Negara Islam yang Sejuk

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 23 Oktober 2017
 Negara Islam yang Sejuk

Edisi  Pak AR 22

 Negara Islam yang Sejuk

 Syaefudin Simon

Freelance Columnist/Associate of Leadership for Environment and development, New York

 

Tahun 2005-an, saya pernah berkunjung ke rumah Bu Rus, di Timuran, Jalan Parangtritis Yogyakarta. Saya kaget. Kaget karena Bu Rus memakai jilbab. Padahal, sampai tahun 1985 ketika saya meninggalkan Yogya, Bu Rus dan kedua anak perempuannya tidak berjilbab.

“Bu Rus sekarang berjilbab?,” tanya saya terkejut.

  “Ya, Mas Simon. Semua keluarga saya berjilbab, termasuk Rini,” katanya dengan senyum manis.

  “Yang menyuruh berjilbab ‘kan Mas Simon,” tambah Bu Rus.

“Deg. Saya kaget lagi. Kok sampai sejauh itu provokasi saya dulu mengkampanyekan jilbab.”

 Dulu, tahun 1980-an, saya memang termasuk salah seorang provokator  jilbab di Yogya. Tapi setelah ke Jakarta, saya lupa dengan “proyek jilbabisasi” itu. Apalagi saya di Jakarta   bergabung dengan Kelompok Studi Proklamasi (KSP) yang rutin mengadakan diskusi di rumah Pak Djohan Effendi (mantan Mensesneg era Gus Dur) tiap minggu dengan tema yang sangat beragam: politik, agama, filsafat, dan lain-lain.  

 Saat itu, Pak Djohan  memberikan buku terjemahan Qur’an “ The Holy Qur’an” karya Abdullah Yusuf Ali dan buku-buku filsafat kepada saya yang membuat pengetahuan keislaman saya makin luas. Beberapa peserta diskusi di KSP yang rajin datang adalah Denny JA, Elza Peldi Tahir, Jonminofri, dan Budhy Munawar-Rachman. Saat itu mereka  masih imut. Saya waktu itu terkesan dengan Denny karena di samping suaranya bariton dan enak di kuping seperti  suara Pak AR  –  juga wajahnya mirip Cina dan tubuhnya tinggi kurus seperti Ahmad Albar tahun 1970-an.  Pikiran Denny tentang Islam sangat liberal.

 Denny inilah yang paling banyak bicara saat diskusi di KSP. Pandangan keislamannya tidak seperti teman-teman HMI di Yogya yang militan dan Qur’ani,  Denny cenderung rasional dan liberal. Saking rasionalnya, Denny mempertanyakan kebenaran ayat-ayat Qur’an yang menyangkut Isra’ Mi’raj dan terbelahnya Laut Merah saat Musa dikejar Fir’aun. Sebuah pertanyaan yang “tabu” bila dilakukan teman-teman aktivis Islam di Yogya. Menurut Denny,   kisah Isra Mi’raj  dan  terbelahnya Laut Merah  dalam Qur’an  hanya mitologi. Sama dengan kisah mitologi Hercules di Romawi Kuno dan pembangunan semalam candi Prambanan di JawaTengah.

 “Mitologi itu bagus selagi menjadi preferensi untuk pedoman hidup yang baik. Tapi tidak, bila berubah menjadi sejarah yang seakan-akan faktual,” kata Denny. Saya sedikit kaget mendengar penjelasan Denny. Tapi saya tak bisa memblok pendapat Denny karena begitulah style kebebasan berpikir dalam diskusi terbatas di KSP.

 Pertanyaan seperti Denny, juga  kerap muncul di kalangan mahasiswa filsafat UGM dan ushuludin IAIN Yogya dulu. Jadi kekagetan saya terhadap statement  Denny hanya sebentar saja. Maklum anak muda yang sedang bergolak pemikirannya.

 Sampai sekarang, saya tetap akrab dengan Denny di Jakarta. Denny, pendiri LSI itu,  kini  menjadi pebisnis  sukses  dan seorang spiritualis (pengagum sufisme dan agama cintanya Maulana Jalaludin Rumi).  

