Kromo Inggil Untuk Sri Paus

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 05 Oktober 2017
Kromo Inggil Untuk Sri Paus


Kromo Inggil  Untuk Sri Paus

 

 Syaefudin Simon

 

Agama dalam hal tertentu ternyata mirip partai politik. Suka berebut jumlah pengikut. Makin banyak pengikutnya, agama tersebut merasa makin kuat. Jika kuat, ia makin berkuasa. Hal itu kentara sekali pada agama Islam dan Kristen di DIY tahun 1980-an.

 

Waktu saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, tahun 1983, suasana perebutan pemeluk agama, khususnya Islam dan Kristen, sangat terasa. Dalam obrolan dengan pemuda masjid, saya sering mendengar keluhan pemuda Islam di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul mengenai perpindahan agama dari Islam ke Kristen karena uang. Di Kecamatan Rongkop yang kering, misalnya, gereja membagikan air dan sembako kepada penduduk secara gratis agar simpati kepada Kristen. Kemudian orang Kristen membangun sekolah dan klinik gratis untuk penduduk setempat.

Tresno margo kulino! Karena sering berobat ke klinik gratis itu, lama-lama mereka jatuh cinta kepada Kristen dan akhirnya memeluk agama tersebut. Itulah fenomena Kristen yang berhasil merebut simpati umat Islam di Gunung Kidul tahun 1980-an!

 

Di Yogyakarta saat itu ada tiga orang yang paling getol kampanye anti-Kristenisasi: Drs. Jalal Muchsin, Drs. Amin Mansur, dan Drs. Asnawi Harahap. Pak Jalal Muchsin sering mengisi kuliah di Masjid Syuhada dengan menyampaikan laporan tentang kristenisasi di Gunung Kidul melalui program pembagian sembako, klinik, dan sekolah gratis. Akibatnya, kata Pak Jalal, banyak umat Islam yang pindah agama ke Kristen. Sedangkan Pak Amin Mansur adalah orang yang rajin menyusuri data dan analisis migrasi agama dari Islam ke Kristen di DIY.

 

“Jika kondisi ini dibiarkan, dalam 50 tahun ke depan umat Islam jadi minoritas di DIY,” kata Pak Amin mengingatkan. Adapun Pak Asnawi Harahap adalah da’i yang rajin keluar masuk kampung terpencil untuk menyadarkan umat.

 

“Kita Umat Islam selama ini  sabar menghadapi ujian dan senantiasa berusaha mempertahankan iman dari godaan dan rayuan agama lain,” kata Pak Asnawi. Maksudnya rayuan agama Kristen yang rajin memberikan sembako dan obat-obatan gratis. Tapi kalau kita sabar terus menerus tanpa berusaha mencegah kristenisasi, lanjut da’i asal Suku Batak ini, umat Islam di Yogya dalam 50 tahun lagi, akan minoritas.

 

Perjuangan tiga serangkai anti-Kristen ini relatif berhasil. Umat Islam tersadar bahwa secara statistik jumlahnya makin surut di DIY. Departemen Agama DIY, yang saat itu pejabat Ketua Penerangan Agamanya adalah Drs. Samlan Sulaiman, SH – kemudian menyusun strategi untuk memperlambat laju kristenisasi tadi. Tentu saja, trio antikristenisasi itu kemudian menjadi tokoh Islam populer yang sering diundang ceramah ke mana-mana dengan spesialisasi bidang kajian kristenisasi. Tapi malang, ketiga serangkai ini ketika meninggal ternyata berada di rumah sakit Kristen.

 

Pak Asnawi Harahap meninggal di rumah sakit Bathesda Yogya, sedangkan Pak Jalal Muchsin dan Pak Amin Mansur meninggal di rumah sakit Panti Rapih Yogya. Jelas ini ironis. Tapi apa daya? Bu Asnawi Harahap ketika saya tanya kenapa memilih dirawat di RS Bathesda ketimbang PKU Muhammadiyah, padahal Pak Asnawi adalah kader Muhammadiyah, dia bilang: Biaya rawat di PKU lebih mahal dan fasilitasnya kalah dibandingkan Bathesda.

