The Gospel of Wealth

Simon Syaefudin
Karya Simon Syaefudin Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Juli 2017
The Gospel of Wealth

The Gospel of Wealth

 

Syaefudin Simon

 

Andrew Carnegie  (1835-1919) adalah salah seorang  terkaya pada zamannya.  Seperti Bill Gates dan Warren Buffet saat ini.

 

Apa yang menarik dari Carnegie? Ia sangat dermawan dan memberikan perspektif baru pada kedemawanan saat itu. Pada bulan Juni 1889, Carnegie menulis artikel berjudul Gospel  of Wealth  di majalah North American Review.  

 

Menurut Carnegie, kekayaan yang diperoleh siapa pun – pertama-tama -- harus digunakan sebanyak-banyaknya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Kekayaan yang diwariskan hanya kepada anak cucunya adalah tindakan yang salah besar. Sebuah dosa tak terampuni.

 

Menjadi kaya, tulis Carnegie dalam Gospel of Wealth, adalah hak semua orang. Dan itu baik. Tapi jika anda meninggal hanya sebagai orang kaya, anda sangat  hina. Jika anda ingin terhormat, meninggallah dalam kondisi harta anda sudah disalurkan untuk membantu orang banyak, yaitu orang-orang-orang yang membutuhkan.

 

Kedua, derma atau sedekah harus diberikan dengan cara efektif dan strategis. Penerima derma nantinya harus bisa menolong dirinya sendiri. Jangan memberikan derma yang membuat penerima akan bergantung seumur hidup. Dalam narasi  sekarang: berilah mereka pancing, bukan hanya ikan. Bantu mereka pandai memancing sehingga nanti bisa mencari ikan sendiri.

 

Ketiga, menurut Carnegie, derma terbaik untuk membantu masyarakat adalah membantu pendidikan. Dengan pendidikan harkat individu dan masyarakat akan terangkat. Pendidikan tidak haya menjadi pancing ikan, tapi juga kesetaraan dan kehormatan manusia.

 

Itulah intisasi dari Gospel of Wealth. Carnegie sendiri menghibahkan 90% kekayaannya untuk infak sosial. Keluarga yang ditinggakan tak boleh menerima lebih dari   10%.

 

“Adalah sebuah keburukan,” tulis Carnegie dalam Gospel of Wealth,  “Jika kita melimpahi anak-anak dengan begitu banyak kekayaan yang bukan hasil keringatnya sendiri. 

 

Atas revolusi berpikiranya yang dituangkan dalam Gospel of Wealth,  Andrew Carnegie mendapat gelar The Father of Modern Charity. Buku suci kekayaan karya Andrew Carnegie ini kemudian menjadi panduan badan-badan amal di seluruh dunia.

 

Terinspirasi Kitab Suci Kekayaan itu, Bill Gates  bersama Warren Buffet  mendirikan The Giving Pledge (TGP) tahun 2000. TGP membujuk orang-orang kaya di dunia untuk mendermakan hartanya minimal 50%.  Pada tahun 2012, misalnya,  sudah 139 orang superkaya bergabung dalam TGP dengan aset total mereka mencapai 339 Milyar USD. Atau 40.000 Triliun rupiah. Mereka yang tergabung dalam TGP, antara lain, Mark Zuckerberg (pendiri facebook, AS), Bloomberg (bisnis finansial, saham, AS), Elon Musk (penemu, industrialis AS),  David Rockefeller (bankir AS, meninggal 20 Maret 2017, cucu raja minyak Rockefeller, AS ), Ted Turner (raja media), dan Dato Sri Tahir (satu-satunya orang Indonesia, pendiri perusahaan  Mayapada Group).

Gates seperti halnya Carnegie hanya mewariskan kepada ketiga anaknya, masing-masing 10 juta USD, kurang dari 0,5% dari kekayaanya. Sisanya untuk badan amal. Kenapa demikian kecil ia wariskan untuk anak-anaknya? Kata Gates: aku kaya bukan dari warisan orang tua. Pengaruhnya akan buruk bila anak-anak mendapat harta warisan yang bukan hasil kerja kerasnya. Gates menggunakan hartanya untuk membantu kesehatan, pertumbuhan masyarakat, dan mempengaruhi kebijakan publik agar prorakyat miskin di dunia  (lihat buku “Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah” atau BIMDI, Denny JA, 2017).

 

 

Kenapa Gates, Buffet, Zuckerberg, Rockefeller, Turner, Tahir mau melakukan semua itu? Because, Giving Makes You Happy. Berderma memberikan kebahagiaan dan makna hidup yang sangat besar kepada manusia yang melakukannya. Apa pun agamanya, bahkan bagi orang atheis sekalipun. Rupanya dalam tubuh manusia ada semacam gen yang mensupport kebahagaiaan – dengan bahasa ilmiah, menambah hormon endorfin --  bila orang berderma dan membahagiakan orang lain.

 

Sebuah riset di AS dilakukan  kepada dua kelompok mahasiswa. Masing-masing kelompok diberi uang 50 USD. Kelompok pertama, diminta membelanjakan uang 50 USD-nya untuk dirinya sendiri. Kelompok kedua, diminta untuk memberikan uang 50 USD-nya kepada orang lain, baik dalam bentuk tunai maupun hadiah barang. Hasilnya, melalui uji statistik, kelompok kedua membuat respondennya lebih bahagia. Hormon endorfinnya  bertambah. Riset serupa dilakuan di berbagai universitas di AS. Hasilnya secara empiris sama. Berderma itu membahagiakan.