 Saya suka sekali dengan keluarga Bu Rus karena keluarganya tipikal Jawa Yogya. Suaranya halus, unggah-ungguhnya njawani, lembut, dan sangat ramah. Di samping itu, saya juga terprovokasi penyair muda Isti Nugroho  terhadap kecantikan tipikal  Jawa  Setyo Rini, putri Bu Rus, adik kelas saya di Kimia MIPA UGM. Menurut Isti, kecantikan Rini bagaikan puisi Chairil Anwar.

 “Lihat jari tangan dan kaki Rini, Simon. Jari dan kakinya menggambarkan sosok putri kraton,” kata Isti. Isti mengaku pernah mencetak bekas “telapak kaki” Rini, kemudian membingkainya, lalu menulis puisi yang menggambarkan kecantikan putri priyayi Jawa. Saya hanya senyum mendengar penjelasan Isti yang menggebu-gebu. Soalnya saya tahu,  cinta Isti kepada Rini hanya obsesi seorang penyair untuk mentrigger  kreativitasnya; bukan cinta erotis.  Seperti cintanya  Kahlil Gibran  kepada  May Ziadah yang hanya dalam angan-angan; hanya imajinasi untuk melecut kreativitas kepenyairannya.

 Gegara provokasi Isti itulah, saya ingin berkenalan lebih jauh dengan Rini. Saya pun  sering berkunjung ke rumahnya di Timuran, Pojok Benteng. Sejak itu,  Isti dan saya sering sekali membicarakan puisi-puisi cinta dan wanita Jawa  di laboratorium Kimia Fisika UGM.  Aneh ya, bicara puisi  kok di laboratorium kimia!  

 Setelah memakai jilbab, imajinasi saya terhadap kelembutan keluarga Jawa  yang lama saya kenal  ini berubah. Bu Rus masih tetap ramah dan njawani, tapi setelah pakai jilbab tipikalitas budaya Jawanya yang sangat ramah dan penuh unggah-ungguh, berubah. Kelihatan lebih tegas dan syar’i. Setyo Rini juga sama. Setelah pakai jilbab, Rini  kelihatan lebih syar’i – tak mau   jabat tangan dengan saya yang bukan muhrimnya. Padahal, puluhan tahun setelah saya meninggalkan Yogya baru sekali itu bertemu.  Filsafat Jawa, ngono yo ngono ning ojo ngono – tampaknya hilang pengaruhnya  setelah Rini berjilbab.

 Tahun 1982-an, aktivis Islam, khususnya HMI di Yogya kedatangan tamu istimewa: Kwartet promotor (tadinya mau saya tulis provokator)  Islam militan  dari Jakarta. Kwartet itu,  Toni Ardi, Eggi Sujana, Saroji,  dan Hafiz.     Mereka datang, konon atas nama HMI Pusat Jakarta, untuk memberikan training NDI (Nilai Dasar Islam).

  Masing-masing “trainer NDI” ini punya keistimewaan. Toni Ardi, misalnya, bersuara lantang, keras menggelegar, dan mampu menyihir orang yang mendengarnya. Hanya dalam beberapa  hari  setelah Toni Ardi datang dan memberikan training NDI di Yogya, ia langsung populer.

 Saya pernah mendengarkan ceramah Toni Ardi usai terawih di Gelanggang Mahasiswa UGM. Tiga jam dia berceramah, tak ada satu orang pun yang bergeser dari tempat duduknya. Hadirin terkagum-kagum pada Toni Ardi waktu menyebutkan 100 tokoh  paling berpengaruh di dunia tanpa jeda. Ia hapal di luar kepala urutan nama-nama tokoh populer  dunia tersebut, dari nomor 1 Nabi Muhammad hingga  nomor 100 Mahavira, pendiri Jainisme. Luar biasa. Tak ada penceramah Yogya yang mampu menyihir hadirin seperti Toni Ardi.

