Edisi 10: Pak AR, Wali yang Wara'

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 22 September 2017
Edisi 10:  Pak AR, Wali yang Wara'

Edisi 10

Pak AR, Wali yang Wara’

Oleh Syaefudin Simon

Pak Hardo –  panggilan akrab seorang paranormal dari Pekalongan yang biasanya bisa menyembuhkan orang kena santet dan kesambet makhluk  halus – tiba-tiba angkat tangan. Rupanya makhluk halus yang masuk ke tubuh pasiennnya kelewat sakti sehingga bandel, tak mau pergi meski sudah disembur-sembur dan dijampi-jampi. Padahal, pasien itu adiknya sendiri. Jampi dan mantra yang dilapalkannya  tak mampu mengusir wong alus yang merasuki tubuh adiknya itu.

 Pak Hardo pun bingung. Dalam kondisi seperti itu,  dia ingat Pak AR. Pak Hardo yakin ulama sekelas Pak AR pasti bisa mengusir makhluk halus tersebut.

 Pak Hado tak tahu kalau usir-mengusir makhluk halus bukan keahlian Pak AR. Orang Muhammadiya biasanya  menghindar bila berurusan dengan soal-soal yang tak masuk akal itu.

 Tapi Pak Hardo tak peduli. Dalam hatinya, orang alim seperti Pak AR pasti bisa mengusir makhluk halus atau jin bandel yang mengganggu adiknya itu.

 Maka, datanglah Pak Hardo ke Yogya, menemui Pak AR, minta tolong agar adiknya disembuhkan. Terserah bagaimana cara meneyembuhkannya, kata Pak Hardo. Yang penting Pak AR ‘melakukan sesuatu’ untuk adik yang kesambet jin. Titik.

Sebagai orang Muhammadiyah yang tak percaya dengan hal-hal yang berbau mistik, Pak AR menolak permohonan Pak Hardo. Tapi Pak Hardo keukeuh minta tolong kepada Pak AR agar adiknya disembuhkan. Pak Hardo tahu Pak AR tak akan tega menolak permintaannya. Benar juga, akhirnya Pak AR pun mengalah sekedar mengikuti kemauan Pak Hardo.

Keyakinan Pak Hardo terhadap Pak AR yang bisa menyembuhkan orang kerasukan jin, mungkin bisa diibaratkan keyakinan seorang pasien terhadap dokter tertentu. Maka dokter itu pun acap memberikan pil plasebo kepada pasien untuk sekedar memuaskan “keyakinan” psikologis sang pasien terhadap dirinya. Lucunya, obat-obat plasebo semacam itu sering bisa menyembuhkan pasien, meski obat tersebut hanya mengandung tepung kanji. Itulah dahsyatnya energi keyakinan.

“Ya sudah, baca saja Surat Al-Fatihah, lalu minta kepada Allah agar adiknya disembuhkan,” kata Pak AR. Pak Hardo pun puas karena permintaannya dikabulkan.

Sampai di rumah, resep baca Al-Fatihah dari Pak AR pun diterapkan. Pak Hardo membaca Al-Fatihah, lalu minta kepada Allah agar adiknya disembuhkan.  Dan ternyata sembuh! “Pak AR benar-benar sakti,” gumam Pak Hardo.

Pak AR sakti? Term seperti itu tak ada dalam Muhammadiyah. Dan orang-orang Muhammadiyah tak peduli dengan kesaktian seperti itu. Tapi karena Pak AR lurus dan ikhlas dalam segala perbuatannya, keajaiban-keajaiban seperti itu bisa muncul dengan sendirinya. Allah-lah yang menuntunnya. Dan melalui surat Al-Fatihah itulah Allah menunjukkan mu’jizatnya melalui Pak AR.

Surat Al-Fatihah memang dikenal menyimpan mu’jizat. Sebagai ummul Qur’an – pinjam pernyataan sejarawan Islam Prof. Mansyur Suryanegara – surat Al-Fatihah niscaya menyimpan banyak keistimewaan dan keajaiban. Di kalangan santri tradisional, surat Al-Fatihah diyakini sebagai shifa atau obat segala penyakit.  Makanya, ketika Pak AR memberi resep surat Al Fatihah, Pak Hardo langsung percaya.