 

Nah lo! Dalam keadaan terjepit, ternyata setiap orang bersikap pragmatis, tak terkecuali keluarga Asnawi Harahap yang dari ujung kaki sampai ujung rambut adalah Muhammadiyah tulen. Saya tahu, baik Pak Asnawi maupun Bu Asnawi, sejak kecil hingga dewasa dibesarkan Muhammadiyah.

 

Apa yang dikatakan Bu Asnawi juga dirasakan umat Islam yang lain. Bahkan Pak AR pun ikut merasakannya. Maklumlah saat itu, tahun 1980-an, PKU Muhammadiyah Yogya masih kecil, kalah dibandingkan RS Bathesda dan Panti Rapih yang dapat subsidi dana dari luar negeri. Jadi wajarlah kalau wajah Bathesda dan Panti Rapih lebih ramah dan manusiawi dibanding dengan PKU. Itulah sebabnya, meski Bathesda (Protestan) dan Panti Rapih (Katolik) adalah rumah sakit Kristen yang di laci mejanya di kamar rawat inap ada Injil, banyak umat dan tokoh Islam yang jika sakit memilih dirawat di rumah sakit itu ketimbang di PKU.

 

Pak AR menyadari kondisi di atas. Pada tahun 1989, ketika sedang dirawat di RS Gatot Subroto, Jakarta, Pak AR mendengar kabar bahwa Sri Paus – Pemimpin Umat Katholik Dunia -- akan datang sebagai tamu negara di Indonesia. Beliau juga akan mampir ke Yogya. Walaupun Pak AR waktu itu sedang istirahat, tapi tetap memikirkan kondisi umat dan dakwah Islam. Pak AR juga prihatin mendengar Gereja Katolik melakukan program kristenisasai dengan memanfaatkan kemiskinanan umat Islam. Yaitu, melalui pemberian sembako, obat-obatan, dan sekolah gratis.

 

Ceritanya, di Yogyakarta ada pasangan suami istri tuna-netra yang kesulitan membayar biaya bersalin ratusan ribu rupiah di RS Bethesda. Suami perempuan tuna-netra itu, asal Sulawesi, kuliah di Institut Dakwah Masjid Syuhada (IDMS). Pasangan tersebut tidak tahu harus ke mana lagi mencari uang, karena ternyata tidak ada orang Islam yang bisa membantunya. Seandainya laki-laki itu datang ke rumah Pak AR tentu akan dicarikan jalan. Tapi laki-laki itu tidak kenal Pak AR dan akhirnya putus asa.

 

Di tengah kekalutan sang suami itu, RS Bethesda menawarkan solusi. ”Kalau mau, gampang. Saudara masuk Kristen, biaya akan dibebaskan,” kata salah seorang petinggi rumah sakit itu. Dengan pikiran akan bebas dari himpitan utang, si tuna-netra tersebut masuk Kristen.

 

Berdasarkan data-data statistik migrasi Islam ke Kristen dan kisah nyata pasangan tuna-netra pindah agama tersebut, Pak AR kirim surat kepada Sri Paus. Menurut pemikiran Pak AR, cara-cara dakwah Kristen dengan ‘barter uang’ itu tidak etis, juga tidak dibenarkan dalam dakwah agama. Dakwah seharusnya untuk meningkatkan iman masing-masing penganut agama. Bukan untuk mennggalkan iman, lalu beralih ke agama lain karena iming-iming sekolah dan harta.

 

Semula surat tersebut akan dicetak agak banyak, tapi akhirnya hanya dicetak 2000 eksemplar dan disebarkan ke mana-mana, termasuk ke Gereja Katolik dan lembaga-lembaga agama yang berafiliasi dengan gereja di Yogyakarta. Pak Sukri, anak Pak AR, juga diminta untuk mengantarkan surat itu ke Akademi Kateketik (Katolik) di Jalan Ahmad Jazuli; ke koran Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Penerbit yang mencetak surat itu tidak berani mencantumkan identitasnya. Pada surat itu diberi gambar Pak AR dan gambar Sri Paus. Tujuannya ingin mengangkat isu kerukunan beragama yang pelaksanaannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip toleransi.