 Sementara Eggi Sujana, terkenal karena gaya ceramahnya yang keras sambil mengepalkan tangan. Dia hapal luar kepala ayat-ayat apa saja dalam Qur’an  untuk menunjukkan kehebatan Islam, kewajiban berjilbab bagi wanita, dan keharusan mendirikan negara Islam. Sedangkan Hafiz, terkenal dengan gaya ceramahnya yang kritis. Ia, misalnya, rajin mengkritik MUI  karena kebijakannya yang prorejim. Dan, Saroji terkenal karena gayanya yang santai,  gaul, dan smart. Tapi tetap militan.

 Asmini Budiana, kembang  FMIPA Kimia UGM saat itu, setelah di-training – tepatnya di-brainwashing Eggi – kemudian berjilbab dan dinikahi mahasiswa hukum Universitas Jayabaya Jakarta itu. Fatmawati, mahasiswi Fakultas Farmasi UGM, teman akrab saya di HMI, juga langsung berjilbab dan dinikahi Hafiz, mahasiswa IKIP Jakarta itu. Alasannya sama: keduanya menikah  demi menjaga kerhormatan Islam.

 Menikahnya Asmini dengan Eggi dan Fatma dengan Hafiz  sempat jadi pembicaraan di kalangan aktivis HMI Korkom UGM  di Yogya.  Teman-teman HMI di UGM sempat nyeletuk, “kembang-kembang HMI kok semuanya diambil  HMI Jakarta” . Mereka datang ke Yogya untuk mengembangkan HMI,  mempromosikan  militansi  Islam, atau mencari jodoh – canda Natsir Arsyad, teman akrab saya di MIPA, Sekertaris HMI Korkom UGM waktu itu. Mungkin Natsir keki karena idolanya nikah dengan mereka.

 Saat itu, kwartet Jakarta  berhasil menghipnotis mahasiswa-mahasiswa Islam Yogya, khususnya HMI. Saya termasuk orang yang terhipnotis  Eggi di  training NDI. Setelah itu saya pun rajin mendakwahkan wajibnya wanita Islam memakai jilbab. Saya sempat mempromosikan jilbab kepada teman dekat saya di Cirebon, Uu Khuzaimah Ismail, yang saat itu masih siswi SMAN  Palimanan. Uu pun kemudian berjilbab.

    Berbarengan dengan mengentalnya atmosfir Islam militan, Ustad Abu Bakar Ba’asyir (ABB) dari Pesantren Ngruki, Solo, sering datang untuk ceramah di Yogya. Bahkan sebagian teman-teman HMI menyelenggarakan  kajian Islam khusus dengan pengajar  solo, Abu Bakar Ba’asyir,  di masjid Sudirman, dekat IKIP (kini UNY). Banyak teman-teman HMI Yogya yang kemudian tertarik dengan ceramah dan pengajian Abu Bakar Ba’asyir yang “militan” tersebut.

 Setelah Asmini dan Fatma memakai  jilbab, teman-temannya di HMI UGM banyak yang mengikutinya. Di antara mereka adalah Eva Bardiyah (Kimia 81 UGM), Yayah Khisbiyah (Psikologi UGM), dan  Nurhayati (Pertanian UGM). Saat itu mahasiswi berjilbab di  Yujiyem – pinjam istilah alay untuk UGM --   masih bisa dihitung dengan jari tangan.

Belakangan teman-teman yang non-HMI seperti Amita Sitoresmi (Kimia 77), Emy Fatmi Budhya,  (Kimia 78) dan Emy Emboyo (Kimia 82) pada pakai jilbab. Padahal, dua wanita terakhir ini waktu masih kuliah termasuk mahasiswi cantik dengan busana yang modis, khas wanita kota mode Bandung .

  Saya dulu ‘minder’ kalau melihat gaya busana kedua Emy  tersebut. Saya yakin, kedua Emy ini,  juga Amita,  memakai  jilbab karena kesadaran yang muncul dalam hatinya, bukan karena pengaruh promosi kwartet Jakarta tadi. Saya senang dengan berjilbabnya ketiga teman ini karena mereka tetap melihat Islam dengan pandangan  moderat dan ramah.

