Muhammadiyah Itu Pembelajar

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Muhammadiyah Itu Pembelajar

Pak AR  Wali Sembilan

                     Oleh Syaefudin Simon                        

 Tokoh-tokoh Muhammadiyah itu asli pembelajar. Saya tahu setelah berkenalan dengan mereka. Orang setua Pak AR, misalnya, masih ingin kuliah lagi. Begitu pula wanita seusia Bu Syarifah Muchtarom, yang umurnya 60 tahun lebih, masih terus ingin kuliah.  Prinsip long life study benar-benar tertempel dalam pikiran dan hati orang Muhammadiyah.

Almarhum Dr. Kuntowijoyo, dosen Fakultas Sastra UGM, misalnya, kader Muhammadiyah dan novelis  yang paling saya sukai,  selalu sedang baca buku kalau saya mertamu ke rumahnya. Seperti biasa kalau saya datang, saya ngundang  Pak Kunto untuk ceramah, kadang untuk acara HMI; kadang untuk masjid Syuhada.  Dan Pak Kunto tak pernah menolak undangan ceramah meski hanya dijemput pakai sepeda motor dan nirhonor. 

Pak Kunto  orangnya kalem, suaranya lembut, pribawanya adem. Tapi jangan tanya imajinasinya. Luar biasa! Hal itu terlihat dari novel-novelnya. Salah satu novelnya yang saya suka berjudul “Khotbah Di Atas Bukit”. Novel ini menceritakan lelaki tua bernama Barman yang ingin menikmati hidup di atas bukit. Anaknya, Bobi yang pengertian, menyiapkan rumah dan gadis cantik bernama  Popi, agar ayahnya betah di perbukitan itu untuk menghabiskan masa tuanya. Ndilala Barman ketemu orang misterius bernama Human di bukit itu. Keduanya kemudian akrab dan sering tukar pikiran. Setelah berkenalan dengan Human inilah, Barman yang tadinya ingin menikmati masa tua dengan tak mau berpikir apa-apa, justru jadi berpikir  macam-macam sehingga mengalami konflik batin. Ujung ceritanya tragis, Barman bunuh diri. Dan Popi lari bersama sopir truk untuk melampiaskan hasrat seksualnya yang tidak terpuaskan oleh  Barman.  

Novel lain Kuntowijoyo yang juga saya sukai berjudul   “Wasripin  dan Satinah”. Novel ini settingnya kehidupan sosial budaya masyarakat Islam abad ke-19, zaman KH Ahmad Rifa’i yang hidup di Kabupaten Kendal, Jateng.  KH Ahmad Rifa’i  atau  Ki Ripangi  adalah tokoh revolusioner Islam yang pernah belajar di Mekah sezaman dengan Kyai Kholil  dari Madura dan Kyai Nawawi dari Banten. Kyai Kholil adalah gurunya Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan kakek Gus Dur. Beliau meninggal di Madura.  Sedangkan Kyai Nawawi tetap tinggal di Arab dan meninggal di sana. Beliau menjadi “mursyid” dari santri-santri asal Asia dan Afrika di Mekah. Kyai Nawawi banyak menulis kitab dalam bahasa Arab dan di Mekah terkenal dengan sebutan Syaikh Nawawi Al-Bantani. 

Ki Ripangi yang lahir di Desa Tempuran Kabupaten Kendal  ini adalah tokoh yang nonkompromis  baik kepada Belanda maupun priyayi Jawa (yang kerjasama dengan Belanda).  Ki Ripangi juga dikenal sebagai ulama abad ke-19 yang paling produktif menulis kitab. Ada 600-an  kitab karya Ki Ripangi yang membahas fiqih, tauhid, tasawuf, jinayah (hukum pidana) dan siyasah (politik). Semua kitabnya ditulis dalam bentuk pantun berbahasa Jawa dengan huruf Arab pegon. 

KH Ahmad Syadzirin Amin, tokoh Rifa’iyah – organisasi Islam penerus ajaran KH Ahmad Rifa’i – yang memimpin Pondok Pesantren Paesan, Kedungwuni, Pekalongan pernah  menghitung, ada sepuluh ribuan nadhom atau pantun yang ditulis Kyai Rifa’i dalam kitab-kitabnya. Bayangkan dalam kesibukan memimpin umat dan melawan Belanda, Ki Ripangi  sanggup menulis pantun sebanyak itu. Kita yang hidup di zaman normal iri terhadap intelektualitas Ki Ripangi.