 

Tanggapan terhadap surat itu bermacam-macam. Ada sekitar tiga orang Katolik yang menanggapi lewat surat kaleng. Mereka berkata macam-macam kepada Pak AR, tapi hal itu didiamkan saja. Ada pula media cetak yang menanggapi positif seperti majalah Media Dakwah, Salafi, dan Salam.

 

Waktu itu Pak AR ditelepon dari Korem, menanyakan apakah benar yang menulis surat itu Pak AR dan apa maksudnya. Pak AR mengakui beliau yang menulis surat itu.

 

“Tidak ada maksud apa-apa, kecuali menjelaskan bahwa penduduk Indonesia sudah beragama Islam walaupun masih awam dan miskin. Karena itu tidak selayaknya dikristenkan dengan memberi supermi, biaya rumah sakit, dan lain-lain,” kata Pak AR tegas.

 

Hal itu disampaikan Pak AR agar Sri Paus bisa memahami dan mengendalikan umatnya supaya tidak melakukan kegiatan seperti itu lagi guna menjaga kerukunan beragama. Dijelaskan pula bahwa rakyat Indonesia sudah memeluk Islam, meskipun tingkat keislamannya masih sederhana dan awam.

 

Tak ada sedikit pun rasa benci Pak AR kepada umat Katolik, apalagi kepada Sri Paus. Selama ini hubungan Pak AR dengan tokoh-tokoh Katholik seperti Romo Mangunwijaya dan Romo Dick Hartoko baik-baik saja dan saling menghormati. Pak AR hanya ingin memberitahukan bahwa cara-cara dakwah dengan memanfaatkan kelemahan ekonomi umat itu tidak baik. Dakwah harus menyentuh hati sehingga pindahnya seseorang dari satu agama ke agama lain tidak berdasarkan ekonomi, tapi panggilan hati. Itulah tujuan surat Pak AR kepada Sri Paus. Setelah semuanya dijelaskan kepada Korem Pamungkas Yogyakarta, akhirnya beres.

 

Tetapi di luar, tersebar berita bahwa Pak AR ditangkap Korem. Ada juga orang Katolik yang mengatakan bahwa Pak AR itu orangnya baik, tetapi kok menulis surat yang demikian. Mereka ada yang mengatakan bahwa Pak AR ditahan. Lalu mereka mengadakan misa agar tidak terjadi apa-apa pada Pak AR.

 

Sri Paus sendiri tidak memberi respon atas surat Pak AR. Hal itu terjadi karena Sri Paus tidak tahu apa isi surat itu. Juga belum tentu surat berbahasa kromo inggil tersebut sampai ke tangan baginda..

 

Pak AR menulis surat tersebut dengan menggunakan bahasa Jawa halus, kromo inggil. Tujuannya untuk menghormati Sri Paus. Menurut Pak AR, Sri Paus itu pemimpin umat Katolik seluruh dunia, tapi dia suka kepada Indonesia, termasuk orang Jawa. Mestinya beliau juga mengerti atau setidak-tidaknya mengapresiasi bahasa Jawa. Apalagi Sri Paus punya staf yang mengerti bahasa Jawa sehingga bisa menjelaskan isi surat tersebut. Dengan menggunakan kromo inggil, Sri Paus akan tahu bahwa Pak AR sangat menghormatinya. Dalam tradisi Jawa, berbahasa kromo inggil biasanya digunakan antar kalangan elit atau orang awam yang berbicara kepada orang terhormat.

 

Surat itu diberi judul “Sugeng Rawuh, Sugeng Kondur.” Isinya mengenai tidak eloknya dakwah yang mengajak migrasi agama dengan iming-iming hadiah, harta, dan sekolah. Lama setelah Sri Paus pulang, Pak AR mendengar dari seorang tokoh Tionghoa, bahwa Sri Paus berterima kasih atas surat tersebut.

 

Saya kira apa yang dilakukan Pak AR ketika memberitahu Sri Paus melalui surat itu masih dalam kewajaran karena keduanya sama-sama pemimpin umat. Soalnya di akar rumput perebutan pengikut antara kedua agama (Islam dan Kristen Katolik) terkadang sangat kasar. Di beberapa daerah miskin seperti di Gunung Kidul, misalnya, meski jumlah umat Islam secara nominal lebih banyak, dalam hal perekrutan iman -- Islam kalah jauh dibandingkan Kristen. Ini terjadi karena gereja relatif punya lebih banyak dana dan logistik ketimbang masjid.

