjiwai ayat-ayat Qur’an melantunkan firman Tuhan tersebut, yang terdengar di telinga bukan hanya makna di balik ayat-ayat suci, tapi juga getaran nada-nada indah yang mengiringinya. Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan imam salat harus orang yang paling bagus bacaan Qur’annya. Rasul juga meminta umatnya membaca Qur’an bila menjenguk orang Islam yang sedang sakaratul maut. Dengan demikian, bila ruh itu pergi meninggalkan jasad si mayat, kepergiannya  diiringi musik yang indah penuh makna – yaitu ayat-ayat Qur’an.

Alunan ayat-ayat suci Alqur’an jika dilantunkan seorang qori yang suaranya bagus, tartil, dan tajwidnya benar, tak ubahnya seperti alunan nada suara yang sangat indah dan menggetarkan jiwa. Tanpa mengetahui maknanya sekali pun, ayat-ayat Qur’an yang dibaca qori yang suaranya indah dan lembut mampu menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Dalam konteks inilah, kemukjizatan Alqur’an not only maknanya semata; tapi juga getaran-getaran nada dari tenunan ayat-ayatnya. Itulah hakikat mu’jizat Alquran yang paripurna.

Alqur’an yang berisi firman-firman Ilahi, dari perspektif seni hakikatnya adalah nada-nada musik yang terangkum dalam untaian huruf-huruf wahyu yang berasal dari Sang Komposer Maha Agung. Untaian huruf-huruf itu tidak hanya mengandung makna dari tenunan kata yang tercipta, tapi juga mengandung nada-nada Ilahiah.

         Dalam sebuah diskusi tentang mu’jizat Alqur’an, Emha Ainun Najib menyatakan banyak sekali aspek mu’jizat Alquran; bukan hanya makna dan tafsir dari kalimat-kalimatnya, tapi juga keindahan kalimat-kalimat, kata-kata, dan bahkan huruf-hurufnya. 

 Sebuah huruf tunggal seperti Nun dalam Surat Al-Qolam, misalnya, menjadi awal sebuah surat.  Adakah makna sebuah huruf tunggal sehingga tertulis dalam kitab suci? Ini jelas sebuah misteri, baik secara maknawi maupun sastrawi.

 “Bayangkan saja, kalimat-kalimat Qur’an yang menggambarkan kemarahan Allah kepada Abu Lahab  (surat Al-Lahab)  ditulis dengan sangat puitis dan indah di dengar,” jelas Emha. Bandingkan  misalnya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut manusia ketika marah -- tambah seniman Islam serba bisa itu.

 Sedangkan dalang wayang modern, Ki Sujiwo Tejo mengaku menemukan mu’jizat Qur’an melalui pola-pola kalimatnya yang sangat artistik.

 “Saya tak mengerti tafsir Alqur’an,” kata Tejo, “Tapi saya menikmati pola-pola kalimat dalam Alqur’an,” kata penulis buku laris ‘Tuhan Maha Asyik’ itu.      

 Dari perspektif itulah, kita bisa memahami mengapa manusia tidak akan mampu membuat kalimat yang indah penuh makna seperti Alqur’an. Para penyair Arab yang sangat piawai sekali pun tak akan mampu membuat kalimat seperti ayat Alqur’an. Demikian dahsyatnya keindahan ayat Qur’an itu sehingga mampu menggetarkan jiwa orang-orang yang mendengarnya.

Dari perspektif ini kita mengerti mengapa Allah menyatakan, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat sebuah kalimat atau ayat yang serupa dengan Al-Quran, niscaya mereka tidak mampu membuatnya walau mereka saling membantu (Al-Isra 88). Dalam ayat lain, Allah juga menantang: Jika kamu tetap berada dalam keraguan terhadap Al-Quran yang Kami wahyukan kepada Muhammad, maka buatlah satu ayat saja yang seperti Al-Quran, lalu ajaklah penolong-penolong itu untuk membantumu, niscaya kamu tidak akan mampu membuatnya (Al-Baqarah 23-24).