Saat ini, konon, mayoritas mahasiswi Yujiyem berjilbab. Jilbab tidak lagi menjadi simbol busana muslim yang syar’i, tapi sudah menjadi  trend  kultural.  Wanita tampaknya mulai  menyadari, memakai jilbab akan tampak lebih cantik, anggun, dan save. Apalagi sekarang para perancang mode terkenal seperti Anne Rufaedah, Ghea Sukasah,  dan Dian Pelangi  ramai-ramai mendesain busana muslim yang chicks dan elegan.

 Ketika saya sedang sibuk-sibuknya menjadi provokator jilbab tahun 1980-an, saya bertanya kepada Pak AR waktu kultum Subuh. “Pak bagaimana sih hukumnya berjilbab itu? Apa benar wanita  yang tidak berjilbab itu kafir karena melanggar ayat Qur’an?.”

“Bejilbab itu baik sekali jika timbul dari kesadaran,” kata Pak AR.  “Tapi seorang wanita tidak bisa dikatakan kafir setelah berikrar dengan membaca syahadat, meski tidak berjilbab,” tambahnya.   

Saya mantuk-mantuk. Jawaban Pak AR ini, waktu itu, jelas kurang menarik karena tidak  radikal. Saya pikir, apakah jawaban Pak AR ini karena anak dan istri beliau saat itu tidak berjilbab? Jawaban Pak AR  baru saya sadari kebenarannya setelah puluhan tahun kemudian saya bertemu dengan Bu AR dan putrinya, Mbak Was di Jakarta. Keduanya sudah “berjilbab”. Tapi jilbabnya tetap masih berbudaya Jawa.

 Rambutnya ditutup dengan ciput yang pas  kepala, lalu memakai kerudung ala perempuan Jawa. Saya kira, ini jilbab yang cocok untuk wanita Indonesia. Tidak terlalu ribet, tapi secara esensial tetap menutup aurat. Jilbab model Bu AR dan  Mbak Was yang njawa ini, menurut saya,  lebih bagus ketimbang jilbab konvensional yang nyaudi.  

 Selain jilbab, saya juga terobsesi dengan “indahnya” negara Islam setelah mengikuti pengajian ABB  di  Yogya. “Indonesia harus jadi negara Islam kalau ingin rakyatnya makmur dan hukumnya adil,” kata ABB.  Makanya, saya perlu menanyakan hal negara Islam ini kepada Pak AR.    Dalam kesempatan kultum,  saya  tanya:

 “Pak AR,  apakah  Indonesia ini negara kafir karena tidak mengikuti syariah Islam?”

 “Indonesia adalah negara yang secara esensial sudah Islam,” kata Pak AR. “Para founding fathers yang merumuskan negara dan UUD 45 adalah ulama-ulama besar yang memahami betul tentang konsep negara Islam,” tambahnya. “Di sana ada KH Agus Salim, KH Wahid Hasyim, dan Prof. Kasman Singodimedjo, tiga tokoh Islam yang luas ilmunya,” ungkapnya.

 “Negara Islam itu, tidak harus semua penduduknya beragama Islam dan mengikuti hukum Islam. Pemerintahan Islam   di Madinah zaman Rasulullah penduduknya ada yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Mereka dibiarkan memakai hukum agamanya selama  tidak merongrong Negara Islam Madinah. Karena itu, saya menganggap Indonesia ini sudah negara Islam,” jelas  Pak AR.

 Menurut Pak AR, tak ada gunanya menjelek-jelekkan pemerintah dan mengatakan Indonesia negara kafir. Mereka -- pimpinan negara, menteri, birokrasi,  dan politisi -- kebanyakan muslim. Kalau kemusliman mereka belum sempurna, mari kita sempurnakan bareng-bareng. Jangan maki-maki. Nanti yang untung pihak ketiga.  Bila dimaki-maki, pemerintah merasa tidak mendapat dukungan  umat Islam. Akibatnya pemerintah pun  tidak simpati kepada umat Islam. 