 

Karena itu, jika ada orang Kristen masuk Islam, umat Islam langsung gegap gempita. Migran agama tersebut sering diminta ceramah di masjid-masjid dan kampung-kampung muslim untuk menjelaskan kenapa pindah ke Islam.

 

Kondisi euforia umat Islam jika melihat orang Kristen pindah agama ini, kemudian disalahgunakan oleh para petualang iman untuk mengelabui umat. Pak Asnawi Harahap, misalnya, pernah kedatangan seseorang yang mengaku mualaf. Sebut saja namanya Mr. Lim. Ia mengaku diusir keluarganya karena masuk Islam. Karena ia mualaf, Pak Asnawi pun iba dan bersedia menampung Mr. Lim di tempat tinggalnya di bagian belakang asrama Yasma Putra, Masjid Syuhada.

 

Mr. Lim akrab dengan saya karena kamarnya bersebelahan dengan kamar saya di asrama Yasma. Mr. Lim sering diajak Pak Asnawi berceramah ke mana-mana untuk menjelaskan kenapa ia masuk Islam. Orang Islam Yogya senang. Bahkan kemudian ada orang kaya yang siap memberikan dana untuk mencetak buku kisah Mr Lim masuk Islam. Buku tersebut ternyata laku keras. Mr. Lim pun jadi terkenal dan diundang ceramah ke berbagai daerah. Ia tidak hanya diundang ceramah di kampung-kampung Yogya dan Jawa Tengah, tapi juga diundang ke Kalimantan.

 

Suatu hari Mr Lim diundang untuk tablig akbar di Samarinda, Kalimantan. Ia membawa ribuan buku kisah masuk Islamnya. Biaya perjalanan, akomodasi, dan lain-lain ditanggung donatur. Banyak pula orang Islam Yogya yang memberi uang saku kepada Mr. Lim sebelum berangkat ke Samarinda agar saat berdakwah tidak kekurangan dana.

 

Apa yang terjadi kemudian? Setelah berhasil menjual seluruh bukunya dan mendapatkan uang saku, honor ceramah, dan lain-lain, Mr. Lim tak pernah kembali ke Yogya. Ia menghilang. Pak Asnawi sangat kecewa karena selama ini sangat percaya pada “keislaman” Mr. Lim. Ternyata, Mr. Lim ini hanya seorang oknum petualang iman yang pekerjaannya memang menipu dengan memanfaatkan euforia umat Islam bila melihat orang-orang Kristen pindah ke agama Islam. Mr. Lim yang bermata sipit memanfaatkan hal itu untuk mendapatkan uang.

Mr. Lim yang licik itu teryata jeli memanfaatkan psikologi umat Islam yang tengah “berebut” pengikut dengan umat Kristen. Kasus ‘migrasi agama model Mr Lim’ sering terjadi, baik dalam Islam maupun Kristen. Kadang

 

Melihat penipuan-penipuan semacam itu, para pemimpin umat mulai sadar – berdakwah tujuannya bukan untuk mengajak “migrasi agama”, tapi untuk memperdalam keimanan pemeluk agama masing-masing.

 

Bahkan filosofi berdakwah berkembang lebih jauh lagi. Berdakwah bukan hanya untuk memperdalam iman masing-masing pemeluk agama, tapi juga mengembangkan toleransi, ukhuwah, dan kerjasama kemanusiaan untuk mengatasi problem kemiskinan dan kebodohan.

 

Di kalangan Katolik, misalnya, gereja mulai berubah pikirannya tentang kebenaran suatu agama. Sebelumnya Katolik menganggap bahwa kebenaran hanya ada dalam gereja. Tapi pengalaman di lapangan mengubah pendapat Gereja Katolik bahwa kebenaran ada pula di luar gereja. Pendapat terakhir ini kemudian disahkan secara formal oleh Roma. Itulah sebabnya dakwah Katolik sekarang lebih inklusif.