Demikian dahsyat kandungan makna, sastra, dan nada Al-Quran. Umar Ibnul Khatab, misalnya, saat belum Islam, terkenal sebagai seorang pria yang sangat menentang Nabi dan memusuhi sahabatnya. Tapi ketika mendengar lantunan ayat Qur’an yang sedang dibaca adiknya, spontan jiwa Umar tergetar dan langsung menemui Rasul untuk mengucapkan dua kalimat syahadat; masuk Islam.

Almarhum WS Rendra, penyair garda depan Indonesia, mengaku masuk Islam karena mendengar suara adzan dan lantunan ayat-ayat Qur’an. Padahal, Rendra saat itu belum mengerti makna ayat-ayat Qur’an. Keindahan kalimat, huruf, dan nada-nada suara yang menyertai bacaan Alqur’an membuat Si Burung Merak jatuh hati pada kitab suci itu, kemudian menjadi muslim.

Kenapa orang seperti Umar dan Rendra terpesona dengan lantunan aya-ayat Qur’an? Kalau orang yang suaranya bagus, lalu membaca ayat Qur’an dengan benar, baik makhroj maupun tajwidnya, niscaya yang keluar dari mulutnya adalah lantunan suara dengan nada-nada yang indah dan menyentuh kalbu. Ada semacam frekwensi gaib dalam bacaan Qur’an yang mampu menggetarkan jiwa orang yang mendenganya. Itulah sebabnya banyak orang yang hatinya lembut langsung tergetar jiwanya setelah mendengar lantuan ayat-ayat Qur’an. Seperti Sayyidina Umar dan WS Rendra tadi.

Betapa sucinya ayat-ayat Qur’an itu, sampai-sampai guru ngaji di Tegalgubug dulu, terkenal rewel dan galak kalau mengajar bacaan tilawah Qu’an. Untuk membunyikan huruf Syin dan Shad saja, sulitnya minta ampun. Ini karena, kata Ustad Abdul Ghani, desis angin yang keluar dari mulut untuk mengucapkan huruf shin dan shad berbeda. Untuk membedakannya, sang ustad menyalakan lampu lilin. Kemudian si murid disuruh membaca huruf shin atau shad di depan lilin. Jika liukan nyala lilin itu sama, berarti salah. Seharusnya ada perbedaan liukan nyala lilin dengan sudut kemiringan tertentu untuk bunyi huruf shin dan shad. Begitu juga huruf tho dan dho; ta dan tsa;  kha dan kho; dal dan dzal;  dan lain sebagainya. Sampai sebegitunya!

Apa yang ditunjukkan guru ngaji Quran itu, jelas sekali terkait dengan nada huruf-huruf Qur’an – bukan maknanya. Lebih unik lagi, AlQur’an pun menyimpan misteri paduan nada dan makna dalam ayat yang terdiri atas hanya satu huruf tunggal. Seperti ayat huruf tunggal di awal surat Shad (Shad), Surat Qof (Qof) dan Surat Al Qalam (Nun).

Apa makna huruf tunggal tersebut? Itu misteri sepanjang zaman. Seorang da’i Muhammadiyah yang juga Guru Besar Sejarah Unpad, Bandung Prof. Mansur Suryanegara menyatakan, dalam huruf Shad, Qof, dan Nun yang menjadi ayat pertama dalam surat-surat tersebut, pasti mengandung mu’jizat besar. Makanya, kata Prof Mansyur, bacalah ayat-ayat pendek sangat sederhana itu kalau anda tak sempat membaca surat agak panjang seperti Yaasin atau Al-Waqiah ketika punya urusan dan sibuk kerja. Tujuannya agar anda tetap berada dalam naungan mukjizat Allah. Kenapa? Karena tiap huruf dalam Alqur’an dijaga oleh para malaikat. Apalagi ‘huruf singel’ itu menjadi pengawal surat dalam Al-Qur’an.