Prof. Sartono Kartodirdjo, guru besar sejarah UGM,  sangat kagum terhadap Ki Ripangi. Pak Sartono menyatakan tidak ada ulama Indonesia yang seproduktif menulis kitab seperti Ki Ripangi sampai detik ini. Dalam melawan Belanda, kata Prof. Sartono, Ki Ripangi tidak hanya berjuang dengan tindakan, tapi juga dengan  tulisan. Itulah sebabnya Belanda sangat takut dengan Ki Ripangi. Beliau pun ditangkap kemudian dibuang ke Menado.  Untuk mengenang jasa-jasa beliau, saya – mewakili Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Jakarta -- pernah menyelenggarakan seminar nasional tentang Peran KH Ahmad Rifa’i dalam Perang Kemerdekaan Indonesia di Yogya, tahun1992, dengan pembicara Dr. Kuntowijoyo, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Dr. Mussa Asy’arie, dan KH Syadzirin Amien. Dari seminar itu, tercetus gagasan untuk mengusulkan KH Ahmad Rifa’i menjadi Pahlawan Nasional. Usul tersebut disetujui Jakarta tahun 2004. Kini, sebuah jalan pratokol di Kedungwuni, Pekalongan diberinama Jl. KH Ahmad Rifa’i. 

  Kembali ke cerita novel Pak Kunto. Wasripin, tokoh utama novel “Wasripin dan Satinah”  adalah anak miskin yang dipelihara wanita-wanita nakal di Jakarta, kemudian kabur dari rumah induk semangnya; lalu jadi buruh pelabuhan. Nasib membawa Wasripin  jadi dukun, dan terkenal sebagai orang sakti yang dihormati masyarakat.

 

Dengan setting masa-masa Ki Ripangi hidup, novel ini jadi unik. Bagaimana orang mengelu-elukan nama Ki Ripangi dan menghormatinya sedemikian rupa yang tak terbayangkan di masa kini. Maklumlah, nama Ki Ripangi saat  ini seperti “tenggelam” di tengah hiruk pikuk organisasi Islam yang muncul di abad 20 seperti Muhammadiyah, NU, Jami’atul Wasliyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain.   Belum pernah ada novelis sebelumnya yang mengangkat roman sejarah dengan setting zaman Islam Ki Ripangi di abad 19 tersebut. Itulah hebatnya Pak Kunto, kader Muhammadiyah yang sangat disukai Pak AR.

Tokoh Muhammadiyah lain, Pak Amien Rais, juga  pembelajar dan maniak buku. Meski sudah jadi doktor politik dari Chicago University Amrik, Pak Amien tak pernah berhenti membaca.  Hanum Salsabiela Rais, putri Pak Amien dalam bukunya “Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta”   menceritakan bahwa Pak Amien kalau pergi keluar negeri oleh-olehnya selalu buku. Jumlahnya sekoper besar penuh, cerita Hanum. Uang honor ceramah di luar negeri habis untuk beli buku. Menjelang tidur, di mobil, menunggu tamu, dan lain-lain kalau ada waktu sedikit senggang, Pak Amien selalu memanfaatkannya untuk membaca.

Pak Amien juga ternyata rajin membaca tulisan-tulisan mahasiswa di koran-koran Yogya. Saya tahu karena Pak Amien pernah memperkenalkan  saya ke teman-temannya dosen Fisipol UGM.

 “Ini lho Mas Syaefudin Simon yang rajin menulis artikel di KR. Saya kalau mau khotbah Jum’at membaca dulu artikel Mas Simon untuk bekal ceramah.”

Ah Pak Amin kalau ngalem agar orang seneng ada ada aja.  Tapi,  memang begitulah, kata Ki Sanusi,  cara gampang cari pahala. Menyenangkan orang lain.

 Saya hanya nyengir karena saya tahu memang begitulah gaya Pak Amien -- selalu menyanjung orang agar  ia senang. Ini pasti ajaran Pak AR. Ingin selalu menyenangkan orang lain. Jadi saya tidak geer mendengar sanjungan Pak Amien.  

 Prof. Dawam Rahardjo juga sama. Mas Dawam – panggilan akrab  kader Muhammadiyah yang prolifik ini – juga pembelajar abadi dan maniak buku. Kalau masuk ke ruangannya di kantor Lembaga Studi Agama dan Filsafat Jakarta – koleksi bukunya luar biasa banyak dan sangat beragam. Koleksi buku di rumahnya lebih banyak lagi. Rumahya penuh buku.  Mulai buku ekonomi, sosial, budaya, agama, filsafat, sastra, psikologi, semua ada. Padahal Mas Dawam itu alumni fakultas ekonomi UGM. Itulah sebabnya Mas Dawam  terkenal sebagai penulis prolifik. Apa saja bisa ditulisnya, termasuk cerpen. Sastrawan Umar Kayam, Guru Besar Sastra UGM, pernah mengundang Mas Dawam dalam seminar sastra sebagai pembicara khusus mengenai perkembangan cerpen di Indonesia. Unik ‘kan?