Mbak Niniek, seorang wanita dari Purworejo yang punya banyak pengalaman mistis setelah masuk Islam, menulis dalam blognya, bahwa tiap huruf surat Al-Fatihah dijaga secara khusus oleh para malaikat. Karena itu, kata Niniek, jangan main-main dengan bacaan Surat Al-Fatihah. Mbak Niniek yang mengaku sering bertemu Nabi Khidir menyatakan bahwa dia  diberitahu “Nabi Gaib” itu     bahwa ayat-ayat Alquran  menyimpan mukjizat untuk mengatasi segala macam urusan.

Satu hal lagi, banyak sekali hadist yang menyatakan bahwa surat Al-Fatihah adalah  shifa atau obat. Ia tak hanya mengobati penyakit psikis dan kesambet jin, tapi juga penyakit medis. Beberapa tetangga saya di kampung (Tegalgubug, Arjawinangun, Cirebon) terbiasa mengobati anaknya yang sakit panas, batuk, dan gatal-gatal dengan melulurkan air yang sudah dibacakan Al-Fatihah. Dan ajaibnya, banyak yang sembuh. Waktu saya kecil, nenek saya suka bawa arr putih ke depan  kyai  agar dibacakan Al-Fatihah. Air itu kemudian diminumkan ke saya agar sang cucu hidupnya berkah kelak.

Prof. Masaru Emoto, ahli kimia-fisika Jepang dari Hado Institute, Tokyo, pernah melakukan penelitian tentang keajaiban air. Emoto menyatakan bahwa bentuk molekul kristal air berubah-ubah sesuai dengan kondisi di sekelilingnya. Suara musik, pujian, dan  doa yang diperdengarkan  di dekat air, akan merubah bentuk molekul kristal air tersebut.

Menurut Emoto, air mengenali “kata atau kalimat” yang diucapkan di hadapannya  sebagai informasi atau pesan digital kimiawi sehingga ia meresponnya sesuai dengan pesan tersebut. Ketika air menyadari bahwa kata yang diterima membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal heksagonal yang sangat indah, bercahaya  seperti bunga merekah. Sebaliknya, jika air menerima kata-kata negatif, kristal molekul heksagonalnya berubah menjadi suram; tidak indah lagi.

 

Sekedar catatan: secara kimiawi bentuk molekul air yang berupa kristal heksagonal terbentuk karena adanya dua elektron tidak berpasangan pada atom oksigen dalam H2O. Dalam kuliah Coordination Chemistry di MIPA Kimia UGM, Pak Mudjiran menjelaskan, molekul air ini sangat istimewa karena adanya dua elektron tidak berpasangan dalam H20 tadi. Ini  yang menyebabkan air bersifat anomalis; ketika suhunya sangat rendah, di bawah titik bekunya, es berubah menjadi cair. Fenomena ini bisa terlihat di bawah salju abadi di kutub utara. Dan ini pula yang menyebabkan anjing laut dan binatang lain yang hidup di kutub bisa “berumah dan bermain-main” di bawah tumpukan salju. Sayang, Pak Mudjiran belum menjelaskan perubahan bentuk kristal hekasgonal melekul air ketika orang bilang “I love you” di depan air.

Ada  kisah menarik mengenai air dan indahnya bacaan Al-Qur’an. Suatu hari seorang muslim menghadiri seminar mengenai air dari  Masaru Emoto. Dalam sebuah sesi eksperimental, ia diminta membaca sesuatu di dekat air. Muslim tadi membaca surat Al-Fatihah. Ternyata di monitor, terlihat molekul air bercahaya seperti berlian; bagus sekali.

Kita tahu, 80% tubuh manusia terdiri dari air. Dr. Al Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat, melakukan penelitian mengenai pengaruh “air dalam tubuh” manusia terhadap bacaan Qur’an.  Ia  meneliti tekanan darah, detak jantung, dan nafas seorang pasien setelah dibacakan ayat Quran di hadapannya. Hasilnya: Ketenangan jiwanya meningkat sampai 90% sehingga penyembuhan penyakitnya makin cepat. Penelitian lain juga membuktikan bahwa  membaca Al-Qur’an selepas sholat maghrib dan subuh mampu meningkatkan kecerdasan otak hingga 80%. Hal ini disebabkan karena pada momen-momen tersebut cairan otak masih dalam kondisi fresh sehingga respon air di otak tersebut sangat bagus.  