 Taufik Ismail, pembuat lirik lagu-lagu puitis Bimbo, pernah menceritakan pengalamannya ketika penyanyi Chrisye minta dibuatkan lirik lagu religi.

 Suatu ketika, kata Taufik, Chrisye minta saya menuliskan lirik lagu religi yang tengah dibuat notnya. Taufik menyanggupinya, tapi minta waktu sebulan. Ternyata, tutur Taufik, minggu pertama macet, tidak ada ide. Minggu kedua macet. Minggu ketiga macet lagi. Sampai menjelang hari terakhir, juga masih macet, tidak ada ide. Taufiq gelisah dan berniat menelponnya: “Chris maaf, macet!”

Di malam deadline, Taufiq mengaji Qur’an. Ketika sampai pada ayat 65 surat Yaasiin, ia tertegun; membaca Qur’annya terhenti. Kenapa? Karena di ayat itu ada kisah “Hari Pengadilan Akhir”. Kisahnya sangat dahsyat, kata Taufik. Dia pun segera memindahkan pesan ayat itu ke dalam lirik lagu untuk Chrisye.

Ketika pita rekaman lagu itu sudah di tangan Chrisye, terjadi hal yang tidak biasa. Saat berlatih di kamar, baru menyanyi dua baris lirik lagu, Chrisye menangis; Chrisye mencoba lagi, menangis lagi. Dan begitu seterusnya, berkali-kali.

 Menurut Chrisye, lirik yang dibuat Taufik adalah satu-satunya lirik lagu paling dahsyat sepanjang karir menyanyinya. Ada kekuatan magis yang mencekam dan menggetarkan pada bait-bait lagu (yang ditulis putra Kyai Gafar Ismail dari Pekalongan) itu. Setiap menyanyi dua baris lirik, air mata Chrisye tak terbendung. Yanti, istri Chrisye, sampai syok melihat hal yang tidak biasa itu.

 Lirik lagu tersebut, kata Chrisye, begitu merasuk kalbu dan menghadapkan kita pada kenyataan: betapa manusia tidak berdaya ketika hari akhir tiba.

Sepanjang malam Chrisye gelisah, lalu ia menelpon Taufiq dan menceritakan kegelisahannya. Taufiq mengatakan bahwa lirik lagu tersebut diilhami surat Yaasiin 65. Taufik menyarankan Chrisye agar tenang.

Di studio rekaman hal itu terjadi lagi. Chrisye mencoba menyanyi lagu yang liriknya dibuat Taufiq tadi, tapi baru dua baris sudah menangis. Dan berulang kali hasilnya sama. Komponis Erwin Gutawa yang menunggu kesiapan Chrisye untuk menyanyikan lagu yang liriknya dibuat Taufik tadi, sampai senewen. Yanti, istrinya, langsung shalat, khusus mendoakan suaminya agar bisa menyanyikan lagu itu penuh.

 Akhirnya dengan susah payah, Chrisye berhasil menyanyikan lagu itu hingga selesai. Rekamannya sekali jadi, tidak diulang, karena Chrisye tak sanggup menyanyikannya lagi.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaasiin 65).

 Inilah judul lagunya,

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba

Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya… sempurna

Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu… yang hina

Gambaran tersebut menunjukkan kepada kita bahwa ayat-ayat Qur’an, ketika diterjemahkan dengan bahasa lain pun, bila menafsirkannya benar dan memakai bahasa yang indah, tetap mempunyai mukjizat yang mampu menggetarkan jiwa manusia.

Abdul Hadi WM, sastrawan yang juga penyair muslim, menyatakan bahwa para filosof dan sufi dari kalangan Islam sangat apresiatif terhadap musik dan lagu. Sejak lama mereka berpendapat bahwa musik (al-musiqa) dan seni suara (al-handasa) merupakan ekspresi jiwa yang penting dalam membangun kebudayaan dan peradaban Islam. Bagi mereka seni musik dan lagu adalah ungkapan keselarasan nada dan suara yang diperuntukkan bagi pendengaran, sebagaimana seni hias dan kaligrafi yang diperuntukkan bagi mata. Dari indera pendengaran dan penglihatan itu, kemudian keselarasan dialirkan ke dalam jiwa pendengarnya. Musik dan seni suara adalah hidangan rohani yang memberikan cita rasa indah di dalam jiwa manusia.