Yang lebih unik lagi, cerita kehidupan da’iah (penceramah perempuan) Muhammadiyah, Ibu Sjarifah Muchtarom dari Solo. Saya pernah terkaget-kaget ketika Bu Syarifah menceritakan kehidupannya yang penuh perjuangan untuk belajar. Bu Sjarifah bercerita tentang dirinya pada seminar “Dakwah dan Pembangunan” di Yogya tahun 1980-an. Katanya:  Saya nikah muda sebelum tamat SMA dengan Pak Muchtarom. Padahal saya ingin sekolah. Tapi apa daya? Setiap saya  mengandung, suami  masuk penjara.   Belanda rupanya selalu mengawasi gerak-gerik bapak. Dan berkali-kali bapak masuk penjara. Ya, akhirnya, sampai usia lima puluh tahun dan banyak anak, saya tidak bisa meneruskan sekolah.

“Nah, kesempatan sekolah baru terbuka setelah merdeka dan anak saya yang ketiga sudah masuk SMA. Waktu itu saya berumur 50 tahun lebih,” kata Bu Sjarifah.

“Saya pun mendaftar SMA, sekelas sama  anak saya. Lulus SMA, saya kuliah di IKIP Semarang, juga bareng anak saya yang lain, cerita Bu Sjarifah. Sampai akhirnya lulus di  usia 60 tahun.”

Bu  Sjarifah Muchtarom kalau ceramah benar-benar membangkitkan semangat anak muda. Suaranya menggelegar tapi enak didengar. Dakwah sudah jadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan Bu Sjarifah Muchtarom  meski waktu itu usianya sudah 65 tahun. Semangat belajar sampai kakek-nenek, itulah ciri orang Muhammadiyah. Bu Sjarifah Muchtarom adalah pembelajar  dan pendakwah abadi tanpa pamrih, ciri khas kader Muhammadiyah.  

Orang tak banyak tahu kalau Pak AR itu pecinta   sastra dan biografi orang-orang besar. Novel, cerpen, dan artikel-artikel sejarah selalu dibacanya. Bahkan artikel kecil tulisan saya di koran Kedaulatan Rakyat Yogya  saja dibaca Pak AR sampai beliau mengucapkan terima kasih kepada saya. Novelis Agus Fahri Husen yang kader Muhmmadiyah menyaksikan sendiri bahwa Pak AR sering membuat puisi. Bahkan, kata Agus Fahri Husen, Pak AR pernah membuat lirik lagu mocopotan (lagu langgam Jawa).  Jadi, Pak AR ini seniman dan sastrawan.

Sebuah pantun yang menggambarkan isi hati Pak AR ketika “terpilih lagi dan terpilih lagi” sebagai Ketum PP Muhammadiyah, tersebut di bawah ini:

Pak AR mundur sudah diniati

Namun Muhammadiyah masih menghendaki

Akhirnya jadi Pak AR memangku

Karena muktamar masih setuju

 Pak AR memang berkali-kali menolak untuk dipilih dan diplih lagi jadi Ketum. Soalnya sudah dua kali. Tapi muktamirin tetap menghendaki Pak AR.  Pertimbangannya, tak ada orang Muhammadiyah yang bisa berkomunikasi langsung dan dihormati Pak Harto selain Pak AR.

Di bawah kepemimpinan Pak AR, Muhammadiyah sangat dekat dengan Istana. Dampaknya, amal Muhmmadiyah pun berkembang pesat. Muhammadiyah tercatat sebagai organisasi yang paling banyak menerima bantuan dari pemerintah. Sampai-sampai Pak Sudharmono, Mensesneg waktu itu, pernah memberi tahu stafnya, agar bantuan Muhammadiyah diperkecil untuk pemerataan.

Tapi kemudian, staf  Pak Darmono memberi tahu bahwa Pak Harto sudah berpesan agar jangan pernah menolak permintaan bantuan dari Muhammadiyah. Pak Darmono pun akhirnya mengalah. “Ya sudah laksanakan seperti pesan Pak Harto.” 

Jadi, persahabatan Pak AR dengan Pak Harto membawa berkah untuk Muhammadiyah. Meski demikian, Pak AR pun tidak selalu pro terhadap kebijakan Pak Harto. Bahkan Pak AR pernah berbicara sampai tiga kali kepada Pak Harto agar mengundurkan diri. Tentu saja, cara ngomongnya denga bahasa Jawa halus dan bijak ala Pak AR sehingga Pak Harto tidak marah.

Dari gambaran di atas (orang Muhammadiyah sebagai pembelajar tulen), maka, kalau Pak AR bercerita ingin kuliah lagi untuk nambah ilmu di Universitas Sultan Agung (Unisula) Semarang, bukan cerita humor. Itu serius.  Tapi ”malang” bagi Pak AR. Beliau ditolak jadi mahasiswa karena Unisula  menginginkannya jadi dosen. Karena jadi dosen, Pak AR pun rajin  belajar sendiri (otodidak) untuk persiapan menghadapi mahasiswa yng kritis.

