Islam dan Pendidikan Antikekerasan

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 22 Oktober 2017
 Islam dan Pendidikan Antikekerasan



 Islam dan Pendidikan Antikekerasan


Syaefudin Simon


Independent Journalist/Tim Ahli Fraksi PPP DPR RI

 
MUHAMMAD itu orang gila. Muhammad orang tak tahu diri. Muhammad bukan nabi, bukan rasul,” demikian umpatan seorang pengemis buta beragama Yahudi di pinggir jalan di Madinah. Si buta itu mengumpat Nabi Muhammad di depan mata Rasul sendiri. Para sahabat Nabi yang menyaksikan umpatan itu geram. Namun, Nabi tidak marah. Beliau bahkan selalu mengantarkan makanan kepada pengemis Yahudi itu tiap hari. Karena pengemis itu buta, Muhammad pun menyuapi makanan itu ke mulut sang gelandangan buta itu dengan penuh kasih sayang.

 Alkisah, Nabi Muhammad wafat. Abu Bakar yang juga terkenal ramah dan halus perangainya menggantikan peran Nabi untuk menyuapi makanan ke mulut pengemis  buta itu. “Siapa Anda? Kok  cara menyuapi makanannya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya halus dan  lembut, sekarang tidak,” kata Yahudi buta itu. Rupanya sang pengemis dengan perasaannya tidak lagi merasakan adanya cinta kasih ketika menerima suapan makanan dari tangan Abu Bakar.

 “Ke mana orang yang biasa memberi makanan dan menyuapi aku?” kata si pengemis  Yahudi itu. “Beliau telah wafat,” kata Abu Bakar. Pengemis itu kaget. “Orang itu sangat halus. Hatinya sangat mulia,” pujinya. “Siapa dia?” “Dia Muhammad Rasulullah,” kata Abu Bakar. Pengemis itu kaget bukan main. Dia merasa amat berdosa. Selama ini dia selalu mencaci maki Muhammad, sementara Muhammad selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus. Dengan berlinang air mata, si pengemis itu minta maaf dan langsung berikrar mengikuti agama Muhammad.

 Non-violence education

 Kisah tersebut, barangkali, contoh pendidikan antikekerasan (non-violence educatio) paling menyentuh yang diajarkan Nabi Muhammad kepada umatnya. Selain kisah Nabi dengan si pengemis Yahudi buta itu, sedikitnya ada dua kisah lain yang menggambarkan Nabi Muhammad adalah pionir non-violence education, 14 abad sebelum Mahatma Gandhi memperkenalkannya kepada dunia.

 Pertama, ketika Nabi ber-dakwah di Thaif. Saat itu penduduk Thaif mengusir Nabi dan melempari beliau dengan batu dan kotoran unta. Setelah melihat perlakuan penduduk seperti itu, Nabi berdoa agar Allah memberikan pengetahuan kepada penduduk Thaif sehingga anak cucu mereka kelak masuk Islam.

 Kedua, kisah ketika Rasul dan pasukannya menaklukkan Mekah (Fathu Makkah) yang menjadi basis orang-orang Quraisy ang selama ini memusuhi Islam. Nabi sebagai pemimpin perang yang memenangi pe perangan menyuruh pasukannya agar tidak membunuh tentara musuh yang menyerah; tidak membunuh orang tua, perempuan, dan anak-anak; tidak merusak properti orang Quraisy; dan tidak merusak lingkungan (memotong pohon dan membunuh binatang yang ada di Mekah).

 Apa yang dicontohkan Rasulullah itu menunjukkan penahapan bagaimana proses pendidikan antikekerasan yang seharusnya dilakukan umat Islam. Tahap pertama, ketika Rasulullah secara individual belum mempunyai kekuatan untuk menghadapi kekerasan yang dilakukan penduduk  (Thaif), beliau justru mendoakan agar masyarakat Thaif mendapat pemahaman bahwa  apa yang dilakukan mereka salah. Dalam formulasi code of non-violence UNESCO, apa yang dilakukan Rasul adalah sebuah tindakan non-violence education to prevent continuous cycles of conflict. Dengan cara itu, Rasul memutus siklus kekerasan yang sangat mungkin terjadi bila beliau menyetujui tawaran Jibril untuk menghancurkan penduduk Thaif.

 Dalam kultur nomaden Arab, kekerasan adalah sebuah tindakan preventif  untuk menyelamatkan diri dari gangguan orang lain. Sikap keras budaya Arab itu, misalnya, terlihat dari perlakuan laki-laki terhadap perempuan dan ayah terhadap anak-anaknya. Dalam tradisi Arab, laki-laki dan ayah adalah raja di keluarga. Dalam novel Burned Alive, yang mengisahkan kehidupan nyata Souad, seorang gadis dari Tepi Barat Palestina yang dibakar hidup-hidup karena perbuatan zina yang dilakukannya, tergambar jelas bagaimana kehidupan bangsa Arab yang keras dan penuh dendam. Kekerasan hidup tersebut terus dipelihara masyarakat Arab melalui apa yang disebut mereka ‘menjaga kehormatan’ dengan jalan melanggengkan dendam. Souad melihat sendiri bagaimana ayahnya menimpuk Assad dengan batu karena kewibawaannya mulai digerogoti sang anak. Dalam novel Inside the Kingdom karya Carmen bin Ladin, yang mengisahkan realitas kehidupan dirinya dalam keluarga Kerajaan Arab Saudi, misalnya, tergambar jelas bagaimana dendam itu muncul bersama motif menjunjung kehormatan keluarga.