Maulana Jalaludin Rumi menyatakan, bunyi dan suara; musik dan lagu, bisa membebaskan jiwa dari kungkungan materialisme. Musik menciptakan perasaan religius dan spiritual bagi orang yang mendengarnya. Karena itu, musik dan lagu, menurut Rumi, adalah hidangan spritual; bukan hidangan sensual.

Ibnu Khaldun dalam karya agungnya al-Muqadimah (abad ke-14 M) berpendapat bahwa seni musik akan muncul bersamaan dengan munculnya peradaban. Dan seni musik akan pudar pula bersamaaan dengan pudarnya peradaban. Implikasi dari teorinya itu telah banyak dikaji oleh sarjana Barat dan Muslim, khususnya dalam konteks peradaban Islam.

Pada abad pertama Hijriyah, misalnya, musik Arab sangat sederhana. Tetapi pada masa pemerintahan Umayyah di Damaskus, abad ke-2 H, perkembangan musik mengalami kemajuan pesat. Madinah, sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam kala itu, juga tampil sebagai pusat kegiatan seni musik di Dunia Islam. Perkembangan yang menggembirakan itu dimungkinkan setelah kaum muslimin mempelajari seni musik Persia dan Yunani – dua negeri yang punya cita rasa sastra, seni, dan filsafat yang tinggi.

Perkembangan seni musik mencapai puncaknya pada zaman Abbasiyah (650-1256 M). Ibukota kekahalifahan Abbasiyah – Baghdad – ketika itu, tampil sebagai pusat kebudayaan Islam dan peradaban dunia. Pada masa itu, banyak sekali muncul komposer dan penyanyi Islam yang menggetarkan dunia. Begitu pula dengan ilmuwan, seniman, filsuf, dan sastrawan besar muslim. Ilmuwan dan seniman multitalenta seperti Ibnu Sina, Al-Jabr, Al-Battani, Al-Kwarizmi, dan lain-lain, lahir dan besar dalam kurun tersebut.

Berbagai hikayat seperti cerita Seribu Satu Mala dan Laila Majnun, misalnya, muncul di zaman itu. Begitu juga karya-karya besar ilmu astronomi, fisika, aljabar, kedokteran, sosiologi, dan sastra muncul di era gemilang tadi.

Ibnu Khaldun benar ketika menyatakan bahwa mundurnya peradaban Islam ditandai dengan mundurnya seni musik dan seni suara (lagu). Ini terlihat di masa kehancuran Kesultanan Turki Osmani, satu-satunya imperium Islam yang tersisa di abad ke-20. Para penghancur Kesultanan Turki Osmani – klen klen badui gurun yang dipersenjatai Inggris – kemudian mendirikan sebuah negara dengan mazhab yang secara sistematis mengharamkan musik.

Musik dan lagu dianggapnya sebagai suara setan yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Di era kehancuran Islam di jantung peradaban kaum muslim tersebut, musik dan lagu tidak hanya pudar seperti dinyatakan Ibnu Khaldun, tapi juga diberangus sampai ke akar-akarnya. Ayat Al-Qur’an dan hadist pun dicari-cari untuk landasan hukum guna menghancurkan musik dan lagu. Tak sedikit pun penguasa Hijaz itu merunut sejarah perjalanan hidup Rasul yang penuh seni dan literasi ayat suci yang sastrawi. Musik dan lagu yang mengiringi sejarah berkembangnya peradaban Islam di Timur Tengah, Asia, dan Eropa, dari abad ke-8 sampai ke-16, dianggap sampah belaka, tak punya arti.

