Kekasih 1000%

Simfoni Negeri
Karya Simfoni Negeri Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 Juli 2016
Kekasih 1000%

Manusia hidup berpasang-pasangan. Tuhan telah menggariskannya. Manusia hanya bisa sami’na waatho’na pada sang nasib. Tapi selalu ada kontroversi dalam ayat Tuhan. “Barang siapa ingin mengubah nasib suatu kaum, maka kaum itulah yang dapat mengubahnya.” Begitu kira-kira maknanya. Kalau bicara soal cinta, kekasih, dan sejeninsnya, siapa pula yang tak tahan. Mata akan melek. Konsentrasi meningkat. Seakan besok tak akan mati saja.

Catatanku kali ini menggambarkan sebuah perenungan. Tentang perbaikan diri. Mengapa harus 1000%? Karena ini imajinasi liar mengenai keidealan seorang pasangan. Kalau pasangannya lebih dari satu? Ya intinya pasangan.

Jack Ma, founder Alibaba.com a.k.a website terkemuka Cina yang hampir mengalahkankan Google di sana pernah bertutur seperti ini: “Tak perlu menjadi ranking 1 di kelas. Ranking menengah pun tak apa. Agar kita bisa menggunakan waktu kita untuk mengembangkan potensi yang lain.” Kiranya aku setuju dengan pernyataannya. Ada analogi yang pas dengan perjodohan. Izinkan kumenulisnya.

Menurut penafsiranku, komponen kekasih yang ideal terdiri dari dua bagian besar. separuh melihat ‘luar’, separuh lagi menengok ‘dalam’. Apa saja subaspek dari kedua partisi besar ini? Aspek luar terdiri atas keindahan fisik, kelengkapan anatomi, kesehatan badan, dan ketahanan dalam beraktivitas. Tidak akan ada yang menyangkal kalau mendapat istri yang cantik atau suami yang tampan adalah impian sebagian besaer orang. Aku pun demikian. Yang ku tahu, salah satu tujuan menikah adalah mengikat. Cara paling sederhana mengikat adalah dari tampilan fisik. Keindahan tubuh pasangan kita akan mengurangi lirikan ke orang lain. Kalau mau menyanggah ditunggu dulu.

Ada banyak sekali cara menjaga aspek fisik ini tetap prima hingga tua. Metode paling sederhana adalah olah raga. Menyempatkan diri seminggu sekali kiranya menjadi hal penting. Bila tak ada waktu, sempatkan berangkat beraktivitas sembari berolah fisik. Misalnya dengan jalan kaki atau naik sepeda. Hanya saja masih terlalu susah bagi orang yang malas sepertiku. Makanya aku kurus. Kedua, dengan menjaga pola asupan nutrisi. Sedapat-dapatnya makan empat sehat lima sempurna. Kalau pun tidak bisa, menghindari makanan berbau cepat saji menjadi alternatif penting. Jika masih tidak bisa, jangan sering-sering makan makanan demikian. Menurutku, dua ini sudah cukup.

Aspek besar kedua adalah bagian ‘dalam’. Komponen ini terdiri dari susunan psikologis yang berbau metafisika dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ya tak lain mengenai keerdasan. Ketika kita bicara tentang cerdas, ini tidak sebatas pada aku dapat nilai Kalkulus A+. Ada banyak aspek kecerdasan lain. Intelektual contohnya. Pun ada juga spiritual, emosional, moral, etika, verbal, dan kemampuan meramu alur dan konsep pikir. Cara merawat aspek ‘dalam’ antaara lain dengan terus bertanya, berpikir, mengonsep, dan aktivitas pemacu otak dan hati. Membaca buku dan menulis juga contohnya.

Kedua aspek besar ini hendaknya terus ditingkatkan, diasah, dan didiversifikasi. Harapannya kelak setelah kita siap, kematangan diri telah tercapai. Kalau belum matang, setidaknya mendekati kematangan. Kini problemnya bagaimana? Kondisi ini adalah ideal. Bisa jadi hanya seper seratus yang dapat melakukannya. Prinspinya, optimalkan dulu aspek ‘dalam’. Syukur-syukur aspek ‘luar’ juga terus ditingkatkan.

Masa kini, menurut pandanganku, banyak yang mendewakan aspek ‘luar’ lebih dahulu. Aspek ‘dalam’ ah kumaha engke. Gimana nanti. Yang penting dari luar terlihat oke. Masalah ‘luar’ ini kadang meniput, kawan. Ingat petuah dari sang penulis Tere Liye. Kalau kita tertipu aspek fisik, itu sama saja kita mengambil lengkuas yang dikira daging karena tertutup bumbu rendang. Menjadi orang yang terus memantaskan diri memperbaiki aspek ‘dalam’ kiranya agak sulit. Aku juga demikian. Banyak sekali godaan. Ingin eksis lah, ,dipuji orang lah, atau ingin tidak dipandang rendah. Untuk memperoleh kesejatian diri benar-benar butuh perjuangan.

Bila aspek ‘luar’ tak kunjung didapatkan, maka tingkatkanlah prosentasi kualitas ‘dalam’ agar seimbang. Orang Indonesia kadang seperti itu. Susah untuk diajak mengembangkan kualitas ‘dalam’ secara optimal. Jadi ya, banyak yang menigkatkan kualitas ‘luar’ tapi ujung-ujungnya yang jadi pengekor orang lain. Hanya ikut-ikutan.

Mari menjadi diri sendiri. Ayo tingkatkan kualitas ‘dalam’. Agar nantinya jodoh kita juga mencerminkan hasil dan usaha kita. Selamat menjemput jodoh, kawan.

Tulisan asli di sini