 

Riset tentang korelasi kebahagiaan dan pemberian (sedekah, infak)  seperti dipaparkan di atas secara ilmiah empiris bisa dibuktikan. Artinya, siapa pun – tak pandang agamanya, bahkan orang atheis  sekali pun – jika berderma akan bahagia. Karena itu, saat ini “berderma” sudah menjadi insutrumen terapi psikis bagi orang yang stres, depresi, dan tidak bahagia hidupnya.   Ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi kebenaran terapi tersebut.

 

Lebih dari sebagai instrument empiris untuk menambah kebahagiaan, dalam agama berderma diberi nilai theism atau uluhiyah; ketuhanan.  Semua agama besar memberikan nilai yang lebih signifikan lagi terhadap derma ketimbang sekadar kebahagiaan psikis yang empiris tersebut.

 

Orang beriman percaya bahwa Tuhan  sangat menyukai para dermawan dan berjanji akan menambah harta para dermawan itu di dunia. Sorga adalah imbalannya di kehidupan setelah mati  (akhirat). 

 

Nabi Muhammad menyatakan, orang tidak akan miskin bila berinfak. Sebaliknya, dengan berinfak Allah akan makin menambah kekayaannya. Apalagi jika infak itu berupa harta yang kita cintai. Allah berfirman: Bukanlah sebuah kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai (Ali Imran 92). Al-Quran memperumpamakan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah (ikhlas) seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; dan pada setiap tangkai ada seratus biji (Al-Baqarah 261). Ini artinya, di dunia saja, para demawan akan makin kaya. Apalagi di akhirat.

 

 

Lantas, apakah kita harus memberikan infak yang besar seperti Carnegie, Gates, dan Buffet untuk menjadi bahagia? Kalau bisa bagus. Tapi kalau tidak bisa, berdermalah semampunya, asal tulus. Bahkan memberikan nasihat, senyuman, keramahan, dan menyingkirkan paku di jalan untuk menghindari kecelakaan adalah sebuah bentuk derma kebaikan. Maka dari itu, bila kita ingin bahagia, bahagiakanlah orang lain.  Kebahagiaan itu niscaya akan kembali kepada kita.

 

“Jika anda berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika  kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri,”  tegas Allah dalam Al-Quran Surat  Bani Israil 7.     

 

       Berderma membuat anda bahagia – adalah cuplikan narasi kecil dari  buku terbaru Denny JA berjudul: Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah (BIMDI). Menarik, ternyata bila dikaitkan dengan kandungan Al-Quran – kitab suci umat Islam – ada banyak pertautan antara kesimpulan riset tentang kebahagiaan dengan statement pewahyuan tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba menyajikan pertautan tersebut dalam Al-Quran.

 

Denny memaparkan banyak resep bahagia secara ilmiah dan empiris dari berbagai kesimpulan riset ilmiah di Amerika dan Eropa. Dengan demikian, the power of giving yang membahagiakan adalah milik siapa saja, asal mau melakukannya dengan tulus, baik orang beragama maupun tidak. Yang menarik, dalam buku ini, Denny juga mengusung aspek spiritualitas sebagai faktor penumbuh kebahagiaan. Mereka  yang mendedikasikan dirinya dalam spiritual life, tulis Denny,  akan menemukan makna hidup yang membahagiakan. Denny memberi contoh Mandela, Martin Luther King, dan Bunda Theresa.

         

          Apa yang  menarik dari buku BIMDI ini? Denny menyuguhkan resep bahagianya berdasarkan berbagai riset ilmiah yang telah dilakukan lembaga-lembaga survei internasional. Jadi, kebahagiaan itu ilmiah dan empiris belaka. Dan cara mendapatkannya juga bisa dilakukan dengan cara-cara ilmiah. Dengan demikian, siapa pun dapat memperoleh kebahagiaan dengan formula yang disajikan buku ini. Terlepas dari apa agamanya dan keyakinannya.

 

          Meski demikian, di ujung buku ini, Denny  mengakui, spiritualitas, doa, dan meditasi  berperan besar dalam “membahagiakan” manusia.  Itulah sebabnya para pemimpin spiritual adalah orang-orang yang bahagia. Begitu juga orang yang rajin berdoa. Doa sebagai kekuatan besar untuk membahagiakan orang pernah diucapkan filsuf  Bertrand Russel:  prayer is the greatest power in universe. 

 

Adapun meditasi sebagai cara untuk menghilangkan stress dan  depresi, lalu menumbuhkan kebahagiaan kini  tengah   menjadi “trending topic” di dunia. BIMDI mengungkapkan semua fenomena itu dengan menyuplik riset, data, dan kesimpulan ilmiah. Dengan demikian: BIMDI bukan sekedar buku ilmiah  – tapi sebuah buka panduan dan kiat untuk mendapatkan kebahagiaan yang obyektif  dengan data yang real dan empiris. Itulah yang sangat menarik dari BIMDI.

 

 

 

         

 

 

  • view 70