 

Dakwah Muhammadiyah juga kini lebih inklusif. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, misalnya, kini tidak hanya berdiri di komunitas muslim, tapi juga di komunitas Kristen di Timor Timur, Maluku, dan Papua. Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Timtim dan Papua, misalnya, mayoritas murid dan mahasiswanya beragama Kristen tanpa pretensi untuk memindah agama mereka. Begitu juga sekolah-sekolah Kristen yang berdiri di komunitas Islam di Jawa. Beberapa sekolah dan Universitas Kristen di Jawa dan Sumatera, misalnya, mayoritas murid dan mahasiswa beragama Islam. Mereka juga tidak punya pretensi untuk mengkristenkan murid dan mahsiswanya.

 

Pemikiran yang toleran dan menghargai agama orang lain itu juga berimbas kepada perilaku tokoh-tokoh agama. Di Muhammadiyah, misalnya, ada Buya Syafi’i Maarif -- mantan Pimpinan Pusat Muhammdiyah yang banyak bergaul dengan kalangan Nasrani. Beliau kini mengembangkan pemikiran toleransi dan pluralisme dalam beragama.

 

Saya pernah bertemu secara tidak sengaja dengan Buya Syafi’i Maarif di kantor CSIS, Jakarta beberapa tahun lalu. CSIS (Central for Strategic and International Studies) di tahun 1980-an dikenal sebagai thinktank-nya Orde Baru dan dituduh oleh umat Islam sebagai pusat kajian strategi kristenisasi di Indonesia. Ketika saya bertanya kenapa berada di CSIS, Buya Syafi’i berbisik: CSIS berbeda dengan dulu. CSIS tidak anti-Islam lagi. Selain Buya Syafi’i, Habib Chrizin juga dikenal dengan tokoh-tokoh lintas agama. Dulu, saat saya bertamu di rumah Mas Habib di Yogya, sering sekali tokoh-tokoh agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, bahkan Yahudi dan Shikh sedang berkumpul di sana membicarakan program pengembangan masyarakat.  Habib Chrizin sering keliling dunia karena jariangan persahabatannya yang luas dengan tokoh-tokoh lintas agama tersebut.

 

Di kalangan Katolik juga ada tokoh seperti Romo Mangunwijaya. Romo Mangun yang arsitek itu banyak membangun “perumahan sangat sederhana yang murah dan sehat” untuk kalangan fakir miskin;  dan mayoritas umat Islam. Romo Mangun juga sering terlihat bergandeng tangan dengan Gus Dur dan Mohamad Sobary, tokoh intelektual dan budaywan Islam. Saya sering berkunjung ke padepokan Romo Mangun di pinggir Kali Code, di belakang Pasar Terban.

 

Saya tertarik dengan kutipan sebuah hadis Nabi Muhammad tentang penciptaan wanita yang ditempel di tembok padepokan Romo Mangun di pinggir Kali Code. Bunyinya: “Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam. Karena tulang rusuk itu dekat organ hati, maka   peluklah wanita dengan hati agar kasih sayang berkembang luas.”

 

Interpretasi Romo Mangun itu sangat jitu karena tulang rusuk memang berada di dada dan dekat dengan organ hati. Padahal, sebagian ulama Islam menginterpretasikan hadis itu dengan nada negatif: Wanita terbuat dari tulang rusuk yang bengkok karena itu tidak bisa dipercaya. Jika anda akan meluruskannya, maka akan timbul perselisihan dalam keluarga. Sebuah interpretasi yang memalukan karena diskriminasi gender! Tapi itu dulu. Sekarang sebagian besar ulama punya interpretasi tentang wanita yang mirip Romo Mangun. Hanya nisbahnya yang berbeda. Wanita adalah orang yang melahirkan manusia karena itu harus sangat dihormati. Tapi intinya sama: wanita itu mulia. Itulah pesan kemanusiaan universal yang kini jadi tema pemberdayaan umat. Dunia internasional tahu, pemberdayaan umat melalui perempuan efektivitasnya jauh lebih tinggi dan dampaknya lebih luas. Ini karena perempuan adalah   yang melahirkan generasi dan dekat dengan hati manusia.