 Pembunuhan Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz oleh keponakannya (Faisal Ibnu Musaed), 1975, sebetulnya merupakan balas dendam karena Raja Faisal pernah membunuh paman Ibnu Musaed. Itulah lingkaran dendam yang amat  berbahaya bagi kehidupan. Dalam kasus Thaif, Muhammad justru bertindak sebaliknya. Beliau berusaha sekuat  tenaga untuk memutuskan dendam semacam itu. Ketika beliau disakiti dan dihina orang-orangThaif, Rasul tak hanya memaafkan mereka, tapi juga berdoa untuk kebaikan mereka kelak. Beliau menghindar dari amukan warga Thaif  dan berdoa agar mereka diampuni Tuhan karena ketidakmengertian mereka. Sikap Rasul itu adalah sebuah revolusi etik dalam masyarakat Arab. Tanpa bantuan Jibril sekalipun, Rasulullah –  keturunan puak Bani Hasyim yang sangat dihormati masyarakat Quraisy-- sebenarnya bisa saja mengadukan  perlakuan orang-orang  Thaif kemudian meminta keluarga besarnya agar membalas perlakuan masyarakat Thaif itu demi menjaga kehormatan keluarga.

 Jika itu dilakukan, akan terjadi perang besar antarsuku. Namun, Nabi tak melakukannya. Beliau justru memaafkan perlakuan orang-orang Thaif itu. Apa yang dilakukan Rasul itu ternyata benar. Beberapa tahun kemudian orang-orang Thaif mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah. Tahap berikutnya adalah sikap Rasul ketika memasuki Mekah sebagai pemenang perang (Fathu Makkah ) yang  tidak membawa dendam. Beliau justru malah mengampuni dan melindungi mereka yang lemah. Perlindungan  beliau tak hanya kepada orang yang lemah, tapi juga kepada properti kaum yang kalah dan lingkungan hidup mereka.  Dua perintah Rasul itu--melindungi properti dan mencegah kerusak an lingkungan -- merupakan penerapan kode etik peperangan yang sangat revolusioner pada zamannya, bahkan sampai sekarang.

 Kode etik perang Rasulullah itu 13 abad kemudian diadopsi  menjadi kode etik perang oleh PBB (UN Code War). Tak mudah untuk mengaplikasikan UN Code War. Dalam Perang Vietnam, misalnya, UN Code War, dilanggar terang-terangan oleh pasukan AS dengan menjatuhkan bom Napalm yang membakar hutan dan merusak lingkungan secara masif.  Bahkan sebagian umat Islam pun kini melanggarnya secara membabi buta dengan membunuh dan menghancur kan properti milik orang-orang Ahmadiyah yang kalah dan minoritas di mana-mana. Tahap ketiga adalah mengejawantahkan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Sikap Rasul yang menyuapi pengemis Yahudi buta itu dengan makanan merupakan ajaran anti-kekerasan yang prima.

 Rasul telah menirukan akhlak Allah yang mengasihi dan mencintai semua makhluknya tanpa reserve. Sebagai pemimpin negara, Rasul memberikan pelajaran bahwa kemakmuran penduduk Madinah tidak akan sempurna bila warganya yang mengemis dan buta tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 Kemakmuran dan kesejahteraan sebuah negara, tulis EF Schumacher, tidak diukur dari berapa jumlah orang kayanya, tapi dari berapa banyak jumlah orang miskinnya. Makin banyak jumlah orang miskinnya, meski di negeri itu ada sejumlah orang kaya raya dan banyak bangunan mewah, berarti negeri itu miskin dan gagal menyejahterakan rakyatnya.

 Muhammad telah memberikan pelajaran kepada umat Islam untuk memedulikan dan memperhatikan orang-orang miskin, lemah, dan tak berdaya tanpa melihat suku dan agama mereka agar tingkat kehidupan mereka terangkat. Apa yang dilakukan Rasul merupakan sikap seorang humanis altruis yang menghargai manusia karena kemanusiaannya. Nabi pernah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berdiri menghormati mayat yang lewat meski mayat tersebut orang Yahudi. Ketika ditanya kenapa Rasul bersikap seperti itu, jawabnya karena ia seorang manusia. Bandingkan, misalnya, dengan sikap sebagian orang Islam yang menggali kubur seseorang kemudian mayat itu dibiarkan tergeletak begitu saja karena mayat itu orang Ahmadiyah. Jelas, sikap tersebut jauh dari akhlak Rasulullah. Tiga contoh akhlak Rasul tersebut, kalau kita cermati, merupakan bentuk pendidikan antikekerasan yang universal. Jika Maria Montessori  menyatakan, “Avoiding war is a work of politics, establishing peace is a work of education,” perilaku Nabi Muhammad justru mengisyaratkan pendidikan antikekerasan merupakan hak  dan kewajiban semua umat manusia (non-violence education for all). Kebesaran Islam di masa Muhammad, tulis Huston Smith dalam bukunya,  The Religion of Man, adalah karena ajarannya yang mengedepankan toleransi dan perdamaian.

  • view 118