Itulah  karakter umum tokoh Muhammadiyah yang pembelajar. Ingin terus mencari ilmu sampai kapan pun.  Kader-kader Muhammadiyah meresapi betul hadist Nabi “Uthlubul ilma minal mahdi  ilal lahdi”. Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga kuburan.

Saya sering melihat Pak AR di ruang tamu rumah Cikditiro 19A sedang membaca serius kitab-kitab tebal. Saya tidak tahu apa judul kitab yang sedang dibacanya. Di usia tua dan di sela-sela kesibukannya, beliau selalu menyempatkan dirinya untuk membaca kitab, buku, dan koran. Pak Syukriyanto, putra Pak AR, menceriatakan kalau beliau selalu membaca koran pagi KR. Kalau ada berita dan artikel yang menurut Pak AR bagus, beliau menandainya dengan pulpen atau stabilo, agar sewaktu-waktu gampang dicari kembali. Berita tentang masalah umat dan rakyat kecil paling disukai Pak AR.

   Banyak orang mengira,  menyajikan Islam dengan enteng-entengan seperti ceramah Pak AR  itu  mudah. Padahal, justru itulah yang sulit. Pak AR berusaha menyajikan Islam sebagai agama yang mudah, enak diikuti, enteng, dan menyenanagkan.  Bukan agama yang sedikit-sedikit marah lalu mengafirkan orang; mengobrak-brik tatanan masyarakat yang sudah berjalan baik.

Dalam menjawab persoalan umat, misalnya,  Pak AR jarang sekali menggunakan pendekatan fikih. Lebih banyak pendekatan budaya. Pak AR, misalnya, pernah ditanya: bagaimana hukumnya orang makan  cacing. Jawabnya, apakah selama ini nenek moyangmu makan cacing? Tidak ‘kan?, kata Pak AR. “Cacing itu makanan ikan, nanti ikannya marah karena  ndak kebagian.”

Di situ Pak AR tidak menjawab dengan pendekatan fikih karena bisa menimbulkan perdebatan hukum. Dan, perdebatan hukum nyaris tak ada titik akhirnya.  Sedangkan pendekatan kultural, bisa menyelesaikan persoalan dengan  win-win solution.

Itulah sebabnya Pak AR butuh banyak bacaan.  Maklumlah sebagai tokoh nomor satu Muhammadiyah, beliau  harus tahu banyak hal untuk meladeni pertanyaan umat yang macam-macam dan aneh-aneh.

Masyarakat yang suka minta hal-hal muskil – seperti orang Cina nonmuslim yang ingan mayat  ayahnya disalatkan di masjid – jangan dikira mencari solusinya mudah.  Itu masalah sulit dan  kompleks secara fiqih.  Bagaimana hukumnya dari aspek syar’i, misalnya, tak gampang dipecahkan. Tapi karena ilmu agama Pak AR luas dan rajin “pikni” --  maka beliau bisa memberikan pemecahan yang memuaskan semua pihak. Kasus mayat Cina itu tak akan terpecahkan jika Pak AR hanya membaca kitab-kitab cemprengan. 

Almarhum KH Mustofa Ya’qub, MA  ahli fiqih alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir yang juga  imam besar Masjid Istiqlal mengibaratkan Pak AR sebagai salah seorang  “wali sembilan”. Wali sembilan (wali songo) itu menyajikan Islam yang indah, ramah, dan rahmah. Masyarakat merasa aman dan adem berada dalam naungan wali sembilan.  Beda dengan   “wali sempalan”. Yang terakhir ini adalah orang yang suka menyajikan Islam dengan keras, kejam, dan marah. Jika ada orang berbeda pendapatnya dengan wali sempalan maka langsung divonis sesat dan kafir.  Kayaknya hanya pendapat dia yang benar.  Yang lain salah.

Benar apa kata KH Mustofa Ya’kub. Pak AR adalah  salah seorang tokoh wali songo abad 20.  Seperti halnya Sunan Bonang yang banyak menggubah lagu – salah satunya lagu Tombo Ati – Pak AR pun pernah menggubah lagu terjemahan Al-Fatihah. Beberapa lagu anak-anak juga diubah liriknya oleh Pak AR agar lebih Islam. Sejumlah pantun juga dibuat Pak AR untuk mengekspresikan isi hatinya dalam pelbagai persoalan.

Semua itu, tentu saja, membutuhkan energi dan kreasi. Pak AR melakukannya dengan senang hati untuk menyebarkan pesan-pesan Ilahi.

 

 

 

 

 

 

  • view 163