Pak AR memberi contoh. Suatu ketika, beliau mendapat laporan dari pimpinan Muhammadiyah Cabang Pontianak, bahwa musyawarah pengurus perserikatan distop Laksus setempat. Kebetulan Pak AR sedang ada  urusan di  Pontianak. Sebagai pimpinan  Muhammadiyah, Pak AR  kepo – kenapa musyawarah Muhammadiyah  dihentikan Laksus. Lalu, Pak AR silaturahmi kepada Pangdam.

Kebetulan Pangdamnya berasal dari Jawa Timur, Mayjen Seno, tentara RPKAD (sekarang Kopassus). Dengan mengucap Assalamualaikum, Pak AR menemui Pangdam di kantornya.  Pak AR berbicara dalam bahasa Jawa kromo inggil. Tak lupa Pak AR minta maaf karena mengganggu kesibukan Pangdam. Pak Seno pun menerima salam dan maaf Pak AR dengan ramah.

 Setelah suasana kondusif, Pak AR  menanyakan apa betul Musyawarah Muhammadiyah disetop Laksus. Spontan, Pangdam  mengatakan tidak ada apa-apa. Pangam mempersilahkan musayawarah  jalan terus. Jadi,   masalah Muhammadiyah dan pihak keamanan yang timbul di Pontianak, lanjut Pak AR, hanya miskomunikasi saja.

Masalah pun selesai. Pangdam bahkan mempersilahkan Pak AR ceramah di masjid-masjid di Pontianak dan seluruh wilayah Kalbar tanpa surat izin pihak keamanan. Pangdam langsung mengirim teleks ke Kodim dan Koramil, memberitahu kalau Pak AR akan memberikan  pengajian.

Peristiwa hampir sama terjadi ketika Pak AR bertugas di Sumatra Barat. Seperti biasa, Pak AR bersilaturahim kepada  Gubernur dan  Pangdam. Lalu menyampaikan berbagai hal tentang Muhammadiyah dan  dakwah di Sumatra Barat.  Pak AR juga menyampaikan  kepada Mayjen Widodo, Pangdam Bukit Barisan, bahwa umat Islam di Sumatra Barat boleh dikatakan semuanya  warga Muhammadiyah. Dulu memang menjadi anggota partai Masyumi, tetapi setelah peristiwa PRRI dan Masyumi membubarkan diri, mereka menjadi anggota Muhammadiyah. Mereka  tidak berpolitik lagi. Hanya mengurus pengajian dan menggerakkan amal saleh.  Setelah itu, semua urusan Muhammadiyah di Sumbar beres. Padahal sebelumnya, umat Islam di sana tertekan karena stigma pemberontakan PRRI.

 Kata Pak AR, dalam menghadapi persoalan, khususnya dalam hubungan umat dan negara, kita ndak usah berpidato macam-macam, berdemo keras-keras, dan melakukan aksi-aksi anarkis. Nanti pemerintah tak suka dengan Islam. Kalau nggak suka, urusan umat pun sulit karena negara punya kuasa. Umat Islam harus memelihara suasana sejuk. Tidak usah reaktif dalam menghadapi masalah. Apalagi bila menghadapi negara. Lha, wong pimpinan negara kita mayoritas orang Islam. Mari kita rangkul, jangan jadi musuh -- ungkapnya.

“Mari  kita jadikan Islam bermanfaat kepada umat dan rakyat, “  ajak Pak AR.  Apa gunanya gembar-gembor negara Islam bila  msyarakatnya kacau, politiknya rusuh, dan ekonominya gak karu-karuan -- tambahnya. Itulah cara Pak AR memaknai negara Islam. Tak perlu nama, yang penting esensinya.

Gaya dakwah Pak AR yang menyejukkan menjadikan Islam di Indonesia tumbuh sebagai agama yang ramah dan rahmah. Sang  Penyejuk telah menyuguhkan  'masakan'  Islam yang  nikmat dan bergizi kepada bangsa Indonesia. Subhanallah!

 

 

 

 

 

  • view 361