Adakah hubungan pengusiran jin pasien Pak Hardo dan penyembuhan penyakit dengan obat Al-Fatihah di atas? Wallahu a’lam. Yang jelas, Emoto telah menguak sedikit tabir ilmiah perihal eksotika kristal-kristal molekul air di atas bila mendapat “sentuhan gelombang digital dari “energi hidup” huruf-huruf yang terucap dari kitab suci Alquran.

*****

Kembali ke Pak AR!  Kewalian Pak AR, juga diceritakan sopir kantor PP Muhammadiyah.  Rusman, demikian naman sopir itu, pernah diberi buku pedoman manasik haji oleh Pak AR. Beliau mendesak Rusman untuk mempelajarinya. Saat itu Rusman menolaknya karena tidak mungkinlah dia bisa naik haji. Dengan gaji yang seupil, mana mungkin seorang sopir bisa naik haji? – pikir Ruman.

 
        “Mimpi naik haji pun belum pernah,” kata Rusman membatin. Jadi untuk apa pula belajar manasik haji? Tapi Pak AR terus mendesak Rusman agar belajar manasik haji. Akhirnya Rusman pun mengikuti perintah Pak AR. Dan benar, tak lama kemudian Rusman pun mendapat rizki tak terduga, sehingga bisa melaksanakan ibadah haji.

Dalam tradisi NU, keistimewaan yang dimiliki Pak AR tersebut adalah tanda kewalian. Dan seorang wali dalam pandangan NU, biasanya menunjukkan perilaku aneh (khariqatul ‘adat atau suloyo adat). Kisah-kisah perjalanan dakwah Wali Songo, misalnya, dipenuhi cerita khariqatul adat tersebut.

Dongeng paling populer dalam cerita Wali Songo adalah ketika Sunan Bonang bertemu dengan  seorang perampok. Ketika perampok itu mau merampas bekalnya, sang wali minta perampok itu melihat pohon aren yang penuh buah. Ketika Sunan Bonang menunjuk pohon itu, pohon dan buah aren tersebut berubah jadi emas. Perampok pun kaget dan bertekuk lutut, lalu minta menjadi muridnya. Perampok ini kelak menjadi seorang wali bernama Sunan Kalijogo.

Di tahun 1980-an, di daerah Magelang ada seorang kyai yang amat terkenal. Namanya Kyai Hasan Asy’ari. Tapi orang menyebutnya Mbah Mangli karena sang kyai tinggal di desa Mangli, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Pengajiannya dihadiri ribuan orang dari mana-mana dan Mbah Mangli selalu menyediakan konsumsi gratis untuk orang yang datang ke pengajiannya. Bahkan jika jamaah pengajian itu kehabisan uang, tanpa diminta Mbah Mangli akan memberi sangu.

Almarhum KH Saifuddin Zuhri, ayah Menag Lukman Hakim Saifuddin, suatu ketika, pernah bertemu dengan Mbah Mangli di bandara Ahmad Yani, Semarang. Tanpa diduga,  Mbah Mangli memberi uang cukup besar. Uang tersebut, kata KH Saifuddin, saat itu cukup untuk tiket pesawat Garuda bolak balik Jakarta Semarang.

 Sampai di rumah, KH Saifuddin bercerita kepada istrinya bahwa dia disangoni Mbah Mangli di Semarang. Beliau sempat berkata kepada istrinya, Mbah Mangli punya banyak uang dari mana ya? Kerjanya apa?

Seminggu kemudian Mbah Mangli mampir ke rumah KH Saifuddin Zuhri di Jakarta. Mbah Mangli langsung membuka kantong yang berisi berlian.

“Ini harganya sekian juta. Yang ini sekian juta. Ini bisnis saya, jualan berlian,”  jelas Mbah Mangli  seperti menjawab pertanyaan KH Saifuddin Zuhri.

 “Jadi kalau saya memberi sangu segitu, kecil,” kata Mbah Mangli kepada KH Saifuddin Zuhri. Merasa “ngrasaninya” ketahuan, KH Saifuddin pun langsung minta maaf kepada Mbah Mangli.

 “Maaf Mbah, saya kemarin ngrasani Mbah soal uang itu,” kata KH Saifuddin Zuhri.

