Menapak Jejak Syiah di Indonesia

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Agama
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Menapak Jejak Syiah di Indonesia

 

Banyak orang menganggap bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah aliran Ahlus Sunnah mazhab Syafi’i. Tapi bila kita teliti mendalam, banyak adat istiadat umat Islam Indonesia bukan berasal dari mazhab Syafi’i. Jika kita melihat tradisi mengusap kepala anak yatim piatu, memakai celak, membuat bubur Suro, manakiban, dan mengarak tabut pada bulan Asyura di beberapa daerah di Indonesia, jelas itu semua berasal dari Syi’ah.

Hadirnya mazhab Syi’ah dalam kehidupan Islam di Indonesia tak hanya terlihat dari tradisi-tradisi di atas, tapi juga dari sebagian akidahnya. Sebut saja kepercayaan datangnya Imam Mahdi di akhir zaman. Meski mengaku Sunni, orang-orang Islam di Indonesia, misalnya, yakin betul bahwa Imam Mahdi kelak akan datang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Di Jawa, kepercayaan terhadap Imam Mahdi telah mengalamai transformasi kultural sehingga muncul sebutan Ratu Adil.
Dalam perjalanan sejarah, Ratu Adil ini kerap menjadi simbol gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Diponegoro, misalnya, memotivasi pasukannya dengan mengajak “perang sabil” melawan Belanda untuk menegakkan keadilan. Diponegoro sendiri dianggap pasukannya sebagai personifikasi Ratu Adil. Kyai Hasan Mu’min dari Sidoarjo pada tahun 1903 juga memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi dan berkhotbah akan perang jihad melawan Belanda. Bahkan Kartosuwiryo pun ketika memimpin DI TII di Malangbong, Garut menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil.

Demikian besar kepercayaan orang Islam di Indonesia terhadap kedatangan Imam Mahdi atau Ratu Adil di akhir zaman, sehingga kedua nama itu sering dijadikan “icon” kesucian dan perjuangan kelompok tertentu untuk menarik simpati masyarakat. Harap tahu, semua kepercayaan tersebut sumbernya dari Mazhab Syi’ah. Hanya saja kondisinya disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Selain kepercayaan terhadap Imam Mahdi, pujian-pujian terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya juga mewarnai kegiatan keagamaan di Indonesia, khususnya di kalangan pengikut tarekat. Hampir semua gerakan tarekat atau tasawuf di Indonesia ujung wasilahnya tertuju kepada Ali. Ini artinya Ali adalah imam besar mereka. Itu semua menunjukkan dalamnya pengaruh Syiah.

Dari fakta-fakta di atas, Prof. Siti Baroroh Barid – satu-satunya ilmuwan Indonesia yang pernah meneliti sejarah kehadiran Syiah di Indonesia selama satu tahun di Belanda -- menyatakan bahwa mazhab Syiah memang pernah sangat berpengaruh di Indonesia. Hal itu dipertegas oleh Ongan Parlindungan. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di Minangkabau selama 300 tahun. Orang-orang Syiah aliran Qaramitah, tulis Parlindungan, menguasai Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau, antara 1513 sampai 1804 Masehi. Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah juga mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh. Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang santri belajar tentang Syiah Qaramitah.
Perayaan Tabut yang masih berlangsung di Minangkabau tiap bulan Muharam sampai sekarang jelas berasal dari tradisi Syiah di Kesultanan Pagaruyung tersebut. Tak hanya di Minangkabau, perayaan Tabut juga ada di Bengkulu dan Aceh. (Sekedar info: Tabut artinya peti mati. Perayaan Tabut adalah perayaan mengarak peti mati sebagai simbol kesyahidan Sayidina Husein, putra Sayidina Ali yang tewas di medan perang Karbala melawan pasukan Yazid. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam atau Suro. Di Aceh bulan Maharam tersebut sering disebut sebagai buleun Asan-Usen). Perayaan Tabut di kedua wilayah tersebut mengindikasikan kuatnya pengaruh Syi’ah di Bengkulu dan Aceh.