 Belakangan ini di Indonesia ada gerakan ultrakonservatif yang mengharamkan musik dan lagu. Gerakan itu aktif berdakwah di berbagai media, baik elektronik maupun cetak. Dr. Ayang Utriza Yakin dalam makalahnya ‘Salafism and the Public Sphere: Disseminating Islamic Puritanism in Indonesian Islam through the Radio’ (2016) menyatakan, Radio Rodja 756 AM dengan tagline ‘Menebar Cahaya Sunnah’ adalah media paling aktif dalam mendakwahkan bahwa musik dan lagu itu haram.

Ayang Utriza dalam makalahnya (berbahasa Inggris) mengutip pertanyaan seorang guru dari Palangkaraya tentang musik kepada seorang Ustad yang sedang siaran di Radio Rodja, Sabtu 26 Maret 2016, sekitar jam 08.00-09.00.

What is the Islamic rule on music and singing? Is it haram to teach music or singing to students? (teacher from Palangkaraya)

The ustadz answered:

Everything that is forbiddden in sharia is unlawful to teach to pupils and children. Haram (unlawful) remains haram and the result of something that is haram is haram. Therefore, it is totally wrong to offer studens something that is haram like offering them music or singing lessons. Teaching music or singing is like teaching how to sell narcotics and drugs. This is haram and do you want your children to have the skill to sell narcotics? So, you have to teach something that is good for their future and not teach them something that is haram.

Radio Rodja, yang mendapat sponsor dari Arab Saudi, kini membangun jaringan radio sejenis di seluruh Indonesia. Gerakan Ultrakonservatif Islam tersebut berjalan dengan guyuran dana gigantik untuk mengembangkan ajaran yang antimusik, antilagu, antitasawuf, dan antifilsafat.

 Salahkah bila orang Islam antimusik? Tunggu dulu! Emha Ainun Najib punya cerita.  Ada tiga macam orang Islam dalam hal musik. Pertama, orang Islam yang piawai bermain musik. Kedua, orang Islam yang tidak bisa bermain musik. Ketiga, orang Islam yang woro-woro,  jangan sampai bermain musik. Yang terakhir inilah tempat kelompok antimusik.

 Masalah ini adalah mubah, kata Emha, karena tak terkait dengan keimanan dan ketauhidan. Orang tak bisa menyalahkan kelompok antimusik seperti fans club Radio Rodja. Yang salah adalah jika fans club itu menyalahkan pemain musik dan fans musik. Apalagi menganggap musik seperti narkoba dan menjauhkan manusia dari Tuhan.  Itu pendapat yang dibuat-buat. Mereka rugi jika tak memanfaatkan anugerah ‘musical instinc’ yang ada padanya.  Betapa sayangnya, Tuhan telah memberikan indra pendengaran  kepada manusia, tapi ia menyianyiakannya.

 Ibnu Khaldun pasti menangis jika mengetahui di zaman now ada umat Islam yang antimusik. Kenapa menangis? Bagi Ibnu Khladun, hal itu menunjukkan peradaban Islam sedang berada di titik nadir. Sangat menyedihkan!

 Beruntung, bangsa Indonesia yang secara turun temurun hidup dalam selaras alam yang damai dan artistik, tak terpengaruh gerakan ultrakonservatif tersebut. Bahkan sebaliknya, bangsa Indonesia mulai terbuka pikirannya akan kecerdasan nenek moyang yang menciptakan nada-nada indah dalam musik tradisonal yang distinktif dan unik. Musik dan lagu ciptaan Wali Songo, misalnya, kini mulai membuka mata dunia – bahwa Indonesia sebenarnya adalah negara yang kaya seni dan kreasi tinggi. Emha bercerita, kini bacaan Alqur’an langgam Jawa dengan iringan gamelan mendapat perhatian internasional. Beberapa  universitas di Amerika, misalnya,  mempelajari serius aspek seni dari tilawah Alquran langgam Jawa tersebut.