 

*****

 

Setelah pemimpin Katolik mengubah pemikirannya bahwa ada kebenaran di luar gereja; lalu konsep dakwah gereja pun berubah. Gereja tidak lagi memaksakan orang-orang muslim miskin untuk migrasi ke agama Katolik, tapi sebaliknya memberdayakan mereka untuk memperbaiki kehidupan sosial-ekonominya. Aktivitas misi dan zending lebih terfokus pada upaya pemberdayaan masyarakat. Toleransi beragama pun menjadi salah satu focus garapannya.

Begitu pula yang berkembang dalam visi misi dakwah Islam. Pemberdayaan umat dan penyadaran pentingnya toleransi terhadap pandangan agama yang berbeda lebih ditekankan dalam dakwah. Di pihak lain, ulama-ulama Islam juga mengembangkan paham toleransi dalam beragama.

 

Banyak sekali rujukan  atau yurisprudensi untuk mengembangkan  paham toleransi beragama dalam Islam, baik pada Qur’an maupun Sunnah Rasul. Nabi Muhmmad sendiri ketika mendirikan “Negara Islam Madinah” membuat perjanjian “toleransi beragama" dengan umat Nasrani, Yahudi, Majusi, bahkan dengan kepercayaan lokal. Perjanjian  yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah (abad ke-7 M) tersebut, enam ratus tahun kemudian (abad ke-13) menjadi rujukan Magna Charta. Dan, Magna Charta kemudian menjadi rujukan Piagam PBB (abad ke-20), tujuh ratus tahun kemudian. 

 

Pak AR jauh hari mengajarkan bahwa dalam berdakwah kita harus memahami psikologi umat. “Berdakwalah dengan enteng, ringan; membuat semua orang tenteram dan bahagia,” kata Pak AR saat memberi wejangan kepada kader-kader Muhammadiyah di Gedung Mualimin, Yogya. Dalam kalimat “enteng, ringan, dan tenteram” ini di dalamnya terkandung pengerian bahwa berdakwah harus mengembangkan toleransi; tidak menjelek-jelekkan agama lain, tidak menimbulkan keresahan dan permusuhan antarumat beragama.

 

Pak AR telah menjalankan strategi dakwah yang rahmatan lil’alamin sesuai tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad. Karena itu, semua pendengar ceramahnya merasa senang dan tenteram.

 

“Agama Islam itu sejuk bila disajikan Pak AR,” kata Ridwan Prasetya, teman saya di UGM yang Katolik. Tak hanya umat Islam yang suka akan ceramah Pak AR yang enteng, ringan, dan sejuk -- tapi juga umat Kristen, Hindu, dan Buddha menyukai ceramah agama Islam Pak AR. Jadi, ketika Pak AR kirim surat kepada Sri Paus tujuannya jelas: mengajak beliau mengingatkan umatnya di lapangan agar berdakwah untuk meningkatkan iman dan takwa; bukan untuk merekrut umat lain agar migrasi agama dengan menggunakan segala macam cara. Ini tidak elok karena agama bukan untuk  dipindah-pindahkan; tapi untuk dijalankan.

Agama bukan partai politik yang berebut konstituen. Karena itu dakwah Islam tujuannya bukan untuk meningkatkan jumlah umat Islam, tapi untuk meningkatkan iman dan takwanya. Sebaliknya, dakwah agama lain;  bukan untuk membujuk umat Islam untuk migrasi ke agamanya, tapi  untuk meningkatkan iman dan takwa pemeluknya. Dengan demikian tolernsi akan terjaga. 

 

Jika pun kemudian ada orang berpindah agama, hendaknya hal itu terjadi karena kesadaran, bukan paksaan. Juga bukan karena rayuan dan imbalan.  

 

Kenapa? “Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu,” demikian Quran al-Kafirun enam. Dari ayat itu, jelas bahwa dakwah untuk memperkuat iman. Bukan untuk mengganti iman. Sebab, hidayah urusan Tuhan. Bukan urusan insan.

 

Dan Pak AR telah menjalankan pesan Quran tersebut sungguhan. Tidak asal-asalan. Termasuk untuk Pemimpin Vatikan.

 

  • view 80