Lalu, dari manakah asal usul tradisi Syiah di Sumatera itu? Thomas W Arnold menjawab, dari India dan Persia. Dalam catatan the greatest muslim traveler, Ibnu Batutah, Sultan Samudera Pasai di Aceh yang Syi’ah tak hanya dekat dengan Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau, tapi juga dekat dengan Istana Maimun, Kesultanan Deli di Sumatera Utara. Kekedakatan hubungan ini juga terjadi karena kedua kesultanan tersebut bermazhab Syiah. Dua orang ulama fiqih yang sangat dihormati kedua kesultanan tadi tinggal di Istana Maimun. Keduanya berasal dari Shiraz dan Isfahan, Iran. Dari penelusuran mendalam, jelas terlihat bahwa pada awal abad 16 sampai awal abad 19, seluruh Kesultanan di Pulau Sumatera bermazhab Syiah.
Lantas, bagaimana Syi’ah di Pulau Jawa? Oemar Amin Hoesin menyatakan bahwa di Persia ada satu suku bernama “Leren”. Uniknya, di Giri, Jawa Tengah, ada sebuah kampung bernama Leren. Patut diduga, suku Leren inilah yang mungkin dahulu pernah datang ke tanah Jawa. Menariknya, tulis Oemar, ternyata di Persia juga ada suku bernama Jawi. Dengan demikian, di Persia ada suku Leren dan suku Jawi, sedangkan di Indonesia ada suku Jawa dan kampung Leren. Itukah sebuah koinsidensi? Tidak. Itulah fakta sejarah dan antropologi. Bagaimana kelanjutan proses syi’ahisasi, arabisasi, dan jawanisasi itu? Ternyata interaksi dari ketiganya menghasilkan huruf Arab Pegon yang populer di Jawa. Kita tahu, banyak kitab-kitab fiqih, tauhid, tasawuf, dan sastra di masa Kerajaan Islam Jawa ditulis dengan huruf Arab Pegon. Huruf Arab Pegon adalah simbol interaksi antara budaya Jawa, Islam Syiah, dan huruf Arab Persia.

Mengenai besarnya pengaruh Syi’ah di Indonesia ini, Prof. Dr. PA Hoesein Djajadiningrat menegaskan, kondisi tersebut terjadi karena Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Hal itu terlihat dari ejaan dalam tulisan Arab. Baris di atas dan di bawah disebut jabar (zabar) dan pes (pjes) – ini bahasa Iran. Sedang kalau bahasa Arab ejaannya adalah fathah dan kasroh. Begitu pula huruf sin yang tidak bergerigi menunjukkan sin dalam huruf Arab Persia. Sin dalam huruf Arab Arabiyah bergerigi. Walhasil, pengaruh Syi’ah terhadap Islam di Indonesia memang sangat kuat. Itulah sebabnya, Hasan Al- Amin penyusun Ensiklopedi Syiah yang berjudul Dairatul Maarif al-Islamiyah as-Syi’iya yang terbit di Beirut, Libanon, tahun 1974, tanpa ragu menyatakan bahwa Indonesia termasuk kelompok negara-negara Syi’ah.

Tapi bagaimana kini? Dulu, memang mazhab Syi’ah sangat berpengaruh di Indonesia. Tapi dalam perjalanan sejarah, dominasi pengaruh Syi’ah itu menyusut karena datangnya mazhab Sunni di nusantara. Pengaruh mazhab Sunni ini makin besar seiring dengan makin banyaknya umat Islam yang belajar Islam di Mekah dan Madinah, yang kemudian setelah pulang ke Indonesia mereka menjadi da’i, ulama, pimpinan pesantren, dan tokoh masyarakat. Kondisi tersebut ditambah pula dengan banyaknya orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji. Semuanya berakibat sama: menyusutnya pengaruh Syiah di Indonesia. Belakangan, gencarnya negara-negara Arab yang anti-Syiah, khususnya Saudi Arabia, yang berkampanye di Indonesia melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik turut mengikis pula pengaruh Syi’ah di masyarakat Islam nusantara.

Dengan biaya kampanye amat besar Saudi ingin menghilangkan pengaruh Syiah di Indonesia. Sejumlah penceramah dan agen-agen yang dibayar Saudi mengkampanyekan bahwa Syiah itu kafir. Saudi mendirikan radio satelit Roja (juga tivi) di mana-mana yang jangkauan pancarnya amat luas untuk kampanye anti-Syiah. Belum lama ini Raja Salman datang ke Indonesia dengan memamerkan kemewahan dan kebesaran, yang antara lain, misinya untuk menggusur Syiah di Indonesia. Berhasilkah? Tidak. Tak akan pernah berhasil. Karena Syiah telah menyatu dengan Islam nusantara. Persis seperti dikatakan KH Abdurahman Wahid, Islam Indonesia sejatinya berbudaya Syiah. Aliran Wahabi (kini menyebut dirinya Salafi untuk kamufalase) yang kering, antimusik, radikal, antiseni lukis tidak kompatibel dengan karakter bangsa Indonesia yang halus, berjiwa seni, dan menghagai warisan leluhur. Jadi jangan salahkan bila rakyat Indonesia dalam konflik Timur Tengah lebih pro-Iran ketimbang Saudi. Karena sejarah Islam Indonesia memang amat dekat dengan Iran.

  • view 97