Saat ini, gending dan gamelan yang mengiringi lagu-lagu macapatan (tembang dengan lirik syiir Jawa) dengan iringan musik yang semuanya kreasi Wali Songo – mulai digandrungi musisi Barat. Ratusan kelompok fans club gamelan dan musik Jawa kini bermunculan di Eropa dan AS. Bagi para fans club-nya, musik gamelan Jawa tidak hanya tinggi dari apek seninya; tapi juga tinggi dari aspek spiritualnya. Lagu-lagu macapatan, misalnya, dinilai mampu menuntun jiwa para pendengarnya untuk memasuki alam spritual yang sangat indah.

Pak AR adalah orang yang gandrung lagu-lagu macapatan. Mohamad Shobary, budayawan dan kolumnis asal Bantul, DIY, mengaku suka Muhammadiyah setelah mendengarkan terjemahan Al-Fatihah dalam lagu macapatan di sebuah surau kecil di desanya. Konon, Pak AR muda – pernah menggubah lagu macapatan untuk mengajarkan makna Al-Fatihah tersebut.

Al-Fatihah adalah ibu dari Al-Qur’an sehingga para da’i, termasuk Pak AR, obsesif ingin menyebarkan makna ummul Qur’an tersebut; baik dalam bentuk syiir pesantrenan maupun macapatan agar orang Jawa mudah menerimanya. Karenanya, para komposer syiir-syiir lagu pesantrenan dan macapatan, sering menggubah tafsir Al-Fatihah ke dalam bentuk lagu-lagu tradisional Jawa tadi.

Kehidupan Pak AR memang full untuk dakwah. Ada kisah menarik dari Istana Jakarta tentang Pak AR. Konon, usai sebuah acara pertemuan antarormas di Istana Negara, Bung Karno mengisinya dengan pentas seni. Dalam acara hiburan itu, masing-masing wakil ormas diminta Bung Karno menyumbang lagu.

Nah, tiba giliran Muhammadiyah. Ternyata tokoh-tokoh Muhammadiyah tidak ada yang mau maju. Mungkin malu karena tak terbiasa menyanyi. Lalu, Bung Karno pun langsung menunjuk Pak AR yang saat itu masih muda, untuk menyanyi.

Mengikuti petunjuk Bung Karno, Pak AR pun dengan suara baritonnya menyanyikan sebuah lagu religi. Suaranya bagus sekali. Begitu pula pilihan lagunya yang bertema dakwah -- Eling-Eling. Syiir lagu ini biasa dinyanyikan oleh kaum santri di Jawa. Inilah lagunya.

Eling-Eling

Ling-Eling Siro Manungso

Temenono anggonmu ngaji

Mumpung durung ketekanan

Malaikat juru pati

Luwih loro luwih susah

Rasane wong neng neroko

Klabang kores kolojengking

Klabang geni ulo geni

Rante geni gada geni

Cawisane wongkang duroko

Gumampang dawuh pangeran

Dasar tan manut parentah tuan

Luwih mulyo luwih mukti

Rasane wong neng suwargo

Pitung puluh widodari

Kasur babut den cawisi

Cawisane wongkang bekti

Dawuh pengeran kang moho suci

Mukmin lanang mukmin wadon

Mukmin iku sedherek kula

Agami Islam Agami Kula

Kitab Qur’an panutan kula

Mukmin lanang mukmin wadon

Mukmin iku sedherek kula

Mendengar lagu itu, Bung Karno tersenyum dan geleng-geleng kepala. Pak Asnawi yang menyertai Pak AR dalam pertemuan tersebut nyletuk: Nah lo, kali ini Bung Karno ketanggor wong Bleberan! Nyanyi tapi nasehati! Bleberan adalah kampung keluarga besar Pak AR.

 Itulah Pak AR. Dalam kondisi apa pun, pikiran dan tujuannya hanya satu, bagaimana menyebarkan ayat-ayat Allah. Lagu di atas, sejatinya, adalah nasehat dan woro-woro Langit yang dikemas dalam bahasa Jawa. Indah dan menenangkan jiwa. Sampai Bung Karno pun senang mendengarnya. Subhanallah!

Note: Pak AR (Abdul Razaq Fachrudin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968-1990)

 

  • view 85