Santri dan Romi

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Santri dan Romi

Santri dan Romi

 

Oleh Syaefudin Simon

Independent Journalist/GW Syndicate

 

Hari ini, 22 Oktober, kaum santri di berbagai pondok pesantren memperingati   Hari  Santri Nasional dengan aneka macam acara unik. Ada yang membaca satu milyar salawat Nariyah, Yasinan, Marhabanan, pertandingan sepak bola api, dan macam-macam. Meriah.

Menjadi santri itu gampang-gampang susah. Gampangnya, persaratannya mudah. Tak perlu tes tulis, ujian lisan, dan surat keterangan polisi. Tapi susahnya, santri harus bermoral dan berakhlak mulia. Tambah lagi, harus nasionalis. Jika tidak nasionalis, sepandai apa pun mengaji kitab kuningnya, kata Menteri Agama Lukman Hakiem Saifuddin, ia bukanlah santri.  

Sarat harus nasionalis inilah yang agaknya sulit terpenuhi untuk kalangan aktivis Islam kanan seperti Hizbut Tahrir, Majlis Mujahidin, dan FPI. Ini karena aktivitas mereka bertujuan mendirikan Negara Islam yang berbasis hukum syari’ah. Tujuan tersebut menjadikannya --  meski menguasai ilmu-ilmu keislaman – bukan organisasi santri.  Sebab bagi santri, Indonesia secara hakikat sudah negara Islam. Seperti Negara Islam Madinah zaman Rasul yang menjunjung pluralisme dan kemanusiaan.

Lalu apa hubungannya dengan Romi? Romi – panggilan akrab Roma Hurmuziy, Ketum PPP – adalah santri. Kesantriannya terunut dari eyangnya KH Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. Bagi kaum santri, jejak genealogis ini sangat penting untuk menunjukkan level kehormatan seseorang berdasarkan “warna darah”nya.

 

Dari sudut pandang ini, Romi masuk dalam santri darah biru. Santri darah biru dalam kepercayaan tradisional  NU, punya keistimewaan karena bisa menjadi agen wasilah  -- semacam agen penghubung --  seseorang untuk sampai kepada pemberi syafaat, yaitu  Rasulullah.

 

Almarhum KH Bisri Sansuri, sewaktu saya masih belajar di madrasah Tsanawiyah, dalam tablig akbar di Ponpes Al-Anwariyah Tegalgubug,  menyatakan,  kaum Nahdilyin bisa saling bergandeng tangan dengan para kyai (wasilah) untuk masuk surga. Konsep wasilah atau tali penghubung inilah yang menjadi ciri khas santri sehingga sepanjang hidupnya, santri harus dekat dengan kyai. Derivasi konsep wasilah ini kemudian melahirkan istilah ‘ngalap berkah’ dan selanjutnya mentradisikan khaul untuk memperkuat wasilah tadi.

Tradisional? Betul bila dilihat dari aspek modernisme dan  demokrasi Barat. Tapi tidak di dunia Timur. Prof. Dr. Komarudin Hidayat menyatakan kedekatan santri dengan kyainya sepanjang  hidup, lalu diteruskan dengn khaul ketika sang kyai wafat, adalah instrumen ampuh untuk penegakan moral dan akhlak. Ini artinya, keteladanan akhlak kyai selalu hidup di hati kaum santri sepanjang masa. Fenomena ini berbeda dengan pendidikan umum, yang setelah lulus sekolah, terputus hubungannya dengan guru dan kepala sekolahnya. Tak ada lagi teladan hidup setelah keluar dari sekolah. Ini berbeda dengan santri yang terus memelihara keledanan  hidup ustad dan kyainya.

 Anak-anak santri yang dekat dengan kyai merasa hidupnya selalu diawasi oleh kyainya sepanjang masa. Wasilah dan khaul adalah sarana tak tergantikan dalam pengawasan moral dan akhlak kaum santri oleh kyai tersebut.

