Romi, Denny, dan Puisi

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Budaya
dipublikasikan 31 Oktober 2017
Romi, Denny, dan Puisi

Romi, Denny,  dan Puisi

Syaefudin Simon

 Freelance Columnist/Independent Journalist

Can Poetry Matter? Apakah puisi sesuatu? Itulah pertanyaan seorang penyair Amerika, Dana Gioia,  dalam tulisannya di majalah Atlantic Monthly, May 1991 beberapa tahun lalu. Pertanyaan Dana Gioia sempat ramai di jagad sastra Amerika karena ia menganggap: poetry has vanished as a cultural force in America. “Puisi sebagai kekuatan budaya di Amerika telah lenyap,” katanya.

Dalam tulisan di atas, Dana Gioia, panjang lebar mempersoalkan, apakah puisi masih punya arti di masyarakat Amerika yang kapitalis dan materialis? Tentu saja, pertanyaan Dana Gioia itu mengejutkan publik Uncle Sam karena pada kenyataannya, fakultas seni dan sastra dengan spesialisasi creative writing di beberapa universitas Amerika masih tetap menarik minat mahasiswa di sana. Penulisan puisi adalah salah satu komponen dalam creative writing tadi.

Di Indonesia sendiri, misalnya, komunitas sastrawan masih menjadikan “Iowa International Writing Program (IIWP)” di AS sebagai “program bergengsi dalam bidang penulisan sastra dan seni” di dunia. Puluhan penyair Indonesia garda depan seperti Emha Aiunun Najib, Taufiq Ismail,  Abdul Hadi WM, dan Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, adalah alumnus IIWP.  Dan mereka sangat dihormati di Indonesia, terutama di jagad sastra.

Benar, dunia puisi dan kepenyairan masih eksis di dunia. Tapi apakah eksistensinya masih punya pengaruh signifikan terhadap kehidupan ekonomi dan politik di dunia? Can poetry matter to the economic and political world?  Dana Gioia, menjawabnya: tidak! Apresiasi terhadap puisi tidak lagi signifikan di dunia. Ini terbukti, tulis Dana Gioia,  dari pasar buku-buku puisi yang sepi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika, tapi juga di seluruh dunia. Publik lebih berminat kepada sisi lain dunia seni dan sastra seperti teater, film, dan novel; tapi tidak untuk puisi.

Aneh? Entahlah!

Jelas, ini sebuah anomali dalam dunia puisi. Padahal puisi – pinjam Romahurmuziy, politisi muda muslim – adalah obat. Obat yang membebaskannya dari kegalauan ruwetnya dunia politik.

“Jika dalam keadaan galau, saya mengungkapkannya dengan puisi,” lanjut Ketum PPP itu. Ini artinya Romi --  nick name  Romahurmuziy -- menjadikan puisi sebagai “ a matter that release political problems” . Apa sih yang membuat ketua partai menjadi pening, sakit, dan galau jika bukan ruewetnya dunia politik?  

Dalam konteks inilah pernyataan Romi tadi sangat perspektif; mempunyai makna tersendiri.  Ini karena yang mengucapkan bahwa puisi adalah obat dan sarana untuk membebaskan kegalauan adalah seorang politisi dengan posisi ketua partai.

 Ya, ketua  partai adalah manusia langka karena kedudukannya dalam dunia politik sama dengan presiden. Jika ia bukan presiden sebuah negeri, minimal ‘presiden’ untuk para politisi dan konstituen di lingkup partainya.

Dari perspektif itulah, pernyataan Romi punya makna signifikan. Kenapa? Presiden AS John F Kennedy pernah mengungkapkan: Jika saja para politisi lebih banyak membaca puisi, dan para penyair lebih peduli politik, kita akan hidup dalam dunia yang lebih baik.