Alkisah: Abu Abbas bin Masruq pernah menengok Abu Al-Fadl Al-Hasyimi yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Al-Hasyimi dikenal sebagai orang ‘alim dan wara’ yang miskin. Tanggungannya banyak. Tapi tak ada seorang pun yang tahu dari mana Al-Hasyimi mendapatkan uang untuk menafkahi keluarganya yang banyak anak itu. Ketika pamit pulang, Abu Abbas membatin: Dari mana orang ini mendapatkan uang untuk menanggung kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya?

Tanpa diduga, tiba-tiba Al-Hasyimi berkata keras. “Hai Abu Abbas, jangan sekali-kali mencemaskan dunia yang hina ini. Sebab Allah selalu melimpahkan karunia-karunia luthf-Nya. Kisah Al-Hasyimi ini mirip dengan kisah Maryam (Bunda Maria) ketika dikucilkan sewaktu mengandung Nabi Isa. Makanan dan buah-buahan selalu tersedia di kamarnya tanpa ada seorang pun yang tahu dari mana kiriman makanan lezat tersebut. Karunia luthf-Nya akan mendatangi hamba-hambanya yang taat dan berserah diri padaNya.

Menurut seorang sufi, Sulaiman Ad-Darani: Hati manusia bagaikan bangunan kubah, dikelilingi oleh pintu-pintu yang terkunci rapat. Pintu apa saja yang dibuka, pasti akan berpengaruh padanya. Jika kamu ingin membuka pintu hati yang berhubungan dengan alam malakut, maka asahlah ruhanimu; kembangkan sikap wara’ dan berpalinglah dari syahwat dunia. Jika hal itu kamu lakukan, niscaya pintu-pintu alam malakut akan terbuka.

Umar Ibn Khatab pernah menulis surat kepada para pejabat dan komandan pasukannya di lapangan: “Perhatikan baik-baik apa yang kamu dengar dari orang-orang yang taat kepada Allah. Sebab di hati mereka terkuak segala kebenaran. Penglihatan mereka bisa menjangkau alam malakut.

****

Kembali kepada Pak AR, walikah beliau? Di kalangan masyarakat NU, di samping ada term khariqatul adat (suloyo adat) untuk mencirikan seseorang itu wali atau tidak – juga ada semacam premis: laa ya’riful wali illal walii. Seseorang tidak akan mengenal wali, kecuali orang itu wali.

KH Aqil Siraj, ketua PBNU, pernah menegaskan bahwa Abdurrahman “Gus Dur” Wahid adalah seorang wali. Ceritanya, KH Aqil  pernah disuruh Gus Dur untuk menemui seorang wali di suatu tempat di sekitar Masjidil Haram. Gus Dur berpesan bahwa wali itu akan muncul di tempat tersebut. KH Aqil pun  menunggu kehadiran wali itu berjam-jam di suatu sudut masjid sesuai pesan Gus Dur.

 

 Ternyata, setelah sekian lama menunggu, tak ada seorang pun yang muncul di tempat itu kecuali seorang cleaning service atau tukang sapu. Ketika KH Aqil Siraj menyerah, tiba-tiba Gus Dur datang, lalu salaman dan mencium tangan tukang sapu itu. Setelah itu, tukang sapu tersebut lenyap.

“Gus, mana walinya,” kata KH Aqil.

“Ya itu tadi. Tukang sapu yang saya cium tangannya barusan!” kata Gus Dur.

KH Aqil Siraj pun baru sadar, “saya bukan wali karena itu tidak mengetahui bahwa tukang sapu tadi wali. Itulah bukti laa ya’riful wali illal wali.

Dengan pengalamannya itu, KH Aqil Siraj hakkul yakin bahwa Gus Dur adalah seorang wali. Bila anda percaya pada pernyataan KH Aqil Siraj bahwa Gus Dur adalah wali, maka Pak AR pun, niscaya seorang wali. Sebab di zaman Orde Baru, ketika Gus Dur dikucilkan rejim, beliau sering berkunjung ke rumah Pak AR menanyakan dan mendiskusikan berbagai persoalan bangsa. Uniknya, Gus Dur kalau bertemu dengan Pak AR, selalu sendiri. Tak ada teman yang mengiringinya, kata Pak Sukriyanto, putra Pak AR.

Di Muhammadiyah memang tidak ada terminologi wali. Sebutan wali tak ada dalam khasanah literasi Muhammadiyah. Tapi tidak berarti di Muhammadiyah  wali itu langka.