 

Saya yang akhir-akhir ini bergrup WA dengan santri Tegalgubug, merasakan betul detak jantung mereka. Betapa kyai-kyai di mana mereka pernah mengaji kepadanya, seakan punya mata elektronik yang selalu mengawasi tingkah laku santri. Setiap tahun, misalnya, kaum santri perlu silaturahmi kepada kyainya – entah ia masih hidup atau sudah wafat – untuk menjaga wasilah. Jika sudah wafat, silaturahmi itu dilakukan dengan jalan tahlilan di kuburannya.

Dari gambaran tersebut, PPP di bawah Ketum Romi sebetulnya menyimpan potensi dahsyat untuk berkembang. Kenapa? Romi adalah cicit pendiri NU, Kyai Wahab Chasbullah.  Dan PPP secara historis adalah representasi partai santri. Pinjam istilah Fachry Ali, PPP adalah partai paling sah yang menyimbolkan keislaman integral.  Persoalannya, ungkap Fachry, apakah structural symbol integration (SSI) ini masih memiliki kekuatan persuasi untuk mengikat “hati nurani”  rakyat Indonesia yang mayoritas Islam? Inilah yang jadi tantangan Romi jika PPP ingin menjadi tiga besar  dalam Pemilu 2019.

PPP dibandingkan PKB, misalnya, punya nilai plus. Ini karena PKB hanya mewakili kekuatan simbol Nahdhiyin dan anak-anak organisasinya. Sementara PPP,  selain mewakili kekuatan simbol Nahdhiyin, juga mewakili -- secara historis --  kekuatan simbol  Muhamadiyah, Jamiatul Washliyah, Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (GASBIINDO), Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Wathan, Mathlaul Anwar, Serikat Nelayan Islam Indonesia (SNII), Kongres Buruh Islam Merdeka (KBIM), Persatuan Umat Islam (PUI), Al-Ittihadiyah, Persatuan Organisasi Buruh Islam se Indonesia (PORBISI), Persatuan Guru Agama Islam Republik Indonesia (PGAIRI), Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Al-Irsyad Al-Islamiyah dan Wanita Islam.  

Dari gambaran di atas, PPP secara tradisional punya potensi besar untuk berada di posisi tiga besar dalam Pemilu 2019 nanti. Tapi secara modern, apakah PPP cukup rasional untuk berada di tiga besar itu? Pinjam teori sejarawan Kuntowijoyo, simbolisme di zaman  modern akan runtuh tergilas rasionalisme. Dan rasionalisme menuntut bukti-bukti rasional yang menguntungkan rakyat bila   mereka memilih PPP.

PKS, misalnya, berjaya ketika punya tagline rasional sebagai partai bersih dan antikorupsi. Begitu juga Partai Demokrat. Tapi kemudian  keduanya hancur ketika tagline itu ternyata tidak kompatible dengan fakta (saat kader-kader elitnya terlibat korupsi).

 

Tapi jelinya, ketika PKS melihat celah politik untuk mengusung kembali tagline “bersih dan anti korupsi”  dengan menolak Pansus KPK, sekali lagi PKS punya alasan untuk kampanye dengan tagline antikorupsi yang dulu pernah membesarkannya. Rakyat Indonesia yang “pelupa” niscaya mudah terbius kembali terhadap tagline PKS tersebut.

Lalu, masih adakah tagline strategis untuk membangkitkan structural symbol integration (SSI) PPP guna “mengikat” hati rakyat? Pernyataan Ketum Romi tentang strategi memutus radikalisme dengan empat ukhuwah  (islamiyah, insaniyah, wathaniyah, dan 'alamiyah), tampaknya cukup seksi untuk menjadi tagline PPP.  

 

Fokusnya adalah antiradikalisme. Ini karena setelah munculnya ISIS, radikalisme menjadi monster yang sangat menakutkan rakyat Indonesia. Bila  PPP sebagai partai Islam mengusung tagline antiradikalisme dengan basis empat ukhuwah tadi, niscaya simpati rakyat akan mengalir kepada partai berlambang kiblat ini. Insya Allah.

  • view 20