Dunia yang lebih baik itu telah diinisiasi Romi.  Ketum PPP  dalam Peringatan Hari Santri 2017 beberapa hari lalu di Graha Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta  membacakan puisi yang sangat bagus:

Petuah dan nasehatmu mengalir dalam langkahku

Bahwa Setiap gerak  adalah zikirku

Bahwa setiap zikir adalah nadiku

Bahwa setiap pikir adalah ibadahku

Yang menjadi kekuatan dalam kuasa angkuh kehidupan

 Bait-bait puisi Romi yang bernuansa spiritual tersebut sangat mendamaikan. Melalui puisinya, Romi – pinjam Kennedy – ikut berperan dalam menjadikan dunia yang lebih baik. Dunia yang lebih spiritual.

Dalam hal “orang penting level nasional” membaca puisi di pentas publik,  Romi bukan orang pertama. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam lima bulan terakhir, telah tiga kali membaca puisi karya Denny JA yang berjudul “Tapi Bukan Kami Punya” di tiga event penting nasional yang berbeda.

Tapi Bukan Kami Punya

Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil polisi
Ia datang sejak pagi
Katanya akan diinterogasi

Dilihatnya Garuda Pancasila
Tertempel di dinding dengan gagah
Terpana dan terdiam si Jaka
Dari mata burung garuda
Ia melihat dirinya
Dari dada burung garuda
Ia melihat desa
Dari kaki burung garuda
Ia melihat kota
Dari kepala burung garuda
Ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
Tapi Bukan Kami Punya

Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
Tapi Bukan Kami Punya

Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
Tapi Bukan Kami Punya

Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
Tapi Bukan Kami Punya

Jaka terus terpana
Entah mengapa
Menetes air mata
Air mata itu Ia yang Punya

-000-

Masuklah petinggi polisi
Siapkan lakukan interogasi
Kok Jaka menangis?
Padahal ia tidak bengis?

Jaka pemimpin demonstran
Aksinya picu kerusuhan
Harus didalami lagi dan lagi
Apakah ia bagian konspirasi?
Apakah ini awal dari makar?
Jangan sampai aksi membesar?

Mengapa pula isu agama
Dijadikan isu bersama?
Mengapa pula ulama?
Menjadi inspirasi mereka?

Dua jam lamanya
Jaka diwawancara
Kini terpana pak polisi
Direnungkannya lagi dan lagi

Terngiang ucapan Jaka
Kami tak punya sawah
Hanya punya kata
Kami tak punya senjata
Hanya punya suara

Kami tak tamat SMA
Hanya mengerti agama
Tak kenal kami penguasa
Hanya kenal para ulama

Kami tak mengerti
Apa sesungguhnya terjadi
Desa semakin kaya
Tapi semakin banyak saja
Yang Bukan Kami Punya

Kami hanya kerja
Tapi mengapa semakin susah?
Kami tak boleh diam
Kami harus melawan
Bukan untuk kami
Tapi untuk anak anak kami

-000-

Pulanglah itu si Jaka
Interogasi cukup sudah
Kini petinggi polisi sendiri
Di hatinya ada yang sepi

Dilihatnya itu burung garuda
Menempel di dinding dengan gagah
Dilihatnya sila ke lima
Keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kini menangis itu polisi
Cegugukan tiada henti

Dari mulut burung garuda
Terdengar merdu suara
Lagu Leo kristi yang indah
Salam dari Desa
Terdengar nada:
“Katakan padanya padi telah kembang
Tapi Bukan Kami Punya”

 Dari dua puisi yang dibacakan Romi dan Gatot tersebut, tersirat bahwa Indonesia punya harapan masa depan yang lebih baik. Bila seorang politisi seperti Romi; seorang prajurit seperti Gatot; dan seorang penyair seperti Denny mengumandangkan problem bangsanya melalui puisi, maka  lengkaplah persyaratan Kennedy untuk mewujudkan  dunia yang lebih baik tadi.  Ini artinya Indonesia masa depan yang spiritual (Romi) dan Indonesia yang dimiliki rakyatnya (Gatot), insya Allah, akan benar-benar terwujd. Itulah harapan kita semua, rakyat Indonesia.

  • view 188