Prof. M Bambang Pranowo, Guru Besar Sosiologi Islam UIN Jakarta dan Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten, dalam sambutannya memperingati 100 tahun Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI di Era Demokrasi Parlementer di Jakarta beberapa tahun lalu, menyatakan bahwa Pak Natsir adalah seorang wali. Sebabnya, kata Pak Bambang, Mbah Mangli kalau ke Jakarta, yang ditemui pertama kali adalah Pak Natsir.

Pak Bambang yang berasal dari Mungkid, Magelang, yakin sekali kalau Mbah Mangli adalah seorang wali karena punya pengalaman unik. Ketika Pak Bambang mengalami kesulitan menyusun disertasi di Monash University Australia, Melbourne, dia salat malam dan berdoa minta petunjuk kepada Allah. Setelah salat malam beberapa kali, Pak Bambang tertidur di sajadah. Tiba-tiba dia mimpi bertemu Mbah Mangli dan memberitahu agar Pak Bambang wiridan Asma’ul Husna supaya kesulitannya terpecahkan.

“Aneh bin ajaib,” kata Pak Bambang, “Selama ini saya ingin menghafal Asmaul Husna tapi sulit sekali. Tapi begitu bermimpi bertemu dengan Mbah Mangli, hanya dalam hitungan jam saya hapal Asma’ul Husna.”

 Dan benar, setelah wiridan Asma’ul Husna, segala hambatan, rintangan, dan kesulitan dalam menyusun disertasi sirna.

Di samping Mbah Mangli, Pak Bambang juga yakin bahwa Pak AR adalah seorang wali. Kesederhanaan hidupnya, ketawadu’annya, ketulusan hatinya, dan sikapnya yang menjauhi hal-hal yang duniawi, menyebabkan Pak Bambang yakin bahwa Pak AR adalah wali.

Saat itu, tahun 1970-an, hubungan Pak Bambang yang ketua IPNU Muntilan sangat dekat dengan Pak AR. Bila Pak AR berhalangan memberikan ceramah di suatu tempat, maka Pak Bambang yang diminta menggantikannya. 

Sampai hari ini, kata Pak Bambang, saya selalu menjaga hubungan ruhani  dengan kedua wali tersebut. Mbah Mangli dan Pak AR.

 “Tiap habis salat fardu saya selalu menghadiahi surah Al-Fatihah kepada Mbah Mangli dan Pak AR,” ungkap Pak Bambang dengan mata sembab mengingat kebaikan kedua wali tadi .

Di kalangan Muhammadiyah, Pak AR memang punya nama besar. Pimpinan Pusat Muhammadiyah terlama (22 tahun, 1968-1990 tahun) dan pengorbanannya membesarkan Muhammadiyah sangat besar. Meski demikian, tak ada orang Muhammadiyah – kecuali Pak Bambang yang Nuhammadiyah –  menganggap Pak AR sebagai wali. Maklumlah di kalangan  Muhammadiyah  literasi tentang kewalian tidak mendapat perhatian.

Tapi sebaliknya, bagi para pemimpin NU, Pak AR adalah seorang wali.  Ini terlihat ketika Gus Dur (yang dianggap wali) sering berkunjung ke rumah Pak AR; juga paman Gus Dur KH Yusuf Hasyim.

“Saya selalu mencium tangan Pak AR bila bertemu dengan beliau,” kata KH Yusuf Hasyim. Mencium tangan adalah tradisi kalangan Nahdhiyyin untuk menghormati ulama dan ngalap berkah dari ulama tersebut.

“Waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke Jakarta dan sudah sampai Cikampek. Tiba-tiba saya mendengar dari radio, Pak AR wafat. Saya langsung putar balik ke Yogya,” kata Pak Ud – panggilan akrab KH Yusuf Hasyim, paman Gus Dur. Bagi saya, kata Pak Ud, Pak AR adalah seorang ulama besar yang yang alim dan wara’ (menjauhi dunia).

“Saya selalu mencium tangan Pak AR bila bertemu dengan beliau,” kata KH Yusuf Hasyim. Mencium tangan adalah tradisi kalangan Nahdhiyyin untuk menghormati ulama dan ngalap berkah dari ulama tersebut.

Dan kita pun yang membaca kisah ini, mari mengirim  Al-Fatihah kepada Pak AR untuk menjaga silaturahmi batin dengan beliau. Al-Fatihah!

 

  • view 79