Kebersamaan dan Kehati-hatian

Simfoni Negeri
Karya Simfoni Negeri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Juli 2016
Kebersamaan dan Kehati-hatian

Hai. Aku bahagia sekali. Dalam beberapa hari, berbagai kenikmatan dan anugerah melimpah padaku. Ini hal sederhana. Tapi sangat bermakna. Aku telah dieprtemukan lagi dengan kawan-kawanku. Mereka teman seperjuangan di SMA. Kawan sekelas. GE FORCE namanya. Seperit merk hardware komputer. Tak apa. Mereka hardware yang senantiasa menyokong dengan kegilaan.

Kemarin hari, tanggal 10 Juli 2016 adalah waktunya. Dalam balutan dresscode yang aduhai, kami merencanakan sesi foto di sebuah studio foto di Purwokerto. Teringat lagi saat-saat dulu bersama. Mereka tetap sama. Tiada jayus. Tanpa tedeng aling-aling. Itu yang aku suka dari mereka. Kami menyebut diri kami sendiri sebagai gerombolan anak yang hanya diam saat makan dan foto. Wali kelas kami saat kelas XI saja sampai bilang “kalau ngga kuat saya bisa bunuh diri.”

Tidak tepat waktu. Hal wajar yang tak luput dari diri kami. Aku sudah mengira. Tak apa. Yang penting bisa ketawa bareng lagi. Bahagiaku bertambah karena bukan hanya anak yang itu-itu saja yang datang. Anak yang biasanya tak nampak saat meet up, saat ini memunculkan batang hidungnya. Kendati yang hadir hanya dua pertiga total anak, tidak mengurangi rasa pelampiasan rinduku pada mereka.

Sifat saling-tunggu dan tak mau ada yang luput juga jadi sorotan bagiku. Ada beberapa peningkatan. Dulu, kami sedikit tidak acuh dengan kehadiran. Mungkin karena sudah dua tahun tak bersua, rasa saling memiliki perlahan muncul. Kesadaran untuk saling mengingatkan sedikit demi sedikit mekar. Dan lagi, saat berada di studio foto. Ternyata mereka rela membayar lebih untuk sebuah kenangan yang bisa jadi tidak bisa dilakukan lagi. Pikiran kami langsung melesat beberapa tahun ke depan yang menjadi momen paling sibuk bagi mahasiswa. Juga yang sudah bekerja. Kemungkinan tidak bisa berjumpa lebih besar.

Ada satu kendala saat pulang. Motor Maulidha bocor. Kami menunggu hingga beres. Sekitar satu jam tidak ada mobilisasi. Sekali lagi tak apa. Masalah lain muncul beberapa saat kemudian. Di hari yang sama, ada halal bi halal satu angkatan. Tidak sengaja ada salah satu anak yang memberikan uang halal bi halal dengan mata uang palsu. Berkali-kali dicek. Memang benar itu palsu. Bahan kertas berbeda. Warna lebih gelap. Tanda air seperti gambar tangan. Pita hologram pasangan. Tanda tangan pejabat berbeda. Tidak ada hologram pada logo Bank Indoensia. Saat basah, warna uang perlahan pudar. Itu pecahan lima puluh ribu rupiah. Kami langsung bingung. Sempat ribut di grup. Akhirnya disepakati bilang dulu ke panitia ada anggaran lebih atau tidak untuk menutup. Alhamdulillah, anggaran bersisa beberapa ratus ribu. Bahagia sekali.

Sebelum semuanya terlambat. Selagi kita masih memiliki sahabat-sahabat terbaik. Uruslah mereka dengan pelayanan terbaik. Bantu kepentingannya. Meskipun mereka menyebalkan. Hanya saja, sosok mereka tak bisa dibohongi sebagai pendamping hidup yang ramai-ramai menyemangati. Karena, kita sama sekali buta kapan kita mati. Tidak tahunya rekan seperti apa yang akan kita dapat di kemudian hari. Memiliki sahabat dan banyak kawan yang bisa diajak berbagi sangat menyenangkan.

Satu lagi hal yang patut diperhatikan. Saat ini suasana lebaran. Tak lebaranpun sama. Berahati-hatilah dalam bermain uang. Perhatikan baik-baik. Jangan sampai hal yang sama terulang. Jangan sampai peredaran uang palsu meluas. Segera lapor bank saja. Ada banyak konsekuensi sebenarnya. Untung saja, uang kekuranangan acara bisa tertutup. Selalu berdoa saja agar terhindar dari masalah-masalah semacam itu.

Simak tulisan asli di sini.

  • view 165